
Regina membujuk Citra terus menerus untuk menemaninya menemui Dosen killer yang di takuti itu sampai akhirnya Citra luluh karena kasihan dengan Regina dan sekarang mereka ber-2 berada di dalam ruangan dosen Revald.
Pria tampan itu terlihat berdiri yang bersandar pada meja dengan ke-2 tangannya di lipat di dadanya. Sementara Citra dan Regina menunduk yang terlihat takut-takut.
"Jadi tujuan kamu datang menemui saya untuk meminta maaf," ucap Reval dengan suara dinginnya.
"Benar pak. Saya tidak bermaksud untuk melalaikan kelas bapak," ucap Regina yang bicara dengan penuh ketakutan. Bahkan tangannya di pastikan sudah sangat dingin.
"Dan kamu datang kemari untuk menemaninya. Atau menanggung resiko yang di dapatkannya," sahut Reval melihat ke arah Citra.
"Bukan begitu pak. Regina hanya meminta tolong saya untuk meminta maaf pada bapak dan berharap bapak akan memaafkannya dan tidak menghukumnya atau memberinya sangsi yang keras," ucap Citra yang menjelaskan Keikut sertaannya dan sebenarnya dia juga sangat takut. Mau bagaimana lagi mereka sudah ada di depan Pria galak itu.
"Dan kalian akan berharap saya akan memaafkan hal itu. Karena kamu ikut?"tanya Reval dengan menaikkan1 alisnya melihat Citra dengan serius.
"Bukan itu maksudnya pak," sahut Citra dengan cepat.
"Lalu untuk apa kamu datang. Untuk menjadi jaminan. Karena ke populeran kamu. Atau untuk apa?"tanya Reval.
"Saya hanya ingin....."
"Baiklah Citra. Ternyata kamu ini sangat baik menjadi seorang teman. Kalau begitu baiklah Regina saya akan memaafkan kamu dan akan memindahkan nilai Citra pada kamu karena Citra sudah bertanggung jawab atas kamu. Jadi dia yang akan menggantikan hukuman kamu," ucap Reval membuat Citra kaget dan mengangkat kepalanya melihat Pria itu.
"Pak maksud bapak apa?"tanya Citra dengan wajah paniknya.
"Saya tidak mengulangi lagi. Regina berterima kasih pada Citra karena sudah menggantikan sangsi untuk kamu dan sekarang kalian keluar dari sini. Dan kamu Citra tunggu hukuman dari saya," ucap Reval dengan santai yang membuat Citra panik dengan napasnya yang naik turun.
"Pak kenapa jadi saya yang menanggung kesalahannya? Mana mungkin nilai saya untuknya. Saya lagi pengumpulan nilai pak dan ini tidak bisa terjadi," protes Citra.
"Kamu yang menginginkan ini,"ucap Reva.
"Tapi pak!"protes Citra.
Reval menunjuk pintu untuk menyuruh dua mahasiswinya itu untuk keluar.
"Jika dalam hitungan 3 belum pergi. Saya akan menambah hukuman kamu," ancam Reval.
"Pak!"
__ADS_1
"Satu, dua...."
"Issss," sahut Citra kesal dan langsung pergi. Regina pun menyusul pergi setelah menundukkan kepala kepada dosen tersebut.
Reval menggelengkan kepalanya dan melihat ke arah mejanya yang mana ada selembar kertas yang merupakan data-data Citra.
"Citra maafkan aku," ucap Regina saat mereka sudah berada luar di depan pintu ruangan dosen itu.
"Ini semua gara-gara kamu. Aku jadi kenak imbasnya. Aku capek-capek mengikuti kelas prakteknya. Belajar sebelumnya agar dapat nilai yang baik dan sia-sia karena kamu," ucap Citra marah-marah pada Regina.
"Maaf Citra aku tidak tau kalau kejadiannya akan seperti ini," ucap Regina.
"Apa artinya maaf lagi," ucap Citra semakin emosi.
Barra yang berjalan tiba-tiba melihat ke arah Regina dan Citra. Barra melihat Citra marah-marah pada Regina membuat barra panik yang dalam pikirannya Regina mengatakan apa yang terjadi di antara mereka berdua. Makanya sampai wajah Citra semarah itu dan Barra buru-buru menghampiri kekasihnya itu. Ya ke-2nya adalah kekasihnya sekarang.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Barra dengan wajah paniknya.
"Gara-gara dia!" tunjuk Citra membuat Regina menunduk.
"Memang dia melakukan apa?"tanya Barra penasaran.
"Kok bisa kayak gitu?"tanya Barra heran.
"Aku mana tau. Dia yang tidak mengikuti kelas pagi. Gara-gara kesiangan. Aku yang kenak imbasnya. Issss menyebalkan," ucap Citra kesal dengan menghentakkan ke-2 telapak kakinya ke lantai dan pergi dengan kekesalannya.
"Sayang!" Panggil Barra. Barra melihat kearah Regina dengan memegang tangan Regina.
"Jangan takut aku ada untukmu. Aku akan menyelesaikannya Citra," ucap Barra memegang pipi Regina. Regina mengangguk dan Barra langsung pergi mengejar Regina.
"Kenapa jadi kayak gini sih,"ucap Regina yang garuk-garuk kepala.
Pintu ruangan Reval yang terbuka sedikit membuat Reval yang tetap berdiri di tempatnya yang melihat keributan itu dan juga Barra yang memanggil Citra sayang dan ketika Citra pergi seolah menenagkan Regina.
Reval hanya membuang napasnya dengan kasar dan geleng-geleng. Ekspresi wajahnya tidak terbaca dan tidak tau apa yang di pikirkannya.
***********
__ADS_1
Wajah Citra begitu kesalnya yang menunggu di parkiran mobil di depan kampus yang pastinya menunggu kakaknya dan tidak lama Sean datang dan langsung keluar dari mobil menghampiri Citra.
Citra langsung memeluk Sean membuat Sean heran.
"Ada apa Citra?" tanya Sean panik.
"Menyebalkan semuanya. Citra sudah capek-capek untuk belajar sampai malam untuk mengikuti kelas Dosen. Tetapi semuanya sia-sia," ucap Citra menangis di pelukan kakaknya.
Sean melepaskan pelukan itu dan melihat adiknya yang sudah menagis. Sean menunduk dengan mengusap air mata Citra.
"Apa kakak terlalu menekanmu?"tanya Sean.
"Apa maksud kakak?"tanya Citra.
"Kakak ingin kamu menjadi orang yang pintar dan lulus dengan nilai tertinggi. Sampai kamu harus menagis karena tidak mendapat nilai bagus. Apa itu karena tekanan dari kakak?"tanya Sean yang menyadari dia mungkin belakangan ini sangat kelewatan.
"Kenapa mengatakan itu. Bukan itu yang membuat Citra menangis. Itu karena Regina yang membawa Citra meminta maaf pada Dosen. Karena dia tidak bisa mengikuti kelas Dosen dan Dosen itu pikir Citra sok hebat dan akhirnya memindahkan nilai Citra untuk Regina dan Citra dapat hukuman,"ucap Citra mengadukan semuanya kepada Sean.
"Regiana?"tanya Sean. Citra mengangguk, "Regina yang waktu itu?"tanya Sean memastikan. Citra mengangguk lagi.
"Citra bukannya dia tidak baik. Kenapa masih berteman dengannya,"ucap Sean.
"Kak bukannya Citra sudah menjelaskan semuanya. Jika yang terjadi dulu bukan kesalahannya dan justru karena kepolosannya dia mau menuruti Citra,"ucap Citra.
"Dan kakak juga melihat kamu semakin lama semakin polos," sahut Sean.
"Maksud kakak?" tanya Citra heran. Sean menghela napas dan membawa Citra kembali kedalam pelukannya.
"Jangan menangis lagi dan jadikan semuanya pelajaran. Pilih teman dengan baik. Kamu satu-satunya adik kakak. Kakak tidak ingin kamu kenapa-kenapa," ucap Sean yang selalu peka dengan kehidupan
Dengan masalah yang di hadapi Citra. Pasti insting seorang kakak tidak pernah salah apalagi Sean begitu dekat dengan Citra dan sangat tau situasi yang di hadapi Citra.
"Apa kamu mendengar kakak Citra?" tanya Sean.
"Iya kak, Citra paham. Tetapi bagaimana dengan nilai Citra," ucap Citra yang masih kepikiran dengan hal itu.
"Kamu harus berjuang lagi. Jika merasa tidak adil maka kamu harus bekerja keras untuk mencari keadilannya," ucap Sean. Citra mengangguk-angguk dengan memeluk erat kakaknya itu. Dia memang jauh lebih tenang sekarang di bandingkan sebelumnya.
__ADS_1
Bersambung