Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 23 Citra yang kenak omel.


__ADS_3

" Kamu itu salah paham Citra. Semua tidak seperti apa yang Citra katakan. Kak Sean aku tidak sengaja menabrak dia. Mobilku mundur dan tiba-tiba ada di dia belakang. Aku tidak sengaja kak dan aku hanya menolong dia yang terluka dan lihat kaki dan tangannya terluka dan semua itu kesalahanku," jelas Barra dan mata Sean melihat pada kaki Reya yang luka, juga melihat tangan Reya yang memang luka, Sean pun menoleh kearah Citra.


" Dia sengaja kak berada di belakang mobil Barra," sahut Citra yang memojokkan Reya.


" Citra kamu itu bicara apa sih, kenapa melebar," ucap Sean aneh melihat Citra.


" Kamu itu kenapa? membela dia terus sejak tadi," sahut Citra lama-lama kesal dengan Barra.


" Aku tidak membelanya aku hanya..."


" Menolongnya itu maksudmu," potong Citra, " Seharusnya kau tidak membantunya. Dia itu hanya sandiwara. Kau harus tau dia ini wanita yang paling pintar bersandiwara yang hanya bisanya mencari perhatian orang-orangnya saja," tegas Citra.


" Citra kamu berlebihan, aku hanya menolongnya dan kamu lihat tadi. Dia bahkan hampir mati Citra," ucap Barra menegaskan yang terus membela Reya.


" Sudah cukup hentikan!" bentak Sean membuat perdebatan Barra dan Citra berhenti. Membuat Citra dan Barra diam.


" Kenapa jadi kalian berdua yang ribut. Kau, ngapain kau ada di sini malam-malam seperti ini?" tanya Sean dengan sinis pada Barra dengan suaranya yang penuh amarah.


" Aku tadi mengantarkan Citra pulang," jawab Barra. Sean langsung melihat tajam ke arah Citra.


" Kau baru pulang dengannya?" tanya Sean menatap Citra dengan wajah serius yang pasti tidak suka hal itu


" Aku habis dari ulang tahun Barra kak, jadi baru selesai jam segini," jawab Citra dengan gugup. Hal itu seketika membuat Sean yang menjadi marah pada Citra.


" Citra kau bisa-bisanya pulang jam segini dengan dia! apa kau tidak bisa melihat waktu. Berapa kali kakak peringatkan untuk memilih dalam berteman, jangan berteman sembarangan apa lagi dengan dia!" tunjuk Sean pada Barra dengan penuh kemarahan yang jelas tidak menyukai Barra.

__ADS_1


" Kak Citra sudah minta izin mama dan papa dan Barra... ucap Citra.


" Apapun itu seharusnya kau tidak pulang selarut ini," bentak Sean yang membuat Citra kaget.


Reya yang ada di lokasi tersebut langsung memilih pergi. Karena dia merasa tidak ada urusannya dengan Citra dan Sean dan juga Pria yang sok baik kepadanya itu.


" Hey tunggu mau kemana kau. Namamu siapa?" tanya Barra dengan berteriak yang membuat Citra emosi dengan sikap Barra yang bisa-bisanya ingin berkenalan dengan Reya sementara dia masih ada di sana dan barusan di marahi kakaknya.


" Hey kau!" tunjuk Sean pada Barra membuat Barra sedikit takut dengan Pria yang terlihat marah itu kepadanya.


" Aku peringatkan kepadamu untuk tidak mengajak adikku keluyuran bersamamu. Jangan kau jadikan adikku mengikuti pergaulan mu itu," ucap Sean menegaskan pada Pria yang di hadapannya itu. Barra hanya diam saja tanpa berani menjawab.


" Masuk!" perintah Sean pada Citra dan Sean terlebih dahulu masuk.


" Citra!" Sean menahan tangan Citra yang ingin memasuki rumah


" Citra kau itu di marahi. Bukan karena aku membela dia. Tetapi karena aku mengantarmu pulang lama," sahut Barra.


" Sama saja itu semua gara-gara kau," geram Citra dengan penuh emosi dan langsung pergi meninggalkan Barra yang membuat Barra heran.


" Aneh apa salahku sih. Keluarga mereka yang aneh. Aku yang di salahkan benar-benar keluarga aneh," ucap Barra geleng-geleng. Barra pun memilih untuk memasuki mobil.


" Cantik juga wanita itu. Siapa dia ya. Kok ada di rumah Citra!" batin Barra yang tiba-tiba kepincut dengan Reya.


**********

__ADS_1


Citra berada di dalam kamarnya dengan wajahnya yang penuh dengan kekesalan. Citra duduk di pinggir ranjang dengan mengepal ke-2 tangannya dan memukulkannya pada tempat tidur.


" Sial!" umpatnya dengan kemarahan, " semua ini gara-gara Reya. Baru saja beberapa hari di rumah ini. Dia sudah membuatku kalah beberapa kali. Papa terus-menerus marah padaku dan tadi kak Sean memarahiku di depan Reya dan Barra baru saja kami jadian. Tetapi dia sudah berani mendekati Reya. Wanita itu benar-benar wanita kegatelan. Aku tidak akan membiarkannya betah di rumah ini. Lihat saja Reya aku akan menyinggirkanmu secepatnya," batin Citra dengan penuh dendam pada Reya


************


Sementara Reya berada di dalam kamarnya yang sedang mengobati luka di tangannya dan juga kakinya. Reya hanya mengeluarkan suara lirihan yang mana luka itu terasa begitu perih. Ya dia mungkin harus terbiasa dengan luka-luka seperti ini. Apalah artinya luka di tangan di bandingkan luka hati yang sering di rasakannya dan tidak ada obatnya sama sekali.


Reya menghela napasnya dan berdiri dari tempat duduknya. Reya keluar kamarnya yang mana Reya menuju dapur.


" Jadi Dia bekerja sebagai kacung!" suara Citra tiba-tiba membuat Reya menghentikan langkahnya dan di mana Citra yang sedang memeluk Sean yang berada di dapur.


Citra tadi meminta maaf pada kakaknya atas apa yang terjadi barusan dan sekarang mereka sudah sama-sama bisa meredakan amarah dan saling mengobrol dengan Citra yang pasti bermanja.


Citra melonggarkan pelukannya melihat sang kakak. Sementara Reya dapat melihat Citra dan hanya melihat punggung Sean.


" Sesuai yang kamu mau, kakak mengikuti apa yang kamu inginkan," jawab Sean. Citra tersenyum lebar.


" Makasih kak. Citra yakin papa akan menuruti apa yang kakak mau. Karena papa tidak mungkin membiarkan kakak meninggalkan Perusahaan. Karena Perusahaan tanpa kakak tidak akan jadi apa-apa. Posisi untuk wanita itu sudah pas sebagai kacung yang paling rendah," ucap Citra sinis yang ternyata menyadari Reya ada di sana dan Citra sengaja menguatkan suaranya agar Reya mendengarnya.


" Ya paling dia harus sadar. Anak dari hasil perselingkuhan itu. Harus ada pada tempatnya. Jangan sok-sokan mau memasuki Perusahaan dan berharap menjadi Direktur dengan seenaknya. Karena mana ada anak haram yang menjadi direktur. Anak haram tempatnya hanya sebagai kacung seperti posisinya sekarang," ucap Citra sinis dengan kata-kata yang begitu menyakitkan.


" Dan dia juga harus sadar. Jika kedatangannya ke Jakarta. Hanya untuk membuat dia mendapatkan karma. Jadi mana ada waktu untuk bersenang-senang. Hmmm jika papa menuruti permintaan kakak. Nanti Citra akan pikirkan lagi apa yang kira-kira harus kita minta lagi sama papa. Karena papa itu akan menuruti apa yang kakak inginkan," ucap Citra yang menunjukkan pada Reya jika dia punya kekuasaan.


" Nona Reya apa butuh sesuatu?" tanya bibi tiba-tiba mengejutkan Reya.

__ADS_1


Hal itu juga membuat Sean terkejut ketika mendengar nama Reya. Sean langsung membalikkan tubuhnya dan sudah melihat itu ada di sana dan dapat di pastikan Reya mendengar semua yang di katakan Citra.


Bersambung


__ADS_2