Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab


__ADS_3

Tingnong. Tingnong.


Argantara yang ada di rumah mendengar bel rumah berbunyi dan Argantara langsung menuju pintu tidak tau juga kenapa dia yang harus membuka pintu. Mungkin para asisten rumah tangga tidak ada atau entah kemana. Yang jelas sekarang Argantara sudah berdiri di depan pintu rumah dan membuka pintu.


Betapa terkejutnya Argantara saat melihat tamunya siapa yang datang. Wanita yang sangat di kenalnya yang berdiri dengan pakaian serba hitam dan tersenyum kepadanya yang siapa lagi wanita itu jika bukan Erina.


"Kau!" lirih Argantara.


"Mas Argantara apa kabar. Kamu sangat terkejut melihat kedatangan ku. Padahal kita baru saja bertemu dan belum begitu lama dan kamu sekarang sangat terkejut seperti kita tidak pernah bertemu. Apa kamu sangat merindukanku," ucap Erina dengan percaya dirinya dan tidak tau saja jika Argantara sejak tadi menahan diri yang begitu emosi dengan wanita yang di hadapannya itu.


"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Argantara untuk menekan suaranya.


"Mas Argantara untuk apa lagi. Jika tidak untuk melepaskan rindu pada mu. Bukannya hanya kita berdua yang ada di sini," ucap Erina dengan tersenyum miring.


"Kau berani sekali bicara Erina setelah kau menghancurkan keluargaku. Kau beraninya datang menunjukkan wajahmu di hadapanku," ucap Argantara.


"Menghancurkan apa yang kamu katakan mas. Itu namanya bukan menghancurkan dan aku tidak menghancurkannya. Tetapi aku hanya mendapatkan hasil dari apa yang aku usahakan," ucap Erina dengan melangkah maju mendekati Argantara dan memegang dada Argantara dengan mengusapnya dan melangkah pelan maju dan membuat Argantara mundur dengan mereka yang sudah sama-sama ada di dalam rumah.


"Apa kamu lupa mas. Jika kita adalah dua orang yang saling mencintai. Tapi hubungan kita harus kandas dengan orang tua kamu yang menjodohkan kamu dengan wanita itu. Anggika. Ya orang tua kamu harus menjodohkan kamu. Karena dia anak orang kaya, anak orang yang terpandang. Tapi hubungan kita selesai sampai di situ. Karena cinta kita membuat kita tetap bersama dan malam pertama kamu lebih memilih untuk menemuiku dari bersama istrimu dan Reval adalah anak kita hasil cinta kita," ucap Erina dengan tersenyum.


"Tutup mulutmu Erina!" teriak Argantara yang menepis tangan Erina dari dadanya.


"Kau jangan mengatakan cinta atau hasil dari cinta. Karena malam itu kau menjebakku. Apa kau lupa dengan apa yang kau katakan. Jika kau menelpon dan mengatakan kau di culik dan ingin di bunuh keluarga Anggika. Kau mengarang cerita sehingga aku meninggalkan Anggika dan masuk jebakan mu," teriak Argantara.

__ADS_1


"Tapi kamu peduli mas yang artinya kamu khawatir padaku sampai datang malam itu. Itu artinya kamu sangat mencintaiku," ucap Erina menegaskan.


"Aku sudah melupakanmu semenjak aku menikah dengan Anggika!" teriak Argantara.


"Bohong. Jika seperti itu kenapa kamu kembali kepadaku walau sudah bertahun-tahun. Di mana kita menikah sirih diam-diam," bentak Erina.


"Itu karena kamu menipuku Erina. Kamu selalu punya kesempatan dan selalu menganguku dan kamu juga menggunakan Reya supaya aku tidak lepas dari mu," teriak Argantara.


"Aku hanya ingin mendapatkan apa yang aku inginkan mas. Aku hanya ingin kamu dan aku ingin mempersatukan cinta kita. Aku mengorbankan segalanya hanya untuk itu," teriak Erina.


"Tutup mulutmu. Kamu jangan main drama di depanku. Kamu melakukan banyak hal yang mengorbankan banyak orang, kamu membuang Reval demi kepentingan kamu, menyiksa Reya demi kepuasan kamu dan kamu membiarkan Reval jatuh Citra pada Citra yang kamu tau asal-usul mereka. Kamu tau semuanya. Kamu iblis Erina!" teriak Argantara.


"Aku sudah mengatakan melakukannya hanya untuk bersamamu dan aku tidak peduli apa-apa," ucap Erina dengan tegas.


"Itu yang aku inginkan," sahut Erina yang tidak kalah berteriak, "Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha," Erina tertawa terbahak-bahak.


"Aku memang menginginkan semuanya mas. Itu yang aku mau kehancuran Anggika. Aku hanya menginginkanmu dan aku tidak peduli dengan siapapun. Aku tidak peduli," tegas Erina dengan wajahnya yang penuh dengan aura iblis.


"Wanita gila!' geram Argantara dengan menekan suaranya dan langsung melangkah menghampiri Erina dengan tanpa ampunan langsung mencekik Erina dengan kedua tangannya.


"M, ma,mas," Erina yang di cekik tidak bisa bicara.


"Kau harus mati. Jika tidak mati kau tidak akan pernah membiarkan ku hidup tenang, sudah waktunya kau mati!" teriak Argantara mencekik tanpa ampunan dan bahkan mendorong Erina ke sofa dengan menindih Erina dan mencekiknya dengan orang yang kesetanan.

__ADS_1


Mata Argantara memerah yang seperti iblis dan Erina sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa, bicara pun sulit dan hitungan menit dia benar-benar akan mati di tangan Argantara.


Erina menoleh ke arah meja dan melihat ada pisau di atas buah dan Erina langsung meraba meja untuk meraih pisau tersebut.


"Akkkk," ucap Argantara saat merasa perutnya ada tusukan yang mana Erina telah menusuknya dan menarik kembali pisau yang sudah di tusuknya ke perut Argantara.


Cekikan Argantara langsung melemah dan tangannya bahkan sudah terlepas dari leher Erina dan baru membuat Erina bernapas lega dengan napasnya yang naik turun dan langsung mendorong Argantara sampai Argantara jatuh kelantai.


"Kurang ajar kamu mas. Aku berusaha untuk kita berdua. Tetapi kamu malah ingin membunuhku," ucap Erina yang masih merasa perih pada lehernya dan Argantara hanya menahan sakit dengan perutnya yang terluka parah dengan darah yang mengalir deras.


"Aku harus pergi dari sini!" Erina yang takut akan ada yang melihatnya langsung pergi. Namun Argantara langsung menarik kakinya dan membuatnya terjatuh tersungkur di lantai.


"Lepaskan aku mas! lepas!" teriak Erina.


"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah semua yang kau lakukan, aku membunuhmu Erina!" Argantara yang begitu Dendam pada Erina berusaha lagi untuk membunuh Erina.


Erina jelas sangat ketakutan dengan Argantara yang penuh dengan kesetanan dan ingin menyelamatkan diri membuat Erina mengambil pas bunga yang ada di meja dan langsung memukulkan pada kepala Argantara dan bukan hanya sekali bahkan berkali-kali sampai Argantara pingsan.


Suara napas Erina yang naik turun terdengar sangat kuat sampai dan Erina melihat di sekitarnya dan menjatuhkan pas bunga itu di samping kepala Argantara yang penuh dengan darah.


"Aku harus pergi dari sini. Sebelum ada yang melihatku. Aku tidak membunuhnya," ucap Erina dengan napas terengah-engah yang mulai ketakutan dan Erina langsung berlari keluar dari rumah Argantara meninggalkan Argantara yang terluka parah dan tidak tau apa masih hidup atau tidak.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2