Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 48 Saling tersakiti.


__ADS_3

Reya merasa dirinya adalah wanita yang paling munafik menolak perasaan Sean kepadanya. Tetapi jelas hatinya, tubuhnya menginginkan Sean yang termasuk dari ciuman yang di terima Reya dan bahkan menikmatinya dengan perasaannya yang juga ada.


Dengan ke-2 tangan Sean memegang ke-2 tengkuknya untuk memperdalam ciuman itu dan Reya yang memegang kemeja Sean dengan erat dengan ciuman romantis yang air mata Reya terus keluar dan mungkin Sean merasakan sedikit asin.


Lama berciuman akhirnya selesai dengan ke-2 saling melepas tautan bibir dengan mata yang perlahan saling membuka dan hembusan napas yang sama-sama berat yang sama-sama naik turun. Dahi Sean menempel pada dahi Reya dengan tatapan mata mereka yang begitu dalam.


" Aku mencintaimu Reya, semua ini menyiksaku. Tetapi kau yang menginginkannya dan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Jika kau ingi melupakan segalanya. Mari kita lupakan. Tetapi jangan menyuruhku untuk melupakan perasaanku kepadamu. Aku tidak tau kapan aku akan berhenti mencintaimu," ucap Sean dengan suara sesak yang kembali mengungkap dengan jelas perasaannya.


Mendengar hal itu bukan membuat Reya bahagia. Namun semakin sakit. Pernyataan cinta yang sangat konyol di dapatkannya dari saudaranya sendiri.


" Aku adikmu kita tidak bisa melakukan hal itu," ucap Reya dengan suara beratnya dan tangan Sean perlahan turun dari pipi Reya dengan dia pun yang menjauh dari Reya dengan perlahan-lahan.


Sean mendengus dengan senyuman yang begitu menyakitkan menatap Reya dengan mata yang penuh genangan. Luka yang sama-sama mereka rasakan.


" Argggghhh!" Sean berteriak dengan suara yang menggelegar yang tidak bisa mengeluarkan semua amarah di dalam dirinya. Teriakan untuk takdir yang salah. Kenapa harus dia yang mengalami hal itu.


Reya melihat Sean seperti itu menutup mulutnya dengan punggung tangannya dia melihat luka di wajah Sean yang begitu besar. Tidak sanggup untuk hal itu membuat Reya langsung pergi berlari sekencang-kencangnya meninggalkan cinta yang salah yang di rasakannya dari 5 tahun lalu dan berusaha di kuburnya karena status mereka namun tidak bisa terkubur dan tergali dengan sendirinya dan itu sungguh begitu menyakitkan bagi keduanya.


Jalan berpisah dan melupakan perasaan itu adalah jalan yang terbaik yang harus mereka lakukan.


" Reya aku mencintaimu, kenapa semua ini tidak adil kepadaku. Kenapa? dunia ini seperti ini!" teriak Gibran yang berlutut yang mengumpat segala kemarahannya pada takdir yang seharusnya tidak ada.


***********


Reya akhirnya kembali ke Villa yang berlari dengan kencang sampai harus bertabrakan dengan Citra.


" Auhhhhh!" lirih Citra memegang bahunya yang ditabrak Reya.


" Maaf, aku tidak sengaja," ucap Reya dengan suara seraknya.


" Makanya jalan pakai mata," desis Citra dengan kesalnya.


" Reya!" tiba-tiba Argantara menghampiri Reya dan juga Citra.


Argantara heran melihat penampilan Reya yang terlihat begitu berbeda yang basah kuyup dan wajahnya yang sembab di mana Reya berusaha menunduk agar papanya tidak terlalu memperhatikannya.


" Kamu kenapa. Keanpa bisa basah seperti ini?" tanya Argantara memegang tangan Reya.


" Tidak apa-apa pah, Reya hanya terkena air saja saat di pantai," sahut Reya dengan memberi alasan.


" Lalu wajah kamu kenapa? Kamu habis menangis?" tanya Argantara. Citra juga melihat Reya dengan mengamati wajah Reya yang berusaha menghindar.


" Tidak apa-apa pah. Reya masuk dulu!" Sahut Reya yang langsung pergi dari hadapan papanya dan juga Citra yang membuat Argantara penuh dengan kebingungan melihat putrinya yang seperti itu.

__ADS_1


" Kenapa dia Citra?" tanya Argantara pada Citra.


" Manaa Citra tau," sahut Citra sewot dan langsung pergi meninggalkan Argantara yang penuh dengan rasa penasaran.


" Semoga dia baik-baik saja," batin Argantara yang negitu penasaran.


**********


Hotel.


Karin berdiri di depan resepsionis.


" Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya resepsionis tersebut.


" Oh iya Pak Sean kemarin menginap di kamar no berapa?" tanya Karin, " dan iya sekalian Reya juga. Kamu juga cek jam berapa mereka keluar!" ucap Karin yang langsung bertanya semuanya tanpa ada yang di jawab dulu.


" Untuk apa kau ingin tau!" tiba-tiba terdengar suara yang khas bagi Karin yang membuat Karin langsung melihat ke belakang dan Karin terkejut di mana ternyata ada Sean.


Karin menelan salivanya yang sangat terkejut dengan Sean dan menjadi takut dan Sean langsung menghampirinya.


" Aku tidak memberikan izin pada siapapun yang memberi informasi tentang ku di hotel ini," tegas Sean pada resepsionis tersebut.


" Baik tuan," jawab resepsionis dengan menundukkan kepalanya yang rada takut-takut.


" a-a-aku- aku hanya ingin tau saja," jawab Karin dengan gugup.


" Kau pikir aku percaya dengan kata-kata mu. Kau sudah membuat kesalahan besar jangan sampai aku benar-benar akan kehilangan kendali dan kau tidak mendapatkan kesempatan apa-apa lagi. Jadi aku tanya sekali lagi padamu. Untuk apa kau ingin tau. Siapa yang menyuruhmu!" tegas Sean menatap tajam Karin.


Karin menunduk dengan penuh ketakutan yang Tidka berani menatap Sean.


" Diammu akan membuktikan jika kau tidak ingin bekerja di Perusahaan ku lagi," tegas Sean.


" Tante Anggika yang menyuruhku," jawab Karin dengan cepat yang takut di pecat Sean.


" Mama menyuruhmu?" tanya Sean lagi. Karin menganggukkan kepalanya.


" Kurang ajar!" umpat Sean.


" Kau dengarkan aku Karin. Jangan berusaha mencari sesuatu tentang ku. Jika kau berani-beraninya melakukan itu. Kau akan tau siapa aku yang sebenarnya," ucap Sean menegaskan. Karin mengangguk-angguk.


" Sekarang kau pergi dari sini!" usir Sean. Karin yang ketakutan pun akhirnya pergi dari pada Sean nanti akan marah-marah padanya lagi.


" Mama!" Geram Sean dengan menekan suaranya yang mengepal tangannya.

__ADS_1


" Mama benar-benar sangat keterlaluan. Apa lagi yang di inginkan mama. Dia pasti terus berusaha mencari tau apa yang terjadi," batin Sean yang mengumpat penuh dengan kekesalan dengan mamanya yang mematai-mayainya.


*********


Citra berada di dalam kamarnya yang terlihat begitu gelisa dengan beberapa kali yang membuang napasnya dengan perlahan kedepan.


" Apa yang terjadi sebenarnya. Ada apa denga. Kak Sean dan Reya. Kenapa mereka tadi seperti itu?" batin Citra dengan bertanya-tanya yang penuh kebingungan di antara kakaknya itu.


Toko-tok-tok-tok


" Masuk!" sahut Citra dari dalam kamarnya dan ternyata Rose yang memasuki kamarnya.


" Citra!" Sapa Rose.


" Ada apa?" tanya Citra.


" Nih aku balikin Dress kamu yang aku pakai tadi malam," ucap Rose yang berj


" Ya sudah aku keluar dulu ya Citra. makasih ya sudah di kasih pinjam dressnya," ucap Rose yang langsung pergi.


" Rose tunggu!" Panggil Citra yang membuat rose tidak jadi pergi.


" Ada apa?" tanya Rose heran.


" Menurut kamu hubungan persaudaraan itu seperti apa?" tanya Citra tiba-tiba yang membuat rose heran dengan menautkan ke-2 alisnya bingung dengan pertanyaan Citra.


" Maksudnya apa?" tanya Rose heran yang duduk di samping Citra.


" Ya hubungan Saudara?" tanya Citra lagi.


" Ya kamu sendiri bagaimana. Kamu itu mempunyai kakak dan kenapa bertanya padamu. Kamu kan bisa merasakannya. Kamu punya saudara," ucap Rose heran.


" Bukan masalah persaudaraan seperti itu yang aku maksud. Maksudku apa hubungan persaudaraan yang saling menyukai itu ada?" tanya Citra.


" Saudara saling menyukai. Maksudnya punya perasaan yang lain gitu, seperti cinta!" tebak Rose.


" Benar sekali," sahut Citra yang akhirnya Rose mengerti dengan apa yang di maksudnya.


" Hmmm, kalau misalnya cinta dalam tanda kutip dalam persaudaraan sih ada dan bukannya itu hal yang biasa ya. Kan banyak juga saudara sepupu yang saling mencintai dan menikah," ucap Rose.


" Kalau bukan saudara sepupu?" tanya Citra.


" Maksudnya sedarah gitu?" tanya Rose. Citra mengangguk cepat. Rose merasa pembicaraan mereka mulai serius.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2