Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 129


__ADS_3

Sean keluar dari rumah dan menghampiri Diki yang menunggu di dalam mobil.


toko-tok-tok-tok.


Sean langsung mengetuk pintu mobil dan Diki langsung keluar dari mobil. Berdiri di depan Sean dengan menundukkan kepalanya.


"Ada apa tuan Sean?" tanya Diki.


"Saya hanya mengatakan kepada kamu. Apa yang kamu lihat. Cukup hanya kamu yang tau. Dan saya tidak perlu memberikan alasan apa-apa untuk perintah saya," ucap Sean yang langsung to the point.


"Baik tuan saya mengerti," jawab Diki yang sampai saat ini masih menunduk.


Sean memang harus membicarakan masalah itu pada Diki sebelum Diki menyampaikan pada Argantara. Karena banyak kemungkinan Diki akan menyampaikannya dan Sean hanya ingin jaga-jaga saja.


"Sean!" tiba-tiba Argantara datang bersama Reya dan juga sama-sama menghampiri Diki dan Sean. Diki menundukkan kepalanya pada Argantara.


"Ada apa menemui Diki?" tanya Argantara yang melihat kearah Sean dan Diki secara bergantian.


"Hanya menyuruhnya untuk mencari tau keberadaan Tante Erina," jawab Sean yang pasti berbohong.


"Begitu rupanya. Benar Diki hanya itu?" sahut Argantara dan malah bertanya pada Diki seolah tidak mempercayai Sean membuat Reya dan Sean saling melihat dengan wajah mereka yang kembali panik. Bukan kembali sejak tadi wajah itu memang tidak pernah tidak panik.


"Benar tuan!" jawab Diki yang juga harus berbohong demi Sean yang sebelumnya sudah memerintahkannya untuk menutupi hal itu.


"Papa kenapa harus menanyakan itu pada Diki?" tanya Sean.


"Tidak apa-apa Sean kamu santai saja. Jangan terlalu serius apa lagi berpikir papa tidak percaya kata-kata mu. Tidak ada apa-apa kamu harus tenang," ucap Argantara menepuk bahu Sean.


Sean tidak menanggapi lagi. Namun membaca gesture tubuh dan cara bicara Argantara sudah bisa di tebak Argantara sedang mengamati Sean dan juga Reya yang seakan tidak mempercayai 2 orang itu.

__ADS_1


"Baiklah Reya papa harus pulang. Ini sudah malam, kamu istirahatlah," ucap Argantara.


"Iya pah, hati-hati di jalan," ucap Reya memeluk Argantara.


"Kamu juga baik-baik disini," sahut Argantara mencium kening Reya setelah melepas pelukan itu. Reya menganggukan kepalanya.


Diki membuka pintu mobil untuk tuannya tersebut dan bukannya Argantara memasuki mobil. Argantara malah melihat ke arah Sean.


"Kamu tidak pulang Sean?" tanya Argantara yang masih melihat Sean tetap berdiri di dekat Reya, "apa kamu mau menginap di sini?" tanya Argantara. Pertanyaan simple itu seakan menggambarkan sesuatu.


"Tidak pah. Apa yang papa bicarakan," sahut Sean yang berusahalah untuk tenang dengan kata-kata Argantara yang lebih banyak bertujuan pada sindiran.


"Reya aku juga pulang," ucap Sean yang tidak banyak kata bahkan langsung memasuki mobilnya sebelum Argantara mencurigainya lagi. Begitu juga dengan Reya yang hanya mengangguk dengan sikap biasa. Karena lagi-lagi Argantara sangat memperhatikan gerak-geriknya


"Hati-hati pah," ucap Reya ketikan Argantara memasuki mobil dan mobil Argantara yang di setiri Diki akhirnya melaju yang kebetulan di susul oleh Sean yang 2 mobil itu pergi dari rumah tersebut.


"Kejadian hari ini sungguh tidak terduga," batin Reya dengan wajahnya penuh dengan kesenduan dan mengusap dadanya yang masih sangat bergetar sampai detik ini. Kedatangan Argantara mampu membuat Reya maupun Sean sama-sama diobrak-abrik dan penuh dengan ketakutan.


***********


Argantara berada di dalam mobil yang duduk di bangku belakang terlihat sangat berpikir keras.


"Kamu tau bagaimana hubungan Reya dan Sean dulu mas. Mereka 2 orang yang saling mencintai,"


"Anggika apa yang kamu pikirkan. Itu hanya masa lalu dan sekarang mereka sudah saling mengetahui siapa diri mereka. Jadi tidak mungkin perasaan itu akan ada lagi. Kamu jangan berpikir terlalu berlebihan berpikiran dengan hal yang tidak masuk akal,"


"Aku berusaha untuk membuat apa yang aku takutkan tidak terjadi. Tetapi kamu seolah-olah memberikan peluang untuk mereka berdua," tegas Anggika.


Semua kata-kata Anggika yang selalu mengkhawatirkan Reya dan juga Sean teringat di dalam pikiran Argantara.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Argantara harus mengingat hal itu. Harus menyadari sesuatu ketika tadi Argantara di hadapkan dengan penuh tanya. Istrinya itu memang selalu mengingatkan hal itu kepada Argantara. Bahkan alasan besar bagi Anggika tidak mengijinkan Reya tinggal serumah dengan mereka. Karena takut Sean dan Reya kembali saling membuka rasa.


"Apa yang terjadi sebenarnya. Apa mungkin yang di pikirkan Anggika akan terjadi. Tetapi itu tidak mungkin. Aku sangat mempercayai Sean. Lalu bagaimana dengan kenyataan bahwa Sean dan Reya yang saling menatap dengan penuh arti. Apakah itu sudah menjelaskan semuanya," batin Argantara yang penuh dengan kebingungan. Dia tidak bisa memutuskan begitu saja apa yang ada di pikirannya sebelum mendapatkan bukti yang jelas.


"Diki!" tegur Argantara.


"Iya Pak," sahut Diki.


"Saya berharap kamu memberi informasi mengenai pengawasan kamu selama ini terhadap Reya dengan jujur kepada saya. Jujur seperti sebelum-sebelumnya di mana saya sangat mempercayai kamu," ucap Argantara.


"Maksud bapak apa?" tanya Diki.


"Kamu sudah mengerti dan sudah paham apa yang saya katakan. Jadi ingatlah kamu bekerja untuk saya dan bukan untuk Sean. Jadi saya ingin mendapatkan informasi yang benar yang kamu lihat dengan kebenaran dan kamu sampaikan tanpa di lebihkan dan juga di kurangi," tegas Argantara yang berbicara begitu serius. Diki hanya mengangguk dengan wajahnya yang terlihat panik.


Ya Sean menyuruhnya menutup mulut dan sekarang Argantara memperingatinya. Padahal sebelum kejadian ini Diki juga sudah melihat banyak keganjalan dalam hubungan Reya dan Sean. Bahkan berciuman itu bukan pertama kalinya. Namun sampai detik ini Diki masih menutup mulut.


Sekarang posisi Diki yang paling tersulit tidak tau mau menuruti siapa dan Argantara tampaknya juga tidak main-main kali ini Karena jelas hubungan sedarah itu tidak benar. Jadi Argantara harus memperjelas semuanya sebelum semuanya semakin panjang.


**********


Sementara di lain tempat di dalam mobil juga Sean yang menyetir juga penuh dengan pemikiran dengan wajah yang tetap masih sama gelisahnya yang mengingat kata-kata papanya yang jelas-jelas begitu mencurigai dirinya.


Sean yang tidak bisa tenang dalam berpikir langsung meminggirkan mobilnya berhenti di pinggir jalan. Sean membuang napasnya dengan kasar dengan memijat pelipisnya. Lalu langsung mengambil ponselnya.


"Raya kamu jangan khawatir, jangan memikirkan apa-apa. Tidak akan terjadi apa-apa. Jangan takut Reya dengan apa yang terjadi tadi. Jika semua yang kita takutkan terjadi. Bukannya kita sudah berjanji akan menghadapinya bersama-bersama," tulis Sean mengirim pesan wa pada Reya.


Dia sangat mengkhawatirkan jika Reya akan memikirkan hal ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2