
Setelah selesai berjalan-jalan Sean dan Reya pun akhirnya kembali ke rumah dan mereka sama-sama memasuki rumah.
"Kamu akan pulang?" tanya Reya yang berdiri di hadapan Sean.
"Hmmm, aku harus pulang. Aku ingin bicara dengan papa," jawab Sean.
"Hmmmm, begitu," sahut Reya yang kelihatan tidak semangat. Saat mendengar Sean akan pulang.
Sean menaikkan alisnya dan memperhatikan wajah Reya, "ada apa. Apa wajah ini adalah tanda-tanda untuk menyuruhku stay di sini?" tebak Sean dengan memegang pipi Reya. Reya langsung memeluk Sean.
"Tidak tau kenapa aku masih sangat merindukanmu dan ingin terus bersamamu. Aku tiba-tiba sangat takut. Jika kita akan berpisah," ucap Reya yang memeluk erat Sean yang membuat Sean tersenyum lebar.
"Apa yang kamu takuti Reya. Mana mungkin kita berpisah. Aku sudah mengatakan aku akan terus bersamamu. Jadi yang kamu takuti tidak akan pernah terjadi," ucap Sean yang meyakinkan Reya. Reya mendengarnya tersenyum dan melonggarkan pelukannya.
"Kamu yakin?" tanya Reya. Sean mengangguk-angguk kepalanya. Reya tersenyum lebar dan mencium pipi Sean.
"Aku mencintaimu," ucap Reya dengan ketulusannya.
"Aku juga mencintaimu," jawab Sean dengan mencium lembut kening Reya.
"Baiklah Reya. Aku harus pulang dan iya jika urusanku dan papa sudah selesai aku akan kembali lagi," ucap Sean.
"Kamu akan menginap di sini?" tanya Reya.
"Iya aku akan menginap di sini. Aku tidak bisa membiarkanmu menahan rasa rindu," ucap Sean. Reya mendengarnya begitu bahagia dan tersenyum lebar.
"Aku pergi!" ucap Sean.
"Hati-hati!" sahut Reya dengan melambaikan tangannya. Sean pun langsung buru-buru keluar dari rumah tersebut. Reya menghela napasnya dan langsung memasuki kamarnya.
Sementara Sean juga sudah memasuki mobilnya dan mobil itu sudah melaju santai yang keluar dari pagar rumah.
Ternyata di seberang rumah Reya dan Sean ada Taxi yang berhenti dan tidak tau sejak kapan Taxi itu ada di sana. Bukan masalah Taxinya. Tetapi masala seseorang yang di dalamnya yang duduk di kursi penumpang yang tak lain adalah Erina. Ibu dari Reya yang tidak tau kenapa dia ada di Jakarta dan tau di mana Reya tinggal.
"Wau, jadi hubungan kalian sedekat itu. Ini sangat menarik bukan. Aku sudah curiga sebelumnya jika Sean dan Reya memang ada hubungan yang tidak terduga dan inilah kenyataannya," batin Erina.
__ADS_1
"Aku tidak membayangkan, bagaimana jika Anggika tau. Jika putra kesayangannya telah menjalin hubungan gila dengan wanita yang di bencinya. Apa lagi Sean sampai menyembunyikan Reya. Argantara dan Anggika mungkin bisa akan gila. Jika hal ini terjadi. Akan ada perang dunia ke-3. Jika semuanya akan terbongkar dan semua itu pasti sangat menyenangkan jika semuanya terbongkar. Melihat Anggika yang akan sensara," batin Erina dengan menyunggingkan senyumnya.
"Aku tidak sabar untuk membuat Anggika serangan jantung. Ini adalah pembalasan untukmu kalian semua dan termasuk dirimu Anggika," batin Erina yang mempunyai dendam kesumat pada Anggika.
Padahal Erina yang merusak rumah tangga Anggika dan seolah Erina yang tersakiti. Padahal jelas Anggika yang tersakiti. Namun Erina yang dendam dan memanfaatkan Reya untuk membalaskan dendamnya.
"Jalan pak!" titah Erina.
Supir Taxi mengangguk dan langsung menjalankan mobilnya.
Erina pasti punya niat yang tidak baik dan tidak tau juga kenapa dia tau tempat tinggal Reya. Padahal Reya tidak pernah mengatakan jika dia tinggal di rumah Argantara atau tidak. Namun Erina yang dari Paris ke Jakarta langsung mendapatkan tempat tinggal Reya dan bisa menebak hubungan Reya dan juga Sean.
Mungkin saja selama ini Erina sudah menyelidiki Reya dan makanya dengan mudah mengetahui di mana keberadaan Reya.
Bersambung
Citra dan Reval pun akhirnya pulang juga yang pasti Reval yang mengantarkan Citra pulang. Bahkan sampai Reval keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Citra memang sangat manis perbuatan simple Reval. Bagaimana Citra tidak semakin jatuh hati.
"Makasih kak Reval," ucap Citra yang sudah keluar dari mobil Reval dan berdiri di depan Reval.
"Sama-sama Citra! kamu masuklah!" titah Reval.
Reval melihat arloji di tangannya, "lain kali saja ya Citra. Kebetulan saya ada urusan mendadak," ucap Reval.
"Oh begitu rupanya. Ya sudah tidak apa-apa. Tapi janji ya lain kali dan juga jangan lupa janji kak Reval membawa Citra pada ibu kak Reval," Ical Citra menagih. Reval mengangguk tersenyum dengan memegang bahu Citra.
"Saya janji," sahut Reval memastikan. Citra mendengarnya tersenyum dengan lebar.
"Baiklah kak Reval Citra masuk dulu. Terima kasih untuk hari ini, waktu dan segalanya," ucap Citra. Reval mengangguk-angguk. Citra tersenyum dan sangat berat untuk membalikkan tubuhnya meninggalkan Reval.
"Citra!" panggil Reval membuat Citra tidak jadi melangkah dan kembali menghadap Reval.
"Iya kak?" tanya Citra.
"Terima kasih untuk hari ini. Jujur saya sangat menyukai hari ini dan ini hari yang paling special yang pernah saya jalani. Makasih ya," ucap Reval yang begitu tulus bicara pada Citra membuat Citra tersenyum semakin lebar.
__ADS_1
Kata-kata singkat itu mampu membuat jantungnya berdebar. Bahkan tatapan mata Sean bisa membuatnya terbang sampai ke awang-awang. Karena perasannya yang benar-benar campur aduk membuat Citra jinjit dan mencium pipi Reval yang mengejutkan Reval kala Citra bisa-bisanya langsung mengambil start untuk menciumnya.
Kecupan itu terlepas membuat Citra menunduk malu dengan hal yang refleks di lakukannya.
"Maaf kak Reval. Saya juga ingin mengatakan. Jika hari saya juga sangat bahagia dan ini sangat special untuk saya," ucap Citra dengan wajahnya yang memerah.
"Saya masuk dulu! kak Reval hati-hati," ucap Citra yang langsung pamit dari hadapan Reval.
Setelah kepergian Citra Reval tersenyum yang sepertinya sangat menerima kecupan lembut di pipinya dan Reval juga langsung pergi memasuki mobilnya dengan wajah yang berseri-seri.
Citra memasuki rumah dan menutup pintu rumah dengan punggungnya bersandar di daun pintu dengan memegang dadanya yang jantungnya tidak henti-hentinya berdetak kencang.
"Citra kenapa kau nekat sekali Citra," ucap Citra yang beberapa kali mengatur napasnya. Dia baru menyadarinya tindakannya terlalu over dan takut Reval akan ilfil kepadanya. Citra tidak bisa menahan dirinya. Jika sudah menyukainya maka akan langsung to the point. Mungkin Reval yang terlalu lama bertindak.
"Citra!" tegur Anggika yang membuat Citra tersentak kaget.
"Mama, ngagetin aja," sahut Citra yang membuang napasnya perlahan kedepan.
"Kamu kenapa?" tanya Anggika.
"Oh aku. Nggak aku nggak kenapa-kenapa?" jawab Citra.
"Lalu kenapa kamu seperti orang cacingan seperti itu?" tanya Anggika menatap Citra dengan penuh selidiki.
"Cacingan apa sih mah. Teori mama ada-ada saja. Orang Citra tidak apa-apa kok," sahut Citra mengelak. Padahal dia memang lah tingkah. Akibat ulahnya sendiri.
"Begitu rupanya. Siapa yang mengantar kamu tadi?" tanya Anggika yang ternyata tau Citra di antar pulang.
"Oh itu teman Citra," jawab Citra.
"Sedekat apa?" tanya Anggika yang sangat ingin tau.
"Kenapa mama tanya seperti itu?" tanya Citra.
"Mama melihat sepertinya orang yang sering mengantar kamu orang yang sama. Walau mama tidak pernah melihat wajahnya. Hanya mobilnya yang sama. Apa itu pengganti Barra?" tanya Anggika.
__ADS_1
"Isss mama apa-apaan sih. Sudahlah nanti saja membahasnya. Citra mau keatas dulu," sahut Citra yang langsung pergi yang sepertinya tidak ingin Anggika membahas masalah asmaranya.
Bersambung