
Mendengar cerita Citra membuat Reval membuang napasnya perlahan ke depan. Napas berat dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya yang juga tidak percaya dengan semua yang di ceritakan Citra.
"Apa kamu yakin Citra dengan semua apa yang kamu ketahui?" tanya Reval.
"Maksud kamu. Kamu juga berpikir jika aku dan Reya ada hubungan?" tanya Citra.
"Kesimpulannya sangat mendekati. Namun kuncinya ada pada Tante Anggika," ucap Reval.
"Apa aku harus bertanya pada mama dengan apa yang terjadi?" tanya Citra.
"Kita tidak punya pilihan. Kamu harus tau apa yang sebenarnya terjadi dan mari sama-sama kita cari kebenarannya," ucap Reval.
Citra diam saja yang tidak menjawab apa-apa yang pasti Citra juga penuh dengan kebingungan. Reval langsung menggenggam tangan Citra untuk memberikan Citra kekuatan, "Citra semua orang punya masa lalu dan pasti tidak akan pernah siap dengan kenyataan terburuk. Sama dengan aku, Reya dan Sean yang sudah menghadapi semuanya terlebih dahulu. Kita juga tidak siap. Tetapi kita juga tidak bisa untuk tidak siapa," ucap Reval yang mencoba memberi Citra pengertian.
Namun kembali lagi Citra sudah tidak mampu berkata-kata dan hanya memeluk Reval yang sangat membutuhkan Reval untuk ada bersamanya mengahadapi semua yang di alaminya yang selama ini hanya dirinya saja yang menjalaninya dan Citra pikir dia mampu. Namun tidak sama sekali.
*********
Panti Asuhan Sejahtera.
Anggika, Sahila benar-benar ke panti asuhan dan bertemu dengan ibu panti. Ibu panti sangat terkejut melihat kedatangan Anggika dan Alhamdulillah ibu panti masih mengingat Anggika.
Mereka terlihat mengobrol di ruang tamu dan terlihat sangat serius. Namun tidak tau apa yang mereka bicarakan.
"Jadi Bu siapa ibu anak yang saya adopsi waktu itu?" tanya Anggika.
"Mungkin ini sudah takdir yang sudah di atur dan jujur saya juga sangat kaget dengan ibu Anggika yang datang kembali dan mengingatkan saya pada Tasya yang sekarang berubah menjadi Citra. Karena sebelumnya saya juga berusaha untuk mengingat siapa anak itu. Karena kakaknya sedang mencari ibunya," ucap ibu panti.
Sahila dan Anggika saling melihat dengan perasaan mereka yang pasti sangat dek-dekan.
"Kakaknya mencari ibunya. Apa itu Reya?" tanya Anggika dengan suara yang tertahan yang langsung bicara to the point.
"Ibu Anggika mengenal Nona Reya?" tanya ibu panti.
__ADS_1
"Maaf Bu panti tolong jangan menyimpang kesana kemari. Katakan saja pada kami dengan benar-benar ibu kandung dari kasih," sahut Sahila yang tidak sabaran sama sekali.
"Oh maaf jika saya sudah bertele-tele dan membuat kalian tidak nyaman," sahut ibu panti yang langsung mengeluarkan data-data Tasya. Karena Anggika datang kepanti dan memberi keterangan otomatis data-data Tasya atau Citra di temukan walau memakan waktu beberapa jam.
"Bisa di lihat," ucap Ibu panti yang langsung menyodorkan. Anggika dan Sahila pun sama-sama melihatnya.
"Kasih dan Tasya adalah adik kakak dari ibu Suhartati yang menitipkan mereka karena beliau yang ingin menjadi TKI di Luar Negri dan tidak lama kasih dan Tasya di panti asuhan ini. Mereka kasih di angkat nyonya Erina dan kemudian nyonya Anggika juga mengangkat Tasya dan merawatnya sampai sekarang," jelas ibu panti.
Hal itu jelas sangat mengejutkan Anggika. Selama ini dia adik kakak yang tadinya 1 ayah lain ibu itu ternyata adalah saudara kandung dari ibu dan ayah yang sama.
"Foto-foto bayi mereka sudah menjelaskan semuanya. Jika ke-2 anak itu adik kakak dan Bu Anggika mungkin masih menyimpan gelang tangan milik Tasya. Karena gelang yang sama juga ada pada kasih dan saya juga sudah memberikannya ke pada Reya tadi pagi," jelas ibu panti lagi.
"Ya Allah. Jadi mereka berdua adalah adik kakak. Mereka adik kakak yang selama ini terpisah," ucap Anggika dengan air matanya yang keluar yang pasti sangat terharu dengan kebenaran yang terungkap.
"Apa yang aku katakan benarkan Anggika. Jika mereka berdua itu asik kakak," sahut Sahila.
"Alhamdulillah jika ternyata Tasya juga masih hidup dan saya bisa mengabari Nona Reya bahwa adiknya masih hidup dia sangat bahagia mendengar kabar ini," ucap ibu panti.
"Tidak usah ibu. Biar kami saja yang mengatakan kepada Reya. Karena Reya itu juga menantu saya dan bahkan dia anak kamu juga," sahut Anggika yang masih terharu. Namun pasti ikut bahagia dengan hal itu.
"Benar kata ibu, ini sudah menjadi jalannya dan kamu juga tidak percaya. Mereka selama ini adalah adik kakak," sahut Sahila.
"Saya berdoa untuk kebahagiaan 2 anak itu dan semoga mereka juga menemukan ibu mereka," sahut ibu panti dengan harapannya.
"Kami juga mengharapkan hal yang sama. Kamu mohon doanya dari ibu juga," sahut Sahila.
"Pasti," sahut ibu panti.
"Terima kasih ibu sudah banyak membantu kami dan sudah membuang waktu untuk mencari data-data Tasya. Saya sungguh merepotkan ibu dan juga yang lainnya. Namun saya sangat bahagia dan sangat lega sekarang ini. Saya ucapkan sekali lagi makasih," sahut Anggika dengan tersenyum haru.
"Sama-sama ibu Anggika," sahut ibu panti.
***********
__ADS_1
Setelah selesai makan. Citra juga sudah lumayan tenang. Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju alamat yang tidak tau berapa jam lagi akan sampe.
Tidak Reya yang pasti menunjukkan eksperesi lesu karena misi pencarian ibunya sama dengan Citra yang tidak kalah lesu karena pertanyaan di hatinya mengenai dia dan Reya.
Dratt-dratt-dratttt
Ponsel Sean tiba-tiba berdering.
"Siapa sayang?" tanya Reya.
"Mama," jawab Sean yang langsung mengangkat telpon tersebut.
"Halo mah?" tanya Sean yang me louspeker ponselnya.
"Kamu di mana Sean?" tanya Anggika.
"Masih di jalan mah," jawab Sean.
"Kalian bisa pulang sebentar?" tanya Anggika. Reya, Sean, Reval dan Citra saling melihat satu sama lain.
"Mah memang ada apa? apa papa kenapa-napa?" tanya Sean yang langsung khawatir pada papanya.
"Tidak Sean. Papa kamu baik-baik aja. Mama hanya ingin kamu dan yang lainnya pulang dulu," ucap Anggika.
"Tapi sudah tanggung mah. Kita kan sedang mencari orang tua Reya," sahut Citra.
"Kalian pulanglah dulu. Nanti mama dan papa akan mencarinya bersama-sama yang penting kalian pulang dulu," ucap Anggika.
Mereka kembali saling melihat dan menganggukkan kepala mereka.
"Baiklah mah kalau begitu kami akan putar balik," sahut Sean yang setuju.
"Mama tunggu Sean," sahut Anggika yang menutup telpon itu.
__ADS_1
Bersambung