Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 155


__ADS_3

"Maksud kak Reval?" tanya Citra dengan menautkan ke-2 alisnya bingung dengan kata-kata Reval. Namun Reval hanya diam yang saling menatap dengan Citra. Mata Reval mengartikan sesuatu yang membuat Citra kebingungan.


"Kak Reval!" tegur Citra membuat Reval minat ke arah Citra.


"Apa yang kak Reval katakan. Tidak baik. Siapa yang tidak baik?" tanya Citra dengan penasaran.


"Ayo Citra kita kembali. Ini sudah larut malam dan juga hujan, ayo pindah ke depan. Aku akan mengantarmu pulang," ucap Reval dengan lembut yang tidak menjawab apa-apa.


"Kak!" Citra menahan tangan Reval.


"Ada apa?" tanya Reval.


"Citra tidak mau pulang," ucap Citra membuat Reval mengkerutkan dahinya.


"Kenapa?" tanya Reval heran.


Citra tidak bisa pulang," jawab Citra.


"Alasannya?" tanya Reval heran.


"Mama pasti akan marah dengan kejadian ini dan tadi saat kita keluar dari tempat itu. Aku melihat mobil mama dan papa dan aku yakin mama dan papa melihat kita dan iya aku yakin mama akan marah-marah dengan masalah ini," ucap Citra yang tidak berani menghadapi mamanya.


"Aku akan menghadapinya. Aku akan bicara pada Tante Anggika, menjelaskan semuanya pada Om Argantara dan juga Tante Anggika," ucap Reval dengan gentelment.

__ADS_1


"Tidak kak. Tidak ada gunanya. Apa lagi bicara dengan mama. Mama, mama tidak menyukai kak Reval dan mama juga menyuruh Citra untuk menjauhi kak Reval dan juga memberi ancaman pada Citra. Jadi kak Reval tidak mungkin menemui mama," ucap Citra dengan pelan yang terlihat lesu dan Reval memperhatikan Citra yang berbicara hal itu.


"Apa dia setakut itu sampai menyuruh Citra menjauhiku dan memberi ancaman pada Citra. Sungguh tidak percaya jika dia secepat itu bertindak, di luar dengan dugaan ku," batin Reval yang tidak percaya dengan tindakan Anggika yang terlalu jauh.


"Mama melarang kita berhubungan. Padahal mama belum mengenal kak Reval dengan jauh. Kejadian yang terjadi saat itu sudah sangat jelas. Jika mama tidak menyukai kak Reval dan makanya Citra tidak berani pulang karena pasti nanti mama akan marah-marah," ucap Citra.


"Citra mama kamu tidak menyukai hubungan kita. Lalu kenapa kamu masih menemuiku?" tanya Reval.


"Kak Reval apa itu artinya kakak menyuruh Citra untuk mundur?" tanya Citra.


"Maksud kamu apa?" tanya Reval.


"Mama memang melarang hubungan kita dengan alasan kakak seorang dosen dan mama tidak ingin Citra berpacaran atau punya hubungan dengan seorang Dosen. Dan Citra juga tidak tau alasannya kenapa mama harus melakukan itu yang berpikiran buruk dengan seorang Dosen. Tapi buka. berarti Citra harus menuruti mama. Karena Citra merasa mama tidak masuk akal," ucap Citra.


"Kak Reval, jadi benar kak Reval takut dan ingin mundur dan tidak mau melakukan apa-apa?" tanya Citra dengan wajah kecewanya.


"Bukan begitu Citra," sahut Reval. Citra tersenyum kaku dengan kekecewaannya dan juga helaan napasnya yang kasar sudah menjelaskan Reval sangat mengecewakannya.


"Citra pikir tanggapan kak Reval akan berbeda. Ternyata Citra salah kak Reval bahkan tidak peduli. Ya sudah Citra pulang saja," ucap Citra tampak marah yang ingin membuka pintu mobil. Namun Reval menghentikannya.


"Citra kamu salah paham, kamu tidak bisa pergi begitu saja dengan keadaan seperti ini. Di luar juga hujan," ucap Reval dengan lembut.


Citra melepas tangannya dari Reval, "apa pedulinya kak Reval. Kak apa salahnya mengatakan jika kakak tidak peduli, mau mama setuju apa tidak dengan hubungan kita yang penting kak Reval tetap ingin bersamaku. Tapi apa kak Reval malah menyerah begitu saja. Tidak dengan kak Sean yang berjuang mati-matian hanya untuk mempertahankan Reya untuk memperjuangkan Reya. Apa Citra tidak pantas untuk di perjuangkan?" ucap Citra dengan marah-marah sembari air matanya yang menetes.

__ADS_1


"Citra!" lirih Reval dengan memegang pipi Citra. Namun Citra menepis tangan itu.


"Citra sangat kecewa dengan kak Reval. Kak Reval sangat jahat," ucap Citra.


"Dengarkan aku Citra bukan itu maksud ku. Aku hanya tidak ingin hubungan kita mempersulit kamu. Aku tidak takut menghadapi apapun termasuk Tante Anggika dan aku juga ingin kita bersama. Tapi bagaimana dengan kamu. Kamu yang akan mengalami kesulitan. Jika kamu tidak menuruti apa kata mama kamu?" ucap Reval dengan lembut.


"Tapi Citra tidak peduli kak," sahut Citra, "Citra mencintai kak Reval dan hanya ingin kak Reval yang ada di hidup Citra. Kak Reval Citra tidak tau kapan dan di mulai dari mana Citra jatuh cinta pada kak Reval. Tetapi sekarang ini rasanya hanya kak Reval yang Citra butuhkan. Citra hanya merasa hanya kak Reval yang memahami Citra. Citra sangat mencintai kak Reval dan Citra tidak tau bagaimana kehidupan Citra tanpa kak Reval," ucap Citra dengan mengeluarkan perasaannya sembari air matanya yang keluar.


Ketulusan kata-kata Citra itu dapat di dengarkan Reval yang mana Citra benar-benar mencintai.


"Dan jika seperti ini ya sudahlah. Mungkin itu sudah yang paling tepat. Karena percuma untuk bertahan sendiri. Ternyata kak Reval juga tidak memperjuangkan Citra," ucap Citra dengan menyeka air matanya dan kembali ingin membuka pintu mobil.


Namun Reval menghentikannya lagi dan malah menautkan bibirnya pada bibir Citra yang menyerang Citra tiba-tiba yang membuat Citra terkejut. Namun Citra memejamkan matanya dan Reval yang mendapatkan izin mencium Citra semakin dalam dengan tangannya memegang ke-2 pipi Citra semakin semakin memajukan wajah Citra untuk memperdalam ciumannya dengan Citra.


Ciuman itu semakin dalam dengan penuh saling menuntun di antara ke-2nya dengan tangan Citra memegang erat kemeja Rafa. Selang beberapa menit akhirnya ciuman itu berakhir dengan tautan bibir keduanya saling melepas dengan sama-sama mengatur napas yang naik turun dan sama-sama membuka mata mereka dengan perlahan.


"Aku tidak akan membiarkan Citra. Jika kamu akan berjuang sendiri. Kamu ingin berjuang dan menentang apapun?" tanya Sean.


"Citra akan berjuang. Jika kak Reval ikut bersama Citra. Maka Citra tidak akan takut untuk menghadapi apapun," jawab Citra dengan suara seraknya yang air matanya menetes kembali.


"Kalau begitu mari menghadapinya bersama-sama," sahut Reval yang kembali mencium bibir Citra. Dan Citra kembali memejamkan matanya yang menerima kembali ciuman romantis yang lembut dari Reval kekasihnya itu.


Ciuman itu bukan sekedar ciuman. Namun mampu membuat dada Citra bergetar hebat dengan lidah yang bermain di dalam mulutnya. Reval memang paling pintar kalau soal-soal seperti itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2