Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 193


__ADS_3

Reval yang tidak ingin berlama-lama untuk melihat penderitaan Citra. Reval langsung memilih untuk pergi daripada harus melihat Citra yang menderita di depannya di mana Reval melewati koridor-koridor rumah sakit yang berjalan dengan sangat cepat.


"Apa kau sengaja melakukan semua ini?" suara itu menghentikan langkah Reval dan membalikkan tubuhnya yang melihat ternyata itu adalah Anggika yang bertanya kepadanya.


"Lalu apa kehamilan Citra adalah perbuatanmu?" tanya Anggika yang ingin memastikan apa yang terjadi sebenarnya kepada Citra. Adalah balas dendam Reval.


"Aku tidak harus menjawab pertanyaan itu," sahut Reval dengan suara dinginnya.


"Tidak mungkin itu benar, tidak mungkin kamu dan Citra melakukan hal itu," sahut Anggika dengan mengusap wajahnya kasar yang tidak terima dengan perkataan Reval.


"Tidak mungkin! tidak mungkin Citra hamil anak kamu, itu tidak mungkin!" bantah Anggika dengan memegang kepalanya. Reval hanya diam saja yang melihat Anggika stress sendiri dengan kenyataan yang di terimanya.


"Kau benar-benar keterlaluan Reval, seharusnya kau tidak melibatkan Citra dalam hal ini, kau sudah menghancurkan hidup Citra!" teriak Anggika dengan menunjuk tangannya.


"Aku menghancurkan. Lalu bagaimana dengan dirimu. Apa kau lupa. Jika kau juga menghancurkan kehidupanku dan juga ibuku," sahut Reval dengan menekan suaranya yang menunjuk Anggika.


"Tapi Citra tidak salah apa-apa dalam hal ini. Ini bukan kesalahan Citra!" teriak Reval.


"Lalu apa ini kesalahan ku, apa aku anak kecil yang tidak tau apa-apa itu kesalahan ku sehingga aku melihat ayahku yang di tarik, di rebut olehmu dan kau menghancurkan ibuku berkeping-keping. Apa itu kesalahanku," teriak Anggika.


"Tapi tidak harus Citra Reval kau tidak bisa balas dendam pada Citra. Jika ingin marah padaku, menghancurkan ku maka cukup aku, kau tidak bisa melibatkan Citra dan hubungan kamu dengan Citra kesalahan yang paling besar," ucap Anggika dengan air matanya yang keluar dengan frustasi menghadapi semuanya.


"Kesalahan terbesar itu berasal dari kamu dan kamu lah yang harus bertanggung jawab atas semua ini dan Citra dan aku hanya korban dan sangat tidak adil jika hanya aku yang mengalami penderitaan dan Citra tidak sama sekali. Jadi karena itu Citra juga harus mendapatkan semuanya agar adil untuk diriku," ucap Reval dengan penuh penegasan dan penekanan.


"Tidak itu tidak mungkin, kenapa harus Citra, kenapa harus Citra!" ucap Anggika yang histeris sendiri. Reval melihat di sekelilingnya dan langsung memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu yang mana sudah cukup baginya untuk melihat Anggika yang menderitanya.


"Apa yang harus aku lakukan, anakku sudah hancur, bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan, kenapa harus Citra yang mendapatkan hukuman ini? kenapa bukan aku," ucap Anggika yang hanya bisa menangis dengan penyesalan yang ada.

__ADS_1


*********


Merasa kondisi Citra sudah baik-baik saja. Akhirnya Sean dan Reya memutuskan untuk membawa Citra pulang dan lebih ingin merawat Citra di rumah agar kondisi Citra lebih bisa di kontrol mereka.


Setelah mengurus semua masalah di rumah sakit. Akhirnya Reya dan Sean membawa Citra pun pulang kerumah yang mana tidak memerlukan waktu yang lama dari rumah sakit ke rumah mereka.


Setelah sampai rumah Reya dan Sean langsung membawa Citra kedalam kamar dan Reya membantu Citra merebahkan dirinya atas ranjang.


"Kamu istirahat lah," ucap Reya dengan lembut dengan menarik selimut sampai dada Citra dan Citra hanya menganggukkan kepalanya dan membaringkan tubuhnya membelakangi Reya yang lagi-lagi miring tertidur yang tidak banyak bicara.


Raya hanya melihat ke arah Sean yang juga tidak mengatakan apa-apa dan Reya langsung menghampiri suaminya.


"Ayo kita keluar kita biarkan saja Citra untuk istirahat, aku yakin Citra pasti baik-baik aja," ucap Sean. Sean menganggukan kepalannya dan mengikuti apa yang di katakan istrinya yang mana mereka langsung keluar dari kamar Citra.


Citra dan Sean menutup pintu kamar ketika sudah berada di luar kamar Citra.


"Terima kasih Reya kamu sudah membantu banyak. Makasih sudah sangat peduli kepada Citra," ucap Sean dengan memegang pipi istrinya dan Reya memegang tangan suaminya yang ada di pipinya itu.


"Tidak perlu berterima kasih aku sangat tau apa yang di rasakan Citra dan semua ini aku lakukan untuk Citra dan aku akan berusaha semampuku untuk merawat Citra dan mengembalikan mentalnya. Kamu jangan Khawatir," ucap Reya.


"Makasih, aku sangat beruntung memiliki kamu," ucap Sean.


"Ya sudah sekarang sebaiknya kamu juga bersih-bersih, aku akan menyiapkan makan untuk kamu dan juga Citra," ucap Reya. Sean menganggukkan kepalanya. Namun dia masih ingin memeluk istrinya yang sangat berjasa baginya yang begitu banyak membantu dirinya sampai dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.


"Aku juga akan berusaha untuk mengembalikan Citra yang dulu, aku akan menebus semua kesalahanku selama ini dan aku tidak akan membiarkan Citra sampai kenapa-kenapa lagi dan akan mencari orang yang sudah membuatnya seperti ini," ucap Reval.


"Aku tidak tau Sean siapa yang salah dan apa Reval juga patut di salah sepenuhnya. Karena dia juga melakukan ini untuk seorang wanita yang sakit mental bertahun-tahun dan semua itu perbuatan Tante Anggika. Sean aku tidak tau harus berpikir bagaimana, cara Reval salah yang menyakiti Citra hanya karena ingin balas dendam. Namun jika tidak melakukan itu bagaimana dia bisa mendapatkan keadilan untuk mamanya. Reval juga anak yang kehilangan kebahagiaan sejak kecil dan berusaha untuk mendapatkan keadilan untuk ibunya," batin Reya yang merasa posisinya serba salah.

__ADS_1


Dia seolah mengerti posisi Reval. Namun harus di akuinya tindakan Reval tidak pantas yang mana Citra tidak tau apa-apa. Lalu kembali lagi seperti dulu. Apa Reval juga tak apa-apa dengan masa lalu dulu. Makanya kebahagiannya di ambil. Reya menjadi bimbang dengan masalah yang melibatkan sahabatnya dan juga asik iparnya.


********


Setelah selesai memasak Reya langsung kekamar Citra dengan membawa nampan yang berisi makanan dan juga minuman de'ngan sebelumnya Reya sudah mengetuk pintu sebelum masuk.


"Citra aku sudah menyiapkan makan, kamu makan sebentar ya," ucap Reya yang berjalan mendekati Citra. Namun tidak ada suara dari Citra dan posisi Citra tetap sama yang membelanjai Reya.


"Hmmm, apa kamu belum mau makan?" tanya Reya yang tidak mendapatkan respon apa-apa.


"Ya sudahlah kalau kamu belum mau makan, aku letakkan di sini ya. Nanti kalau kamu mau makan, kamu makan aja dan kalau butuh sesuatu kamu tinggal panggil aku, aku pasti akan datang," ucap Reya dengan lembut dan tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Citra.


"Baiklah aku keluar dulu!" ucap Reya tersenyum tipis dan memilih untuk membiarkan Citra beristirahat.


"Apa kak Sean sangat membenciku?" tanya Citra membuat langkah Reya terhenti yang mana barulah Citra mengeluarkan suara sehingga membuat Reya kembali membalikkan tubuhnya dan melihat Citra yang sudah berbalik badan dengan meluruskan dirinya dan melihat kearah Reya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Reya.


"Sama sekali dia tidak pernah berbicara pada ku, aku merasa kak Sean sudah menganggap aku bukan adiknya lagi, aku bukan adik kak Sean lagi aku sudah mengecewakannya dan makanya kak Sean sangat membenciku," ucap Citra dengan air matanya yang kembali keluar dan Citra berusaha untuk duduk dan langsung di bantu oleh Reya dengan Reya yang duduk di samping Citra dan langsung mengusap lembut air mata Citra.


"Kak Sean tidak pernah membenci kamu dan pasti sangat kecewa. Tetapi seorang kakak tidak akan pernah membenci adiknya, percayalah Citra kak Sean hanya butuh waktu untuk menerima keadaan kamu. Dia merasa gagal dan merasa bersalah makanya belum mempunyai keberanian untuk melihat kamu dan berbicara dengan kamu yang seharusnya kamu tau. Kalau kak Sean sangat mencintai kamu sangat menyayangi kamu dan pasti hanya kamu yang di milikinya di dalam hidupnya," ucap Reya yang membuat pengertian pada Citra.


"Lalu sampai kapan kak Sean akan menghindari ku, aku hanya membutuhkannya, aku tidak sanggup melewati semuanya sendirian, aku benar-benar hanya membutuhkannya," ucap Citra dengan apa adanya yang terus mengeluarkan air mata


Reya langsung memeluknya dan mengusap-usap punggung Citra, "Citra dia juga tidak ingin kamu melewati semua ini sendirian percaya lah kepadaku. Jika Sean sangat ingin bicara pada kamu. Hanya waktunya yang belum tepat. Jangan takut dia akan selalu ada di sampingmu aku dan kak Sean tidak akan pernah meninggalkan kamu dalam keadaan apapun. Kita akan sama-sama Citra," ucap Reya yang jika berbicara pasti dengan ketulusan yang sangat besar.


Citra pasti begitu nyaman dengan Reya yang sangat peduli kepadanya dan mendapatkan pelukan dari Reya yang bisa memberikannya ketenangan yang memang sangat di butuhkannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2