
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Renita heran. Ketika orang-orang yang ada di meja itu melihatnya dengan serius.
"Apa berdoa untuk Citra itu salah ya," sahut Renita dengan tersenyum.
"Hmmm, tidak ada yang salah Renita, terima kasih ya Renita untuk doa kamu," sahut Reval yang mengalihkan pembicaraan.
"Iya Reval," sahut Renita
"Namun Citra sudah terlihat begitu kesal dan rasanya tidak tau lagi harus melakukan apa. Sebenarnya apa yang di katakan Renita bukan doa. Tetapi lebih tepatnya sindiran untuknya. Makanya Citra benar-benar merasa tersinggung.
"Hmmm ya sudah kalau begitu aku ke sana dulu ya," sahut Renita.
"Iya Renita. Kamu nikmati ya acaranya dan makan juga ya hidangan yang sudah di siapkan," ucap Reya.
"Itu pasti Reya, ya sudah aku pergi ya. Sekali lagi selamat untuk kamu," ucap Renita yang akhirnya meninggalkan tempat itu.
"Kamu mengundangnya?" tanya Sean.
"Aku rasa tidak ada yang salah untuk mengundangnya. Dan pasti sangat tidak enak jika aku tidak aku mengundangnya dan dia tau acara ini," ucap Reya.
"Lalu kenapa tidak memberitahu terlebih dahulu jika kamu mengundangnya? Kenapa tidak meminta izin terlebih dahulu?" tanya Reval dengan menekan suaranya.
"Maafkan aku kak Sean. Aku hanya berpikir masalah ini tidak akan terjadi dan aku tidak tau jika ini yang terjadi," ucap Reya yang memang semua di luar dugaannya.
"Tetapi ini yang terjadi Reya. Mulutnya yang sangat pedas yang tidak seharusnya mengatakan hal itu," ucap Sean yang begitu kesal.
"Kak Sean. Jangan menyalahkan kak Reya. Lagian Renita itu sahabat kak Reya. Jangan
hanya karena permasalahan ini kak Reya dan sahabatnya juga renggang. Lagian apa yang di katakannya juga tidak ada yang salah. Jadi sudahlah jangan membesarkan masalah ini. Ini hari bahagia untuk kak Reya," sahut Citra yang mencoba untuk menenangkan situasi. Dia juga takut gara-gara dia Sean dan Reya jadi ribut karena kehadiran Renita.
"Aku akan bicara dengan Renita untuk Renita kedepannya tidak seperti ini lagi," sahut Reval.
"Tidak usah," sahut Sean tidak setuju.
"Bicara kepadanya hanya memberi kesempatan untuk kalian berdua dekat," sinis Sean dengan dingin.
"Kak Sean," lirih Citra.
"Jika dia, wanita itu masih seperti itu dan aku melihat kedekatan yang tidak wajar. Jangan salahkan aku yang akan bertindak Nantinya," ucap Sean yang penuh penekanan dan penegasan.
__ADS_1
Sean juga berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan meja itu.
"Kak Sean!" panggil Citra. Namun Sean tidak menggubrisnya dan tetap pergi.
Raya juga tidak mencegah kepergian suaminya hanya menatap nanar punggung suaminya itu yang kelihatannya marah.
"Kak Reya maafkan Citra," sahut Citra yang merasa bersalah. Karena pasti Sean yang khawatir padanya Sean jadi marah pada Reya.
"Tidak Citra. Ini bukan kesalahan kamu dan lagian ini juga aku yang salah yang seharusnya apa-apa mengatakan dulu pada Sean. Kejadiannya tidak akan seperti ini," sahut Reya.
"Tapi kak," sahut Citra.
"Ini juga salahku yang kurang tegas," sahut Reval.
"Sudahlah kalian berdua jangan khawatir. Kak Sean hanya kesal dan marahnya juga pasti hanya sebentar saja. Aku yakin dia nanti juga akan baik-baik saja. Kau akan bicara nanti kepadanya setelah hatinya tenang," ucap Reya dengan tersenyum yang berusaha tetap santai walau hatinya juga gundah dengan suaminya yang marah.
**********
Renita yang sedang makan si salah satu kursi yang masih di acara Reya melihat terus ke arah Citra yang masih bersama suaminya. Namun Citra yang sadar dirinya di perhatikan Renita lama-lama kesal juga dengan Renita.
"Sayang kamu mau aku ambili buah tidak?" tanya Citra pada suaminya.
"Ya sudah tunggu sebentar ya di sini," ucap Citra.
"Iya sayang," sahut Reval. Citra berdiri dari tempat duduknya dan menuju prasmanan untuk mengambil buah. Namun ternyata Citra tidak langsung membawa untuk suaminya dan ternyata Citra bukan mengambil buah dan menuju meja Renita yang duduk langsung di hadapan Renita.
Kedatangan Citra membuat Renita pasti kaget dan tidak menyangka Citra akan mendatanginya.
"Citra," sahut Renita melihat ke arah Citra.
Citra tersenyum dengan terpaksa, "kamu sepertinya butuh sesuatu," ucap Citra.
"Maksud kamu apa?" tanya Renita heran.
"Kamu terus memperhatikan ku yang aku pikir kami butuh sesuatu. Oh tidak kamu memperhatikan ku atau sedang memperhatikan suamiku?" tebak Citra dengan selow yang sembari memakan buah dengan cantik.
"Kamu salah paham Citra dan ternyata kamu begitu cemburuan," sahut Renita.
"Cemburu kepada suami hal yang wajar. Namun jika sahabat cemburu pada istri temannya itu perlu di pertanyakan," sahut Citra dengan tersenyum miring.
__ADS_1
"Apa maksud kamu?" tanya Renita.
"Hmmm, kak Reya pernah mengatakan kepadaku. Jika kamu itu suka sama Reval waktu jaman kuliah. Kamu tidak berani mengatakan perasaan mu kepadanya. Jadi kamu menyukainya diam-diam dengan waktu yang lama dan hanya menceritakan perasaan mu pada kak Reya. Jadi aku rasa saat kamu ke Indonesia dan mengetahui kak Reval sudah menikah aku mengingat ekspresi wajahmu yang sangat terkejut waktu itu," ucap Citra.
Renita sudah mengepal tangannya mendengar semua yang di katakan Citra seakan sekarang sedang mengintrogasi dirinya.
"Apa Dokter Renita masih menyukai suamiku?" tanya Citra to the point yang menatap Renita yang juga sama dengan Renita yang menatap dirinya.
"Lalu apa ada yang salah jika kita menyukai seseorang," sahut Renita yang membalas dengan senyum.
"Jadi sungguh sangat menyukai suamiku dan pantesan lupa jika suamiku sudah menikah," sahut Citra.
"Kamu salah paham Citra. Aku memang suka dengan Reval dan itu sejak dulu. Mungkin sebelum kamu bertemu dengan Reval. Ya aku menyukainya sudah lama. Tetapi jangan salah paham. Karena aku tidak ada niat untuk merebutnya dari kamu," ucap Renita.
"Benarkah!" sahut Citra.
"Iya itu benar. Jadi kamu jangan salah paham dulu," ucap Renita.
"Ohhh, begitu rupanya. Tetapi kenapa wajahmu tidak meyakinkan ya. Aku malah melihat kamu sengaja membuatku menjadi kepikiran tentangmu dan iya itu sangat berhasil. Karena jujur kau sangat menghantui Renita. Karena apa yang kau katakan tidak sesuai dengan kenyataannya yang kenyataannya kau itu punya niat untuk merusak rumah tanggaku," tegas Citra yang kali ini tidak akan diam. Seperti selama ini di mana dia hanya diam dengan semua kata-kata yang keluar dari mulut Renita.
"Kau berusaha untuk mencampuri keluargaku dengan ini dan itu dengan rasa penasaran mu yang ingin tau banyak tentang masa laluku," ucap Citra.
"Apa ini mengenai kata-kata ku yang menyinggung kehamilan di rumah sakit Citra," sahut Renita bertanya.
"Karena Reya juga langsung menegurku saat itu dan punya pikiran sama denganmu yang menyangka aku ingin merebut Reval darimu. Kamu tersinggung karena sebelumnya pernah hamil di luar nikah," ucap Renita sinis.
Citra mendengarnya terdiam dengan darahnya yang berdesir. Tangan yang terkepal yang ingin marah pada Renita karena kata-kata sinisnya itu.
"Jika iya kenapa?" sahut Citra yang ternyata menghadapi pertanyaan itu dengan santai.
"Hmmm, hubunganku dengan kak Reval begitu jauh dan iya aku memang pernah hamil sebelum kami menikah. Itu karena kami saling mencinta. Lalu kenapa Renita apa itu menjadi masalah untukmu atau itu menjadi pegangan untukmu menjadi lebih suci dari padaku," ucap Citra yang menjawab rasa penasaran Renita dengan santai.
"Dengar aku Renita. Aku tidak membiarkan sedikit niat kamu yang buruk terhadapku dan juga pada Reval. Jadi aku tidak peduli perasaan mu kepada Reval seperti apa. Mau menyukai Reval atau tidak. Perasaan terbalas atau tidak yang paling penting aku dan Reval sudah menikah dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu keluargaku," tegas Citra yang membuat Renita terdiam.
Citra berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Renita dengan berbisik.
"Walau aku memberimu buah saat di supermarket. Bukan berarti aku akan memberimu orang yang paling aku cinta," bisik Citra tepat di telinga Renita. Lalu Citra meninggalkan Renita yang diam tanpa mengatakan apa-apa.
Bersambung
__ADS_1