
Memang tidak ada siapa-siapa. Karena ternyata Reya sudah pergi. Karena ketakutan akan ketahuan oleh Anggika. Reya memilih untuk meninggalkan Supermarket dan tidak jadi berbelanja.
"Aku harus pergi dari sini. Jangan sampai Tante Anggika melihatku," batin Reya yang buru-buru menyetopkan Taxi sebelum terlambat dan akhirnya Taxi untung datang tepat waktu dan Reya langsung memasuki Taxi dengan terburu-buru.
Setelah kepergian Reya dari supermarket. Taxi yang lain juga berhenti di depan supermarket dan turunlah seorang wanita dari dalam Taxi tersebut yang ternyata wanita itu adalah Erina.
"Aku mencari kebutuhanku di sini saja. Aku rasa pasti ada di sini," batin Erina yang langsung memasuki tempat yang sebelumnya Reya ada di sana dan bahkan Anggika juga masih ada di sana yang melanjutkan berbelanja. Walau tadi sempat berhenti sebentar. Karena adanya yang mengganggunya
Erina pun mengambil keranjang yang langsung berbelanja. Tidak tau di mana Erina tinggal dan sepertinya dia punya tempat tinggal dan sudah lama di Jakarta. Bisa di lihat dari apa yang di belanjakannya dan mungkin saja Erina selama ini mengawasi Reya tanpa sepengetahuan Reya dan bahkan Argantara yang menyuruh Diki juga tidak juga tidak menemukan Erina sama sekali.
Erina memang sangat benar dalam menyembunyikan dirinya sehingga dia sampai detik ini masih aman-aman saja. Erina masih berbelanja untuk mengisi keranjangnya yang ternyata berdekatan Anggika yang juga masih ada di tempat itu yang juga berbelanja.
"Di mana saos yang aku beli biasa," batin Erina yang terlihat mencari-cari di antara rak-rak yang berisi dengan barang-barang.
"Ini dia," gumamnya yang akhirnya menemukannya dan langsung mengambilnya. Namun bukan hanya tangannya yang berada di botol saos tersebut. Ada sebuah tangan juga yang membuat tangan mereka saling menimpah di antara benda tersebut.
"Sudah saya yang mengambil duluan," ucap ke-2nya sama-sama serentak dan saling melihat.
Deg.
Jantung ke-2nya berdetak dengan kencang seperti ledakan bom yang perang di dunia ke-3. Dengan wajah yang sama-sama schock dan mata yang terbuka lebar yang mana ke-2 wanita yang saling merebut saos itu tidak percaya dengan siapa yang di hadapan mereka.
Erina dan Anggika yang sama-sama mengambil saos tersebut dan sungguh tidak ada yang percaya dengan apa yang mereka lihat. Masih terkejut. Karena untuk yang pertama kali bertemu setelah terjadinya peristiwa itu.
__ADS_1
Mata Anggika sudah menjelaskan. Bagaimana dia membenci Erina. Sama dengan Erina juga yang memperlihatkan betapa dia membenci Anggika.
"Kau!" pekik Anggika yang langsung melepas tangannya dari Erina. Rasanya tidak sudi jika tangannya di sentuh oleh wanita yang sudah merebut suaminya.
"Anggika!" sapa Erina dengan tersenyum yang sepertinya jauh lebih tenang dan tanpa ada dosa.
"Erina ada di sini. Tidak mungkin dia ada di sini. Apa itu artinya," batin Anggika yang terlihat begitu panik dengan Erina yang nyata ada di depan matanya dan wanita itu malah tersenyum tanpa dosa.
"Anggika kau apa kabar?" tanya Erina yang benar-benar sudah tidak punya malu. Beraninya bicara pada Anggika dan bahkan bertanya seperti itu membuat Anggika mengepal tangannya saking kesalnya dan muaknya melihat wanita yang ada di depannya itu.
"Kau kenapa kau ada di sini?" tanya Anggika berusaha untuk menenangkan dirinya.
Erina menyunggingkan senyumnya mendengar kata-kata Anggika, "memang kenapa jika aku ada di sini. Ini Jakarta, kota kelahiranku dan seharusnya tidak ada yang salah jika aku berada di tempat ini," jawab Erina dengan santai.
"Bukannya kau tidak melihat jika aku sedang berbelanja," jawab Erina begitu santai, "dan iya aku juga sedang mengambil saos ini," ucap Erina mengambil barang yang tadi di rebutkannya dengan Anggika yang bisa di katakan adalah madunya.
"Ini bukan milikmu!" cegah Anggika yang menghentikan Erina mengambilnya yang membuat Erina melihat Anggika serius dengan mereka yang saling menatap.
"Kau tidak pernah berubah. Selalu saja mengambil sesuatu yang bukan milikmu. Seharunya kau itu sadar apa yang bukan milikmu jangan pernah untuk di rebut," ucap Anggika dengan sinis membuat Erina begitu marah sepertinya dengan kata-kata Anggika.
"Aku bertanya kembali kepadamu. Kenapa kau ada di sini. Bukannya kau sudah di buang bersama anakmu dan seharusnya kau tidak ada di sini," ucap Anggika yang bertanya lagi pada Erina karena dia belum mendapatkan jawaban apa-apa.
"Kau sampai bertanya berkali-kali. Apa kau sangat takut. Jika aku menjawab apa yang kau pikirkan. Ya kalau kalau aku lihat kau memang terlibat sangat ketakutan Anggika. Wajahmu tidak bisa bohong. Jika kau itu menakutkan sesuatu. Apa kau sungguh sangat takut. Jika aku mengatakan. Keberadaan ku di sini itu karena....." Erina sengaja tidak melanjutkan kalimatnya yang sepertinya ingin mempermainkan Anggika.
__ADS_1
Anggika juga terpancing terlihat dari wajahnya yang mengeluarkan amarah besar dengan napasnya yang mulai tidak teratur dan tangannya terus terkepal dengan kuat.
"Anggika tenanglah. Kau jangan setakut itu. Kau harus tenang dan rilex. Kau itu seperti seorang istri yang takut. Jika suaminya akan di rebut," ucap Erina membuat mata Anggika terbuka lebar. Tubuhnya sungguh bergetar mendengar kata-kata itu.
Plakkk.
Sampai akhirnya tangannya melayang ke pipi Erina yang berani membuat Anggika emosi. Erina sangat terkejut dengan tamparan yang di terimanya yang membuat wajahnya miring kesamping dan belum lagi pengunjung supermarket yang lainnya harus melihat apa yang terjadi dan Erina menjadi tontonan dengan banyak tanya.
"Kau berani menamparku!" sahut Erina menekan suaranya yang tidak terima mendapat tamparan dari Anggika.
"Aku sangat merindukan untuk menampar wanita menjijikkan sepertimu dan tamparan itu pantas kau dapatkan," jawab Anggika dengan menunjuk tepat di wajah Erina dan bahkan orang-orang semakin berkumpul dengan melihat apa yang terjadi.
"Sangat menjijikkan, najis. Kau tau kau itu lebih kotor dari pada najis. Kau itu sangat menjijikkan. Apa lagi saat berulangkali kau itu menyebutkan namaku dengan mulut kotormu itu yang sudah menjelaskan seperti apa wanita menjijikkan seperti dirimu. Menjijikkan dan sangat menjijikkan," caci Anggika pada Erina yang membuat Erina mengepal tangannya yang di permalukan Anggika di depan semua orang.
"Seharusnya aku tidak perlu bertanya banyak untuk wanita sepertimu yang seharusnya aku menyadari sangat tidak penting dan sangat menghabiskan waktu jika hari melihat dan mengeluarkan suara pada orang seperti mu," ucap Anggika yang terlihat sangat muak dengan Erina.
Anggika menatap Erina dengan penuh kejijikan dan meletakkan saos yang tadi di ambilnya, membuang keranjang Erina.
"Aku lupa jika kau itu suka bekas dan ambilah bekas itu," ucap Anggika sebelum pergi yang membuat Erina mengepal tangannya.
"Aku akan menjawab pertanyaan mu. Kenapa aku bisa berada di sini," ucap Erina membuat langkah Anggika terhenti, "aku di sini bersama Reya putriku atas perintah Pria yang menjadi ayak Reya. Argantara," lanjut Erina yang mengejutkan Anggika.
Bersambung.
__ADS_1