
Masih tetap berpelukan dengan Citra dan Sean belum mendapatkan apa-apa dari Citra yang tidak bicara apa-apa.
"Maafkan Citra kak, Citra sudah buat kesalahan besar, maafkan Citra kak," ucap Citra yang menangis sengugukan. Sean melepas pelukan dari Citra dan memegang ke-2 pipi Citra.
"Katakan kepada kakak apa yang terjadi," ucap Sean dengan lembut. Namun Citra tetap saja tidak mengatakan apa-apa yang membuat Sean semakin penasaran.
"Sean biarkan Citra istirahat dulu, mungkin Citra butuh ketenangan. Nanti kalau dia sudah tenang, kamu baru bicara lagi dengannya," ucap Reya yang memberikan saran. Sean menganggukan kepalanya.
"Ya sudah Citra kamu istirahat dulu ya, kamu jangan takut apa-apa. Kakak akan terus ada di samping kamu. Kakak tidak akan meninggalkan kamu. Jangan pernah takut," ucap Sean dengan lembut. Citra menganggukkan kepalanya dan Sean membantunya untuk beristirahat dengan membaringkan adiknya itu dan menyelimutinya
"Jangan menangis lagi," ucap Sean mencium kening Citra. Citra menganggukan kepalanya dan perlahan memejamkan matanya, terlihat Citra begitu lelah, pandangan yang kosong.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada kamu Citra. Kenapa kamu bisa seperti ini. Apa yang kamu hadapi sebenarnya," batin Sean yang merasa gagal sebagai kakak. Dia tidak tau apa-apa mengenai adiknya dan adiknya sepertinya mempunyai masalah yang tidak di ketahuinya.
**********
Reya dan Sean berada di dalam kamar yang mana mereka duduk di sofa dengan Sean tampak berpikir keras. Reya memegang kedua tangan Sean dengan menggenggamnya dengan erat.
"Aku terlalu sibuk Reya dengan urusanku. Sampai aku tidak tau apa yang di alami Citra," ucap Sean dengan wajah yang penuh dengan penyesalan.
"Jangan Khawatir Sean. Semuanya akan baik-baik saja. Nanti kalau Citra sudah merasa jauh lebih tenang. Kita tanya dia baik-baik," ucap Reya yang hanya bisa memberi saran.
"Aku tidak tau apa yang terjadi. Tapi aku merasa banyak hal yang di sembunyikan Citra dan Citra memang tidak ingin mengatakan apa-apa," ucap Sean.
"Aku juga berpikiran seperti itu Sean. Citra memang menyembunyikan masalah yang besar, karena perubahan Citra yang memang aneh belakangan ini," ucap Reya yang juga kepikiran dengan hal itu.
"Kalau begitu aku akan cari tau sendiri. Jika Citra tidak juga mengatakan apa-apa," ucap Sean yang harus bertindak dengan cepat dan tidak bisa hanya diam saja.
__ADS_1
"Aku hanya mengikuti kamu saja. Aku berdoa semoga kamu secepatnya mendapatkan masalah yang di hadapi Citra semoga saja tidak terjadi apa-apa dan hanya pikiran kita saja," ucap Reya yang masih berpikiran positif. Sean menganggukkan kepalanya. Memang pikirannya juga harus positif agar bisa menyelesaikan masalah yang ada.
**********
Pagi hari kembali tiba. Mobil Sean berhenti di depan kampus Citra. Tidak tau apa yang membuatnya kesana. Kondisi Citra masih sama hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa. Sean tidak mendapatkan apa-apa membuat Sean harus bertindak dan tujuannya adalah kampus Citra.
"Semoga aku menemukan sesuatu di sini," batin Sean yang langsung keluar dari mobil. Saat keluar dari mobil Sean langsung bertemu dengan Rose.
"Rose!" panggil Sean.
"Kak Sean!" sahut Rose yang langsung menghampiri Sean, "ya ampun kak Sean sudah lama sekali tidak bertemu dengan kak Sean. Kak Sean apa kabar?" tanya Rose.
"Baik-baik aja," sahut Sean.
"Hmmm, kak Sean ada apa kemari?" tanya Rose.
"Mau bicara dengan kamu," ucap Sean.
"Ayo kita bicara sebentar!" ajak Sean yang tidak ingin basa-basi dan langsung mengajak Rose. Perasaan Rose sudah tidak enak yang merasa ada sesuatu yang akan terjadi yang begitu serius.
Akhirnya Sean dan Rose pun berbicara bersua berada di dalam mobil dan terlihat wajah Sean yang memerah dengan penuh amarah dengan tangan tangan yang terkepal. Rahang kokohnya yang mengeras ketik mendapat cerita dari Rose. Bahwa Citra mempunyai masalah besar di kampusnya dan semua itu karena Barra yang menyebar Vidio Citra.
"Bajingan kau Barra. Kau akan berakhir di tanganku," geram Sean yang sudah tidak terkendalikan emosinya. Sean pun langsung keluar dari mobil.
"Kak Sean!" panggil Rose, "gawat bisa berantakan ini," batin Rose yang panik dan Ross langsung menyusul untuk keluar dari mobil yang mengejar Sean.
Di mana dengan amarahnya Sean mencari Barra dan menemukan Pria itu yang sedang berbicara dengan teman-temannya yang sedang tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Barra!" siapa itu?" tanya teman Barra yang membuat Barra langsung melihat kearah orang tersebut. Tawa Barra langsung hilang ketika melihat Sean yang semakin lama semakin mendekati dirinya.
"Sean!" lirih Barra dengan wajah paniknya dan Sean yang sudah berada di depan Barra langsung melayangkan pukulan pada Barra.
"Bajingan!" tidak hanya pukulan sekali saja. Barra sampai terjatuh dan terus di pukul Barra.
"Seharusnya aku menghabisimu brengsek sejak dulu aku menahan diri. Berani sekali kau kepada Citra!" umpat Sean dengan emosi yang terus memukul Barra sampai Barra tidak bisa melawan sama sekali.
Keributan itu juga menjadi pertunjukan orang-orang yang ada di sana yang bertanya-tanya ada apa dan Rose juga tidak bisa melakukan apa-apa yang mencegah amarah dari Sean.
Ternyata di ujung sana Reval melihat apa yang telah terjadi. Melihat Sean yang menghabisi Barra di depan semua orang.
"Kak Sean cukup kak, dia bisa mati kak," ucap Rose yang mencegah Sean dan berhasil melerai Sean.
Teman-teman Barra langsung membantu Barra yang tergelatak parah.
"Kak Sean tenanglah!" ucap Rose menenangkan Sean.
Sean berusaha untuk mengendalikan diri dan Sean melihat semua orang yang ada di sana dengan napasnya yang naik turun. Wajahnya yang tetap penuh dengan amarah dengan apa yang telah terjadi.
"Kalian semua dengar yang ada di sini. Jika berani mengganggu adikku Citra. Maka kalian semua akan ku keluarkan dari kampus ini," teriak Sean dengan penuh ancaman yang membuat yang lainnya langsung terdiam yang menunduk yang sekarang sudah tau jika laki-laki itu adalah kakak dari Citra.
"Dan kau!" tunjuk Sean pada Barra, " kau pikir aku akan tinggal diam dengan mu. Semua yang ada di sini yang terlibat dalam urusan Citra dengan apa yang telah tersebar dengan fitnah yang kalian berikan kepada adikku. Maka kalian semua akan mendapat ganjarannya," ucap Sean dengan penuh ancaman.
"Rose sekarang hubungi polisi dan seret laki-laki ini langsung ke penjara," ucap Sean.
"Tapi kak Sean," sahut Rose yang ragu.
__ADS_1
"Cepat!" ucap Sean yang merendahkan suaranya. Rose pun akhirnya menuruti Sean dan langsung menghubungi polisi. Jika Citra masih hanya mengatakan. Maka Sean tidak ada kata nanti lagi.
Bersambung