
"Apa maksud kamu?" tanya Reval dengan ke-2 tangannya yang di lipat di dadanya.
"Hanya masalah spele, bapak membuat saya kehilangan nilai dan menanggung kesalahan orang lain. Ini tidak adil untuk saya dan tidak seharunya saya mendapat hukuman seperti ini," tegas Citra yang protes dengan masalah hukuman yang di dapatkannya.
"Kamu yang menginginkan hal itu Citra dan itu adalah pilihan kamu," sahut Reval.
"Saya tidak menginginkannya dan tetap saya tidak akan menjalankan hukuman dari bapak dan saya tidak mau jika nilai saya bapak pindahkan begitu saja. Saya tidak terima dan bapak seorang dosen yang seharusnya lebih bijak di bandingkan saya," tegas Citra yang begitu berani menantang Reval.
"Kamu harus tenang Citra. Ingat kata kak Sean. Jika kamu tidak salah. Kamu harus mencari keadilan. Enak sama Regina yang hanya menerima keuntungan sementara kamu harus menanggung semuanya. Kamu hanya mempertahankan hak mu," batin Citra yang sebenarnya sangat dek-dekan berhadapan dengan Reval. Namun dia sudah mengumpulakna keberaniannya yang tidak akan tinggal diam dengan tindakan Reval.
"Keputusan ada pada saya Citra dan jika kamu tidak mau. Hukuman kamu akan lebih parah lagi jika kamu melawan saya," ucap Reval.
"Kalau begitu saya akan mencari keadilan dengan direksi kampus," sahut Citra yang menantang Reval membuat Reval menatap Citra serius.
"Kamu ingin melawan saya?" tanya Reval.
"Saya tidak pernah melawan siapapun. Saya sedang menyusun skripsi dan apa yang bapak lakukan sangat memberatkan saya dan menghalangi saya untuk cepat lulus. Saya sudah sangat berusaha, belajar mati-matian, masuk kelas bapak dengan tepat waktu dan saya bisa melewati prakteknya dan salah ini satu teman saya melalaikan kelas bapak. Kami juga berusaha untuk membantunya dengan mengusulkan meminta maaf dan bukan berati. Jika kami membantunya apa yang sudah kami raih jatuh padanya. Itu tidak adil," ucap Citra dengan tenang mejelaskan pada Reval.
Tidak ada bantahan dari Reval dia membiarkan Citra mengeluarkan semua kata-katanya dan Reval hanya me dengarkan saja.
"Saya menerima hukuman dari bapak. Jika menurut bapak apa yang saya lakukan kepada Regina sangat berlebihan. Saya akan menerima hukumannya. Apapun itu. Tetapi saya tidak terima. Jika nilai saya di berikan begitu saja," lanjut Citra.
"Baiklah pak. Saya rasa cukup dengan apa yang saya katakan. Saya minta tolong sama bapak untuk lebih bijak sana kepada saya. Saya permisi!" ucap Citra dengan menundukkan menganggukkan kepalanya dan langsung keluar dari ruangan Reval.
Reval hanya melihat kepergian Citra dengan datar dengan mengendus kasar. Lalu menghela napasnya dengan kasar. Yang tidak tau apa yang di pikirnya. Namun dia tidak memotong pembicaraan Citra tadi saat Citra mengeluarkan semuanya rasa protesnya yang tidak masuk akal baginya.
"Aku tidak percaya, jika dia bisa bicara seperti itu," batin Reval
********
__ADS_1
Citra keluar dari ruangan Reval dengan menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Hal itu berkali-kali di lakukannya. Tangannya begitu dingin yang begitu berani kepada Reval.
"Ya ampun bagaimana jika dia semakin mengamuk. Apa lagi aku mengancamnya dengan membawa-bawa nama direksi. Citra kamu itu berani sekali. Itu sama saja. Kamu itu menyombongkan diri kamu dan kamu tau sendiri kan dia itu sangat sensitif dengan hal itu," ucap Citra yang begitu dek-dekan.
"Citra!" tiba-tiba Rose datang dan menghampiri Citra. Citra langsung memegang tangan Rose dan Rose merasakan betapa dinginnya tangan Citra.
"Tangan kamu dingin sekali. Apa terjadi masalah besar lagi? apa Pak Reval menambahi hukuman kamu lagi? tanya Rose yang ikutan panik.
"Aku tadi melawannya dan bahkan mengancamnya. Aku jadi takut. Jika nanti dia akan membuat sangsi semakin parah," ucap Citra yang menjadi begitu panik.
"Citra kamu tenang. Kamu hanya proset saja. Kamu jangan khawatir. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Apa yang kamu lakukan sudah nenar. Jadi kamu jangan khawatir," ucap Rose.
"Tapi aku takut," sahut Citra yang memang sangat ketakutan karena masalahnya dengan Reval.
"Jangan takut. Kamu hanya menuntut keadilan. Karena ini tidak pantas kamu dapatkan. Kamu tidak salah sama sekali," ucap Rose yang menenangkan sahabatnya itu.
Citra hanya. Berusaha untuk tenang yang padahal dia sama sekali tidak tenang.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Barra memegang tangan Citra dan Citra langsung melepas tangan itu.
"Kamu itu dari mana aja sih. Dari tadi aku menghubungi kamu?" tanya Citra dengan kesal dan Regina terlihat menunduk dengan kedua tangannya yang saling mengatup yang terlihat sangat gugup.
"Maaf sayang aku tadi sedang bermain basket. Aku tidak mendengar panggilan telpon dari kamu. Handphone aku di dalam tas," jawab Barra dengan memberi alasannya.
"Kok kamu bisa barengan sama Regina?" tanya Rose tiba-tiba.
Regina dan Barra sama-sama terkejut dengan saling melihat. Dengan Barra menelan salivanya dan Regina yang terlihat sangat gugup.
"Oh itu. Tadi aku tidak sengaja bertemu Regina di koridor kampus. Aku menanyakan kamu dan Regina bilang tidak tau. Jadi kami cari sama-sama," jelas Barra bohong.
__ADS_1
Citra merasa seperti ada yang tidak beres dan bahkan dia mengingat masalah nada dering ponsel Barra tadi.
"Sayang apa yang kamu pikirkan?" tanya Barra yang berusaha membuat Citra percaya kepadanya.
"Tidak apa-apa," ucap Citra.
"Bagiamana Citra apa pak Reval memberi kamu hukuman?" tanya Regina dengan gugup.
"Kenapa harus kamu tanya. Seharusnya kamu itu temui pak Reval dan bilang sama dia masalahnya. Jadi aku tidak kenak imbas seperti ini," sahut Citra dengan ketus.
"Aku tidak berani Citra. Aku takut," sahut Regina.
"Kamu enak aja bilang takut-takut. Lalu nenurut kamu aku harus menanggung semuanya begitu," sahut Citra dengan geram.
"Sayang sudahlah jangan marah-marah sayang. Regina itu takut," ucap Barra.
"Kamu kok jadi belaian dia sih," ucap Citra kesal.
"Siapa yang membelanya. Dia tidak seberani kamu sayang. Jadi aku tidak membelanya," jelas Barra membujuk kekasihnya itu.
"Arghh sudahlah. Kalian jangan ribut-ribut terus. Regina kamu juga seharusnya bertanggung jawab. Kan kasihan Citta kalau begini," sahut Rose berusaha untuk menjadi penengah.
"Aku minta maaf Citra," ucap Regina.
"Minta maaf untuk kesalahan apa," sahut Citra tiba-tiba. Regina terkejut mendengarnya dan begitu juga dengan Barra yang terkejut.
"Kesalahan kamu sangat banyak. Menyebalkan!" ucap Citra dengan kesal dan langsung pergi.
"Sayang! tunggu!" Panggil Barra yang langsung mengejar Citra.
__ADS_1
Rose hanya menghela napasnya melihat pertengkaran itu dan melihat ke arah Regina yang terlihat sangat aneh yang mencuri perhatian Rose.
Bersambung