
Reya yang berada di dalam kamar yang sedang menyisir rambutnya. Dia baru saja selesai mandi dan terlihat fress.
"Oh iya aku harus menyiapkan makan siang untuk suamiku tercinta," gumam Reya yang baru ke ingat suaminya. Sudah jam 11 siang dan sudah waktunya dia menyiapkan makan siang untuk sang suami.
"Huhhh, aku harus siapkan cepat-cepat," gumam Reya yang berdiri dari tempat duduknya. Namun tiba-tiba saat berdiri Reya memegang perutnya yang terasa sangat sakit.
"Ya ampun kenapa ya perutku kenapa sampai sesakit ini," gumam Reya yang memegang perutnya.
Sakit yang di rasakannya luar biasa sampai Reya berkeringat dingin dan terlihat pucat. Kakinya yang lemah mencoba melangkah. Namun sangat sulit sampai Reya memegang pinggiran meja Risya.
"Citra!" panggil Reya dengan suara pelan. Karena seperti orang yang tidak bertenaga lagi.
"Mama!"
"Citra!"
"Citra!"
Reya terus memanggil orang-orang untuk membantunya. Reya di kagetkan dengan tiba-tiba mengalir darah di pahanya.
"Ya Allah apa yang terjadi," ucapnya dengan kepanikan dengan menahan sakit yang luar biasa sampai akhirnya pandangan Reya yang mulai kabur dan tidak lama Reya langsung terjatuh di lantai. Tergeletak di lantai dengan kondisi yang tidak sadarkan diri dan tidak tau apa yang terjadi pada Reya.
Namun terlihat darah yang mengalir di pahanya dan kondisinya sepertinya tidak main-main.
********
Citra yang ternyata baru dari luar yang memasuki rumah.
"Kamu dari mana Citra?" tanya Anggika yang sejak tadi berada di ruang tamu yang sembari membaca majalah.
"Habis dari minimarket mah. Ini beli beberapa cemilan dan juga titipan kak Reya semalam. Baru bisa Citra beli sekarang," jawab Citra.
"Oh begitu," sahut Anggika.
"Oh iya kak Reya mana?" tanya Citra.
"Lagi dia atas palingan dari tadi Rey belum ada turun," jawab Anggika.
"Oh ya sudah kalau begitu Citra ke atas dulu ya. Citra mau lihat kak Reya dulu. Sekalian anterin punya dia," ucap Citra.
"Iya Citra," jawan Anggika.
Citra pun langsung menaiki anak tangga menuju kamar sang kakak. Setelah tiba di depan kamar Citra langsung membuka pintu.
"Kak Reya!" panggil Citra yang sudah membuka pintu.
Wajah Citra langsung berubah dengan wajah yang sangat terkejut. Ketikan melihat Reya yang tergeletak di lantai dan ada darah yang semakin banyak.
"Kak Reya!" teriak Citra yang langsung memasuki kamar mendekati Reya
"Kak Reya bangun!"
"Kak Reya! Apa yang terjadi!"
"Kak Reya!"
__ADS_1
"Kak Reya!"
"Mama! Mama!mama, kak Reya mah! Kak Reya!"
"Mah!"
Citra berteriak histeris dengan melihat kondisi Reya, memanggil Anggika.
"Ada apa Citra?" tanya Anggika yang berdiri di depan pintu kamar setelah mendengar teriakan Citra membuatnya panik.
"Mah kak Reya," sahut Citra yang sudah histeris.
Anggika melihat kearah Reya yang sudah tergeletak dan kagetnya tidak kalah dengan Citra sebelumnya.
"Astagfirullah Al adzim, Reya," lirih Anggika dengan menutup mulutnya dan matanya yang melotot melihat Reya.
Anggika juga langsung menghampiri Citra dan melihat jelas ke adaan Reya.
"Apa yang terjadi Citra?" tanya Anggika.
"Citra tidak tau mah. Saat Citra masuk. Kak Reya sudah seperti ini," jawab Citra yang semakin panik dengan air matanya yang keluar.
"Ayo kita bawa Reya kerumah sakit! Kamu buruan telpon ambulan!" ucap Anggika yang juga panik.
Citra dengan tangganya yang bergetar langsung mengambil ponselnya untuk menelpon ambulan. Keadaan Reya yang memprihatinkan dan tidak tau bagaimana kondisinya.
***********
Suara sirena ambulan yang membawa Reya kerumah sakit dengan Citra dan Anggika yang ada di dalam mobil ambulan yang penuh dengan kepanikan.
Citra juga sembari menelpon yang pasti menghubungi Sean kakaknya. Namun sepertinya Citra mengalami kesulitan karena telponnya tak kunjung di angkat.
Karena memang Sean sedang rapat besar berada di ruangan rapat dengan para-para petinggi Perusahaan. Sean memang kalau rapat jarang membawa handphone karena takut mengganggu. Karena rapat biasanya hanya 1 jam saja. Kadang lebih kadang juga tidak sampai. Jadi tidak perlu membawa handphone yang bisa merusak fokusnya.
Namun walau seperti itu. Kali ini Sean terlihat kurang fokus dan seperti gelisah dengan pemikiran yang banyak.
"Kenapa Perasaan ku tidak enak ya," batin Sean dengan debaran jantungnya yang tidak biasanya di rasakannya. Sangat kencang dan tidak normal.
"Pak Sean bagaimana menurut bapak?" tanya salah seorang penghuni rapat setelah banyak bicara.
Tetapi pertanyaan itu tidak di jawab Sean sama sekali dan malah sibuk dengan pemikirannya.
"Pak Sean!" pria itu bertanya sekali lagi sehingga orang-orang yang ada di meja rapat melihat ke arah Sean yang mana Sean seperti punya dunianya sendiri.
"Sean!" tegur Karin yang berada di sebelah Sean. Karin juga menyenggol Sean.
"Oh iya kenapa tadi?" tanya Sean yang baru tersadar dan terlihat sangat gugup dan tidak fokus.
"Saya bertanya pendapat pak Sean," sahut Pria itu.
"Oh maaf, saya kurang fokus," ucap Sean yang mencoba untuk menenangkan dirinya dulu dengan Sean yang mengatur napasnya.
"Kamu kenapa Sean?" tanya Karin dengan pelan.
"Entahlah," jawab Sean mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.
__ADS_1
"Maaf sekali untuk ke tidak fokussan saya. Saya minta kamu ulang sekali lagi," ucap Sean yang memang tidak tau apa yang di katakan pria itu sebelumnya dan harus di ulang biar Sean bisa memutuskan.
"Baiklah pak," sahut pria itu dan akhirnya dia harus mengulang kembali.
"Apa yang terjadi denganku," batin Sean yang kembali mengatur napasnya. Karena memang kebingungan dan tidak tau apa yang terjadi padanya.
**********
Akhirnya rapat selesai Sean dan juga yang lainnya yang sebelumnya ada diruangan rapat itu keluar dari ruangan itu dan Sean yang berjalan bersama dengan Karin.
"Kamu kenapa sih Sean tadi?" tanya Karin.
"Entahlah, aku tiba-tiba merasa ada yang salah dan mungkin aku hanya berpikiran lain saja. Mungkin juga kurang istirahat," jawab Sean.
"Huhhhh, pantes kamu itu terlihat tidak fokus," sahut Karin.
"Ya sudah hasil rapat tadi kamu antarkan ke ruanganku dan letakkan di atas mejaku," ucap Sean dengan perintahnya pada sekretarisnya itu.
"Baiklah," sahut Karin mengangguk. Karin juga langsung pergi meninggalkan Kevin.
Kevin kembali menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dengan memijat kepalanya.
"Ada apa sebenarnya. Kenapa perasaan ku bisa sampai seperti ini. Sebaiknya aku telpon Reya dulu," gumam Sean yang akhirnya kepikiran dengan istrinya.
Sean pun mencoba tenang dan berjalan menuju ruangannya.
"Sean!" suara lantang itu membuat langkah Sean terhenti yang ternya Reval yang berlari ke arahnya dengan wajah Reval yang terlihat sangat cemas.
"Reval!" sahut Sean heran dengan Reval.
"Reval ada apa?" tanya Sean.
"Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Sean lagi.
Namun Reval masih terlihat ngos-ngosan dengan napasnya yang naik turun.
"Kamu kenapa tidak angkat telpon Sean?" tanya Reval.
"Aku lagi rapat dan ponselku tinggal di ruanganku? Jawab Reval.
"Memang ada apa?" tanya Sean.
"Dari tadi Citra menelpon kamu, ayo kita kerumah sakit," ajak Reval dengan nada suara yang buru-buru dan bahkan langsung menarik tangan Sean dengan buru-buru.
"Untuk apa kerumah sakit? Memang ada apa dan Citra kenapa?" tanya Sean yang panik.
"Bukan Citra. Tetapi Reya," jawab Reval.
Sean terkejut mendengarnya.
"Reya!" pekik Sean.
"Kenapa Reya apa yang terjadi pada Reya?" tanya Sean dengan panik.
"Aku juga tidak tau. Sekarang ayo cepat kita kerumah sakit," ajak Reval yang menarik tangan Sean dan Sean yang juga panik dan pasti khawatir langsung mengikut saja. Dia juga tidak tau apa yang terjadi sama seperti Reval yang pasti hanya di kabari Citra saja untuk menjemput kakaknya.
__ADS_1
Pantesan perasaan Sean sejak tadi tidak enak ternyata istrinya sedang tidak baik-baik saja dan Reval yang langsung menjemput Sean.
Bersambung