Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 73 Berusaha menerima.


__ADS_3

Reya berdiri di dapur yang sedang mengaduk teh. Reya melihat ke arah Sofa ruang tamu yang mana Sean duduk di sana. Sean memang sebelum kekantor mampir ke Apartemen dulu untuk melihat kondisi Reya.


Reya menghela napas dengan perlahan dan langsung melangkah mendekati Sean.


"Minumlah!"ucap Reya meletakkan secangkir teh di atas meja dan Reya duduk di depan Sean.


"Makasih Reya," sahut Sean. Reya hanya menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana perasaanmu?"tanya Sean.


"Aku jauh lebih tenang. Karena percuma juga jika tidak tenang. Tidak akan ada jalannya. Jadi lebih memilih untuk menerima keadaan ini," jawab Reya yang berbicara dengan sendu.


Sean berdiri dari tempat duduknya dan berpindah ke samping Reya duduk di dekat Reya dengan menggenggam tangan Reya dengan erat.


"Aku mengerti perasaanmu. Kamu tidak akan sendiri menghadapinya. Jika ini sebuah kesalahan maka tugas kita untuk bertanggung jawab. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian mengurus anak ini. Kita akan sama-sama menghadapinya apapun yang terjadi," ucap Sean menatap intens Reya.


"Iya kamu benar dan aku sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi. Aku hanya bisa melakukan semua dengan semampuku. Dan aku juga tidak ingin papa nantinya akan kecewa. Jadi lebih baik jangan ada yang tau hal ini. Keran itu sangat menakutkan bagiku," ucap Reya. Sean menganggukkan kepalanya dan membawa Reya ke dalam pelukannya.


"Jangan pernah takut Reya. Tidak akan yang terjadi. Kamu akan terus ada di sisiku sampai kapanpun. Aku tidak akan membiarkan mu dalam ketakutan," ucap Sean. Reya tidak menanggapi kata-kata Sean. Walau berusaha tenang tetapi pikirannya tidak bisa tenang sama sekali.


Bagaimana bisa berpikir tenang. Hamil diluar nikah dengan kakak sendiri. Ya walau sebenarnya mereka tidak ada ikatan darah. Namun kenyataan yang mereka ketahui. Membuat hambatan untuk mereka.


**********


Citra, Rose dan Regina sedang berada di kantin yang menikmati makan siang mereka.


"Regina kenapa kamu nggak masuk tadi mata kuliah Pak Reval?"tanya Rose.


"Oh, itu anu, aku lagi," Regina terlihat gugup yang tidak tau mau menjawab apa.


"Lagi apa?" tanya Citra yang melihat Regina dengan serius sembari mulutnya terus mengunyah.


"Kesiangan bangun," jawab Regina dengan cepat sembari tersenyum untuk menutupi rasa gugupnya.


"Issss kamu ini bisa-bisanya kesiangan bangun. Pak Reval bisa marah tau. Kamu berani banget sih mencari gara-gara dengannya. Sudah tau dia itu galak. Padahal masih muda. Tetapi menyeramkan melebihi dosen killer, isss kamu sungguh berani mencari masalah dengannya," ucap Rose dengan mengangkat ke-2 bahunya.


"Aku juga tidak tau kalau kejadiannya seperti ini. Aku jadi takut," sahut Regina yang ketakutan karena mendengar omongan Rose.

__ADS_1


"Itu kesalahan kamu. Nanti kalau nggak dapat nilai baru tau rasa. Kamu juga pasti akan di hukum," sahut Rose yang kerjanya menakut-nakuti saja.


"Jangan bilang gitu dong Rose kan aku jadi takut," ucap Regina. Citra hanya datar saja yang lebih fokus pada makanan di atas mejanya.


"Makanya buru-buru kamu minta maaf. Karena tidak mengikuti kelasnya," saran Rose.


"Tapi aku tidak berani,"sahut Regina.


"Ya usaha dong,"sahut Rose.


Regina melihat ke arah Citra yang terus menikmati makanannya tanpa ikut-ikutan Rose yang membuat Regina takut.


"Citra kamu temani aku ya," ucap Regina membuat Citra langsung menautkan ke-2 alisnya melihat ke arah Regina.


"Temani apa?" tanya Citra merasa ada yang tidak beres.


"Minta maaf sama Dosen," jawab Regina.


"Argh nggak mau," tolak Citra. Rose mendengarnya tertawa kecil, "nanti aku lagi yang mendapat masalah. Kamu yang buat masalah. Jadi kamu urus sendiri, jangan bawa-bawa aku," ucap Citra ogah membantu Regina.


"Nggak tetap tidak!" tegas Citra yang tidak mau ikut-ikutan dalam masalah orang.


"Makanya jangan suka cari masalah," ucap Rose tersenyum melihat ke arah Regina yang sekarang jadi murung. Karena takut juga bermasalah dengan dosen terkenal galak itu.


"Regina leher kamu kok merah-merah!" tiba-tiba Rose memperhatikan leher Regina. Regina mendadak panik dan langsung menutupnya dengan memperbaiki rambutnya.


"Oh nggak, hanya di gigit nyamuk," jawab Regina panik dan menjadi gugup.


"Kamu tidur di hutan sampai di gigit nyamuk," sahut Citra.


"Bukan begitu ya kebetulan memang ada pohon besar di belakang rumah. Jadi mungkin nyamuk-nyamuknya dari sana," jawab Regina yang mencari alasan sedemikian rupa.


"Nyamuk-nyamuk apa nyamuk. Hmmm jangan-jangan siluman nyamuk lagi," goda Rose menunjuk-nunjuk Regina.


"Apaan sih Rose," sahut Regina semakin panik dan Citra hanya senyum-senyum dengan geleng-geleng.


"Ingat lo jangan kebablasan," ucap Rose.

__ADS_1


"Rose kamu ini ada-ada saja. Regina itu tidak punya pacar jadi mana mungkin sama siluman nyamuk," sahut Citra dan Regina tersenyum kaku yang tangannya di bawah sana saling meremas karena begitu panik. Bagaimana tidak panik. Siluman nyamuknya pacar dari temannya sendiri.


"Benar sih. Mana mungkin sama siluman nyamuk," sahut Rose.


"Tapi ya Regina. Kamu ini kan sangat polos. Kamu hati-hati ya dalam memilih teman dan apa lagi pasangan. Aku takut saja kamu nantinya di manfaatin, kamu harus tau tidak ada laki-laki yang benar yang hanya ingin berhubungan hanya untuk arah tertentu. Jadi harus jaga diri,"ucap Citra memberi saran. Regina mengangguk dengan wajahnya yang merasa bersalah.


"Cie mentang-mentang pacarnya benar," sahut Rose menggoda.


"Bukan begitu. Aku hanya mengingatkan saja," sahut Citra dengan wajah seriusnya.


Citra menasehati. Tidak taunya pacar sudah bermain di belakangnya dengan sahabatnya sendiri ya itu wanita yang baru saja di nasehatinya.


Citra juga tidak memuji pacarnya dan bahkan Barra pernah ingin melakukan hubungan itu. Untung saja Citra bisa mengontrol Barra dan tidak terjadi hal itu.


**********


Sean dan Reya berada di dalam mobil yang parkir di tengah jalan di pinggiran kota. Yang mana terlihat Reya yang sedang memakan rujak yang membuatnya Reya begitu lahap memakannya.


"Enak?"tanya Sean yang hanya melihat Reya makan.


"Hmmm, sangat enak," jawab Reya membuat Sean tersenyum dan spontan mengusap-usap pucuk kepala Reya dan membuat Reya jadi gugup. Sean menyadari apa yang di lakukannya langsung menghentikan perbuatannya.


"Maaf!" ucap Sean.


Reya mengangguk dan langsung menyodorkan rujak pada Sean, "cobalah," ucap Reya menyuapi Sean.


Sean mengangguk dan menerima suapan itu dan Reya tertawa saat melihat ekspresi wajah Sean yang mengkerut karena asem.


"Kamu bisa memakan seperti ini?" tanya Sean dengan wajah terlihat menahan asam.


"Ini enak kok," sahut Reya tidak hentinya tertawa.


"Bagi kamu yang enak. Bagiku tidak," ucap Sean.


Reya semakin tertawa yang begitu bahagia melihat Sean yang begitu menderita karena sepotong mangga yang muda yang di berikan Reya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2