
Setelah mendapatkan kabar bahwa ibu yang mereka cari ternyata sudah tiada. Pak RT langsung membawa mereka ke pemakaman umum dan di sana Citra dan Reya yang berjongkok saling berhadapan di samping makam ibu mereka dengan keluarga yang juga pasti berada di sisi Reya dan Citra. Termasuk Sean yang sejak tadi memberikan kekuatan pada istrinya yang hatinya pasti sangat hancur.
"Beliau tiada karena sakit. Kami warga di sini tidak ada yang tau apa beliau mempunyai anak atau tidak. Dan saya sangat terkejut ternyata beliau mempunyai 2 putri yang sangat cantik," ucap pak RT.
"Seperti yang kami katakan tadi pak. Bahwa ke-2 anak dari Suhartati juga terpisah dan di adopsi orang yang berbeda dan mereka juga baru saling Mengetahui dan mencari ibu mereka bersama-sama," sahut Anggika.
"Namun sayang sekali mereka berdua tidak bisa bertemu. Tetapi pasti almarhum sangat bahagia di atas sana melihat putri-putri sangat cantik dan hidup bahagia," ucap pak RT.
"Amin," sahut mereka dengan serentak.
"Mah terima kasih mama sudah melahirkan Reya dan juga Citra. Meski tuhan tidak mentakdirkan kita untuk bertemu setelah sekian lama. Tetapi Reya mama akan tetap ada di hati Reya dan juga Citra. Reya sangat bersyukur dengan Reya yang sudah bertemu mama. Walau tidak bisa melihat mama secata langsung. Tetapi hal ini sudah cukup untuk Reya," ucap Reya dengan air matanya yang jatuh yang berusaha untuk kuat.
"Citra juga berterima kasih untuk mama yang melahirkan Citra dan sama dengan kak Reya Citra juga sangat bersyukur dengan hari ini. Karena bertemu mama dan sangat bahagia, sangat bangga di lahirkan mama. Karena Citra bisa bersama orang-orang yang baik pada Citra. Makasih mah," ucap Citra yang menambahi.
"Mama bahagia ya di sana. Mama jangan khawatir Reya dan Citra juga akan bahagia di sini dan Reya akan menjaga Citra dengan baik," sahut Reya.
"Citra juga akan menjadi adik yang baik dan penurut pada kak Reya," sahut Citra.
"Dan iya mah, ini kak Sean ini adalah suami Reya. Mama jangan tanya Reya bahagia atau tidak. Reya sangat bahagia dengan berada di sisinya," ucap Reya yang memperkenalkan suaminya dan Sean hanya tersenyum dengan mengusap bahu istrinya.
"Mama jangan khawatir aku juga akan menjaga Reya dan Citra dengan baik. Tenanglah di sana. 2 putri cantikmu akan menjadi tanggung jawabku," ucap Sean dengan janjinya.
"Ya sudah Reya, Citra, sekarang kita kembali ya. Ini sudah sore," sahut Sahila.
Citra dan Reya mengangguk, mereka mengusap mesan tersebut dan kemudian langsung berdiri. Karena mereka harus kembali.
"Oh iya pak. Boleh tidak kami masuk kerumah mama kamu untuk melihat rumah tersebut?" tanya Reya.
__ADS_1
"Iya pak. Siapa tau ada sesuatu yang bisa menjadi kenang-kenangan untuk kami bawa," sahut Citra yang juga setuju.
"Baiklah tidak masalah sama sekali. Lagian rumah itu juga milik kalian. Karena beliau tidak ada saudara juga. Tetapi pasti berantakan tidak apa-apa kan?" tanya pak RT yang memberi izin dan bahkan merasa tidak enak karena rumah itu berantakan.
"Tidak apa-apa pak sama sekali. Yang penting kami bisa masuk," sahut Citra.
"Baiklah, kalau begitu, ayo sekarang kita pergi ke sana," sahut pak RT yang lainnya mengangguk dan mengikuti PK RT menuju rumah tersebut.
**********
Mereka bukan hanya sekedar mampir dan melihat-lihat saja rumah ibu mereka. Mereka juga membersihkan dan di bantu warga-warga yang sangat ramah di sana yang ikut bergotong royong.
Sebelumnya ada pembahasan dari Argantara yang ingin merenovasi rumah tersebut untuk menjadi panti asuhan. Karena menurut cerita pak RT ibu Suhartati menghabiskan waktunya bersama anak-anak yatim piatu sebelum beliau meninggal dan ketika meninggal anak-anak itu jadi hidup tidak jelas dan belum lagi di tempat itu tidak ada panti asuhan.
Argantara langsung berinisiatif untuk membangun rumah itu lebih besar untuk menampung kehidupan anak-anak yatim yang tidak punya kehidupan. Pak RT juga setuju dan sekarang mengarahkan warganya untuk bersih-bersih.
Reya sedang membersihkan abu dari bingkai foto ibunya yang bersama dia dan Citra saat masih kecil.
"Pantesan kamu cantik, ternyata mama kamu sangat cantik," puji Sean tiba-tiba datang yang mampu membuat istrinya tersenyum tipis.
"Kak Sean bisa aja," sahut Reya dengan tersenyum malu-malu.
"Sayang apa kamu sekarang jauh lebih baik?" tanya Sean.
"Jauh lebih baik, sekarang sudah bertemu mama dan papa memberikan hadiah yang paling besar untuk aku dan Citra yang bisa mewujudkan impian mama. Jadi bagaimana mungkin aku tidak jauh lebih baik dan mama dia atas sana pasti bahagia," jawab Reya dengan senyum ketulusannya.
Sean mengelus-elus rambut istrinya dengan mencium kening istrinya, "aku mengikuti semua perjuangan kamu dan aku sangat bahagia melihat finalnya yang ternyata kamu begitu ikhlas dan aku sangat bangga dengan kebesaran hati kamu," ucap Sean.
__ADS_1
"Itu juga karena transferan energi dari kamu. Makasih sayang kamu selalu ada untukku dan aku yang jauh lebih bahagia karena kamu selalu menemani ku," ucap Reya.
Sean langsung memeluknya dengan erat dan kembali mencium pucuk kepala istrinya.
"Kita lanjut beres-beres setelah ini kita makan," ucap Sean.
"Baik sayang," sahut Reya yang tersenyum lebar.
Di sisi lain terlihat Sean yang sedang ikut beres-beres barang-barang yang tidak perlu di masukkan kedalam kardus dan Reval yang juga masih terluka tetap semangat walau harus duduk di lantai untuk menyusun barang-barang tersebut.
Di tengah kesibukannya tiba- tiba-tiba ada gelas yang berisi air di sampingnya membuat Reval melihat siapa yang memberikannya yang ternyata Citra.
"Kak Reval minum dulu!" ucap Citra duduk di samping Reval.
"Makasih Citra," sahut Reval yang langsung mengambilnya meminumnya.
"Seharusnya kak Reval istirahat dan tidak perlu mengerjakan semua ini. Karena banyak juga yang sudah mengerjakannya," ucap Citra
"Tidak apa-apa. Banyak bergerak membuat kita cepat sembuh jadi tidak masalah dan aku juga sangat bahagia bisa membantu," jawab Reval.
"Kalau begitu Citra ikut bantu kak Reval," sahut Citra yang langsung membantu Reval dan Reval tersenyum melihat Citra. Padahal jelas banyak pekerjaan lain. Tetapi Citra memilih membatu Reval.
"Kamu sekarang memanggilku kembali dengan panggilan kak," sahut Reval membuat Citra melihat ke arah Reval.
"Memang tidak boleh?" tanya Citra.
"Boleh, aku juga suka mendengarnya," sahut Reval yang tersenyum dan Citra juga tersenyum dengan mereka yang kembali saling melihat.
__ADS_1
Bersambung