
Sean berhasil mengejar Reya dengan memegang tangan Reya yang mencegah kepergian istrinya yang sudah mau lari saja.
"Sayang tunggu!" cegah Sean.
"Lepaskan aku! Apa-apaan sih kamu. Kamu itu sangat menyebalkan," umpat Reya dengan penuh kekesalan yang menepis tangannya dari suaminya.
"Sayang kamu itu salah paham! aku tidak membuang makanan itu," tegas Sean yang mencoba untuk meyakinkan istrinya.
"Lalu tadi apa. Tadi sudah jelas-jelas aku melihatnya dan kamu masih aja mengelak," ucap Reya dengan kesal.
"Reya kamu tenang dulu. Kita bicara baik-baik. Sekarang ayo kembali ke Perusahaan. Kamu tenangkan diri kamu dulu. Kendalikan emosi kamu dulu," ucap Reya yang mencoba untuk bicara dengan lembut pada istrinya itu agar istrinya yang penuh dengan kemarahan itu bisa tenang.
"Aku mau pulang!" tegas Reya.
"Baiklah kita pulang," sahut Sean yang harus menuruti Reya. Karena istrinya sedang tidak baik-baik saja perasaannya sangat menggebu-gebu dan sebaiknya mengalah agar tidak terjadi sesuatu pada istrinya itu.
"Aku mau pulang sendiri. Aku nggak mau pulang sama kamu," ucap Reya dengan kesal.
"Mana mungkin seperti itu Reya. Aku suami kamu dan tidak mungkin aku membiarkan kamu pulang sendirian," ucap Sean
"Kamu bukanya ada makan malam dengan klien kamu," sahut Reya dengan menaikkan suaranya.
"Kamu ingin pulang. Maka kita akan pulang. Kita bicara di rumah," jawab Sean.
"Aku mau pulang sendiri. Kamu makan malam aja sana," sahut Reya.
"Malam malam itu bersama kamu dan klien aku dan jika kamu tidak bisa maka tidak akan terjadi makan malamnya. Jadi sekarang kita pulang. Kamu jangan marah-marah lagi," ucap Sean yang berusaha menjadi air di tengah-tengah istrinya yang meledak-ledak.
"Ayo kita pulang!" Sean memegang lengan Reya dan mengajak Reya untuk pulang. Namun Reya menepis tangan suaminya itu yang kelihatannya emang tidak mau di pegang-pegang.
Sean pasrah dan hanya membiarkan saja apa yang di lakukan istrinya itu. Di mana Reya berjalan sendiri menuju mobil Sean.
"Ada apa ini sebenarnya," batin Sean yang kebingungan sendiri dengan apa yang terjadi. Masalah bekal menjadi besar dan padahal dia benar-benar tidak membuang bekal itu dan sudah memakannya seperti biasa.
***********
__ADS_1
Makan malam itu tidak jadi yang akhirnya Reya dan Sean kembali kerumah dan sepanjangan di perjalanan di dalam mobil naik Reya dan Sean hanya diam saja. Sean berusaha untuk mengajak istrinya berbicara. Namun Reya tidak mau bicara pada Sean. Jadi tidak terjalin komunikasi di Antara keduanya sampai mereka sudah sampai rumah dan sekarang berada di dalam kamar.
"Sayang kamu itu salah paham," ucap Sean
"Apa susahnya kamu itu jujur. Kenapa harus terus mengelak," sahut Reya yang semakin banyak Reya Sean bicara dia semakin kesal.
"Aku sudah jujur aku benar-benar makan makanan yang kamu berikan dan aku tidak tau yang aku makan punya siapa yang terbuang punya siapa," ucap Sean menegaskan.
"Jadi maksud kamu selama ini ada lagi yang memberikan kamu bekal selain aku dan saking sudah kebiasaan membuang bekal yang aku berikan sampai kamu membuangnya sembarangan," ucap Reya yang malah memperbesar masalah itu dengan berpikiran negatif pada Sean.
"Apa yang kamu katakan Reya. Aku tidak mengerti," sahut Sean.
"Sudahlah aku malas memperdebatkan masalah bekal. Intinya kamu sudah bosan dengan masakanku dan secara tidak langsung kamu tidak menginginkan masakanku dan itu artinya aku tidak perlu lagi memasak untukmu," tegas Reya yang langsung menaiki tempat tidur dan Reya langsung menarik selimut yang membelakanginya suaminya yang berdiri di tempatnya yang sangat bingung dengan situasi yang di hadapinya.
"Ada apa ini sebenarnya," batin Sean dengan menghela napasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Sean jadi frustasi sendiri dengan semua yang terjadi. Dia sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi dan mungkin harus memberikan waktu untuk istrinya untuk menenangkan diri.
*********
Malam sudah kembali menjadi pagi dan Reya atau Sean belum juga baikan. Reya masih marah dengan suaminya yang akhirnya membuat ke-2nya belum ada berbicara.
Seperti sarapan di meja makan kali ini ke-2nya diam-diam aja. Sebenarnya ini bukan tipe Sean yang harus diam-diaman dengan istrinya. Namun dia juga tidak mau membahas masalah rumah tangganya dengan Reya di depan semua orang yang mana tidak perlu semua orang tau permasalahan di antara mereka.
"Aku kekantor dulu," sahut Sean berdiri dari tempat duduknya setelah selesai meneguk air putih.
"Sarapan kamu belum habis Sean," sahut Anggika.
"Aku sudah telat," ucap Sean dengan dingin yang langsung pergi begitu saja.
Hal itu pasti membuat tanda tanya untuk semua orang yang mana mereka saling melihat dan terakhir tatapan mereka fokus pada Reya yang mana Reya hanya sarapan saja. Mereka kembali saling melihat dengan Citra yang mengangkat bahunya yang juga tidak tau apa yang terjadi dan pasti sudah ketebak apa yang terjadi. Apa lagi kalau bukan Reya atau Sean pasti bertengkar.
"Reya ke atas dulu!" ucap Reya yang juga meninggalkan sarapannya begitu saja.
"Ada apa ini?" tanya Anggika setelah kepergian Reya.
"Nggak tau juga mah," sahut Citra yang juga heran.
__ADS_1
"Sepertinya mereka sedang ada masalah. Tadi juga Sean tidak pamitan sama Reya mau kekantor," sahut Reval yang menduga-duga.
"Iya benar juga," sahut Citra.
"Ya ampun kenapa lagi sih mereka," sahut Anggika yang adanya pusing jadinya.
"Sudah-sudah pertengkaran itu hal biasa. Mungkin keduanya juga butuh sendiri-sendiri. Jadi biarkan saja itu menjadi urusan mereka berdua," sahut Argantara.
Anggika mengangguk saja. Walau mengangguk. Pasti perasaannya sangat tidak tenang sebelum anak-anaknya baik-baik saja.
**************
Reya yang berada di dalam kamar yang sedang merapikan tempat tidur.
"Pergi begitu saja tanpa pamitan. Dia yang berbuat salah, dia yang seakan-akan marah," oceh Reya yang kesal dengan tindakan suaminya barusan.
toko-tok-tok-tok.
Krekkkk.
Belum di suruh masuk pintu sudah terbuka saja dan siapa lagi kalau bukan Citra yang masuk kamar Reya dengan Citra yang tersenyum.
"Ada apa Citra?" tanya Reya.
"Mau ajak kak Reya cerita," sahut Citra yang duduk di pinggir ranjang.
"Cerita. Memang cerita apa?" tanya Reya heran.
"Ya apa aja yang harus kita ceritakan," sahut Citra dengan tersenyum.
"Tapi nggak ada yang perlu di cerita kan," sahut Reya yang membuka pintu lemari.
"Kakak mau mandi dulu!" ucap Reya yang meninggalkan Citra dan memasuki kamar mandi.
Citra menghela napasnya panjang.
__ADS_1
"Aku akan menunggu. Aku yakin kak Reya butuh aku untuk cerita," batin Citra yang akan tetap menunggu sang kakak untuk cerita kepadanya.
Bersambung