
Sean keluar dari ruangan Reya yang tidak tau juga Sean ingin pergi kemana. Namun ternyata ada yang mengawasi Sean yang mana Renita yang bersembunyi di balik tembok dengan memakai pakaian Dokter dan juga masker yang melihat kepergian Sean.
"Mana mungkin kamu mengawasi istrimu yang hampir mati itu selama 25 jam dan jika karena kami juga yang tidak ada di sisinya membuatnya sampai koma. Maka sama dengan kali ini. Karena kamu meninggalkannya ke hanya sebentar saja. Maka dia akan langsung aku kirim ke Neraka," batin Renita dengan tersenyum penuh dengan rencana. Yang tidak tau apa yang ingin di lakukan Renita kepada Reya di saat Sean tidak ada.
Renita melangkah dengan mengendap-endap yang mengawasi di sekitarnya, Renita sudah seperti pencuri saja yang tidak tau apa yang di lakukannya dengan dia yang berjalan keruangan Citra dan Renita yang kembali melihat di sekitarnya. Kanan dan kirinya dan setelah memastikan tidak ada orang Renita langsung memasuki ruangan perawatan Reya.
Renita yang sudah sampai di dalam ruangan itu. Ruangan yang tidak terlalu terang dan juga tidak gelap. Dengan suara mesin jantung yang memenuhi isi ruangan itu dan memang tidak ada siapa-siapa di ruangan itu.
Renita sudah berdiri di samping tempat tidur Reya dan melihat Reya yang berbaring tertidur alias koma.
"Reya ini sudah waktunya kamu itu langsung ke Neraka saja. Kamu tidak berguna di tempat ini Reya. Kamu tau suami mu itu terlalu membelamu sampai dia mempermalukan ku dan juga mengancamku dan aku tidak terima Reya dengan semua yang di lakukan suamimu kepadaku. Jadi aku harus mengirimmu lebih cepat ke Neraka. Agar suami mu paham. Jika aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku katakan," ucap Renita dengan menyunggingkan senyumnya.
"Jangan khawatir Reya. Suami mu akan aku jaga. Bukannya kita sahabat. Jadi percayakan lah suamimu kepadaku. Kamu harus percaya dia akan bahagia bersamaku. Tetapi aku tidak janji untuk anakmu. Karena jika melihat anak itu aku sama saja mengingat dirimu. Jadi maaf ya Reya. Jika aku egois yang hanya butuh suamimu saja dan bukan anakmu," ucap Renita dengan menyunggingkan senyumnya.
"Huhhhh, baiklah Reya. Percuma juga aku banyak bicara padamu. Itu hanya membuang-buang waktu saja. Sebaiknya kamu pergi saja yan dengan cepat," Renita hanya berbicara sendiri pada Reya.
Namun lelah berbicara dan merasa tidak ada gunanya. Renita mengeluarkan sesuatu dari sakunya yaitu berupa gunting. Renita mendekatkan gunting itu pada salah satu selang yang menyatu pada alat pernapasan di mulut Reya.
"Selamat jalan sahabatku yang sangat aku cinta," gumamnya dengan menyunggingkan senyumnya dan langsung menggunting selang itu.
Tit-tit-tit-tit-tit-tit- tit-tit-tit-tit-tit-tit.
Suara mesin jantung Reya langsung tidak normal dengan Reya yang terlihat sesak napas dan membuat Renita tersenyum melihat penderitaan Reya yang kesulitan bernapas. Seperti orang yang nyawanya hendak di cabut.
Sementara Sean yang keluar dari rumah sakit yang berpapasan dengan Citra dan Reval yang baru saja sampai.
"Kak Sean mau kemana?" tanya Citra.
"Hanya mau ke depan untuk beli minum," jawan Sean.
"Oh kita bawa kok kak, nggak perlu beli lagi," sahut Citra.
"Begitu rupanya," sahut Sean.
"Citra juga bawa selimut untuk kak Sean dan rencananya Citra dan kak Reval mau menginap di sini," ucap Citra.
__ADS_1
"Iya Sean kita mau menemani kamu. Atau kalau tidak kamu pulang saja. Biar kita yang jaga Reya," ucap Reval.
"Tidak usah. Aku akan tetap menjaga Reya dan kalau kalian mau menginap di sini. Ya sudah tidak apa-apa. Tetapi bagaimana dengan anakku?" tanya Sean.
"Aman kak Sean, mama dan papa menjaganya dengan baik dan kalau nanti ada apa-apa. Mama juga langsung mengabari," jawab Citra.
"Ya sudah kalau begitu, syukurlah," sahut Reval.
"Ya sudah sebaiknya kita kembali masuk," sahut Reval. Sean dan Citra mengangguk dan mereka langsung masuk kembali.
Sementara di ruangan Reya. Masih saja Renita berdiri di samping Reya yang menyaksikan penderitaan Reya dengan napas Reya yang naik turun.
"Mampus kamu Reya. Selamat jalan!" ucapnya yang langsung pergi dari tempat itu. Dia juga tidak mau jika sampai ketauan dan Renita juga sudah yakin Reya akan mati. Karena cukup lama kehilangan napas.
Renita yang keluar dari ruangan itu yang kembali melihat ke sekitarnya dan terlihat sangat sepi dan sementara Sean, Citra dan Reval yang hampir sampai ke ruangan itu dan Renita juga sudah pergi yang aman karena tidak ada yang melihatnya.
Sean, Citra dan Reval berjalan semakin jauh, namun hampir saja Citra di tabrak beberapa Suster yang berlari kencang dan untuk Reval berhasil melindungi istrinya yang hamil itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reval.
"Iya sih. Tetapi Tidka juga harus berlari tidak lihat-lihat. Bagaimana kalau kamu kenapa-napa," ucap Reval.
"Nggak apa-apa kok sayang," sahut Citra.
"Reya!" ucap Sean tiba-tiba membuat Citra dan Reval melihat ke arah Sean.
"Ada apa kak Sean?" tanya Citra.
"Kenapa mereka keruangan Reya!" ucap Sean yang melihat Suster memasuki ruangan Reya dan bahkan di susul oleh Dokter.
"Kak Reya!" lirih Citra yang juga mendadak panik dan semuanya langsung berlari menuju ruangan Reya.
Saat tiba di depan ruangan itu Sean langsung masuk dan melihat istrinya yang drop dengan Dokter yang melakukan pompa jantung.
"Reya!" ucap Sean dengan wajah terkejutnya.
__ADS_1
"Maaf pak tolong tunggu di luar," usir Suster.
"Suster istri saya kenapa?" tanya Sean panik.
"Kami akan tangani istri bapak. Mohon bapak tunggu di luar!" ucap Suster yang mendorong paksa Sean untuk keluar dan Sean pasti tidak mau yang terus melihat istrinya dengan tubuh sang istri yang terangkat akibat pompa dari mesin jantung tersebut.
Sean, Reval dan Citra panik dan takut dengan keadaan Reya yang tiba-tiba drop. Dokter di dalam juga berusaha terus menyelamatkan Reya dengan Suster yang kembali memasang selang yang terputus akibat ulah Renita.
"Ya Allah aku mohon, tolong selamatkan Reya. Jangan pisahkan kami ya Allah. Aku mohon padamu," ucap Sean dengan matanya yang sudah bergenang. Citra juga sangat takut terjadi hal buruk pada kakaknya itu.
"Dokter jantungnya semakin lemah," ucap Suster panik.
Dokter terus memompa jantung Reya dan bahkan sudah berkali-kali.
Tit-tit-tit-tit-tit-tit tit-tit-tit-tit-tit-tit.
"Dokter denyut jantungnya berhenti," sahut Suster.
Dokter menghentikan memompa jantung Reya dengan Dokter menghela napasnya dengan lemas yang mana pasien tidak berhasil di selamatkan.
"Catat kematiannya," ucap Dokter melap keringatnya.
"Baik Dokter," sahut Sean.
Suara tangisan bayi yang terdengar kuat. Di mana bayi Sean dan Reya yang menangis tidak biasanya yang berusaha di diamkan Anggika dan Argantara dan suara itu seakan terdengar ke telinga Reya membuat telinga itu bergerak dan bahkan jari-jari Reya juga bergerak.
"Dokter pasien," sahut Suster yang melihat pergerakan itu.
Tit-tit-tit-tit-tit-tit.
Suara jantung Reya kembali terdengar.
"Siapkan alatnya!" perintah Dokter yang buru-buru memeriksa Reya karena Reya jantung Reya kembali berdetak.
Bersambung
__ADS_1