Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 259


__ADS_3

Akhirnya merek tiba sampai di rumah juga. Rumah Argantara bersama keluarganya sebelum Sean, Reya dan Citta pergi dari rumah itu, sebelum terjadi keributan besar sehingga terjadinya insiden yang sangat besar di antara keluarga itu.


Argantara masih menggunakan kursi roda. Karena kondisi Argantara memang belum sepenuhnya pulih. Reval dan Sean membantu Argantara untuk duduk di atas kursi roda dan langsung di dorong Citra.


"Kita istirahat di dalam ya pah," ucap Citra.


"Baik Citra," sahut Argantara menganggukkan kepalanya dan yang lain mengikuti untuk memasuki rumah tersebut.


Sesampainya mereka masuk kedalam rumah Argantara melihat di sekitarnya dengan kepalanya yang berkeliling melihat rumah tersebut. Di mana Argantara langsung fokus pada satu tempat yang di ruang tamu.


Argantara mengingat di sanalah dia dan Erina berseteru dan membuatnya sekarat di rumah sakit.


"Papa tidak apa-apa?" tanya Reya yang melihat Argantara melihat satu arah yang membuat Reya merasa sang papa sedang memiliki ekspresi Argantara.


"Tidak apa-apa. Papa hanya mengingat di mana papa tidak bisa mengendalikan diri papa. Erina datang saat itu dan mengatakan banyak hal yang menguji kesabaran papa dan akhirnya membuat papa kehilangan kendali yang di penuhi dengan Iblis yang membuat papa mencekik leher Erina dan terjadilah semauanya," ucap Argantara yang baru menceritakan hal ini kepada keluarganya.


Keluarganya juga tidak pernah bertanya apa yang terjadi dan Argantara langsung mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.


"Pah sudahlah, semua itu sudah berlalu. Tante Erina juga sudah ada di penjara. Jadi ada sebaiknya kita jangan memikirkan hal yang tidak penting lagi. Papa fokus saja pada kesehatan papa," ucap Citra.


"Benar apa kata Citra. Fokuslah pada kesehatan papa. Jangan mengingat ini dan itu lagi," sahut Sean yang menambahi sedikit.


"Iya kalian benar ada sebaiknya papa hanya fikis pada kesehatan papa saja," sahut Argantara.


"Ya sudah kita langsung saja kekamar ya," sahut Citra. Argantara menganggukkan dan Reya dan Citra yang membawa Argantara untuk beristirahat di kamar.


"Anggika kita bicara sebentar ya," ucap kakek yang pada Anggika.


"Baik pah," sahut Anggika dengan mengangguk tersenyum dan akhirnya pergi bersama kakek dan tidak tau apa yang mau di bicarakan kakek.


**********


Anggika dan kakek kembali berbicara dengan mereka yang berada di taman belakang.

__ADS_1


"Ada apa pah?" tanya Anggika.


"Anggika. Kondisi Argantara masih belum sepenuhnya pulih. Reya dan Sean sudah menikah dan Citra papa rasa tidak akan bisa mengurus Argantara sendirian. Jadi papa ingin kamu tetap di rumah ini untuk mengurus Argantara. Papa mengatakan ini bukan untuk mengubah pikiran kamu untuk berpisah dari Argantara. Papa tidak akan mencampuri keputusan kamu. Hanya saja situasi ini sangat membutuhkan kamu dan lagian kamu juga masih istri dari Argantara. Jadi papa rasa tidak akan menjadi masalah besar jika kamu berhati luas untuk melakukannya," ucap kakek.


Anggika menghela napasnya dengan perlahan kedepan dan diam sejenak melihat papa mertuanya itu yang sepertinya sangat mengharapkan dirinya untuk berada di sisi Argantara.


"Papa tidak akan memaksa kamu Anggika. Papa tau apa yang kamu rasakan," sahut kekek.


"Baiklah pah, aku tidak keberatan untuk merawat mas Argantara dan mengenyampingkan proses perceraian sementara," ucap Anggika dengan ikhlas melakukan apa yang di katakan mertuanya itu.


"Makasih ya Anggika," ucap kakek.


"Iya pah," sahut Anggika dengan mengangguk tersenyum.


***********


Reya berada di dapur yang sedang sibuk dengan aktifitasnya.


"Kamu sedang apa Reya?" tanya Citra yang tiba-tiba datang.


"Aku bantuin ya," sahut Citra.


"Sudah mau selesai kok Citra. Kalau kamu mau bantuin, buatin minum papa aja," sahut Reya.


"Baiklah," sahut Citra dengan mengangguk yang langsung mengambil gelas untuk menyiapkan minum untuk Argantara.


"Bagaimana Reya masalah pencarian orang tua kandung kamu?" tanya Citra membuka topik pembicaraan.


"Belum dapat kabar dari panti asuhan. Katanya sih kalau sudah dapat informasi. Ibu panti akan langsung menghubungi kami," jawab Reya yang melihat Citra sebentar.


"Kamu sama kak Sean kapan lagi ke panti asuhan sejahtera?" tanya Citra.


"Nanti kalau kamu sudah di kabari," jawab Reya.

__ADS_1


"Kalau kalian pergi. Aku ikut ya," ucap Citra.


"Kamu mau ikut?" tanya Reya.


Citra menganggukkan kepalanya, "aku hanya ingin tau saja bagaimana panti asuhannya," jawan Citra.


"Ya sudah kalau begitu," sahut Reya yang tidak masalah baginya. Citra tersenyum mendengarnya.


"Reya apa sangat lega saat kamu itu tau kamu bukan anak kandung papa dan mama kamu?" tanya Citra tiba-tiba.


"Maksudnya. Kenapa mengatakan itu tiba-tiba?" tanya Reya heran.


"Kamu sama kak Sean. Awalnya punya hubungan yang sedarah. Namun ternyata kak Sean bukan anak kandung mama dan papa. Bagaimana perasaan kamu saat mendengar waktu itu. Apakah itu kebahagiaan untuk kamu dan kak Sean dengan begitu hubungan cinta kalian tidak ada masalah sama sekali," ucap Citra.


"Tidak bisa di katakan. Itu berita bagus atau justru berita buruk. Namun pada intinya di balik berita yang bagus ada berita kesedihan yang sangat mendalam. Dan di balik berita yang buruk itu ada kelegaan yang datang. Aku tidak bisa Citra menyatakan perasaan ku saat semua berita yang mengejutkan itu datang," ucap Reya dengan wajah senduhnya.


"Kamu benar di sisi lai pasti sangat kecewa, w


marah dan sedih karena orang tua yang menyayangi kita dan sangat mencintai kita, sebaliknya kita menganggapnya seperti itu ternyata bukan orang tua kandung kita dan itu rasanya seperti mimpi buruk. Namun tersirat dalam hubungan yang tidak bisa di satukan dan menjadi satu karena mimpi buruk itu. Di sisi lain merasa lega. Namun di sisi lain merasa tidak ingin menerima, ingin menutup mata dan telinga untuk tidak menerima kenyataan itu," ucap Citra yang berbicara begitu dalam yang seperti ada makna dari setiap kata-katanya.


"Citra kamu masih beruntung memiliki orang yang lengkap dan kamu tidak seperti aku, kak Sean dan Reval yang mengalami situasi atau bisa yang seperti kamu katakan adalah mimpi buruk," ucap Reya.


"Aku tidak seberuntung itu Reya. Aku juga sama," ucap Citra dengan tersenyum getir.


"Maksud kamu?" tanya Reya heran.


"Minumnya sudah selesai Reya," ucap Citra yang tidak menjawab pertanyaan Reya dan mengalihkan pada hal lain.


"Ya sudah kita anterin sekarang aja sama papa. Papa pasti sudah menunggu kita," sahut Reya yang juga tidak bertanya-tanya lagi. Yang padahal dia juga tidak mengerti dengan apa yang di katakan Citra.


"Baiklah!" sahut Citra mengangguk tersenyum.


Reya dan Citra pun menyiapkan sop buntut untuk Argantara dengan memasukkan kedalam mangkok dan keduanya langsung pergi untuk yang pasti kekamar Argantara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2