
Walau Citra melihat Sean dan Reya. Tetapi Citra tidak mengganggu mereka. Atau bahkan hanya menyapa saja. Mungkin Citra juga tidak tau apa yang akan di katakannya jika bertatap muka dengan Reya. Jadi Citra lebih memilih tidak perduli dan dia tetap jalan-jalan bersama dengan Reval yang mana mereka sudah menikmati jagung bakar berduaan.
"Bagaimana dengan skripsi kamu?" tanya Reval basa-basi sembari menikmati jagung bakar tersebut.
"Sejauh ini semuanya lancar. Hanya terkendala saat kemarin kak Reval mencoba memindahkan nilai saya dengan Regina. Tetapi semuanya sudah teratasi. Makasih ya kak Reval sudah memberi saya kesempatan dan tidak jadi memberikan nilai saja pada Regina," ucap Citra menoleh ke arah Reval.
"Saya hanya ingin menguji kamu saat itu," sahut Reval.
"Maksudnya?" tanya Citra dengan dahi mengkerut.
"Ya saya ingin tau. Bagaimana reaksi kamu saat saya memindahkan nilai kamu. Dan tidak di duga kamu ternyata sangat bekerja keras untuk mengambil hak kamu. Bahkan rela mendapat hukuman, kamu begitu semangat dan rela melakukan apa saja. Demi hak kamu," jelas Reval yang sepertinya mengagumi Citra. Citra tersenyum mendengarnya.
"Ya saya juga kemarin hanya ingin membantu Regina. Tetapi ternyata wanita yang di bantu sudah berhiyanat dan tidak masalah ini pelajaran untuk saya kedepannya. Untuk lebih berhati-hati dalam memilih teman," ucap Citra.
"Lalu bagaimana persiapan kamu untuk acara kemping kampus nanti?" tanya Reval.
"Persiapannya sudah sangat mateng. Tapi memang aku belum mengatakan ini pada mama dan papa. Tetapi untuk mengadakan acara seperti ini. Ini sangat biasa. Mama dan papa juga pasti memberi izin," jawab Citra.
"Seperti yang saya katakan sebelumnya. Saya menyerahkan semua kepada kamu. Karena kamu adalah panitianya. Jadi teman-teman kamu juga tanggung jawab kamu. Kamu beri mereka arahan dan lain-lainnya," ucap Reval memberi pesan.
"Baik kak pasti saya akan melaksanakannya," jawab Citra dengan tersenyum
Reval hanya mengeluarkan senyum tipisnya yang masih melihat Citra. Namun mata Reval teralihkan dengan ujung bibir Citra yang terdapat bekas makanan dan Reval dengan spontan langsung mengusap dengan jempolnya yang membuat Citra kaget dengan perlakuan Reval yang membuat jantungnya berdetak dengan kencang.
"Maaf!" ucap Reval yang masih melihat Citra. Dan bahkan mata mereka saling bertemu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Ya ampun kenapa jantungku berdetak seperti ini," batin Citra yang tidak bisa mengkondisikan jantungnya yang tidak aman.
Reval tersenyum dan kembali pada posisi nya menatap lurus kedepan. Dan Citra jadi salah tingkah gara-gara Reval mengobrak-abrik hatinya.
Dari mata Citra sangat terlihat dia sudah menyukai Reval. Awal kesal lama-lama mengagumi dan lama-kelamaan menyukainya.
"Hmmm, oh kak Reval kakak kenapa memilih menjadi dosen?" tanya Citra basa-basi untuk menghilangkan rasa canggungnya.
"Saya suka belajar. Jika menjadi dosen maka akan terus belajar dan sekalian bisa membagi ilmu," jawab Reval dengan simpel.
"Lalu apa dari keluarga pak Reval ada yang menjadi dosen?" tanya Citra.
__ADS_1
Reval terdiam yang tidak langsung menjawab pertanyaan Citra.
"Keluarga saya sudah tidak ada. Saya hanya mempunya seorang ibu saja dan dia sedang sakit," jawab Reval.
Wajah Citra jadi senduh mendengarnya, "sakit apa?" tanya Citra.
"Kamu kapan-kapan melihatnya?" tanya Reval.
"Memang boleh?" tanya Citra yang pasti terkejut.
"Boleh," jawab Reval. Citra mengangguk tersenyum dengan ajakan Reval yang pasti kalau Pria mengajak wanita bertemu dengan ibunya itu ada sesuatu yang tidak bisa di jelaskan dan makanya wajah Citra semakin sumringah.
"Tapi kakak belum menjawab ibu kakak sakit apa?" tanya Citra.
"Dia sakit cukup lama. Kalau kamu melihatnya kamu juga nanti akan tau," ucap Davin.
"Baiklah kalau begitu Citra tunggu janji kakak," sahut Citra Reval mengangguk saja dan kembali melihat lurus kedepan.
Mereka berdua Dosen dan Mahasiswi. Tetapi sudah seperti orang yang berpacaran. Sangat romantis dan sama-sama terbuka. Yang sangat jelas terlihat mereka sepertinya sama-sama punya rasa.
**********
"Masuklah!" titah Sean yang membukakan pintu mobil untuk Reya.
"Makasih!" ucap Reya yang akhirnya masuk dan Sean langsung menutup pintu mobil tersebut dan langsung berjalan menuju kursi pengemudi.
"Sean!" saat Sean ingin membuka pintu mobil. Tiba-tiba terdengar suara wanita yang memanggilnya yang membuat Sean terkejut. Begitu juga dengan Reya yang berada di dalam mobil dan Reya juga melihat siapa yang memanggil Sean yang ternyata Karin.
"Karin!" pekik Reya yang terkejut. Saat wanita itu berlari menghampiri Sean dan Sean yang begitu shock langsung menutup pintu mobil sebelum Karin melihat Citra ada di dalam.
"Karin!" pekik Sean dengan wajah paniknya.
"Aku dari tadi memanggilmu. Kamu bukannya mendengar," ucap Karin dengan keluhannya yang sembari memegang dadanya yang napasnya naik turun karena sehabis lari-lari.
"Untuk apa kau memanggilku dan kenapa kau di sini?" tanya Sean.
"Aku jalan-jalan dengan keponakan ku. Oh iya aku melihat ada wanita yang masuk ke dalam mobilmu. Siapa dia?" tanya Karin yang berusahalah untuk mengintip ke dalam mobil Sean.
__ADS_1
Tindakan Karin hanya membuat Reya dan Sean semakin panik dan penuh ketakutan. Namun dengan cepat Sean langsung menghentikan Karin.
"Bukan siapa-siapa," ucap Sean.
"Kenapa harus di sembunyikan sih," ucap Karin dengan kesal.
"Karin itu bukan urusanmu," sahut Sean menegaskan.
"Issss galak amat sih kan hanya ingin tau saja," sahut Karin.
"Kau tidak perlu tau urusanku apa. Karin kau hanya Sekretarisku. Jadi aku peringatkan kepadamu stop untuk ikut campur dengan urusan pribadiku. Aku merasa tidak nyaman," tegas Sean dengan penuh penekanan dan penegasan pada Karin.
"Siapa ya wanita tadi. Apa benar kata Tante Anggika Sean menyembunyikan sesuatu," batin Karin yang ternyata belum sempat melihat wajah Reya.
"Kau kenapa diam. Untuk apa kau di sini? pergi sana!" usir Sean.
"Iya-iya," sahut Karin dengan sewot dan langsung pergi dari hadapan Sean. Karin bahkan sangat penasaran. Namun Sean terus melarangnya yang membuat Karin tidak bisa melihat kedalam.
"Hufffff, syukurlah jika Karin tidak sempat melihat Reya. Aku benar-benar tidak akan tau lagi apa yang terjadi jika Karin melihat Reya," batin Sean yang merasa begitu lega sekarang.
Sean pun langsung memasuki mobil dengan cepat.
"Apa Karin melihatku!" tanya Reya yang wajahnya tidak kalah paniknya.
"Tidak Reya. Dia tidak melihatmu. Kamu jangan khawatir," jawab Sean.
"Huhhhhhh," Reya menghela napasnya kedepan, "aku benar-benar lega Sean. Aku begitu takut Karin melihatku," ucap Reya.
"Jangan khawatir. Kita sekarang pulang!" ucap Sean. Reya mengangguk-angguk.
"Karin selalu saja mencampuri urusanku. Aku haru bilang sama papa masalah ini. Supaya papa yang menegurnya langsung," batin Sean yang merasa ini bukan hal yang spele lagi dan harus di tanggapi dengan serius.
Sementara Karin yang dari kejauhan masih melihat mobil Sean.
"Aku tidak bisa melihat siapa wanita itu. Sebaiknya aku kabari Tante Anggika. Jika Sean bersama wanita," batin Karin.
Ternyata Anggika yang merasa ada yang tidak beres dengan Sean, menyuruh Karin untuk menyelidikinya. Dan pantesan saja Karin ada di tempat yang sama. Karena Karin curiga kenapa Sean pulangnya sangat cepat tadi. Tetapi tetap untuk sementara ini dia belum menemukan siapa wanita itu.
__ADS_1
Bersambung