
Reval dan Citra masih melanjutkan perjalanan mereka dan mereka kembali diam-diaman di dalam mobil.
"Citra kamu kenapa sih tumben-tumbenannya gugup seperti ini. Biasanya juga tidak seperti itu," batin Citra yang terus memegang dadanya yang jantungnya tidak henti-hentinya berdetak dengan kencang.
"Citra!" tegur Reval.
"Iya pak kenapa?" tanya Citra dengan cepat.
"Kamu nyaman kan 1 mobil dengan saya?" tanya Reval yang melihat Citra sangat gelisah.
"Oh nyaman kok pak, sangat nyaman malahan," sahut Citra dengan cepat. Reval mengangguk tersenyum mendengarnya. Sementara Citra merasa apa yang di katakannya terlalu over.
**********
Mobil Reval berhenti di depan sebuah Restaurant romantis. Citra melihat keluar jendela, melihat Restaurant tersebut.
"Kita makan di sini pak?" tanya Citra.
"Iya, kenapa kamu tidak suka tempatnya? kalau tidak suka kamu kita bisa pindah," ucap Reval.
"Oh bukan pak!" sahut Citra dengan cepat. "Saya suka kok, dari luar kelihatannya Restaurant sangat bagus, Hanya saja saya belum pernah makan di sini," lanjut Citra.
"Ya sudah ayo turun!" ajak Reval. Citra mengangguk dan langsung membuka saefty beltnya dan langsung turun dari mobil dengan menghela napasnya yang sangat kelihatan betapa gugupnya dirinya. Mungkin karena pergi bersama Reval yang mana mereka seperti orang yang sedang kencan.
Mereka berdua berjalan dengan langkah yang serentak menaiki beberapa anak tangga untuk memasuki Restaurant tersebut.
Saat menaiki anak tangga tiba-tiba kaki heels Citra yang tinggi tidak tepat pada langkahnya yang membuat Citra hampir jatuh dan untung Reval sigap dengan merangkul bahu Citra dan membuat Citra tidak jatuh dan malah mereka yang begitu dekat saling menatap dengan debaran jantung yang berdebar dengan kencang.
"Ya ampun kenapa jantungku tidak aman seperti ini. Apa yang terjadi kenapa aku sampai gugup seperti ini," batin Citra dengan wajahnya yang memerah saat sangat berdekatan dengan Reval dan bahkan dia semakin gugup saat mendapat tatapan yang begitu dalam.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reval dengan lembut kepada Citra.
"Ti-tidak pak," sahut Citra dengan gugup dan merela langsung saling melepas dan Citra terlihat menghelai panjang napasnya kedepan.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Reval lagi. Citra geleng-geleng yang terlihat menghelai napas berkali-kali. Dia benar-benar bisa pingsan karena perbuatan Reval yang menatapnya sangat lembut dan suara Reval juga yang begitu lembut.
"Ya sudah ayo sekarang kita masuk!" ajak Reval. Citra mengangguk dengan tersenyum tipis yang memegang dadanya, mengamankan jantungnya agar jantungnya aman terkendali.
Akhirnya Reval dan Citra memasuki Restaurant tersebut dan bukan hanya dari luar yang terlihat bagus dan romantisan dari dalam juga sangat romantis dan Reval bahkan mempersilahkan Citra untuk duduk dengan sopannya menarik kursi untuk Citra dan membuat Citra melayang-layang terbang ke angkasa.
"Kamu suka tempatnya?" tanya Reval.
"Iya pak, saya sangat menyukainya. Tempatnya sangat bagus," jawab Citra dengan tersenyum lebar.
"Kita pesan makanan," ucap Reval. Citra menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada Reval dan mereka melihat menu makanan dan pelayan sudah menghampiri mereka untuk mencatat menu makanan apa yang mereka pesan.
"Bapak mau pesan apa?" tanya Citra pada Reval.
"Kenapa sih dia. Apa ada yang lucu," batin Citra yang terlihat sewot.
"Saya pesan ini. Dan juga ini," ucap Reval pada pelayan tersebut.
"Saya pesan ini dan minumnya ini," ucap Citra menunjuk menu makanan yang akan di pesannya dan pelayan itu langsung mencatatnya.
"Baiklah tuan, Nona silahkan menunggu," ucap pelayan itu dengan ramah. Citra dan Sean mengangguk.
Mereka berdua menunggu makanan terlihat sama-sama canggung yang tidak mengeluarkan obrolan sama sekali dan yang lebih gugup itu Citra.
"Hmmm oh iya pak Reval, boleh tidak kalau saya panggil bapak itu dengan kakak," ucap Citra dengan hati-hati membuat Reval melihat Citra dengan serius dengan menaikkan 1 alisnya.
__ADS_1
"Kalau di luar maksudnya. Karena kayaknya tidak enak kalau di panggil bapak. Kan orang-orang pikir bapak itu bapak saya lagi dan tadi sepertinya pelayan tadi tertawa pasti karena mendengar itu," ucap Citra dengan gugup. Bahkan tangannya saling bertautan yang takut Reval marah.
"Kamu bilang kalau di luar?" sahut Reval. Citra mengangguk dengan cepat.
"Apa itu artinya akan ada pertemuan atau makan lagi setelah ini?" tanya Reval membuat Citra menelan salivanya yang mana dia terjebak dengan permintaannya sendiri.
"Hmmmm, maksud saya, Hmmm, maksud saya," Citra dengan gugupnya yang tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Reval mendengus tersenyum yang melihat kegugupan Citra.
"Baiklah tidak masalah. Lagian saya juga tidak setua itu di panggil bapak dan iya di kampus juga banyak mahasiswi yang memanggil saya kakak. Jadi itu bukan masalah yang besar," ucap Reval dengan santai membuat Citra tersenyum tipis.
"Hmmm, baiklah saya akan panggil kak Reval," sahut Citra. Reval mengangguk.
"Oh iya bicara soal kakak. Apa yang tadi itu kakak kamu?" tanya Reval mengingat Sean.
"Iya, itu kak Sean kakak saya," jawab Citra, "kenapa kak? apa kakak saya terlihat cuek dan sangat sombong?" tanya Citra dengan wajah paniknya yang takut jika tadi pertemuan kesan pertama Sean dan Reval tidak baik.
"Tidak juga, dia terlihat ramah," sahut Reval yang membuat Citra tersenyum.
"Kak Sean memang jarang seperti itu. Biasanya kalau dia melihat ada laki-laki yang dekat dengan saya. Dia pasti sangat bengis dan rasanya ingin menerkam laki-laki itu. Tetapi tadi kak Sean terlihat welcome dan pikirannya juga terlihat positif," ucap Citra dengan tersenyum yang menjelaskan seakan sudah sangat dekat dengan Reval.
"Oh begitu rupanya. Biasanya memang kakak laki-laki itu sangat sensitif," sahut Reval.
"Kami itu sebenarnya sama-sama sensitif bukan hanya kak Sean. Bahkan aku juga sangat sensitif. Oh iya kak Reval tau tidak aku itu paling anti melihat kak Sean punya pacar. Aku itu ingin dia hanya bersamaku. Tetapi semakin lama aku semakin berpikiran jika sebenarnya itu tidak baik. Karena bagaimanapun kak Sean itu harus punya pasangan," ucap Citra yang bercerita begitu nyamannya. Padahal sebelumnya dia dan Reval sama-sama canggung. Dan sekarang sudah menganggap Reval dekat dan sangat nyaman di ajak untuk bicara.
"Hmmm, maaf ya Kak Reval. Jika saya banyak bicara," ucap Citra menyadari dirinya terlalu Over.
"Tidak masalah! saya suka mendengar cerita kamu," sahut Reval dengan santai membuat Citra tersenyum.
Citra sekarang banyak senyum yang terlihat sangat manis.
__ADS_1
Bersambung.