Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 46 Menahannya.


__ADS_3

" Kenapa diam kak. Jangan-jangan benar lagi kakak kembali menyukainya," sahut Citra yang memancing Sean.


" Lalu kalau...." Sean tidak jadi mengucapkan kalimat itu ketika tangannya yang di bawah di pegang Reya. Reya sepertinya tau kalau Sean mulai ingin membahas masalah apa yang terjadi di antara ke-2nya.


" Lalu apa Sean?" tanya Anggika yang menatap Sean dengan penuh curiga yang sangat menunggu jawaban Sean.


sementara Reya semakin gugup berusaha agar Sean tidak mengatakan apa-apa. Dia belum siap jika Sean akan mengatakan sesuatu.


" Sean!" tegur Anggika yang menunggu jawaban Sean.


" Sudah cukup apa yang kalian bahas di sini. Kenapa hanya karena masalah ini semuanya berambat ke sana kemari. Sangat tidak pantas apa yang kalian bahas di sini. Kalian ini semua bersaudara. Jadi jangan bicara yang tidak masuk akal," ucap Argantara menegaskan.


" Kamu juga Citra, jangan mencari masalah lagi. Papa sudah memberi kamu banyak toleransi. Jika kamu membuat masalah lagi. Papa tidak akan memaafkan kamu dan kamu akan mendapat hukuman," tegas Argantara.


Citra hanya diam yang menahan kekesalannya. Yang mengepal tangannya yang tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dia hanya menatap Reya dengan penuh kebencian dan Reya masih menunduk yang tangannya sudah di lepasnya dari Sean.


" Apa yang di sembunyikan Sean. Tidak mungkin jika apa yang di katakan Citra benar. Dan jika sampai itu benar. Apa yang aku takutkan terjadi. Tidak Citra hanya asal-asal bicara. Walau aku juga bisa merasakan ke anehan di antara ke-2nya. Aku bisa melihat Sean belakangan ini berubah pada Reya," batin Anggika dengan pemikirannya yang mulai tidak tenang.


" Kenapa Reya menghentikan ku untuk mengatakan semua ini. Aku harus mengatakan kepada papa dengan semua ini. Ini juga demi kebaikan Reya. Aku tidak ingin Reya sampai nekat lagi karena permasalahan yang di hadapinya," batin Sean yang tadi punya rencana untuk berbicara jujur. Namun Reya terlihat menghentikannya. Padahal Sean sudah memantapkan hatinya.


**********


" Karin!" Panggil Anggika saat Karin ingin memasuki mobil.


" Iya Tante?" tanya Karin.


" Saya ingin bertanya sesuatu pada kamu," ucap Anggika.


" Ada apa Tante?" tanya Karin yang begitu gugup yang merasa jika akan ada sesuatu.

__ADS_1


" Kamu berangkat sama Sean dari Jakarta kemarin 1 pesawat," ucap Anggika.


" Iya benar Tante," sahut Karin.


" Kalian juga dari Bandara naik mobil bersama?" tanya Anggika.


" Iya benar Tante," sahut Karin lagi semakin bingung dengan pertanyaan Anggika yang tidak tau mengarah kemana sebenarnya.


" Lalu kenapa kalian tiba-tiba berpisah. Kenapa kamu kembali ke Villa dan Sean menginap di hotel. Dan kamu ke Villa naik Taxi. Kenapa tidak bersama Sean?" tanya Anggika mengintimidasi Karin.


Karin menelan salivanya mendengar kata-kata Anggika.


" Bagaimana ini. Aku tidak mungkin mengatakan pada Tante Anggika jika Sean menurunkan ku di jalan dan Tante Anggika pasti bertanya lagi apa alasannya," batin Karin menjadi gugup.


" Karin kamu mendengar tidak apa yang saya katakan. Kenapa kamu diam. Kamu tidak bisa menjawab?" tanya Anggika.


" Oh, itu Tante karena Sean buru-buru ke hotel untuk mengecek acara tersebut dan karena Sean perlu mobil. Jadi dia bawa mobil dan Karin memilih untuk naik Taxi saja," jawab Karin dengan gugup yang berbohong demi memberi alasan yang masuk akal.


" Hmmm, iya Tante benar Tante hanya seperti itu ya memang hanya sesimple itu saja," jawab Karin tersenyum untuk menutupi rasa gugupnya.


" Lalu kamu tau Sean menginap di kamar no berapa?" tanya Anggika. Karin menggeleng dengan cepat. Karena memang tidak tau apa-apa.


" Hmm, lalu Reya kenapa bisa ada di hotel juga?" tanya Anggika.


" Kalau itu Karin tidak tau Tante. Kan Karin baru dari Jakarta," jawab Karin.


" Baiklah kalau begitu. Kamu cari tau Sean menginap di kamar no berapa, jam berapa sampai hotel dan jam keluar dari hotel dan dengan Reya kamu mencari semuanya," tegas Anggika memberikan perintah.


" Untuk apa Tante?" tanya Karin.

__ADS_1


" Apa saya harus memberitahu alasannya pada kamu. Kamu hanya cukup mencari tau tanpa tau alasannya. Apa kamu mengerti!" tegas Anggika.


" Baiklah Tante kalau begitu. Ya sudah kalau begitu Karin permisi dulu!" ucap Karin yang langsung pergi dengan menundukkan kepalanya. Anggika mengangguk-angguk dan membiarkan Karin memasuki mobil. Lalu langsung pergi.


" Aku tidak tau apa yang terjadi. Tetapi aku harus memastikan sesuatu. Agar apa yang aku khawatirkan tidak terjadi. Hubungan Reya dan Sean tidak bisa seperti dulu. Mau aku menerima Reya sebagai anak mas Argantara maupun tidak. Tetapi mereka tidak akan pernah bersatu dan jangan sampai mereka memiliki perasaan itu," batin Anggika yang begitu takut dengan semua pemikirannya yang akan terjadi.


*********


Reya berdiri di atas batu yang berada di pinggir pantai. Dengan Dress putih selututnya dengan lengan panjang. Reya berdiri dengan menatap sendu lautan. Rambutnya yang terurai indah menari-nari.


Ombak yang tinggi bahkan berkali-kali sampai naik ke batu yang padahal cukup tinggi. Mungkin bagi Reya mendengarkan suara ombak itu bisa sedikit membuat hatinya sedikit tenang.


" Reya!" suara dingin itu membuat Reya terkejut dan melihat ke belakangnya yang ternyata Sean dengan kemeja putih yang di masukkan ke dalam celana panjang hitamnya yang sekarang berjalan menghampiri Reya yang membuat mereka saling berhadapan.


" Kenapa mencegahku ingin mengatakan hal itu pada semua orang?" tanya Sean pada intinya yang bicara pada Reya.


" Lupakan semuanya," ucap Reya tiba-tiba yang mengalihkan pandangannya bahkan tubuhnya menghadap lautan kembali dan Sean berdiri di sampingnya masih melihat ke arahnya.


" Apa maksud mu Reya?" tanya Sean yang tampak terkejut.


" Semua yang terjadi malam itu. Kita lupakan. Anggap saja kau melakukannya pada wanita yang berprofesi seperti dan aku juga menganggap hal yang sama. Kita lupakan kejadian itu untuk menjaga etika dalam keluarga kita," tegas Reya memutuskan.


" Reya!" Sean sepertinya tidak setuju dan memegang tangan Reya. Reya kembali menghadapnya dan dengan kasar melepas tangan Sean dari tangannya.


" Cukup malam itu kau menyentuhku. Jangan lagi pernah sentuh aku lagi. Walau hanya tangan," tegas Reya dengan suaranya yang penuh penekanan.


" Apa yang kau bicarakan Reya. Kau menyuruhku ingin melupakannya. Apa kau gila!" ucap Sean dengan menguatkan suaranya.


" Bukan aku yang gila. Tetapi kau. Apa yang kau harapkan dari semua ini. Dengan membicarakannya pada keluarga. Lalu apa yang terjadi. Aku sangat malu Sean dengan semua ini. Apa kau tidak memikirkan papa. Bagaimana mungkin anaknya bisa melakukan hal yang sanga memalukan seperti itu," ucap Reya dengan marah-marah.

__ADS_1


" Hanya aku anaknya bukan kau!" tegas Sean.


Bersambung


__ADS_2