Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 76 Saling melihat


__ADS_3

Masih di pelukan kakaknya yang memberinya nasehat dan juga arahan yang benar. Dengan bersamaan. Mobil melintas di dekat mereka yang mana sang pengemudi adalah Reval Dosen yang membuat suasana hari Citra buruk.


Citra terus melihat Dosen yang memiliki aura dingin dan sangat kejam itu. Citra dengan wajah Citra yang sangat kesal terus melihat Dosen tersebut dan masih terdapat air mata di pipinya karena habis menangis.


Reval yang menyetir pun melihat ke arah Citra. Dengan tatapan yang tidak terbaca. Hanya Reval yang tau apa yang di pikirkannya yang pasti sudah membuat muridnya itu marah dan sangat kesal.


Sampai saat ini ke-2nya saling melihat dalam beberapa sampai mobil yang di kendarai Reval sudah menjauh.


"Ya sudah ayo kita pulang, jangan di pikirkan lagi,"ucap Sean melepas pelukannya itu dari adiknya.


Citra mengangguk-angguk. Sean menyeka air mata Citra dan merangkul Citra menuju mobil. Citra sekarang jauh lebih baik. Memang hanya kakaknya yang bisa menenangkannya. Mobil Sean sudah pergi dari tempat itu.


Ternyata Barra yang berada di dalam mobil memperhatikan sejak tadi Citra dan juga Sean. Barra tidak sendirian di dalam mobil ada Regina di sampingnya.


"Citra pasti mengadukanku kepada kakaknya. Kakaknya itu sangat galak, dia pernah juga memarahiku dan meneruakiku," ucap Regina yang takut-takut dengan Sean karena mengingat kejadian yang pernah terjadi yang berhubungan dengan Reya.


"Dia memang seperti anak kecil yang apa-apa mengadu. Kamu jangan khawatir Regina Sean tidak akan melakukan apapun kepadamu. Aku bisa menjamin itu," ucap Barra dengan memegang tangan Regina yang berada di atas pahanya.


"Tapi aku takut Barra. Kakaknya sangat galak," ucap Regina dengan rasa ketakutannya.


"Kamu jangan khawatir. Dia tidak akan berbuat apa-apa kepadamu. Aku juga sangat tidak menyukai Sean. Dia Pria yang sok hebat. Jika dia melakukan sesuatu aku akan bergerak. Jadi jangan takut," ucap Barra.


"Tapi tetap saja aku merasa tidak enak dengan Citra. Gara-gara aku nilainya hilang begitu saja," ucap Regina menunduk dengan rasa bersalahnya.


"Kamu jangan merasa tidak enak. Bukannya kamu bilang sama ku. Jika Citra pernah memanfaatkan mu dan terakhirnya kamu bermasalah dengan kakaknya. Jadi anggap saja ini balasan untuknya. Karena dia sudah membodohi mu tentang masalah Reya," ucap Barra.


Regina memang sangat bocor. Baru saja menghabiskan malam dengan Barra kekasih sahabatnya. Regina sudah mengatakan jika Reya itu saudara tiri Citra dan bahkan Citra sangat jahat padanya sampai menjebaknya. Barra memang sengaja mendekati Regina untuk tujuan yang tidak baik dan memanfaatkan kepolosan Regina.


"Jadi apa yang aku lakukan tadi apa-apa sama sekali?" tanya Regina.


"Tidak apa-apa itu hal yang wajar. Ya sudah jangan di pikirkan lagi. Kita makan siang ya, jangan memikirkan masalah Citra yang tidak penting sama sekali. Kita harus bersenang-senang," ucap Barra.


"Baiklah kalau begitu kita makan di mana?" tanya Regina.


"Terserah kamu saja, kamu yang memilih tempatnya. Aku akan mengikuti di man kamu mau makan," sahut Barra.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu," sahut Regina yang sedikit lega dengan Barra menghiburnya. Barra mengangguk dengan tersenyum.


" Makasih Barra sudah memberiku ketengan. Aku tidak takut lagi sekarang," ucap Regina.


"Itu sudah menjadi tugasku sebagai pacar," sahut Barra. Regina tersenyum seakan menjadi wanita yang paling bahagia. Maklum lagi bucin. Jadi lupa siapa pria di sampingnya itu yang tak lain pacar sahabatnya.


**********


Citra dan Sean berada di dalam mobil yang mana terlihat Sean yang sepertinya banyak pikiran yang hanya menyetir tanpa mengajak Citra berbicara.


"Kakak baik-baik saja?" tanya Citra yang melihat Sean terlihat menyetir tidak fokus dan sebentar-sebentar memijat kepalanya.


"Iya kakak baik-baik saja. Apa terlihat tidak baik-baik saja?" Sean kembali bertanya pada Citra.


"Hmmm Citra melihat kakak sepertinya banyak pikiran," jawab Citra.


"Banyak pekerjaan di kantor. Jadi kakak kurang tidur dan kelelahan saja," jawab Sean.


"Kakak mengantuk?" tanya Citra. Sean menganggukan kepalanya.


"Tidak apa-apa. Sebentar lagi sampai kok. Biar kakak saja yang menyetir," ucap Sean.


"Kak nanti bahaya, mana boleh menyetir dalam keadaan mengantuk," sahut Citra.


"Citra kakak tidak mau. Kamu harus menyetir. Itu juga bahaya untuk kamu," ucap Sean.


Alasan Sean terus mengantar jemput adiknya ditengah kesibukannya. Karena tidak ingin Citra mengendarai mobil sendirian karena Citra pernah mengalami kecelakaan dan hal itu membuat Sean yang jadi khawatir. Makanya Citra tidak pernah menggunakan mobil lagi.


"Tidak apa-apa kakak saja yang menyetir. Kamu jangan khawatir, sebentar lagi kita juga sampai," sahut Sean.


"Kalau begitu kita belok saja," sahut Citra membuat Sean heran.


"Untuk apa?" tanya Sean heran dengan permintaan adiknya itu.


"Bukannya dekat lagi sampai Apartemen. Kita ke Apartemen saja. Supaya kakak bisa istirahat, setelah istirahat baru pulang. Jadi kita ke Apartemen saja," jawab Citra membuat Sean terkejut.

__ADS_1


Karena jelas di Apartemen itu ada Reya bisa berabe jika Citra mengetahui keberadaan Reya.


"Apartemen," sahut Sean.


"Iya ayo kak, kakak istirahat di sana saja," ajak Citra.


"Tidka usah Citra. Kakak sudah segar kembali. Jadi tidak perlu kesana. Lagi pula rumah juga sebentar lagi juga sudah dekat," sahut Sean yang panik yang tidak mungkin pergi kesana bersama Citra.


"Kakak yakin tidak apa-apa?" tanya Citra tidak percaya dengan kakaknya itu.


"Iya Citra. Kamu jangan khawatir," sahut Sean yang harus menyegarkan dirinya. Agar Citra tidak mendesak untuk Ke Apartemen tersebut.


"Ya sudah. Padahal Citra juga pengen kesana. Soalnya sudah lama tidak kesana," sahut Citra membuat Sean menelan salivanya.


"Jangan pernah kesana Citra," sahut Sean dengan cepat membuat Citra heran.


"Kenapa?" tanya Citra.


"Kotor. Tempatnya tidak pernah di bersihkan, kamu kan tidak bisa kalau banyak debu. Jadi lain kali saja," jawab Sean dengan cepat memberikan alasan yang masuk akal. Citra mengangguk-anggukkan saja mendengarnya.


"Citra!" tegur Sean.


"Iya kak," jawab Citra.


"Kalau misalnya ingin ke Apartemen bilang sama kakak ya. Jangan pergi tanpa sepengetahuan kakak," ucap Sean yang memberi ingat.


"Memang kenapa kak?" tanya Citra heran.


"Biar kakak bisa menemani kamu," jawab Sean.


"Oh begitu. Ya sudah kak," sahut Citra mengangguk.


Sean terlihat menghela napasnya.


"Jangan sampai Citra pergi begitu saja tanpa aku. Bisa berantakan semuanya. Dia bisa melihat Reya. Aku harus waspada mama ataupun Citra tidak boleh pergi ke sana," batin Sean yang sangat mencemaskan hal itu terjadi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2