Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 148


__ADS_3

Jantung Anggika berdebar dengan kencang saat mendengar apa yang di katakan Reval. Sampai Anggika membalikkan tubuhnya dan kembali berhadapan dengan Reval dengan menatap tajam Reval.


"Ada apa Tante. Kenapa ekspresi anda seperti itu?" tanya Reval dengan santai yang membuat tangan Anggika terkepal dengan matanya yang melotot yang rasanya ingin menerkam Reval.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Anggika dengan suaranya yang tertahan.


Reval belum menjawab dan tersenyum pada Anggika, "kenapa tiba-tiba bertanya siapa saya. Apa saya mengingatkan sesuatu?" tanya Reval dengan santai. Dan setiap apa yang di tanyakan Reval membuat debaran jantung Anggika tidak henti-hentinya berdetak dengan kencang.


"Ekspresi anda seakan memberikan jawaban kepada saya," lanjut Reval.


"Diam kamu!" bentak Anggika. Anggika melangkah mendekati Reval dengan tatapan tajam pada 2 bola mata Reval yang mana Reval begitu santainya.


"Sekarang saya benar-benar tidak ragu untuk melarang Citra berhubungan dengan kamu. Kamu benar-benar menunjukkan kekurangan ajaranmu. Ini peringatan untuk mu. Jauhi Citra. Saya tidak akan segan-segan bertindak lebih jauh. Jika kau berani mendekati dan menjalani hubungan dengan Citra," ucap Anggika dengan menunjuk tepat di wajah Reval.


"Kau adalah Dosen di universitas yang rasa kau tau bagaimana pengaruh keluargaku di kampus itu dan jangan sampai aku kehilangan kesabaran yang membuatmu tidak akan berada di sana lagi dan karirmu sebagai Dosen akan berakhir. Bukan hanya di kampus itu. Tetapi aku pastikan kau tidak akan bisa menjadi Dosen di mana-mana lagi!" lanjut Anggika dengan penuh penekanan dan penegasan pada Reval.


Anggika memberi ancaman yang cukup mengerikan. Namun Reval terlihat santai dan masih mengeluarkan senyumnya menanggapi apa yang di katakan Anggika.


"Terima kasih untuk peringatannya. Tetapi saya ingin mengatakan suatu hal. Jika saya mencintai putri anda dan ini sangat bertolak belakang dengan ancaman anda," ucap Reval dengan tenang.


"Lakukan apa yang kau inginkan dan aku juga akan melakukan apa yang membuatmu untuk berhenti mendekati Citra!" ucap Anggika dengan tegas dan Anggika langsung pergi dari hadapan Reval yang tidak ingin mendengar Reval bicara lagi.


Reval hanya tersenyum dengan mendengus yang melihat kepergian Anggika yang sudah memasuki rumahnya. Reval melihat ke atas dan ternyata Citra berada di kamarnya yang berdiri di teras kamarnya yang melihat Reval dan Anggika.

__ADS_1


Wajah Citra sangat menunjukkan kepanikan dan juga cemas. Namun pasti Citra tidak tau dan tidak mendengar apa yang di bicarakan mamanya dan juga Reval.


"Apa yang di katakan mama dengan kak Reval. Kenapa perasaanku tidak enak," batin Citra dengan rasa khawatirnya.


Ting.


Tiba-tiba notif pesan masuk kedalam handphone Citra.


"Jangan Khawatir Citra tidak ada apa-apa. Kamu sebaiknya istirahat dan menenangkan diri kamu. Jangan memikirkanku," tulis Reval.


Citra melihat ke bawah dan Reval mengangguk tersenyum yang seolah mengatakan jika dia tidak apa-apa sama sekali. Reval juga langsung pergi memasuki mobilnya.


"Aku tidak tau kenapa mama harus membenci kak Reval. Apa jika kak Reval bukan Dosen maka mama tidak akan membenci kak Reval," batin Citra yang penuh dengan tanda tanya dengan situasi yang di hadapinya benar-benar membuatnya penuh kecemasan.


**********


"Apa yang papa katakan?" pekik Reya ketika Argantara menghampirinya ke dalam kamar dan mengatakan berita yang mengejutkan untuk Reya.


"Apa yang papa katakan sudah jelas. Kamu harus menggugurkan kandungan kamu," ucap Argantara mengulangi sekali lagi. Reya sampai meneteskan air mata mendengar kata-kata Argantara.


"Tidak pah. Itu tidak mungkin pah. Kenapa papa bisa berpikiran seperti itu," sahut Reya yang pasti membantah keinginan Argantara.


"Kita tidak punya pilihan lain Reya. Hanya itu yang harus di lakukan untuk menyelamatkan hidup kamu," tegas Sean.

__ADS_1


"Apa yang papa bicarakan. Papa ingin membunuh anakku. Janin yang tidak bersalah ini. Tidak pah Reya tidak akan melakukan hal itu. Apapun yang terjadi Reya tidak akan menyakiti janin ini," tegas Reya yang menunjuk kandungannya.


"Tapi kamu tidak mungkin Reya, melahirkan anak dari kakak kamu sendiri. Kalian itu sedarah. Ini sangat tidak mungkin Reya!" bentak Argantara.


"Yang salah itu aku dan Sean. Bukan janin ini dan itu artinya aku tidak akan menggugurkannya. Apapun yang terjadi aku mengambil resikonya. Tetapi tidak dengan kehilangan anak ini. Pah aku sadar melakukan kesalahan. Aku sadar dengan cinta yang salah antara aku dan Sean. Aku tidak menginginkan hal ini. Bila waktu di putar kembali. Sungguh aku tidak ingin menjadi anak papa. Atau paling tidak aku tidak ingin tau bagaimana masa lalu papa, mama dan juga Tante Anggika. Cinta ku dan Sean adalah murni dan itu dari dulu sebelum semuanya terbongkar,"


"Aku dan Sean sudah berusaha untuk mengendalikan perasaan kami. Bahkan aku berkali-kali mengingatkan pada Sean. Jika kamu adik kakak. Aku mengalah dengan menyiksa diri kami sendiri. Apa papa pernah berpikir apa yang aku dan Sean alami selama ini. Kami menderita dengan status yang tidak di inginkan ini,"


"Dan hubungan kami memang terlarang. Dosa besar dan itu kami sadari. Tetapi dengan membunuh anak ini. Hasil cinta kami berdua. Itu adalah dosa yang paling besar lagi dan aku tidak akan membuat kesalahan untuk yang lebih banyak lagi," ucap Reya yang mengeluarkan isi hatinya sembari menangis.


"Maafkan papa Reya. Semua memang kesalahan papa dan kamu menjadi korbannya. Reya papa menyayangi kamu dan hanya ingin kamu bahagia. Papa memikirkan masa depan kamu dan kebahagiaan kamu. Papa sedang berusaha untuk menyelesaikan masalah ini," ucap Argantara dengan merendahkan suaranya.


"Menyelesaikan masalah bukan berarti harus membunuh janin yang Reya kandung dan Reya mana mungkin bisa bahagia dan mungkin seumur hidup hanya akan penuh penyesalan dengan terbayang kesalahan yang begitu keji yang tega melenyapkan anaknya sendiri," ucap Reya.


"Jika tidak melakukan itu. Apa kamu akan melahirkan anak itu. Kamu juga harus berpikir apa yang terjadi selanjutnya. Karena apapun itu kamu dan Sean adik kakak dan pakai logika kamu Reya," ucap Argantara.


"Aku sedang memakai logika pah. Bukan perasaan lagi dan logika ku tetap pada keputusan ku untuk mempertahankan bayi ini dan iya aku bisa mengakhiri hubungaku dengan Sean. Aku akan mengalah untuk hal itu. Namun tidak bayi ini. Aku akan pergi dan untuk meyakinkan diriku. Aku tidak akan menganggap bahwa papa adalah orang tuaku," ucap Reya dengan keputusan yang di ambilnya.


"Apa maksud kamu Reya?" tanya Argantara.


"Papa jangan kahwatir lagi. Anggap saja aku bukan anak papa," tegas Reya yang pergi dari hadapan Argantara.


Reya menyadari sangat tidak mungkin bersama dengan Sean. Namun dia juga tidak akan membunuh darah dagingnya dan lebih baik untuk pergi dan memutus hubungan keluarga dengan Argantara sekalipun.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2