
Reya dan Sean berada di meja makan yang mana mereka sedang makan malam
"Sudah cukup?" tanya Reya saat menyendokkan nasi pada suaminya.
"Sudah," jawab Sean.
"Mau pake lauk apa?" tanya Reya.
"Semua yang kamu masak. Karena semua yang kamu masak sangat enak," jawab Sean.
"Baiklah kalau begitu," sahut Reya yang tersenyum dan mengisi lauk kepiring suaminya.
"Oh iya aku tidak melihat Citra. Dia tidak ikut makan malam?" tanya Sean.
"Iya ya, tadi aku sudah suruh bibi buat panggil Citra," jawab Reya yang juga heran kenapa Citra tidak turun-turun, "ya sudah biar aku panggil sebentar kekamar," ucap Reya. Sean menganggukkan kepalanya dan Reya langsung menuju kamar Citra.
Begitu sampai di depan pintu kamar Citra. Reya langsung mengetuk pintu.
toko-tok-tok-tok
"Citra ayo makan malam kak Sean juga sudah pulang, dia sedang menunggu kamu untuk makan malam," ucap Reya yang terus mengetuk pintu. Namun Citra tidak menyahut sama sekali.
Reya langsung memutuskan untuk masuk dan melihat Citra berada di atas tempat tidur yang berbaring miring yang membelakangi pintu.
"Citra kamu tidak makan malam?" tegur Reya dengan lembut. Tetap Citra tidak menyahut membuat Reya juga bingung harus apa.
"Mungkin Citra sangat lelah jadi ingin istirahat," batin Reya menghela napas dan langsung pergi dari kamar Citra yang membiarkan Citra untuk beristirahat.
Citra ternyata tidak tidur yang ada dia hanya menangis tanpa suara dan tidak sanggup lagi menjawab sahutan Reya yang akan menyebabkan nanti Reya pasti bertanya-tanya kenapa dia menangis. Karena di pastikan suara Citra sudah habis.
*********
Reya kembali kemeja makan tanpa adanya Citra.
"Di mana Citra?" tanya Sean
"Lagi tidur," jawab Reya.
__ADS_1
"Tumben cepat sekali," sahut Sean dengan heran.
"Mungkin lagi tidak enak badan. Tadi juga Citra keluar rumah yang katanya keapotik yang pasti dia tidak enak badan sampai ke apotik segala," ucap Reya yang kembali duduk di samping suaminya dan juga mengisi piringnya dengan nasi dan lauk.
"Apa perlu aku panggilkan Dokter?" tanya Sean yang khawatir.
"Nanti saja kalau kondisinya memang butuh Dokter. Setelah makan aku akan membawakan makanan untuknya dan setelah itu aku coba tanya apa Citra butuh Dokter atau tidak," ucap Reya.
"Ya sudah kalau begitu, aku serahkan pada kamu aja ya," sahut Sean.
"Iya, ayo makan lagi," ucap Reya. Sean mengangguk dan mulai makan bersama istrinya. Lagi-lagi wajah Reya terlihat sendu. Selalu merasa ada sesuatu yang terjadi pad Citra. Karena dia memang selalu memperhatikan kondisi Citra. Jadi sangat wajar Reya paham dengan keadaan Citra yang berubah.
********
Pagi hari kembali tiba Reya dan Sean sarapan bersama.
"Kamu jadi nanti periksa kandungan?" tanya Sean.
"Iya, jangan lupa kak Sean jemput aku ya jam makan siang," ucap Reya mengingatkan.
"Iya pasti. Aku juga ingin melihat perkembangan bayi kita seperti apa," ucap Sean mengusap-usap perut Reya dengan lembut. Bahkan Sean sampai menunduk agar bisa mencium perut yang masih ramping itu.
"Citra!" sapa Reya yang menyadari keberadaan Citra dan dengan cepat Citra mengusap air matanya dengan mengeluarkan senyumnya, "kamu baik-baik aja?" tanya Reya.
"Iya aku baik-baik aja," sahut Citra yang harus berpura-pura.
"Ya sudah ayo kemari sarapan," sahut Sean.
"Tidak kak Citra langsung pergi saja," jawab Citra yang tidak banyak bicara dan langsung pergi begitu saja yang membuat Reya dan Sean saling melihat.
"Kenapa dia aneh sekali," ucap Sean.
"Aku juga tidak tau," sahut Reya.
"Sudahlah bukannya Citra memang selalu aneh," sahut Sean yang tidak mau berpikiran apa-apa.
"Tapi aku merasa keanehan Citra sangat kelewatan. Ada apa sebenarnya dengan Citra. Aku juga sempat minatnya meneteskan air mata tadi," batin Reya.
__ADS_1
"Sayang!" tegur Sean yang melihat istrinya bengong.
"Iya," sahut Reya.
"Kamu kenapa?" tanya Sean.
"Tidak apa-apa," jawab Reya tersenyum yang pasti berbohong. Namun jika dia membahas dengan Sean nanti yang adanya dia akan kepikiran terus dan Sean bisa terganggu bekerja. Jadi lebih baik Reya tidak membahasnya dulu.
**********
Citra berjalan dengan langkah yang tidak bersemangat di pinggir jalan. Dengan beberapa kali menyeka air matanya. Citra baru saja habis dari rumah sakit untuk memastikan apakah benar dia hamil atau tidak dan ternyata benar jika dia hamil dan membuat Citra tambah frustasi dengan kabar kehamilannya yang seharunya tidak pernah terjadi dalam hidupnya.
"Bagaimana ini. Bagaimana aku harus menghadapi kehamilan ini apa yang harus aku lakukan," ucap Citra yang terus mengeluarkan air matanya yang tidak sanggup menghadapi kehidupannya kedepannya.
Citra mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya dengan menutupnya sebentar sembari kakinya terus berjalan. Namun Citra yang tidak fokus dengan langkah dan pinggirannya tetap melangkah dan bahkan mau ketengah Aspal.
Dan dari ujung sana terlihat sepeda motor yang melaju dengan kencang dan Citra tidak tau sama sekali.
Tin tin tin tin tin tin tin
Suara itu terdengar kuat dan semakin dekat membuat Citra menyinggirkan tangannya dari wajahnya dan shock melihat di depannya sepeda motor yang semakin dekat. Citra langsung melotot dengan matanya yang terbuka lebar.
Argggghhh.
Citra berteriak dengan menyilangkan tangannya di wajahnya yang merasa tidak akan bisa menyelamatkan diri lagi dan sepeda motor yang semakin dekat dan hampir menabrak Citra. Jika tidak ada sebuah tangan yang menarik Citra.
Dan membuat Citra langsung kepinggir yang berada di dalam pelukan hangat seorang yang tidak asing baginya. Sampai Citra membuka matanya perlahan dan berada di dada bidang itu dan Citra mengangkat kepalanya yang melihat siapa yang menariknya dan menyelamatkannya.
Dugaannya benar. Masih dapat dirasakannya kehangatan itu yang tak lain adalah Reval di mana mereka berdua saling bertatapan degan mata yang sama-sama memandang dengan dalam dengan tangan Reval yang memegang ke-2 bahu Citra dan Citra yang memeluk Reval.
Reval bisa melihat mata Citra yang penuh dengan kekosongan dan penuh dengan kesedihan, masalah dan kehancuran dan Reval menyadari semua itu adalah perbuatannya yang telah menghancurkan Citra berkeping-keping.
Namun Citra yang menatap mata Reval seolah menggambarkan penglihatan di mata Reval yang menertawakan semua penderitaan yang telah di alami Citra membuat Citra marah dan dengan sadar siapa laki-laki yang menyelamatkan nya membuatnya tidak ingin berada di dalam pelukan itu membuat Citra langsung mendorong nya dengan kuat sehingga Reval menjauh darinya dengan Citra yang menatap dengan penuh kebencian.
"Kenapa menyelamatkan!" sentak Citra yang tadi dia merasa lebih baik mati dari pada Reval harus menyelamatkan dirinya yang sama saja Reval akan semakin melihat betapa menderitanya dirinya.
Bajingan!" teriak Citra yang begitu muak dengan Reval.
__ADS_1
Tidak kata-kata yang keluar dari mulut Reval. Hanya melihat saja bagaimana Citra yang begitu membenci dirinya.
Bersambung