Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 99


__ADS_3

"Citra lepas! apa yang kamu lakukan!" ucap Reval berusaha untuk melepas tangan Citra. Namun semakin di lepas Citra malah semakin menahannya dan bahkan menarik Reval lebih dekat padanya dan Citra langsung memeluk Reval yang berada di atas tubuhnya itu.


"Begini jauh lebih baik. Aku merasa sangat nyaman jika seperti ini. Jangan pergi pak Reval. Terus lah seperti ini. Aku sedang bingung. Aku mendapat banyak masalah dan kak Sean tidak menolongku. Dia menyembunyikan sesuatu yang besar dari ku," ucap Citra yang malah curhat dan bodohnya Reval mendengarkannya yang memeluk Citra.


Bahkan jantung Reval berdebar begitu kencang dan itu sangat aneh.


"Apa aku sangat jahat. Sampai kak Sean takut jika aku tau. Aku bingung dan sudah banyak kehilangan semuanya dan bahkan Barra. Dia pikir aku tidak melihatnya berpegangan tangan dengan Regina. Aku tidak tau kenapa laki-laki yang ada di sekitarku menyembuyikan banyak rahasia kepadaku. Apa aku memang sejahat itu," ucap Citra yang terus curhat dengan memeluk Reval.


Reval menghela napasnya dan melonggarkan pelukan itu agar bisa melihat wajah Citra dan terdapat air mata di pelupuk mata Citra. Reval menatap dengan simpatik wajah yang terlihat menyedihkan itu dan mengusap lembut air mata itu.


Sentuhan di pipi itu membuat tubuh Citra bereksi semakin tidak jelas dan bahkan membuatnya langsung mencium bibir Reval.


Hal itu mengejutkan bagi Reval dengan menelan salivanya dan matanya yang melotot. Namun perlahan memejamkan matanya dan malah membalas ciuman dari Citra yang di mana tangan Reval memegang ke-2 pipi Citra, semakin menaikkannya agar Reval bisa memperdalam ciumannya.


Bukan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tetapi tidak tau kenapa Reval juga bereaksi secepat itu dan membuat tubuh Reval secepat itu bereaksi dengan hebat.


Sekarang malah Reval yang berciuman panas dengan mahasiswinya tersebut. Dan Citra malah sangat menikmati. Berbeda dengan Barra tadi yang mana Citra lebih seperti menolak dan tidak menginginkan Barra. Namun Reval seperti suka rela.


***********


Mentari pagi telah tiba. Di kamar yang cukup luas itu. Citra yang membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan selimut yang menutup tubuhnya sampai ke dadanya yang sepertinya tidurnya begitu nyenyak.


Namun sinar matahari yang begitu cerah membuat Citra mengerjapkan matanya dan langsung memijat kepalanya yang terasa begitu berat. Citra membuka matanya dengan perlahan dan melihat langit-langit kamar. Citra juga melihat di sekelilingnya yang merasa sangat asing dengan tempat tersebut.


"Di mana ini!" lirihnya yang mencoba untuk duduk yang merasa kepalanya sangat sakit.


Citra mencoba untuk mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Dia hanya mengingat acara yang di datanginya.


"Apa yang terjadi sebenarnya dan malam itu bukannya...."


Krekkk.


Pintu kamar terbuka yang memperlihatkan Reval dengan membawa segelas air dan Citra terkejut melihat ke hadiran Reval.


"Pak Reval!" lirih Citra dengan wajah paniknya yang pasti terkejut dengan kedatangan Citra.


"Kamu sudah bangun?" tanya Reval menghampiri Citra dan langsung memberikan Citra segelas air yang di pegangnya.

__ADS_1


"Minumlah. Biar tubuh kamu jauh lebih enakan, ini air lemon untuk menghilangkan rasa mual dan kepala kamu yang sakit," ucap Reval. Citra yang masih penuh kebingungan langsung mengambilnya dari tangan Reval dan belum meminumnya.


"Kenapa bapak ada di sini dan ini tempat siapa? dan kenapa saya ada disini?tanya Citra dengan penuh kebingungan.


"Kamu tidak ingat apa-apa?" tanya Reval.


Citra berusaha untuk mengingatnya dan Citra mengingat apa yang terjadi.


"Barra!" lirihnya mengingat Barra yang membawanya dan Citra bahkan mengingat saat Barra yang berusaha memaksanya.


"Reya!" Citra juga menyebutkan nama Reya yang melihat wajah wanita itu.


"Apa yang terjadi pak?" tanya Citra yang tidak cukup jelas untuk mengingat semuanya.


"Saya membawa kamu dari laki-laki yang ingin kurang ajar kepada kamu," jawab Reval.


"Maksud bapak?" tanya Citra yang tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Saya menemukan kamu di salah satu kamar hotel bersama Barra dan saya langsung membawa kamu kemari!" jelas Reval yang membuat Citra begitu terkejut mendengarnya.


"Saya dan Barra di kamar hotel?" pekik Citra dengan wajah terkejutnya.


"Lalu saya? apa ada sesuatu dengan saya? apa terjadi sesuatu?" tanya Citra dengan paniknya yang takut ada apa-apa. Citra bahkan memeriksa tubuhnya yang merasa ada sesuatu.


"Jangan khawatir tidak terjadi apa-apa, saya datang tepat waktu," sahut Reval yang membuat Citra bernapas lega.


"Barra apa lagi yang ingin di lakukannya. Apa jangan-jangan Barra ingin...." batin Citra yang sudah mulai merasa jika Barra bukanlah Pria yang baik.


"Kamu sebaiknya istirahat saja. Kalau sudah agak enakan. Saya akan antarkan kamu pulang!" ucap Reval.


"Iya Pak," sahut Citra. Reval melangkah untuk keluar.


"Pak!" panggil Citra!"


"Ada apa Citra?" tanya Reval.


"Apa selain bapak ada wanita yang membatu saya?" tanya Citra yang mengingat ada Reya. Namun masih tidak jelas teringat di wajahnya.

__ADS_1


"Tidak ada siapa-siapa. Saya permisi!" jawab Reval yang langsung pamit.


Dia mengingat kata Reya untuk tidak mengatakan apa-apa. Citra mendengar jawaban Reval malah terlihat bengong.


"Apa iya tidak ada siapa-siapa. Kenapa aku melihat ada Reya. Dia bahkan memanggil namaku. Tetapi mungkin itu hanya pendengaranku saja. Aku mungkin terlalu memikirkannya," batin Citra yang merasa Reya ada.


"Dan Barra benar-benar keterlaluan. Apa dia memanfaatkan situasi," batin Citra mengepal tangannya saat mengingat Barra yang membawanya pulang dan bahkan Citra mengingat Barra ingin memperkosanya dan itu membuat Citra marah pada kekasihnya itu.


***********


Tingnong-tinnong.


Bel rumah Reya terdengar dan pelayan di rumah itu langsung membuka pintu dan Reya yang kebetulan menuruni anak tangga dan melihat siapa yang datang kerumahnya.


"Sean!" lirih Reya yang tidak percaya Sean pulang sangat cepat.


"Reya!" Sean langsung menghampiri Reya dengan ke-2 tangannya memegang ke-2 bahu Reya.


"Bagaimana Citra?" tanya Sean yang sangat Khawatir pada Citra dan di pastikan dia pulang mendadak. Karena mendengar kabar dari Reya. Reya memang mengatakan apa yang terjadi dan membuat Sean tidak tenang dan langsung menyusul ke Jakarta.


"Citra sudah baik-baik saja. Kamu jangan khawatir," ucap Citra.


"Syukurlah jika dia baik-baik saja, aku benar-benar sangat takut terjadi sesuatu padanya," sahut Sean yang bernapas dengan lega.


"Aku mengerti apa yang kamu khawatirkan," sahut Reya.


"Apa Citra sudah pulang. Aku menghubunginya sejak tadi dan ponselnya sama sekali tidak di angkat," ucap Sean yang masih panik.


"Sean kamu harus tenang. Citra aman. Nanti akan aku tanya temanku, bagaimana kondisinya. Aku yakin dia baik-baik saja," ucap Reya yang meyakinkan Citra.


"Baiklah kalau begitu, aku lega mendengarnya," sahut Sean. "Barra brengsek aku benar-benar akan menghabisinya," umpat Sean dengan penuh emosi yang sudah tidak sabaran ingin menghajar Barra habis-habisan.


"Kamu jangan langsung gegabah. Kamu harus tenang," sahut Reya yang hanya bisa menenangkan Sean yang menang di landa emosi karena Barra.


"Pria itu benar-benar sangat kelewatan. Aku tidak akan mengampuninya," umpat Sean. Reya hanya mengangguk dan Sean langsung memeluk Reya dengan erat yang pasti juga sangat mengkhawatirkan Reya.


"Terima kasih Reya, kamu mengambil resiko untuk menolong Citra," ucap Sean.

__ADS_1


"Aku juga tidak ingin Citra kenapa-kenapa. Jadi jangan berterima kasih," ucap Reya dengan memeluk Sean dengan erat.


Bersambung


__ADS_2