
Sean dan Reya merasa lega. Karena bisa menghindari Anggika yang hampir saja mereka bertemu dan Sean dan Reya sekarang sudah berada di dalam mobil yang ke-2nya merasa jauh lebih lega sekarang.
"Syukurlah mama tidak melihat kita berdua," ucap Sean yang bernapas lega.
"Aku juga lega dan untung juga papa tidak tau apa yang terjadi padaku, aku tidak tidak tau bagaimana nanti papa akan mengetahui kehamilan ku," sahut Reya yang jauh begitu lega.
Sean menggenggam tangannya dengan menghela napas yang menatap Reya dalam-dalam.
"Maaf membuatmu takut," ucap Sean yang merasa bersalah pada Reya. Reya menggelangkan kepalanya dan tersenyum kepada Sean.
"Aku tidak apa-apa. Selagi ada kamu di sisiku. Maka semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak akan pernah takut dengan apapun. Dan jika akhirnya semua terbongkar. Aku pun sudah siap. Karena tidak mungkin rahasia ini akan terus aman," ucap Reya yang sudah mempersiapkan dirinya. Jika hal buruk akan terjadi.
"Reya apapun yang terjadi. Maka aku tidak akan meninggalkanmu. Mau dunia melarang, tembok tinggi menghalang aku tidak peduli. Aku akan tetap ada di sisimu dan tidak akan pernah sedetikpun meninggalkanmu," ucap Sean berjanji.
"Aku tau itu," sahut Reya. Sean tersenyum dengan mencium punggung tangan Reya.
"Aku mencintaimu," ucap Sean dengan menatap dalam-dalam Reya.
"Aku juga mencintaimu," sahut Reya.
********
Citra dan Rose berada di kantin kampus yang mana Rose sedang menenagkan Citra yang pasti masih di penuhi dengan emosi. Namun pasti dia merasa lega yang akhirnya bisa menyelesaikan hubungannya dengan Barra.
"Aku salut sama kamu Citra. Kamu bisa bertindak dengan cepat," ucap Rose.
"Aku tidak percaya. Jika Regina akan melakukan semua itu," sahut Citra menghela napasnya kasar.
"Bisa di katakan dia sangat polos dan Barra memanfaatkannya. Aku juga marah pada Regina. Tetapi kasihan. Apalagi Barra mengancamnya," sahut Rose.
"Aku rasa ancaman Barra sudah tidak berarti lagi. Karena sekarang aku sudah tau semuanya," sahut Citra.
"Tapi bagaimana Citra jika Barra tetap akan menyebar Vidio yang di maksudnya yang aku yakin vidio itu berhubungan dengan Regina. Karena aku yakin Barra sangat kesal dan pasti akan melakukan itu," ucap Rose yang sangat Khawatir.
"Kamu benar. Tetapi entahlah. Mereka yang melakukannya dan mereka yang akan bertanggung jawab dan tau resikonya dan untuk Regina. Ya aku hanya berharap dia bisa mengatasi apa yang sudah di lakukannya," ucap Citra yang tidak banyak berpendapat. Dia marah, kesal dan pasti merasa sangat di sakiti karena di hiyanati sahabatnya sendiri. Namun dia juga sangat kasihan pada Regina yang polos dan di manfaatkan Barra.
"Kita berdoa saja. Semoga semuanya baik-baik saja," ucap Rose.
__ADS_1
"Iya. Aku sangat menyesal tidak pernah mendengarkan kak Sean. Dia selalu marah. Jika aku berhubungan dengan Barra, selalu memberi ingat dan aku tidak pernah mendengarkannya. Aku benar-benar menyesal dengan sikapku kepada kak Sean," ucap Citra yang menyadari selama ini dia sangat salah.
"Sudahlah Citra. Semuanya belum terlambat kok. Kamu sudah tau di awal dan tidak sempat hal buruk terjadi pada kamu. Jadi jangan menyalahkan diri kamu lagi. Yang penting kamu tidak apa-apa dan jadikan semuanya pelajaran," ucap Rose dengan bijak. Citra mengangguk-anggukkan mendengarnya.
"Oh iya Rose," sahut Citra tiba-tiba yang kepikiran sesuatu, "aku tidak tau itu halusinasi atau tidak. Tetapi aku melihat Reya saat aku bersama Barra. Aku mendengar suaranya yang membangunkanku," ucap Citra yang kembali kepikiran masalah Reya.
"Reya!" lirih Rose. Citra mengangguk. Rose mengingat saat dia pernah bertemu dengan Reya dan saat itu dia juga berpikiran salah lihat. Namun ketika Citra mengatakan tentang Reya. Rose jadi merasa jika Reya yang dilihatnya waktu itu.
"Dan iya aku juga lupa mengatakan kepada kamu. Jika Reya memang ada di Jakarta," lanjut Citra yang membuat rose terkejut.
"Reya ada di Jakarta?" tanya Rose dengan wajah seriusnya.
"Aku pernah melihatnya bersama kak Sean di jalan dan aku tidak mungkin salah lihat dan iya waktu kejadian bersama Barra. Aku juga yakin ada Reya dan saat kak Sean marah-marah padaku. Aku melihat jelas bahwa Reya menelpon," lanjut Citra yang menceritakan semua apa yang di simpanya selama ini.
"Jadi Citra juga bertemu Reya," batin Rose.
"Rose aku juga merasa selama ini Reya tinggal di Apartemen. Karena kamu tau tidak. Kalau kak Sean mengatakan melihat Regina dan Barra di sana dan aku yakin pasti Reya yang melihat. Aku juga menemukan anting wanita di kamar kak Sean," lanjut Citra.
"Tunggu-tunggu Citra. Dari cerita kamu yang kamu simpulkan sendiri. Apa kamu mau mengatakan. Jika selama ini Reya ada di Jakarta dan kak Sean menyembunyikannya," sahut Rose menebak. Citra mengangguk.
Citra menghela napasnya dengan panjang kedepan.
"Rose aku lupa mengatakan kepada kamu. 5 tahun lalu Reya dan kak Sean punya hubungan," ucap Citra membuat Rose kaget.
"Hubungan! maksud kamu special?" pekik Rose.
"Iya. Mereka berdua sangat dekat. Tetapi belum tau kalau mereka punya hubungan saudara dan aku berpikiran kak Sean dan Reya juga melanjutkan hubungan itu," ucap Citra dengan semua pemikirannya.
"Citra hubungan apa maksud kamu. Bukannya mereka adik kakak dan mana mungkin. Kamu itu aneh sekali," sahut Rose merasa apa yang di katakan Citra tidak masuk akal.
"Mungkin aneh. Tetapi itu kenyataannya dan iya aku juga pernah melihat berpelukan dan itu bukan hal yang biasa menurutku," sahut Citra.
"Apa mereka saling mencintai?" tanya Rose menduga-duga.
"Aku rasa iya. Karena kak Sean langsung berubah dan sangat melindunginya dan apa lagi jika tidak ada cintai di antara mereka," ucap Citra.
"Citra tetapi kan mereka sedarah," sahut Rose.
__ADS_1
"Ya aku nggak tau masalah itu. Yang jelasnya aku melihat kedekatan mereka," sahut Citra dengan mengangkat ke-2 bahunya.
"Ya ampun ini benar-benar seperti cerita di Novel saja," ucap Rose dengan menghela napas dengan geleng-geleng.
"Eh tapi Rose. Kamu jangan bilang-bilang mama ya masalah ini," sahut Citra. Mendengar kata-kata Citra membuat Rose menatapnya heran.
"Kamu tidak ingin Tante Anggika tau?" tanya Rose yang merasa dia hanya salah paham saja.
"Aku tidak mau menimbulkan masalah," sahut Citra.
"Citra kamu katakannya sangat berbeda. Bukannya kamu itu akan kesurupan ya kalau nama Reya di sebutkan dan tadi kamu cerita begitu tenang dan lembut. Apa kamu sudah bersama dengan kenyataan dan menerima Reya?" tanah Rose yang mengamati Citra. Citra hanya diam yang tidak tau harus menjawab apa.
"Citra!" tegur Rose yang melihat Citra melamun.
Citra menghela napasnya perlahan kedepan dan melihat ke arah Rose.
"Aku tidak bisa katakan apa-apa. Dan masalah berdamai atau tidak, aku juga tidak bisa menyimpulkannya," sahut Citra.
"Tapi sekarang ini aku melihat kamu jauh lebih baik dan aku melihat memang ini Citra sebenarnya," ucap Rose bangga pada temannya itu.
"Kamu bisa aja," sahut Citra tersenyum.
"Citra!" tiba-tiba suara Pria yang khas terdengar membuat Citra dan Rose menoleh yang ternyata Reval.
"Pak Reval," sahut Citra.
"Ikut saya sebentar!" ajak Reval.
"Oh baik pak," sahut Citra, "Rose aku duluan ya," ucap Citra pamit.
"Iya," sahut Rose. Citra pun berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti Reval dan Rose tersenyum melihatnya.
"Citra jauh lebih positif sekarang dan masalah Reya dan kak Sean memang sangat aneh. Tetapi sudahlah Citra bilang jangan beri tahu Tante Anggika. Apa itu artinya Citra mendukung kakaknya, anak itu tidak ada yang bisa menebak karakternya," gerutu Rose yang berbicara sendiri.
"Argggg, biarlah itu menjadi urusan mereka. Yang penting Citra sudah lepas dari Barra dan sekarang dia jauh lebih baik dan semoga Citra di pertemukan pengganti yang terbaik," batin Rose yang tersenyum tulus.
Bersambung
__ADS_1