Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 124


__ADS_3

Reya bersama dengan asisten rumah tangga sedang membereskan beberapa belanjaan yang tadi mereka beli di Supermarket.


"Untung tadi ada Citra yang membantuku. Aku tidak membayangkan bagaimana jika tidak ada tadi Citra. Mungkin apa yang akan di takutkan akan terjadi. Tetapi. bukannya lama kelamaan semuanya juga akan terbongkar. Karena tidak mungkin rahasia ini akan tetap seperti ini. Rahasia ini pasti akan terbongkar. Karena tidak akan mungkin akan terus aman. Hanya tinggal waktu saja dan tidak tau kapan waktu itu akan ada," batin Reya yang jadi kepikiran dengan masalah yang terjadi sebelumnya


Dia jelas masih takut. Hampir ketahuan saja sudah membuatnya hampir ketakutan. Belum lagi nanti kalau sudah ketahuan dia tidak tau apa yang akan terjadi. Bagaimana Anggika akan menanggapi semuanya. Bukan hanya marah dengan keberadaannya di Jakarta dan di sembunyikan oleh Reya.


Tapi hal yang paling parah mengenai hubungannya dengan Sean. Buka hanya Anggika. Argantara juga tidak akan tau nanti akan seperti apa menanggapi dan mungkin akan serangan jantung.


Semua ketakutan itu sudah lama di pikirkan Reya. Sudah tau resikonya akan seperti apa dan dia juga sudah mempersiapkan diri. Namun tetap saja. Walau mempersiapkan diri. Dia juga tetap masih takut jika hal yang di tunggu-tunggu akan terjadi.


"Nona Reya ini di taruh di mana?" tanya Art yang membuat Reya terkejut dan langsung membuyarkan lamunannya.


"Apa itu?" tanya Reya yang sangat gugup.


"Ini Nona," jawab Art itu menunjukkan botol kaca.


"Biar saya yang simpan," jawab Reya yang mengambilnya dari tangan Art itu. Lalu Reya berdiri dan mungkin akan menyimpannya.


"Reya!" tiba-tiba suara yang sangat di tunggu-tunggunya terdengar. Sean yang sejak tadi bukan hanya sejak tadi bahkan dari kemarin Sean tidak datang menemuinya.


"Sean!" sahut Reya yang langsung berlari memeluk Sean. Sean pasti heran kenapa tiba-tiba Reya memeluknya. Namun sangat wajar terhitung hari ini 3 hari dia tidak menemui Reya dan karena kesibukannya dan tidak sempat menemui Reya yang padahal dia juga sangat merindukan Reya dan juga ingin membahas banyak hal yang tidak mungkin di bahas lewat telpon.


"Maafkan aku. Aku tidak menepati janjiku untuk kembali malam itu," ucap Sean yang merasa bersalah pada Reya. Karena memang Sean sebelumnya yang pergi dengan buru-buru berjanji akan menemui Reya juga setelah urusannya selesai. Namun siapa sangka tidak bisa di lakukannya.


"Aku ingin mengatakan banyak hal kepadamu," ucap Reya yang masih memeluknya dengan erat.


"Aku juga ingin mengatakan banyak hal Reya," jawab Sean yang melepas pelukan itu dengan mencium lembut kening Reya.


"Ayo kita bicara. Banyak yang ingin aku tanyakan," ucap Sean. Reya mengangguk-angguk. Namun masih ingin memeluk Sean dan kembali memeluknya dengan erat. Rasa rindu takut dan perasaan lain yang bercampur aduk membuat Reya masih membutuhkan Sean dan terus memeluknya dengan sangat erat.


*********

__ADS_1


Akhirnya Sean dan Reya berbicara di teras balkon kamar Reya dengan Sean yang duduk di sebelah Reya.


"Kami duluan yang mau mengatakan apa kepadaku dan bagaimana Karin?" tanya Reya yang ingin mendengarkan penjelasan Sean mengenai Karin.


"Aku sudah mengatakan masalah Karin dengan papa yang sebenarnya Karin di suruh mama untuk mengawasi kita," ucap Sean.


"Jadi saat di taman itu. Jelas bukan sangat kebetulan. Semuanya karena Karin memang mengikuti kita," sahut Reya dengan wajahnya yang terkejut.


"Kamu benar Reya. Karena mama ada di balik semua itu dan aku menyerahkan pada papa. Papa juga sangat cepat bertindak yang langsung memindahkan Karin ke Kalimantan," jawab Sean.


"Syukurlah jika Karin di pindahkan dengan cepat. Namun itu artinya. Apa selama ini Tante Anggika curiga sesuatu, makanya sampai melibatkan Karin?" tanya Reya dengan wajah resahnya.


"Aku tidak tau Reya. Curiganya mama seperti apa. Aku tidak tau apa yang membuat mama sampai curiga sampai melibatkan Karin. Tetapi pada intinya Karin tidak akan bisa mengawasi kita lagi. Karena dia benar-benar sudah pergi," kelas Sean.


"Aku berharap memang Karin tidakencamputi urusan kita berdua lagi," sahut Reya.


"Iya aku yakin itu," sahut Sean.


"Kamu hampir bertemu mama?" pekik Sean dengan wajah shocknya.


"Mungkin akan bertemu, karena jarak yang sangat dekat. Kami akan bertemu jika tidak Citra yang menolongku," ucap Reya.


Sean mengkerutkan dahinya mendengarnya, "Citra!" pekik Sean.


"Iya kebetulan Citra juga ada di sana. Citra yang menolongku. Dia menutupiku dari Tante Anggika Dia yang membuat aku tidak jadi bertemu dengan Tante Anggika dan Citra mengalihkan kecurigaan Tante Anggika. Karena aku merasa Tante Anggika mungkin melihatku dari punggung ku. Namun tidak terlalu mengenaliku. Jadi semuanya hampir ketahuan dan Citra yang membuat hal yang sangat menakutkan itu tidak terjadi," jelas Reya dengan singkat dan padat.


Sean menghela napasnya dengan perlahan kedepan. Lalu memegang tangan Reya, sembari mengusap-usap punggung tangan Reya dengan jarinya dan menatap Reya dalam-dalam, "kamu pasti ketakutan saat itu," ucap Sean yang sangat tau apa yang di pikirkan Reya.


"Takut pasti. Namun aku harus belajar di mulai sejak saat ini. Karena takut itu pasti akan terjadi. Dan seharunya tadi akan terjadi. Masih ada Citra yang menyelamatkan ku," jawab Reya dengan berusaha untuk santai. Setiap apa yang terjadi memang harus di hadapinya dengan ketenangan.


"Jika Citra yang menyelamatkan kamu. Apa itu artinya kamu dan Citra langsung bertatap muka?" tanya Sean.

__ADS_1


"Sebenarnya lebih dek-dekan saat bertatap muka dengan Citra. Saat dia ada di depanku. Aku justru takut Citra memberi tahu semuanya. Ternyata tidak sama sekali dan dia membuatku menjauh dari Tante Anggika dan lebih yang aku tidak percayanya. Citra masih menghampiriku ke mobil dengan Citra yang memastikan keadaan ku," ucap Reya.


"Dia melakukan itu. Apa kalian juga mengobrol?" tanya awan.


Reya mengangguk-angguk, "ya kami mengobrol sangat canggung dan gugup. Pertama lali bicara dengan tenang. Tanpa aku melihat dari matanya ada kebencian. Aku benar-benar tidak percaya Citra bisa mengobrol seperti itu kepadaku. Bukan kebencian yang aku lihat tetapi rasa khawatir. Bahkan Citra mengingatkan ku untuk lebih hati-hati kedepannya," jelas Reya membuat Sean merasa lega dengan hubungannya dan adiknya yang semakin membaik.


"Aku lega mendengarnya Reya itu hal yang baik," sahut Sean Reya mengangguk dengan tersenyum tipis.


"Namun Reya. Sebelumnya Citra marah-marah dengan papa," ucap Sean membuat Reya heran dengan dahinya yang mengkerut.


"Kenapa?" tanya Reya heran.


"Aku tidak tau apakah Citra salah lihat atau bagaimana. Tetapi dari cara dia bicara. Sangat jelas jika dia melihat Tante Erina ada di Jakarta," ucap Sean.


Kali ini Reya yang terkejut dengan matanya yang terbelalak kaget mendengar perkataan Sean. Jantungnya juga hampir copot dengan apa yang di ucapkan Sean.


"Mama ada di Jakarta?" pekik Reya. Sean menganggukkan kepalanya.


"Dan Citra yang melihatnya?" Reya bertanya lagi dan Sean menjawab dengan anggukan.


"Itu tidak mungkin Sean. Mama tidak mungkin ada di Jakarta. Dia bahkan sangat tidak ingin menemuiku. Dia terus memperingatiku untuk tidak pulang ke Paris dan mama juga tidak mungkin merindukan ku. Jadi tidak mungkin Sean mama ada di sini," ucap Reya yang tidak masuk akal dengan apa yang di katakan Sean.


"Aku juga tidak percaya Reya. Karena alasannya seperti yang kamu katakan. Tetapi dari apa yang di bicarakan Citra, cara marahnya Citra. Hal itu sangat benar dan aku pikir kamu tau semua ini," ucap Sean.


"Aku tidak tau sama sekali dan jika iya kenapa mama tidak menemuiku," ucap Reya, "aku akan coba tanya mama nanti, aku akan menelpon mama nanti untuk kejelasannya," ucap Reya.


"Iya," sahut Sean.


Percaya tidak percaya. Namun harus menunggu Reya yang akan menghubungi Erina.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2