Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 333


__ADS_3

Akhirnya Reya siap untuk di operasi. Perawat sedang mempersiapkan Reya untuk di bawa keruang operasi. Sean, Citra, Reval Anggika dan Argantara menunggu di luar. Mereka belum di perkenankan untuk masuk melihat Reya.


Semenjak Reya di bawa kerumah sakit dan sampai sekarang Sean atau siapapun belum boleh melihat Reya karena pasti ada yang di khawatirkan.


Tidak lama tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka di mana ada 4 suster yang mendorong tempat tidur rumah sakit.


"Reya!" Sean langsung mendekati istrinya yang tidak sadarkan diri itu.


"Suster sebentar saya ingin bicara sebentar pada istri saya," ucap Sean yang tidak ingin melewatkan kesempatan walau itu hanya sedikit. Namun Suster kelihatannya ragu untuk memberikan izin pada Sean.


"Suster tolong ijinkan suaminya untuk melihat pasien sebentar," sahut Anggika.


"Baiklah! Jangan lama-lama. Bu Reya harus segera di Opera," sahut Suster yang memberikan izin Sean.


Sean langsung memegang tangan Reya dengan sedikit membungkuk dengan mencium kening Reya yang mana mata itu masih terpejam.


"Sayang aku tau kamu sangat kuat. Kamu pasti bertahan. Kamu akan menjadi ibu. Jadi kamu dan anak kita sama-sama berjuang ya. Aku hanya bisa mendoakan kalian," ucap Sean dengan air matanya yang jatuh berbicara dengan Reya dengan keadaan Reya tidak sadarkan diri.


Kata-kata Sean yang haru terdengar mengurus hati membuat Citra juga menagis di pelukan Reval. Anggika juga pasti sangat sedih dan takut dengan kondisi Reya yang seperti itu.


"Pak Sean, kami harus segera membawa pasien, silahkan tunggu di di depan ruang operasi," ucap Suster yang hanya memberikan kesempatan sedikit saja.


"Aku mencintaimu Reya, kamu harus bertahan. Kamu harus bangun," bisik Sean di telinga istrinya itu dan Sean kembali mencium kening Reya.


Suster pun harus membawa Reya segera ke ruang operasi dan tangan Sean yang masih memegang tangan Reya perlahan-lahan lepas walau sangat berat.


"Ya Allah aku mohon selamatkan istri dan anakku. Aku tidak kehilangan mereka. Aku mungkin sangat egois. Tetapi aku benar-benar tidak ingin kehilangan salah satu di antara mereka," batin Sean dengan air matanya yang membanjiri pipinya yang melihat suster-suster itu membawa Reya memasuki ruang Operasi dan pintu ruangan operasi yang tertutup.


"Ya Allah aku tidak ingin meminta apapun kepadamu, aku minta beri keselamatan pada kak Reya. Beri kekuatan kepadanya untuk bertahan ya Allah," batin Citra yang sejak tadi air matanya juga tidak terbendung yang terus menagis melihat kondisi Reya.


**********


Reya sekarang sedang di operasi beberapa Dokter. Operasi Reya besar-besaran. Karena memang kondisinya yang parah dan resiko juga yang sangat minim. Seperti kata Dokter bisa saja salah satu yang terselamatkan dan juga bisa tidak ada yang selamat. Namun Dokter tidak mengatakan ada kemungkinan ke-2nya selamat.


Dokter memang terang-terangan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan tidak memberikan harapan apa-apa. Namun pasti untuk tetap berusaha.

__ADS_1


Sean dan keluarganya hanya bisa menunggu di depan ruang Operasi dengan perasaan yang campur aduk. Gelisah, panik, cemas, takut, semua di rasakan mereka.


Termasuk Sean yang tidak bisa diam yang beberapa kali mengusap wajahnya kasar, duduk, berdiri, duduk, berdiri, hal itu yang sering di lakukannya.


Sebagai suami pasti banyak ketakutan di dalam diri Sean dan ini bukan tentang siapa yang di pilih atau di selamatkan karena memang tidak ada pilihan dalam kondisi yang di hadapinya.


Beberapa kali Anggika hanya berusaha untuk menenangkan Sean. Agar Sean bisa tenang dan berpikir jernih.


*************


Sudah 2 jam Operasi Reya dan keluarga masih menunggu Reya dengan beberapa kali melihat lampu operasi.


Tidak lama keluar Dokter dan ikuti suster di belakangnya yang membawa seorang bayi merah.


"Dokter!" Sean langsung menghampiri Dokter itu dan suster itu langsung pergi membawa bayi tersebut.


"Selamat ya pak Sean, bayi pak Sean sudah lahir, bayi laki-laki yang tampan," ucap Dokter.


"Alhamdulillah," sahut semuanya dengan mengucap syukur.


"Lalu istri saya bagaimana?" tanya Sena yang ingin langsung tau kondisi Reya seperti apa.


"Dokter istri saya kenapa?" tanya Sean yang melihat Dokter diam saja.


"Kak Reya baik-baik saja kan Dokter?" tanya Citra yang juga panik dengan ke adaan kakaknya.


"Bu Reya masih kritis, kondisinya semakin parah dan mengalami koma," jawab Dokter membuat Sean langsung lemas mendengarnya.


"Reya!" lirih Sean.


"Seperti yang saya katakan di awal. Sangat tidak ada kemungkinan untuk keduanya selamat. Tetapi kami pasti berjuang untuk menyelamatkan Bu Reya. Tetapi kembali lagi kami hanya Dokter dan yang punya ketentuan hanya sang pencipta. Jadi pak Sean harus bersabar," ucap Dokter.


"Dokter saya mohon tolong selamatkan istri saya, saya mohon Dokter!" ucap Sean dengan menyatukan kedua tangannya yang memohon pada Dokter tersebut.


"Kami akan melakukan yang terbaik," ucap Dokter.

__ADS_1


"Saya permisi!" ucap Dokter pamit.


"Reya!" ucap Sean yang langsung berlutut yang tidak akan sanggup kehilangan istrinya. Anggika langsung memeluk Sean untuk menenagkan Sean.


"Mama tau apa yang kamu rasakan, mama paham nak," ucap Anggika.


"Reya ma, aku tidak bisa kehilangannya, aku tidak tau harus bagaimana, jika aku kehilangannya," ucap Sean menangis sengugukan di pelukan sang mama.


"Iya, mama, papa Citra dan yang lainnya. Juga tidak ada yang mau kehilangan Reya, kita juga ingin Reya baik-baik saja. Tetapi kita hanya manusia Sean yang hanya bisa berencana Sean dan semuanya Tuhan yang menentukan. Kamu harus kuat, karena Reya juga sedang berjuang," ucap Anggika yang memberikan pengertian kepada Sean.


Sean tidak bicara lagi dan hanya menangis di pelukan mamanya sama dengan Citra yang semakin mewek di pelukan suaminya dengan menangis sengugukan.


Bagaimana tidak di sisi lain mereka sangat bahagia dengan hadirnya bayi tampan di keluarga mereka. Namun di sisi lain Reya masih harus berjuang.


************


Kondisi Reya masih kritis. Bahkan Operasi sudah di lakukan. Namun sang istri tidak ada perubahan dan bahkan sudah hari ke-2 setelah menjalani operasi. Bukannya kondisi Reya semakin membaik malah semakin drop.


Untuk bayi mereka sendiri juga masih dalam perawatan. Di mana bayi mereka juga berada di ruangan yang khusus dan bayo kecil itu yang berada di dalam tabung.


Citra dan Reval berdiri di depan ruangan yang di lapisi dengan kaca sehingga bisa melihat kedalam melihat keponakannya yang juga dalam perawatan dengan air mata Citra yang beberapa kali di sekanya karena dia terus saja menangis.


Reval hanya mengelus-elus pundak Citra untuk memberikan Citra ketenangan.


"Kasihan sekali bayi itu. Dia lahir kedunia ini. Tetapi belum di gendong ibunya. Ibunya masih berjuang antara hidup dan mati. Malang sekali kamu nak," ucap Citra yang tidak tega melihat kondisi keponakannya itu.


"Anak itu lahir dari rahim seorang ibu yang sangat kuat. Jadi dia juga pasti kuat sayang," ucap Reval.


"Jika kak Reya bangun. Dia pasti sangat bahagia dengan kehadiran anak yang di tunggu-tunggunya. Namun kak Reya masih belum mendapatkan kesempatan untuk melihat dan memegang anaknya," ucap Citra yang menagis terus.


"Reya pasti akan bangun. Reya dan anaknya pasti akan baik-baik aja. Kamu percaya kepadaku. Allah tidak akan memisahkan mereka berdua," ucap Reval.


Citra menyandarkan kepalanya di bahu Reval dan masih terus melihat keponakannya dengan raut wajah yang sedih.


"Sayang kamu harus kuat ya, kamu bayi kecil yang kuat. Kita sama-sama doakan mama kamu ya. Supaya mama kamu bangun. Mama kamu bisa gendong kamu. Kamu sangat beruntung sayang bisa hidup lahir dari rahim ibu yang kuat. Jadi kamu juga harus kuat ya sayang. Tante dan Om akan selalu jaga kamu dan pasti akan terus ada di dekat kamu," ucap Citra dengan raut wajahnya yang begitu sedih.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2