
Erina memang terlihat sangat mengkhawatirkan Reval. Tidak tau kenapa dan itu yang menjadi penuh tanya bagi Citra dan juga Reya merasa aneh. Rasa khawatir sang mama tidak sama saat dengannya.
Sama dengan sekarang ini Erina masih berdiri di depan ruang ICU Reval yang mana hanya melihat Reval dari kaca kecil itu dengan tangan Erina yang menempel pada kaca itu menatap nanar dari kejauhan Reval yang ada di sana.
"Kapan kamu akan bangun, ini sudah beberapa hari kamu di rumah sakit dan kamu belum bangun sama sekali," ucap Erina dengan suaranya yang tampak lemas.
"Mama begitu sangat mengkhawatirkannya?" tiba-tiba Erina mendengar suara yang tidak asing baginya dan membuat Erina melihat kearah suara itu yang ternyata Reya yang bicara yang masih mana Reya masuk menggunakan pakaian pasien ruang sakit.
"Reya!" lirih Erina.
"Mama tampak tenang, tidak marah-marah, tampak khawatir tidak kesetanan saat melihat Reval," ucap Reya yang berjalan dengan langkah perlahan menghampiri sang mama.
"Kenapa mama ada di sini? apa mama bertanggung jawab untuk masalah Reval? masalah rumah sakit, biaya dan segalanya apa yang mama yang bertanggung jawab?" tanya Reya dan Erina sampai detik ini belum menjawab satupun pertanyaan Reya.
"Atau jangan-jangan ini tanggung jawab mama sebagai ketua, sebagai pemimpin dalam rencana jahat mama," ucap Reya lagi.
"Apa maksud kamu?" tanya Erina yang baru mengeluarkan suaranya.
"Mama belum menjawab pertanyaan ku, kenapa ada di sini dan apa semua yang terjadi ada sangkut pautnya degan mama? atau mama dan Reval bekerja sama untuk menghancurkan keluarga Tante Anggika, atau mama menggunakan Reval sebagai pancingan, atau mama menghasut Reval?" tanya Reya dengan beribu pertanyaan.
"Jangan menuduh kamu Reya," ucap Anggika.
__ADS_1
"Lalu apa. Kenapa ada di sini?" tanya Reya dengan menekan suaranya.
"Kamu mengintrogasi mama seakan kamu berpihak pada keluarga Sean. Apa kamu lupa jika wanita yang kamu ajak bicara ini adalah ibumu," ucap Erina dengan tegas.
"Mama mengingatkan ku pada status anak. Lalu di mana status anak selama ini tidak aku dapatkan. Mama memukulkku seperti binatang dan hanya karena aku tidak mau bersama papa. Aku pikir karena mama ku sakit, tempramental dan aku memakluminya, aku menerima semua pukulan mama, tubuhku menjadi makanan mama karena aku tau seorang ibu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya,"
"Aku memaklumi semuanya, aku memaklumi di mana mama yang begitu marah padaku dan mendorongku sampai aku tidak sadarkan diri dan kehilangan banyak darah saat itu. Mama tidak peduli dan aku kritis begitu lama karena donor darah yang tidak aku dapatkan. Karena ibu tidak memberikannya. Karena sakit. Tetapi aku masih bangun mendengar dari Dokter hatiku sangat sakit. Tapi lagi-lagi aku memakluminya. Karena aku tau ibuku sedang sakit. Lalu ternyata aku pikir sakit hatiku hanya saat itu saja. Ternyata tidak justru baru ini aku merasakan sakit. Di mana mama menyondongkan darah mama pada Reval," ucap Reya yang mengeluarkan semua unek-uneknya rentang kepada orang tuanya. Air mata Reya sampai keluar yang menunjukkan rasa sakitnya yang adanya perbedaan yang di alaminya.
"Mama tidak menanggapi apa-apa dengan apa yang aku katakan. Ya aku lupa jika mama tidak peduli sama sekali kepadaku," ucap Reya.
"Cukup Reya!" ucap Erina.
"Kamu jangan berbicara ini dan itu dan jangan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal," sahut Erina.
"Itu bukan urusan kamu dan aku tidak harus menjawabnya. Kamu sendiri juga sudah melihat keadaan Reval. Lalu kenapa kamu tidak simpatik sedikit pun kepada-nya. Bukankah dia adalah sahabat kamu dan kamu malah mengurusi keluarga yang membuat kita menderita," ucap Erina dengan sinis.
"Cukup mama mengatakan jika kita menderitanya karena keluarga Tante Anggika. Mereka tidak pernah membuat kita menderita dan justru mama yang menjadi racun dalam keluarga mereka," tegas Reya membuat Erina kaget dengan kata-kata pedas Reya.
"Kamu berani sekali membela mereka di depan ku," ucap Erina menekan suaranya yang terlihat tidak terima.
"Lalu kenapa. Jika aku ingin berpihak pada papa, Tante Anggika, Citra dan kak Sean. Apa ada yang salah dan lagian aku juga sudah menikah dengan kak Sean. Aku istrinya dan aku harus berbakti pada suamiku," ucap Reya dengan santai dan Anggika hanya mengepal tangannya dengan kata-kata Reya.
__ADS_1
"Mama tidak terkejut sama sekali dengan pernikahan aku dan kak Sean?" tanya Reya yang memang tidak melihat eksperesi kaget Erina, "berarti mama sudah tau jika aku dan kak Sean sudah menikah, mama tau banyak ternyata," ucap Reya dengan tersenyum lirih yang tidak percaya mendapatkan ekspresi mamanya yang seolah tidak peduli dia menikah atau tidak dengan Sean.
"Kamu dengar Reya mau kamu menikah atau tidak dengan Sean apa aku bisa menghalangi kamu dan pada kenyataannya kamu sudah berpihak pada keluarga itu," sahut Erina yang terlihat menahan amarahnya.
"Dan mama tidak mempermasalahkan pernikahan kami. Mama tau aku dan kak Sean sedarah dan mama sangat santai dengan hal itu, bahkan juga dulu sangat santai dengan mama yang membiarkan kak Sean membawaku pergi. Seolah-olah mama tau jika aku dan kak Sean bukan sedarah," ucap Reya yang membuat Erina menelan salivanya dan terlihat sangat panik.
"Tunggu dulu mama sangat membenci Tante Anggika dan walaupun aku tidak sedarah dengan kak Sean dan mama tau siapa kak Sean. Bukannya seharusnya mama juga seharusnya tidak setuju dengan pernikahan kami. Dan seharunya mama murka, tetapi tidak mama sangat santai dan membiarkan begitu saja seolah-olah aku ini bukan anak mama," ucap Reya dengan air matanya yang keluar dan Erina mendengarnya melebarkan matanya.
"Bukan anak jadi untuk apa di pedulikan yang terserah mau apa," ucap Reya.
"Apa yang kamu bicarakan Reya, jangan mengarang cerita sampai kemana-mana," ucap Erina.
"Kalau begitu jawab pertanyaan ku yang sejak tadi aku tanyakan, kenapa mama mendonorkan darah mama untuk Reval, dan sangat khawatir padanya," ucap Reya dengan suaranya yang di kuatkannya.
"Kamu berani sekali Reya berteriak pada mama. Apa ini yang kamu dapatkan selama ini bersama dengan keluarga gila itu sampai kamu berani melawan mama," sahut Erina yang tidak Terima.
"Jangan mengaitkan dengan keluarga papa. Mereka tidak tau apa-apa dan justru mama yang sudah merusak keluarga mereka. Apa belum cukup mama menjadi perusak rumah tangga orang, apa tidak cukup bagi mama yang sudah menghancurkan mereka. Lalu sekarang mama ingin mengulang kembali dengan mempengaruhi ini dan itu," teriak Reya.
Erina yang kesabarannya di uji langsung mengangkat tangannya untuk menampar Reya. Namun sayang Reya menahan tangan sang mama dengan memegang kuat pergelangan tangan Erina dengan mereka yang saling menatap dengan tajam.
"Jangan berani-beraninya untuk menyentuhku lagi. Aku belum tau status ku dengan mama seperti apa. Apa aku anak mama atau tidak. Jadi jangan coba-coba untuk melakukan kekerasan kepadaku," ucap Reya dengan menekan suaranya yang sangat berani pada Erina dan Erina pasti sangat terkejut dengan perkataan Reya yang baru sekarang di dengarnya dan pasti tidak di duganya.
__ADS_1
Bersambung