Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 61 Perlakuan itu.


__ADS_3

Reya pun sangat menuruti Sean yang menyuruh untuk tinggal di Apartemen tersebut. Sekarang Reya berada di kamarnya yang sedang mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper memindahkan kedalam lemari menyusun dengan rapi di lemari.


"Aku memang harus tinggal di sini. Semoga saja aku bisa nyaman di sini,"batin Reya yang mau tidak mau memang harus tinggal di tempat itu.


Reya pun menutup lemarinya setelah selesai menyusun semua pakaian itu dan sebelumnya Reya juga sudah mandi supaya segar. Karena dia juga merasa letih. Setelah selesai mengurus pakaiannya. Reya sedikit merapi-rapikan kamarnya.


"Kenapa perut ku lapar tiba-tiba," ucapnya yang merasa keroncongan.


"Mungkin ada bahan makanan di kulkas dan jika tidak ada aku mungkin pesan makanan saja," ucap Reya dengan menghela napasnya.


Reya langsung keluar dari kamar, Reya menuruni anak tangga. Langkah Reya terhenti ketika hidungnya menghirup sesuatu yang membuat perut Reya keroncongan.


"Ya ampun wangi sekali makanan itu. Tau saja aku sedang lapar. Kenapa tetanggaku sangat pintar membuat masakan. Hmmm perutku semakin lapar," ucap Reya geleng-geleng dan melanjutkan menuruni anak tangga.


Reya pun mencari aroma itu yang mana langkah kakinya langsung menuju dapur dan ternyata menemukan Sean yang ada di dapur yang terlihat sedang memasak.


"Sean," ucap Reya dan Sean membalikkan tubuhnya dan melihat kearah Reya.


"Reya," sapa Sean.


"Kamu belum pulang?" tanya Reya.


"Sebentar lagi. Kemarilah aku sudah membuatkan mu makan malam. Kita makan dulu. Kamu pasti lapar sejak tadi belum makan," ucap Sean dengan tersenyum. Tetapi Reya hanya merasa canggung dan tidak tau mau mengatakan apa.


Sean tau saja kalau dia sedang lapar. Apa Sean bisa membaca pikirannya.


"Jangan hanya berdiri saja di sana. Ayo kemari!" ajak Sean dengan lembut. Reya menganggukkan kepalanya dan perlahan mendekati Sean.


Sean menata makanan yang di masaknya di atas meja dan Reya yang mendadak gugup sudah duduk di salah satu kursi.


"Makanlah!" ucap Sean yang sudah menyiapkan sepiring steak untuk Reya.


"Kamu memasak ini sendiri?" tanya Reya dengan gugup


"Memang ada orang lain di sini!" Sean kembali bertanya.


"Tidak sih," sahut Reya yang tersenyum kaku.


"Ya sudah ayo di makan!" ucap Sean. Reya menganggukkan kepalanya dan mulai memotong daging steak tersebut.

__ADS_1


"Auhhhh!" Reya tiba-tiba merasakan sakit lada tangannya.


"Ada apa Reya?" tanya Sean dengan panik yang sudah berada di samping Reya.


" Tangan kamu sakit?" tanya Sean.


"Tidak kok tidak apa-apa," ucap Reya yang padahal memang benar tangannya sedang sakit. Sean menghela napasnya, lalu duduk di samping Reya.


"Biar aku membantumu!" ucap Sean mengambil alih untuk menyuapi Reya.


Jangan Sean!" cegah Reya.


"Tidak apa-apa. Itu tidak akan merugikan ku. Dari pada kau tidak makan sama sekali," ucap Sean yang berbicara sangat lembut kepada Reya.


Reya memang terlihat tidak enak. Atau lebih tepatnya sangat canggung dengan apa yang di lakukan Sean dan tanpa persetujuan itu Sean melakukannya. Sean memotongkan steak yang di buatnya dan langsung menyuapkannya pada Reya menggunakan garfu.


"Makanlah!" ucap Sean dengan lembut. Reya mengangguk pelan dan langsung membuka mulutnya dengan sedikit menerima suapan Sean.


"Bagaimana apa cocok di lidahmu?" tanya Sean.


Reya mengangguk pelan, "rasanya sudah sama seperti di Restaurant,"


Reya mengeluarkan senyuman tipisnya yang terlihat indah saat menerima suapan ke-2 dari Sean.


"Setelah beberapa tahun yang lalu. Aku tidak pernah lagi melihat senyummu dan saat kau kembali. Aku juga tidak melihat senyum itu dan baru ini aku melihat kembali," ucap Sean dengan lembut yang bicara sangat dekat dengan Reya.


Senyum Reya berubah menjadi senduh yang tidak tau mengapa kata-kata Sean membuatnya jantungnya berdebar. Reya tau Pria yang sangat tulus bicara kepadanya itu sangat mencintainya dan bahkan rela melwan takdir untuk cinta yang salah.


"Maaf jika kata-kata ku membuatmu tidak nyaman. Kau bisa melupakannya dan menganggap ku apa yang membuatmu nyaman. Aku membawamu kembali ke Jakarta bukan untuk membuatmu tidak nyaman, merasa tertekan atau memaksamu harus menganggap hubungan kita seperti apa. Tetapi aku membawamu kemari untuk memberikan mu kebebasan dan kehidupan yang normal," ucap Sean lagi yang matanya tidak berhenti menatap Reya.


"Aku boleh makan lagi?" tanya Reya yang mengalihkan pembahasan.


Sean tersenyum dan kembali menyuapi Reya dan Reya makan dengan nyaman dengan Sean. Reya mungkin juga ingin perasaannya tercurahkan seperti Sean. Namun dia masih mengingat status yang tidak mungkin bisa diubah. Tetapi tidak tau juga nantinya akan bagaimana.


Karena sekarang Reya dan Sean bicara tidak saling ngegas seperti awal-awal dulu yang bicara berteriak-teriak sekarang mereka berbicara dengan tenang dan suara yang pelan. Mungkin itu juga membuat Reya sangat nyaman.


********


Setelah makan malam selesai. Akhirnya Reya dan Sean sama-sama membersihkan dapur dan mencuci piring yang hanya 2 piring saja.

__ADS_1


Malam sudah menunjukan pukul 11 malam. Reya mengantarkan Sean ke depan pintu. Karena Sean harus pulang.


"Aku pulang dulu!" ucap Sean berdiri di hadapan Reya.


"Iya hati-hati menyetir dengan baik," ucap Reya mengingatkan Sean.


"Terima kasih sudah mengingatkanku. Kalau begitu aku pergi dulu. Selamat malam!" pamit Sean.


Reya menganggukkan kepalanya dan melihat kepergian Sean. Reya menghela napasnya lalu memasuki Apartemennya.


"Semoga aku bisa nyaman tinggal di rumah ini," batin Reya.


***********


Sean pun pulang kerumahnya. Karena tidak mungkin Sean menginap di Apartemen Reya yang adanya Reya tidak akan nyaman dan sama saja membuat masalah bagi Sean. Jadi Sean memilih untuk membiarkan Reya di sana sendirian.


Mobil Sean berhenti di depan rumahnya dan Sean langsung keluar dari mobilnya untuk memasuki rumah.


"Kak Sean!" panggil Citra yang menuruni anak tangga yang melihat kakaknya pulang. Citra yang sepertinya sangat merindukan kakaknya langsung berlari dan langsung memeluk kakak kesayangannya.


"Kenapa tidak pernah mengabari Citra? Citra kangen sama kakak," protes Citra pada Sean yang tidak memberinya kabar.


"Maafkan kakak Citra, soalnya pekerjaan kakak sangat banyak. Makanya tidak sempat mengabari kamu," jawab Sean dengan mengusap-usap punggung Citra.


Citra melonggarkan pelukannya dan melihat ke arah Sean, "bukannya kakak biasa juga sibuk. Terus biasanya juga mengabari Citra. Bahkan Citra yang sering mengeluh. Karena kak Sean terus mengganggu Citra," ucap Citra dengan wajah cemberutnya.


"Iya kamu benar. Lain kali kakak tidak akan seperti itu," ucap Sean dengan mencolek hidung adiknya itu.


" Sungguh!" ucap Citra yang ingin Sean berjanji padanya.


"Iya Citra, kakak tidak akan mengulanginya lagi," jawab Sean meyakinkan adiknya membuat senyum Citra mengembang.


"Kamu sudah pulang sean?" tanya Anggika yang datang bersama suaminya menghampiri Sean. Citra dan Sean pun sudah saling melepas pelukan.


"Iya mah," jawab Sean mendekati mamanya dengan mencium punggung tangan Anggika begitupun dengan Argantara.


"Kamu perjalanan bisnis kemana?" tanya Anggika. Sean tidak langsung menjawab melainkan matanya melihat ke arah papanya dan Argantara juga tidak tau harus membantu apa untuk kebingungan jawaban Sean nantinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2