Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 169


__ADS_3

Citra keluar dari kamarnya untuk pergi kekampus. Di meja makan sudah ada ke-2 orang tuanya yang sedang menunggunya.


"Kamu tidak sarapan Citra?" tanya Argantara yang mana Citra hanya lewat saja.


"Nanti saja di kampus pah," jawab Citra dengan suara lirihnya.


"Sarapan dulu baru kamu kekampus," sahut Anggika. Citra diam di tempatnya yang sepertinya tidak mood untuk sarapan.


"Ayo Citra kemari!" Argantara. Citra menghela napasnya dan mau tidak mau harus ikut sarapan walau dia tidak mood belakangan ini.


"Kamu ini kenapa sih. Papa perhatikan kamu belakangan ini terus murung. Ada apa?" tanya Argantara.


"Tidak apa-apa pah," jawab Citra yang jawabannya selalu sama.


"Kamu masih berhubungan dengan laki-laki itu?" tanya Anggika.


"Anggika kamu itu apa-apaan sih," tegur Argantara.


"Aku hanya bertanya dan aku pasti tidak setuju. Jika dia benar-benar masih berhubungan dengan laki-laki itu," tegas Anggika.


"Sudah cukup. Kamu ini selalu saja punya pendapat sendiri, melarang yang tidak penting," sahut Argantara.


"Mas jika aku melarang itu karena aku punya feeling yang bagus dan laki-laki itu tidak baik untuk Citra. Dia tidak akan pernah serius pada Citra. Karena seorang Dosen yang sudah berani menjalani hubungan dengan mahasiswinya. Itu bukan dosen yang benar dan mungkin ada lagi mahasiswi yang lain," tegas Anggika.


"Apa mungkin yang di katakan mama benar. Jika kak Reval tidak punya perasaan apa-apa kepadaku, dia hanya menganggap semua sama rata," batin Citra yang mulai menyadari hal itu. Dan bahkan membenarkan larangan sang mama. Karena dengan dia menang bahkan masa depannya sudah hancur karena Reval.


"Kamu itu terlalu banyak teori. Kamu tidak mengenal Reval dengan baik. Jadi jangan berpikiran burung dengannya dan aku sudah mengatakan kepada kamu. Aku tidak pernah setuju dengan apa yang kamu larang untuk Citra," tegas Argantara.


"Kamu selalu saja mas. Mereka paling benar. Selalu bertentangan dengan semua feeling ku. Apa kamu tidak bisa belajar dari kesalahan sebelumnya lihat Sean dan Citra. Mereka berdua sedarah anak kamu dan lihat gara-gara kamu yang tidak pernah mendengarkan perkataan ku. Kamu terus saja menganggap tidak akan terjadi apa-apa dan memberi mereka kesempatan. Lihat apa yang terjadi bisa-bisanya mereka saling mencintai," ucap Anggika menyinggung Sean dan Reya.


"Kamu masih saja menyalahkanku dengan hal itu," sahut Argantara.


Orang tuanya jadi berdebat dengan masalah Citra dan Reval dan mengait-ngaitkan dengan Sean dan juga Reya. Namun Citra hanya diam menunduk dengan pandangan kosong yang sepertinya tidak tau apa masih mendengar perdebatan orang tuanya atau tidak sama sekali.

__ADS_1


"Maaf tuan dan nyonya," tiba-tiba seorang pelayan datang yang menghampiri meja makan yang menghentikanku perdebatan ke-2 orang itu.


"Ada apa?" tanya Anggika.


"Tuan Sean dan Nona Reya datang," jawab pelayan tersebut yang membuat Anggika, Argantara dan Citra terkejut.


Di cari selama ini tidak bisa di temukan dan sekarang datang tiba-tiba. Bagaimana mereka tidak terkejut. Namun Citra mungkin tidak karena beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan kakaknya. Bahkan belakangan ini sering berkomunikasi tanpa sepengetahuan orang tuanya. Tetapi Citra tetap kaget dengan kakaknya yang benar-benar nekat datang.


"Apa kamu bilang?" tanya Anggika menekan suaranya yang merasa dia hanya salah pendengaran.


"Tuan Sean dan Nona Reya datang," jawab pelayan itu lagi.


"Anak itu berani menunjukkan dirinya!" umpat Anggika dengan mengepal tangannya dengan napasnya yang mulai tidak teratur dengan wajah memerah yang penuh dengan amarah.


"Apa lagi yang akan terjadi setelah. Kak Sean dan Reya benar-benar datang dan pasti akan mengakui pernikahan mereka. Lalu bagaimana dengan mama dan papa. Apa lagi yang akan mereka lakukan," batin Citra yang sebenarnya sangat khawatir dengan kelanjutan ceritanya.


"Lalu di mana mereka?" tanya Argantara.


"Kami di sini," sahut suara lantang yang membuat mata langsung memandang ke arah suara itu dan siapa lagi kalau bukan Sean. Sean dan Reya yang datang dengan tangan yang bergandengan tangan yang akan siap menghadapi apapun yang terjadi.


Dengan kemarahan dan tangan yang bergetar Anggika mengambil gelas yang berisi air dan langsung menyiram kewajah Reya dan Sean yang sama-sama keduanya mendapat siraman itu.


"Mah!" lirih Citra yang kaget dengan menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya. Namun Reya lebih ke pasrah.


"Keterlaluan!" umpat Anggika yang ingin melayangkan tangan pada Reya. Sampai Reya pasrah dengan memejamkan matanya. Namun Sean menahan tangan sang mama dan tidak jadi menampar Reya.


"Jangan menyakitinya. Aku yang salah salam hal ini," ucap Sean dengan suara rendah yang menatap tajam mamanya dan membuat Anggika melepaskan tangannya dari Sean dengan kasar.


Plakkkkkkk.


Anggika langsung menampar Sean. Tidak jadi Reya jadi Sean jadinya yang membuat Reya terkejut dan tidak bisa apa-apa.


"Kamu sudah tau salah. Lalu apa yang kamu lakukan Sean!" teriak Anggika, "apa kamu masih ingin menutup mata kamu bahwa dia adalah saudara kamu. Apa kamu masih ingin melanjutkan hubungan yang kamu ketahui adalah salah," teriak Anggika dengan suara menggelegarnya.

__ADS_1


"Hubungan kami tidak pernah salah," sahut Sean.


"Kamu!!!!!" Anggika masih ingin menampar Sean. Namun Reya berdiri di depan Sean yang berusaha melindungi Sean.


"Tante tolong jangan memukul Sean lagi. Kami datang kemari bukan untuk itu," ucap Reya.


"Berani sekali kamu bicara. Kamu pikir kamu akan mendapatkan apa dengan datang kemari hah! kamu seharusnya sadar ibumu sudah menghancurkan keluarga kami dan kamu mau melakukan itu lagi hah!" sahut Anggika yang emosi dengan Reya yang berbicara sok pintar.


"Cukup Anggika," sahut Argantara yang pasti tidak bisa melihat Reya di hina. Dia marah pada Reya. Tetapi bukan berarti diam saat istrinya menghina putrinya.


"Apa lagi mas. Kamu masih mau membela dia. Lihat mereka sangat keterlaluan," teriak Anggika.


"Mama yang keterlaluan," sentak Sean, "mama jangan hanya menyalahkan kami dengan apa yang terjadi. Aku sama Reya itu saling mencintai dan apa yang terjadi bukan kesalahan kami," tegas Sean.


"Kamu selalu merasa paling benar Sean. Kamu selalu merasa tidak salah sampai-sampai anak ini bisa hamil," sahut Anggika menekan suaranya.


"Aku tau aku salah mengenai kehamilan Reya. Tapi dengan cara mama dan papa yang ingin membunuh anak kami itu saja membuat kami yang semakin berdosa," ucap Sean.


"Cukup. Kami jangan bicara dosa di ini. Orang seperti kamu tidak pantas berkata dosa," tegas Anggika.


"Lalu bagaimana dengan mama. Apa mama pantas mengatakan kesalahan. Karena apa yang mama lakukan kepada Reya juga kesalahan," sahut Sean.


"Kamu jangan mengajari mama Sean. Semua yang mama lakukan demi kebaikan kamu. Karena anak yang do kandung Reya tidak seharusnya hidup!" tegas Anggika.


"Dan aku tidak akan membiarkan hal itu. Aku masih diam dan hanya membawa Reya pergi. Ketika kalian merencanakan hal jahat itu pada Reya. Tetapi jika terjadi lagi. Aku tidak akan segan-segan membawa masalah ini pada pihak berwajib. Karena mama dan papa sengaja melakukan tindakan aborsi," tegas Sean yang memberi ancaman pada ke-2 orang tuanya yang mengejutkan Anggika dan juga Argantara.


"Berani sekali kamu Sean mengancam kami," sahut Argantara.


"Aku hanya mengingatkan dan mama atau papa tidak akan pernah bisa melakukan itu lagi," sahut Sean.


"Sean apapun yang kamu katakan tidak ada gunanya. Papa hanya meminta kamu untuk segara mengakhiri hubungan kamu dan juga Reya," tegas Argantara.


"Pah mah, itu tidak akan pernah terjadi. Aku dan Reya tidak ingin mencari keributan dengan datang kemari. Tapi aku dan Reya hanya ingin memberitahu kalian semua jika aku dan Reya sudah menikah," ucap swan yang langsung mengatakan apa yang sejak tadi ingin di katakan.

__ADS_1


Bagai di sambar petir, ketika mendengar apa yang di katakan Sean yang mengakui pernikahannya yang pasti mengejutkan untuk Anggika dan juga Argantara.


Bersambung


__ADS_2