
Pagi hari kembali tiba di mana Reval mengantarkan Citra pulang. Awalnya Citra tidak ingin pulang. Tetapi Reval memaksanya karena bagaimanapun Citra harus pulang.
"Masuklah Citra!" ucap Reval yang mobilnya sudah berhenti di depan rumah Citra.
"Kak Reval," sahut Citra yang terlihat ragu.
"Kamu jangan khawatir apa-apa. Nanti aku menghubungi mu dan besok juga kamu harus kekampus. Jadi masuklah dan istirahat lah," ucap Reval.
"Tapi kak Reval akan baik-baik saja kan?" tanya Citra yang mengkhawatirkan Reval.
"Iya aku akan baik-baik saja. Kamu jangan memikirkan ku. Kamu masuklah," jawab Reval.
"Baiklah kalau begitu kak Reval hati-hati. Citra masuk dulu," ucap Citra yang mau tidak mau akhirnya turun dari mobil. Reval menganggukan kepalanya dan sebelum Citra memasuki rumah dia pasti melambaikan tangannya pada Reval dan Reval hanya tersenyum dengan melajukan mobilnya.
"Semoga saja kak Reval tidak apa-apa dan sekarang giliran ku yang akan menghadapi amukan dari mama," batin Citra yang tidak bersemangat untuk masuki rumahnya.
"Kamu tau juga jalan pulang!" suara itu membuat langkah Citra terhenti ketika memasuki rumah.
"Mama," batin Citra dengan memejamkan matanya dan perlahan membalikkan tubuhnya yang berhadapan dengan Anggika yang terlihat menahan amarah pada Citra.
"Mama!"
Plakkkk.
Anggika langsung menampar Citra membuat Citra kaget dengan wajahnya yang miring kesamping dengan tangannya yang masih memegang pipinya yang di pastikan memerah.
"Anak kurang ajar kamu. Apa kamu sudah Tidka menghargai saya sebagai ibumu!" teriak Anggika. Air mata Citra menetes saat mendapatkan tamparan dari Anggika yang pasti bentuk kemarahan Anggika.
__ADS_1
"Citra, kamu sudah menyembunyikan Reya, membantunya dan menggagalkan semua rencana mama dan papa dan kamu juga tidak mendengarkan mama untuk menjauhi pria itu," ucap Anggika dengan berteriak-teriak.
"Cukup mah!" sahut Citra dengan sentakan yang menghadap sang mama, "Citra membantu kak Sean itu karena Citra tidak mau mama dan papa melakukan tindakan yang memalukan. Apa mama dan papa tidak sadar dengan apa yang kalian lakukan. Kalian sama saja menjadi pembunuh," ucap Citra.
"Jangan sok tau kamu Citra. Semua yang mama dan papa lakukan demi kebaikan keluarga kita. Bagaimana mungkin kamu mendukung hubungan kakak mu dengan Reya yang tak lain Reya saudaranya sendiri!" teriak Anggika.
"Lalu Citra harus apa mah. Citra tau itu sebuah kesalahan. Tetapi mereka saling mencintai dan Citra tidak membenarkan hubungan itu dan Citra juga tidak membenarkan tindakan mama dan papa yang sangat kelewatan," tegas Citra yang mencari kebenaran.
"Kamu tidak berada di posisi mama Citra. Kamu harus tau betapa hancurnya hati mama. Ketika Sean harus mencintai saudaranya sendiri. Mama sejak dulu hanya berusaha untuk memperbaiki keluarga ini. Mama hanya berusaha untuk menjaga keluarga ini dan termasuk melakukan apa saja untuk membuat Sean dan Reya tidak bersama lagi," ucap Anggika yang sepertinya sudah begitu lelah dengan masalah keluarganya yang pasti menjadi pemicu awalnya karena suaminya yang berselingkuh.
"Tapi tidak dengan cara membunuhmu. Apa mama akan bisa hidup tenang dengan membunuh janin yang tidak berdosa," ucap Citra dengan merendahkan suaranya dengan air matanya yang terus keluar.
"Sudahlah Citra kamu jangan menggurui mama. Mama yang tau apa yang harus di lakukan. Sekarang katakan pada mama di mana Sean dan juga Reya?" tanya Anggika yang membuat Citra terkejut.
"Citra tidak tau," jawab Citra.
"Mereka pergi untuk menemukan kebahagiaan mereka dan pasti ingin jauh-jauh dari mama dan papa dan Citra tidak tau tujuan mereka kemana dan seandainya jika Citra tau. Citra tidak akan memberitahu mama dan juga papa," ucap Citra dengan sejelas-jelasnya.
"Citra!" lirih Anggika dengan menekan suaranya.
"Maaf mah, Citra juga ingin kak Sean bahagia dan dengan cara apa itu. Itu urusan kak Sean dan Citra tidak peduli. Dan selagi Citra bisa melindungi kak Sean. Maka Citra akan lakukan," ucap Citra dengan santai dan langsung pergi dari hadapan Anggika yang memang akan melawan Anggika. Walaupun Argantara yang juga nanti akan memaksanya untuk memberitahu keberadaan Reya dan Sean.
Karena Citra memang tidak tau. Jadi apa yang harus di jawabnya.
"Kamu sudah tidak mendengarkan mama dan pergi menemui Reval," ucap Anggika membuat langkah Citra terhenti, "itu artinya pertemuan kalian tadi akan menjadi pertemuan terakhir," lanjut Anggika yang mengejutkan Citra membuat Citra membalikkan tubuhnya kembali.
"Apa maksud mama?" tanya Citra dengan perasaannya yang tidak enak.
__ADS_1
"Kamu sudah tau apa maksud mama dan kamu yang memilih semua ini," ucap Anggika.
"Tidak mah, jangan lakukan apa-apa pada kak Reval, dia tidak salah mah, Citra mohon mah," ucap Citra yang sangat panik.
"Diki!" teriak Anggika yang membuat Citra kaget dengan mamanya yang tiba-tiba memanggil Diki dan Diki pun langsung datang.
"Iya Nyonya?" tanya Diki dengan menundukkan kepalanya.
"Kamu bawa dia kekamarnya dan kurung dia. Jangan biarkan di keluar dari kamar. Saya akan menyelesaikan pria itu!" perintah Anggika dengan tegas yang membuat Citra terkejut.
"Tidak mah, tidak apa yang ingin mama lakukan?" teriak Citra dengan penuh emosi yang begitu takut.
"Bawa dia!" tegas Anggika. Diki mengangguk dan langsing membawa Citra.
"Tidak aku tidak mau, mama jangan melakukan yang tidak-tidak dengan kak Reval, dia tidak salah mah. Lepaskan aku! lepas!" Citra memberontak dengan berteriak-teriak yang meminta untuk di lepaskan.
"Lepas! lepas! lepaskan aku! Mama, aku mohon jangan lakukan apa-apa pada kak Reval!" Citra berteriak-teriak yang di tarik paksa oleh Diki yang mana di tarik kekamar Citra.
"Mama sudah memperingatimu dan kau tidak mendengarkan mama dan semakin lama semakin lancang. Mama tidak bisa membiarkan mu terus merajalela. Jadi hal ini harus di lakukan. Untukmu yang juga berani berbicara lancang kepadaku. Akan aku beri kau perhitungan. Agar kau sadar jika bukanlah yang tepat untuk Citra," batin Anggika.
"Buka pintunya, buka!" teriak Citra yang berada di dalam kamarnya yang sudah di kunci Diki sehingga Citra tidak bisa kemana-mana. Tempat itu benar-benar di awasi dan Citra hanya bisa berteriak-teriak saja.
"Mama aku mohon jangan lakukan itu. Tolong mah buka pintunya," teriak Citra. Namun tidak ada yang membukanya.
"Tidak, aku harus melakukan sesuatu. Aku harus menghubungi kak Reval. Tetapi bagaimana caranya. Diki sudah menyita ponselku," ucap Citra dengan kepanikan yang penuh gelisah. Karena memang tidak akan bisa melakukannya hal itu karena ponselnya yang telah di sita atas perintah Anggika.
"Kak Sean tolong Citra!" lirih Citra yang terduduk lemas. Hanya nama Sean yang teringat yang mana Citra sangat membutuhkan bantuan dari Sean. Citra hanya bisa menangis dalam kebingungannya yang bercampur panik, cemas dan penuh dengan ketakutan.
__ADS_1
Bersambung.