Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 128


__ADS_3

Diki saat itu juga langsung menunduk saat memergoki Sean dan Reya yang berciuman yang membuat Sean dan Reya sampai detik ini masih sama-sama terkejut dengan hadirnya Diki yang tiba-tiba.


"Diki apa Sean ada di sini?" suara yang tidak asing itu terdengar yang membuat Reya dan Sean semakin terkejut. Ketikan sosok yang ada di pikiran mereka muncul dari balik pintu siapa lagi jika bukan Argantara membuat 2 orang itu panik dan langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Papa," lirih Reya dengan wajah panik bercampur penuh dengan kecemasan. Argantara berdiri di sebelah Diki dan melihat Reya dan Sean secara bergantian dengan ekspresi yang tidak terbaca.


Argantara juga melihat di sekeliling Reya dan Sean tempat makan mereka berdua yang terlihat romantis seperti pasangan kekasih yang sedang melakukan Dinner yang membuat tanda tanya untuk Argantara.


"Hmmm, papa di sini juga," sahut Sean dengan kegugupannya.


"Hmmm, papa mencari kalian di depan tetapi tidak ada dan papa menyuruh Diki mencari kalian dan kalian berdua ada di sini," jawab Argantara yang berbicara terlihat sangat mengintimidasi yang membuat Reya dan Sean semakin dek-dekan dengan tangan Reya yang saling mengatup di bawah sana yang sangat takut jika dia di curigai.


"Apa kamu sudah lama menemukan mereka ber-2 Diki?" tanya Argantara.


"Barusan Pak saya menemukan tuan Sean dan nona Reya saat......"


Apa yang keluar dari mulut Diki sungguh mengobrak-abrik jantung Reya dan Sean. Jelas pasangan itu sangat takut jika Diki mengatakan menemukannya mereka dalam keadaan berciuman yang pasti membuat Argantara shock.


"Saat makan!" lanjut Diki yang membuat Reya dan Sean sama-sama menghela napas bersamaan dan justru mendapat perhatian Argantara yang membuat Argantara melihat 2 orang itu dengan penuh tanya.


"Kenapa tidak memanggil saya Diki?" tanya Argantara.


"Saya baru menemukannya dan ingin memanggil, tetapi bapak sudah datang," jawab Diki.


"Hmmm, begitu rupanya," sahut Argantara yang mengangguk-angguk saja. Namun dari wajah Argantara terlihat percaya dan tidak percaya.


"Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Diki pamit.


"Hmmm, silahkan," sahut Argantara. Dan Diki pun akhirnya pergi dan tinggal Argantara Reya dan Sean yang semakin dek-dekan.


"Papa kenapa sampai mencariku kemari?" tanya Sean mengalihkan ketegangan.


"Papa menelponmu dan kamu sejak tadi tidak mengangkat. Kebetulan papa lewat dari rumah ini dan ternyata kamu ada di sini bersama Reya," jawab Argantara.

__ADS_1


"Iya pah, tadi aku ingin menyampaikan hal penting pada Reya. Makanya kemari," jawab Sean dengan alasannya.


"Kalian berdua kenapa makan di luar?" tanya Argantara melihat kearah tempat yang romantis itu, "tempatnya juga sepertinya sangat special. Apa sengaja di buat special seperti ini. Seperti makan pasangan kekasih saja," ucap Argantara yang terlihat sangat santai bicara.


Namun kesantaiannya membuat Reya dan Sean semakin panik, dengan jantung yang tidak berhenti berdetak kencang sejak tadi yang penuh dengan ketakutan.


"Oh, ini tidak apa-apa kok pah, kebetulan Reya ingin makan di luar. Karena kondisi tidak memungkinkan. Jadi aku mengajaknya untuk makan di sini dan membuat seperti ala-ala Restaurant," jawab Sean dengan berbicara terbata-bata yang penuh dengan kegugupan.


"Iya pah, Reya menginginkan makan di luar dan untuk Sean ada ide untuk menuruti kemauan Reya," jawab Reya yang menambahi agar membuat Argantara percaya. Padahal semakin 2 orang itu menjelaskan Argantara semakin merasa ada sesuatu di antara ke-2 anaknya itu.


"Papa ada apa memangnya tadi ingin mencariku?" tanya Sean yang mengalihkannya ketegangan.


"Hanya ingin menanyakan masalah yang terjadi," jawab Argantara.


"Kalau duduklah pah!" sahut Reya dengan cepat yang menarik kursi. Argantara pun menghampiri meja tersebut.


"Hanya ada 2 kursi Reya. Papa mau duduk di mana?" tanya Argantara yang memang di tempat itu ada 2 kursi.


"Aku akan ambilkan," sahut Sean yang buru-buru langsung bertindak mengambil kursi dan tinggal Reya dan Argantara. Di mana Argantara sudah duduk dan Reya masih saja duduk.


"Sean yang membelikan bunga ini?" tanya Argantara dengan santai yang membuat Reya terkejut dengan matanya melihat ke arah bunga tersebut.


"Oh_itu_ ha_iya_maksud Reya bukan. Itu punya Reya yang tadi di kirim kurir. Kebetulan Reya ingin mawar kan Reya suka mawar yang di kamar Reya sudah layu," jawab Reya dengan terbata-bata yang penuh kebohongan.


"Begitu rupanya, ada kartu ucapannya juga," sahut Argantara yang jelas-jelas melihat ada kartu yang terbuka dan tulisan besar di bagian bawahnya terlihat nama Sean. Reya melihat sang papa yang sangat memperhatikan kartu tersebut langsung buru-buru mengambilnya.


"Ini hanya ala-ala saja pah. Tidak ada apa-apa," jawab Reya dengan tersenyum menutupi rasa gugupnya sampai menyembunyikan kartu ucapan dengan tulisan yang pasti kata-kata cinta dari Sean yang tidak terbaca Argantara. Argantara hanya melihat nama Sean di bagian bawahnya.


"Ini biasa saja pah. Jangan memikirkan apa-apa," ucap Reya lagi agar sang papa tidak mencurigainya.


"Papa juga menganggap biasa Reya. Hanya kamu saja yang terlihat tidak biasa hari ini dan justru apa yang papa lihat membuat papa memikirkan sesuatu," ucap Argantara.


Deg

__ADS_1


Jantung Reya di pastikan sudah copot. Jika Argantara bicara lagi. Kakinya sudah lemas yang merasa sudah tidak kuat. Apa lagi sekarang Argantara menatapnya dengan penuh selidik yang membuat Reya semakin takut dan sampai berkeringat dingin.


"Ini kursinya," sahut Sean yang akhirnya datang yang mencairkan suasana yang cukup tegang di antara Reya dan Argantara.


"Ayo Reya kamu juga duduk!" sahut Argantara. Reya mengangguk yang sudah tidak bersemangat lagi.


"Apa ini sudah waktunya. Papa terlihat sangat mencurigaiku dan Sean terlebih lagi Diki melihat aku dan Sean dan apa ini sudah waktunya. Namun apa yang akan terjadi. Jika semuanya benar-benar terbongkar. Bagaimana kelanjutannya ceritanya?" batin Reya yang sudah pasrah dengan hidupnya.


"Aku tau apa yang di takutkan Reya, dia terlihat tidak tenang dan sangat panik. Reya kamu harus percaya kepadaku semua akan baik-baik saja Reya," batin Sean yang memperhatikan eksperesi wajah Reya.


"Ehemmm!" Argantara berdehem membuat Sean langsung mengalihkan tatapannya dari Reya berpindah pada Argantara.


"Papa hanya ingin bertanya pada kamu Reya. Apa ibumu ada di sini?" tanya Argantara yang langsung to the point untuk menanyakan apa tujuannya sebenarnya datang kerumah itu.


"Reya sudah menghubungi mama pah. Dan mama tidak bisa di hubungi sama sekali. Reya sudah mencoba terus. Tetapi tetap tidak ada hasilnya," jawab Reya.


"Begitu rupanya. Belum bisa di pastikan. Jika kita tidak menemukan Erina di Jakarta," sahut Argantara.


"Sean akan bantu mencari tau untuk memperjelas semuanya," sahut Sean.


"Iya kamu memang harus mencari tau dan papa juga menyuruh Diki untuk mencari kejelasannya," sahut Argantara.


"Reya berharap mama tidak ada di sini. Reya takut jika mama ada di sini. Tidak tau apa yang akan mama lakukan nanti pada Reya," sahut Reya.


"Jangan khawatir Reya. Selagi ada papa semuanya akan baik-baik saja," sahut Argantara.


"Benar Reya aku juga akan menjagamu dan tidak akan membiarkan Tante Erina menyakitimu. Jangan Khawatir semuanya akan baik-baik saja. Bukannya aku sudah berjanji padamu," sahut Sean menambahi dengan menatap Reya dalam-dalam.


Tanpa Sean sadari kata-kata spontanitas yang keluar dari mulutnya itu sangat di perhatikan Argantara. Bahkan Argantara memperhatikan ke-2 anaknya itu yang saling menatap dengan penuh tanya.


Apakah Sean dan Reya lupa jika ada Argantara di depan mereka. Sean dan Reya layaknya 2 orang yang mencintai dan semua itu terlihat dari wajah mereka ber-2 yang tidak bisa di bohongi. Argantara juga tidak bodoh-bodoh amat dan bisa melihat jelas anaknya itu mempunyai rasa yang lain dari cara mereka saling menatap.


Bersambung

__ADS_1


"


__ADS_2