Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 302


__ADS_3

Reya, Citra, dan Renita akhirnya makan siang bersama yang tidak jauh dari rumah sakit.


"Itu Reval sudah sampai," tunjuk Reya yang melihat ke arah Reval yang memasuki Restaurant tersebut. Renita mengangkat tangannya melambai pada Reval untuk menunjukkan tempat itu kepada Reval jika mereka sedang ada di meja itu.


Reval mengangguk dan langsung menghampiri Citra dan yang lainnya.


"Sayang!" sapa Reval yang merangkul bahu Citra dan langsung mencium kening Citra.


"Maaf aku lama," ucap Reval.


"Tidak apa-apa kok, kita baru aja makan," sahut Renita.


"Ya sudah kak Reval duduk, kita makan sama-sama," ucap Citra. Reval menganggukkan kepalanya dan langsung duduk.


"Kakak mau pesan apa?" tanya Citra.


"Aku tau apa yang kamu pesan Reval. Jadi biar aku saja yang pesankan," sahut Renita yang langsung memotong membuat Citra langsung terdiam.


"Ya sudah," Citra langsung melihat suaminya saat suaminya itu mengiyakan saja.


Renita memanggil pelayan dan langsung memesan apa yang ingin di pesannya. Dan Citra membisu yang merasa tidak di anggap di tempat itu.


Setelah pesanan datang. Bukannya makan Reval dan Renita sibuk bercerita dengan hebohnya dan Reya terkadang-kadang ikut menanggapi dan terkadang-kadang dia justru memperhatikan Citra yang hanya diam.


Reya mungkin peka dengan apa yang terjadi pada Citra. Apa lagi melihat Reval dan Renita terlalu asyik berbicara dengan canda mereka berdua. Seperti memiliki dunianya sendiri.


"Kamu itu selalu mengingat hal buruk ku saja Reval," Renita geleng-geleng kepala mendengarnya.


"Ya karena memang kamu itu seperti itu," sahut Reval.


"Terserah kamu deh," sahut Renita yang tertawa.


Reval yang tertawa-tawa menoleh ke arah Citra yang mana Citra hanya diam dengan melilit-lilit spageti dengan garfu tanpa dia makan sama sekali.


"Sayang kenapa tidak di makan?" tanya Reval.


"Sudah kenyang," jawab Citra tersenyum getir.


"Hmmm, kak Reya kalau kak Reya juga sudah kenyang. Kita pulang saja yuk, soalnya aku ada janji sama mama hari ini," ucap Citra dengan tersenyum tipis.


"Sayang kok sudah mau pulang aja. Makan aku belum habis," ucap Reval.


"Bagaimana mau habis. Kamu itu cerita terus dari tadi," ucap Citra terlihat kesal.


Renita yang tadi tersenyum langsung datar senyumnya dan minum melihat Reval dan Citra.


"Aku sudah selesai makan!" ucap Citra.


"Pelayan!" Citra langsung memanggil pelayan untuk membayar makanannya dan pelayan Restaurant itu langsung datang.


"Biar aku aja yang bayar," sahut Renita yang mengeluarkan dompetnya.


"Tidak usah aku juga punya uang," sahut Citra dengan ketus.

__ADS_1


Reya mulai merasakan perbedaan antara Citra dan Reval dan Renita.


"Tapi Citra tidak apa-apa aku saja," sahut Renita yang keras kepala.


"Kau bayar saja makanan yang kau pesan dan aku membayar makanan yang aku pesan," jawab Citra dengan ketus lagi yang membuat Renita terdiam.


Citra langsung membayar hanya makanan dia dan juga Reya. Karena makanan suaminya Renita yang memesannya, jadi Citra tidak membayarnya.


Setelah selesai melakukan pembayaran. Citra langsung menarik tangan Reya dan mereka langsung pergi dan Reya tanpa ada obrolan apa-apa yang dia sendiri juga bingung harus melakukan apa dan mengikut saja saat Citra menariknya.


"Citra!" panggil Reval yang ingin berdiri dari tempat duduknya. Namun Renita langsung menghentikannya.


"Reval kita belum selesai makan!" ucap Renita.


"Aku harus pergi," ucap Reval yang melepas pegangan tangan Renita dan mengejar istrinya.


Renita hanya menghela napasnya yang melihat kepergian Citra. Siapa yang tidak kesal coba Citra yang istrinya seperti tidak di anggap oleh suaminya. Jadi Syukurin aja. Kalau Citra seperti itu.


**************


Sudah sampai di rumah Citra dan Reya yang keluar dari mobil. Sepanjang di jalan tadi mereka tidak ada obrolan dan Reya juga sangat tidak berani berbicara atau bertanya pada Citra.


"Citra!" tegur Reya membuat langkah Citra terhenti.


"Iya kak Reya ada apa?" tanya Citra.


"Kami baik-baik saja?" tanya Reya.


"Hmmm, aku baik-baik saja," jawab Citra dengan tersenyum palsu.


Dan Reya hanya bisa melihat kepergian Citra.


"Reya Citra kenapa?" tanya Reval.


"Aku tidak tau Reval, mood Citra sepertinya sangat buruk. Apa mungkin karena kamu dan Renita," ucap Reya menduga-duga.


"Maksud kamu?" tanya Reval bingung.


"Kamu sadar tidak dengan apa yang terjadi sebelumnya dan di Restaurant aku memang memperhatikan Citra. Sangat kelihatan Citra hanya diam saja dan aku juga tidak tau apa yang terjadi kepada-nya dan bisa saja Citra merasa tidak nyaman dengan kamu dan juga Renita," ucap Reya berdasarkan kesimpulan yang di lihatnya.


"Itu tidak mungkin! Citra hanya salah paham," lirih Reval yang mengusap wajahnya.


"Aku masuk dulu," ucap Reval yang langsung pergi buru-buru masuk kedalam rumah. Karena dia takut jika benar istrinya itu salah paham.


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa dalam hubungan mereka," batin Reya yang hanya penuh dengan doa yang baik-baik untuk adiknya itu.


**********


Reval memasuki rumah dan melihat Citra yang ternyata ada di ruang tamu yang sedang mengobrol dengan mama dan papanya.


Anggika dan Argantara melihat ke arah Reval dan Reval yang tadi seperti orang yang di kejar-kejar menghela napasnya dengan kasar.


"Tumben sekali Reval kamu sudah pulang?" tanya Anggika heran. Namun Citra tidak melihat sama sekali suaminya itu.

__ADS_1


"Oh aku, aku hanya mampir sebentar kerumah," jawab Reval yang terus melihat istrinya yang sama sekali tidak peduli itu.


Tidak lama juga Reya memasuki rumah. Dia pikir Citra dan Reval akan perang ternyata ada orang tuanya yang akhirnya hanya perang dingin saja.


"Oh iya mah, kita jadikan ke rumah teman mama?" tanya Citra yang mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya jadi sayang," jawab Anggika.


"Ya sudah mah kita berangkat aja sekarang," ucap Citra.


"Iya juga kita ke asyikkan membahas ini dan itu. Terakhirnya kita tidak jadi pergi," sahut Arggika.


Citra mengangguk dengan tersenyum yang tidak peduli sama sekali dengan suaminya. Sementara Reval masih terus melihat sang istri.


"Kamu ikut Reya?" tanya Anggika.


"Mama sama Citra aja yang pergi. Kebetulan Reya masih tunggu kak Reval. Nanti kita berdua menyusul," jawab Reya yang memang ada janji sama suaminya.


"Begitu rupanya, kamu sendiri Reval bagaimana? kamu ikut?" tanya Anggika.


"Mah kita pergi berdua saja. Kak Reval sedang sibuk," sahut Citra yang menjawab pertanyaan itu.


"Sibuk bagaimana Citra, Reval sudah ada di sini dan Reval juga tidak pernah sibuk-sibuk dengan pekerjaan ini dan itu," sahut Argantara.


"Kesibukan orang itu bukan hanya pekerjaan pah. Tetapi banyak pah. Termasuk sibuk pada orang lain," sindir Citra membuat Reval terdiam.


Sementara yang lainnnya hanya bingung dengan kosa kata Reya yang tidak bisa di mengerti sebenarnya seperti apa.


"Ya sudah sekarang ayo kita pergi!" ajak Citra yang langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Aku akan mengantar mama dan Citra," sahut Reval.


"Tidak perlu!" sahut Citra yang masih menunjukkan kekesalannya.


"Tidak apa-apa Citra," sahut Reya.


"Benar Citra," sahut Anggika.


"Terserah," sahut Citra yang langsung pergi terlebih dahulu dan di susul Anggika yang mengajak Reval. Reval pun menyusul pergi. Reya hanya menghela napas yang berharap semua baik-baik saja sementara Argantara bingung. Dia tidak tau apa-apa. Tetapi seperti merasa ada yang beres.


Argantara berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Reya.


"Apa terjadi sesuatu pada adik kamu?" tanya Argantara.


"Biasalah pah, hanya ngambek- ngambek kecil saja," jawab Reya.


"Mereka baru menikah dan pengantin baru memang sering seperti itu, berantem-berantem kecil," ucap Argantara.


"Iya papa benar. Kita doakan saja semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka!" ucap Reya.


"Iya kamu benar," jawab Argantara.


"Ya sudah pah, Reya mau kekamar dulu ya," ucap Reya pamit. Argantara menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2