Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 70 Deg


__ADS_3

Barra yang begitu dekat dengannya bertanya kembali lada Regina apakah Regina gugup atau tidak. Regina mengangguk yang memang sangat gugup sampai tidak berani menatap Barra yang wajah Barra sangat dekat dengannya.


"Jangan gugup Regina. Kamu tidak perlu gugup untuk hubungan di antara kita," ucap Barra mengecup bibir Regina dengan lembut yang membuat darah Regina berdesir dengan hebat.


"Aku menyukaimu," ucap Barra melepas kecupan itu dengan memegang dagu Regina dan menatap Regina dengan tatapan yang begitu dalam. Di mana dari mata Barra terlihat penuh dengan gairah yang sangat menginginkan Regina.


"Barra, tapi apa kita tidak harus mela...."


Tidak sempat Regina bicara Barra membungkam mulut Regina dengan bibirnya. Mencium dengan tergesa-gesa yang membuat Regina tidak bisa bicara lagi dan bahkan tidak bisa memberontak.


Regina sendiri tidak menolak apapun yang di lakukan Barra. Ciuman yang sangat panas dan sangat memaksa yang di lakukan Barra dengan memegang tengkuk Regina untuk memperdalam ciumannya.


Jangan tanya apakah Regina bisa bernapas atau tidak di pastikan Regina tidak bisa bernapas karena ulah Barra yang tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. Menciumnya dengan menggebu-gebu yang membuat Regina sangat kewalahan menghadapi Barra.


Bahkan Regina sudah berbaring di atas ranjang dengan Barra yang terus menciumnya. Ciuman yang sudah berpindah pada lehernya, menciumi daun telinga Regina dan Regina hanyut dalam ciuman yang penuh kenikmatan itu.


Dalam kesempatan Regina yang sudah terbuai dengan sentuhan dari Barra. Membuat dengan Barra perlahan-lahan membuka pakaian Regina satu persatu. Melucuti apa yang menempel di tubuh yang terbakar gairah kenikmatan itu dengan mata Regina yang terpejam yang menikmati segalanya membuat Barra semakin bersemangat dan merasa menang.


Barra juga sama yang pasti melepas apa yang ada di tubuhnya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk membuat dirinya polos. Tangannya yang bermain di tubuh Regina yang membuat Regina melayang-layang sampai ke awang-awang.


Sementara Citra yang ada di kamarnya berdiri di depan jendela melihat hujan deras dengan tatapannya yang sendu yang merasa ada yang tidak enak di dalam pikirannya. Tetapi Citra tidak mengerti dengan perasaannya yang tidak enak.


"Kenapa perasaanku sangat aneh. Apa yang terjadi sebenarnya," batu. Citra memegang dadanya yang jantungnya berdetak kencang yang perasaannya sangat bercampur aduk.


Bagaimana perasaannya tidak enak kekasihnya sedang bercinta dengan sahabatnya. Barra dan Regina yang sudah sama-sama polos yang tertutup selimut di mana Barra melakukan penyatuan pada Regina. Wanita yang masuk kedalam perangkapnya.


Tidak bisa melakukannya pada Citra. Barra merayu Sabahat Citra dan sangat mudah terpancing. Sehingga wanita itu mendesah hebat di bawahnya yang mana Barra tidak henti-hentinya meng-hujami milik Regina yang tidak peduli wanita di bawahnya lelah atau tidak, merasa sakit atau tidak.

__ADS_1


Baginya hanya menginginkan kepuasan saja dan Regina mampu membuat dirinya puas dan Regina sendiri yang menikmati semua sentuhan Barra yang mungkin tidak mengingat. Jika laki-laki di atas tubuhnya itu adalah pacar sahabatnya sendiri.


Mereka bercinta dengan panas di apartemen Barra yang tidak tau sudah beberapa lama dan kapan akan selesainya. Ke-2 pasangan itu sama-sama terbawa kabut gairah yang terus menginginkan dan apalagi Barra yang tidak akan pernah lelah. Walau wanita di bawahnya itu sudah lemas dan bahkan sudah memohon untuk berhenti karena kelelahan dan Barra mengabaikan permintaan itu karena terus ingin mendapat kepuasan sampai wanitanya tidak sadarkan diri.


Bukannya berhenti Barra semakin menggila yang tidak peduli sama sekali dengan apa yang terjadi pada Regina.


"Kau sangat nikmat Regina. Apa Citra juga akan seperti ini," ucap Barra dengan suara desahannya yang tidak tau dirinya menyebutkan wanita lain saat bercinta dengan wanita lain. Karena memang berpacaran dengan Citra mungkin karena menginginkan hal itu. Hanya ingin kenikmatan saja dan itu belum di dapatkannya dari Citra.


********


"Citra!" tegur Anggika saat memasuki kamar Citra dan melihat Citra yang sedang melamun.


"Mama," sahut Citra.


"Kamu belum tidur?" tanya Anggika yang memasuki kamar itu menghampiri Citra.


Anggika tersenyum dengan mengusap pipi Citra.


"Kalau begitu belajarlah. Tetapi jangan malam-malam tidurnya. Kalau ada apa-apa kamu panggil mama," ucap Anggika.


"Iya mah," jawab Citra dengan mengangguk.


"Baiklah mama keluar ya. Semoga besok prakteknya lancar. Semoga kamu mendapatkan nilai yang bagus," ucap Anggika.


"Amin. Makasih ya mah atas doanya," sahut Citra.


"Iya sayang. Ya sudah mama keluar dulu," ucap Anggika. Citta mengangguk dan Anggika pun langsung keluar. Citra menghela napasnya panjang dan kembali menduduki tempat belajarnya yang harus lebih fokus agar besok tidak mengganggu kuliahnya.

__ADS_1


**********


Reya berada di dalam mini market yang tujuannya untuk membeli obat pusing, obat mual untuk mengurangi rasa yang tidak enak di tubuhnya. Reya tidak menemukannya langsung meminta bantuan pada pelayan di Mini market itu.


"Mbak kalau obat mual-mual ada?"tanya Reya pada pelayan mini market tersebut.


"Mbak ada gejala maag?" tanah pelayan itu.


"Oh tidak saya tidak punya maag," jawab Reya, " hanya saja saya sering mual-mual dan juga pusing. Nafsu makan saya juga berkurang dan menurut saya itu sangat berlebihan. Karena sebelumnya saya belum pernah mengalami hal itu," ucap Reya yang menjelaskan kondisi tubuhnya yang di alaminya beberapa waktu belakangan ini.


"Mbak datang bukan terakhir kali kapan?"tanya pelayan itu. Pertanyaan itu membuat Reya heran. Ada apa? apa hubungannya dengan masalah menstruasinya. Pertanyaan itu terlintas di benak Reya. Namun tidak di sampaikannya.


"Untuk bulan ini saya memang telat, biasanya awal bukan. Tetapi sampai sekarang belum sama sekali," jawab Reya memang apa adanya.


"Mbak coba tes pakai tespeck dulu setelah itu periksa ke dokter," ucap pelayan itu memberikan saran.


"Tespeck. Maksudnya? bukannya tespeck itu untuk wanita......"Reya Tidak melanjutkan kalimatnya dan matanya melotot yang terlihat shock kala mendengar tespeck dan pasti dia tau untuk apa tespeck tersebut yang untuk tes kehamilan.


"Kalau menurut saya. Siapa tau mbaknya hamil. Makanya saya tidak bisa kasih obat mual. Karena hamil orang mual berbeda dengan mual biasa. Harus dapat resep dari Dokter dan nanti kalau saya kasih berbahaya lagi. Jadi mabak coba tespeck dulu," ucap pelayan itu.


Reya yang begitu shocknya tidak bisa mengeluarkan suara lagi. Tubuhnya bergetar hebat dengan debaran jantungnya yang berdetak kencang 10 kali lipat.


Apa yang di katakan pelayan itu mungkin saja ada benarnya. Reya pernah melakukannya dan banyak kemungkinan terjadi. Lalu bagaimana jika iya. Bagaimana kelanjutannya nanti. Sean tidak mampu memikirkan hal itu.


"Tidak mungkin jika itu sungguh terjadi apa mungkin jika aku benar-benar hamil," batin Reya yang tidak bisa membayangkan hal itu jika memang akan terjadi kepada dirinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2