Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 66 Peringatan Citra.


__ADS_3

"Barra stop!"cegah Citra dengan mendorong Barra yang di penuhi dengan nafsu yang terus menciumi lehernya.


"Ada apa Citra, kenapa menyuruhku berhenti?" tanya Barra dengan suaranya yang serak yang serak dan menggebu-gebu menyerang Citra membuat Citra benar-benar kewalahan.


"Aku bilang stop Barra!"tegas Citra yang mendorong kuat Barra dan membuat Barra menyinggir darinya.


"Apa yang kau lakukan," gertak Citra yang merapikan pakaian yang dress bajunya turun dan bagian bawahnya juga naik dengan wajahnya yang marah dan napasnya naik turun.


"Kenapa kau bertanya Citra. Memang salah yang aku lakukan," sahut Barra yang terlihat marah.


"Kau bertanya itu salah atau tidak ya jelas salah lah. Kau tidak berpikir yang kau lakukan itu kelewatan Barra, kau ingin memperkosaku," sahut Citra yang semakin marah-marah dengan melihat tidak adanya penyesalan di wajah Barra.


"Apa yang kelewatan Citra. Kita itu sudah pacaran dan hal itu sangat wajar kita lakukan, mana ada kata perkosa dalam pacaran. Karena kita saling menginginkannya," ucap Barra membuat Citra geleng-geleng dengan Barra.


"Wajar katamu. Kau benar-benar gila,"umpat Citra kesal dan langsung membuka pintu mobil.


"Citra tunggu!" panggil Barra yang menghentikan Citra membuka pintu mobil.


"Lepaskan aku!"berontak Citra.


"Citra ada apa denganmu?" tanya Barra.


"Kau masih bertanya ada apa denganku. Kau seharusnya sadar dengan apa yang kau lakukan. Kita memang pacaran. Tetapi bukan berarti kau bebas melakukan hal itu kepadaku," ucap Citra yang begitu kesalnya dengan Barra.


"Citra kau berlebihan jika marah hanya karena masalah itu," ucap Barra.


"Aku berlebihan katamu. Apa pacaran bagimu hanya untuk melakukan itu," sahut Citra dengan kesalnya.

__ADS_1


"Ck, oke Citra jangan marah lagi. Citra aku minta maaf, aku benar-benar khilaf Citra. Aku tidak sadar apa yang aku lakukan. Aku mohon Citra jangan marah. Aku sungguh minta maaf, aku tidak bisa mengendalikan diriku dan apa yang aku katakan tidak aku sadari sama sekali. Aku mohon maaf," ucap Barra yang membujuk Citra sebelum hubungannya semakin berantakan dengan Citra. Karena Citra begitu marah dengan perlakuaan kurang ajar Barra kepadanya.


Citra melihat ke arah Barra dengan napas Citra yang naik turun.


"Citra ayolah jangan marah lagi. Aku benar-benar minta maaf Citra," bujuk Barra.


"Kau itu sangat keterlaluan. Walau kita berpacaran. Aku tidak mungkin melakukan hubungan yang lebih jauh dengamu tanpa ada pernikahan," tegas Citra dengan penuh penekanan yang memang punya prinsip.


"Baiklah aku paham itu. Aku tidak akan melakukan itu lagi. Aku akan mengendalikan diriku. Maafkan aku Citra," ucap Barra dengan wajahnya yang penuh dengan rasa bersalah.


"Aku sungguh-sungguh minta maaf Citra. Jangan salah paham padaku. Aku tidak ada maksud sama sekali," bujuk Barra lagi.


Citra menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan


"Baiklah jangan melakukan hal itu lagi. Aku memafkanmu. Kita memang sudah dewasa Barra. Tetapi dalam pacaran tidak perlu melakukan hal itu. Jadi jika kamu hanya menginginkan *** dalam hubungan kita. Maaf aku tidak bisa kamu cari perempuan lain saja," ucap Citra menegaskan.


"Aku mengerti. Ini yang terakhir kalian yang akan terjadi. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku sungguh-sungguh Citra," sahut Barra dengan penyesalannya.


" Ya sudah kita pulang ya. Kamu jangan marah lagi," ucap Barra dengan lembut. Citra menganggukkan kepalanya. Barra bernapas lega dan kembali memakai sabuk pengamannya membuang napasnya perlahan kedepan dengan kembali menyetir.


"Sial!" umpat Barra, "kenapa wanita ini begitu kolot. Aku tidak percaya jika Citra bertahan dalam prinsipnya. Pantesan saja semua cowok di kampus mengejar-ngejarnya. Karena dia sangat mahal. Aku pikir aku sudah menjadi pemenangnya dengan pacaran dengannya. Tetapi apa. Aku tidak mendapatkannya sama sekali. Dia menolakku mentah-mentah. Tetapi aku tidak mungkin menyerah semakin menolakku. Aku semakin penasaran dengamu Citra," batin Barra yang ternyata begitu kesal degan Citra yang menolak dirinya.


Dia sengaja berpura-pura tidak apa-apa. Untuk mempertahankan hubungannya dengan Citra yang di pastikan jika dia tidak membujuk Citra tadi. Pasti Citra sudah ilfil dan akan mengakhiri hubungan mereka.


********


Pagi hari kembali tiba di kediaman Argantara. Di mana Citra dan Sean bersamaan keluar dari kamar.

__ADS_1


"Pagi kak Sean!"sapa Citra tersenyum menghampiri kakaknya.


"Pagi Citra," sahut Sean.


"Kak Sean tidurnya nyenyak?"tanya Citra.


"Iya Citra kakak sangat nyenyak tidur," jawab Sean yang pasti nyenyak karena suasana hatinya sedang baik. Beberapa hari yang terus bersama Reya.


"Citra juga," sahut Citra tanpa di tanya.


"Oh iya Citra. Kamu kenapa sekarang pulang selalu malam?"tanya Sean yang memperhatikan adiknya walau dia sibuk. Perhatiannya tidak lupuk dari adiknya itu.


"Citra banyak tugas kuliah kak,"jawab Citra.


"Kalau ada tugas di kerjakan di rumah ya, jangan biasakan untuk main di luar dan pulang larut malam. Kalau sekali-kali tidak apa-apa. Jangan keseringan. Apa lagi kamu pulang sama Barra. Kamu harus ingat Citra. Kakak tidak pernah menyukai hubungan kalian sampai detik ini. Jadi jika tidak mau mendengarkan kakak dan tetap berhubungan dengannya. Maka silahkan. Tetapi jika Barra membuat pengaruh buruk pada kamu. Jangan salahkan kakak akan berbuat sesuatu padanya," ucap Sean mengingatkan adiknya itu.


Citra menganggukkan kepalanya yang mendengar tanpa protes dengan semua masukan yang di berikan kakaknya kepadanya.


"Kamu sudah dewasa dan harus bisa menjaga diri. Kamu mengerti kan?" tanya Sean.


"Iya kak, makasih sudah mengingatkan Citra. Tetapi barra tidak seburuk yang kakak pikir dia juga baik," jawab Citra yang masih membela Barra kekasihnya.


"Itu penilaian kamu dan semoga penilaian kamu tidak salah, karena orang-orang seperti Barra sangat kakak tau ujung-ujungnya dan kakak hanya mengingatkan kamu terus sebelum kamu menyesal nantinya. Karena penyesalan bukan berada di depan. Tetapi di belakang," ucap Sean yang menceramahi adiknya itu.


"Iya kak Citra paham," jawab Citra, "Barra memang harus lebih dekat pada kak Sean. Dia harus mencuri perhatian kak Sean. Agar kak Sean bisa menerimanya," batin Citra.


"Ya sudah ayo kita turun. Kita sarapan dulu, mama sama papa pasti sudah menunggu," ajak Sean. Citra mengangguk dan merangkul lengan kakaknya yang mereka sama-sama menuju meja makan untuk sarapan.

__ADS_1


Feeling seorang kakak memang tidak pernah salah dan yang terjadi. Sean tau Barra bukan pria yang baik untuk Citra dan Citra masih tetap keras kepala berpacaran dengan Barra. Walau Barra sudah melakukan hal yang buruk kepada Citra. Ya Citra masih bucin- bucinnya. Jadi harap di maklumi.


Bersambung


__ADS_2