
Anggika menurunkan telpon di depan Sahila dan juga ada Argantara di sana dan sepertinya melihat Argantara ada di sana dia sepertinya sudah tau tentang masalah Reya dan Citra. Yang pasti ada pembicaraan sebelumnya dan tidak tau bagaimana mulanya Anggika menjelaskan pada suaminya.
"Bagaimana Anggika apa Reya dan yang lainnya akan kembali?" tanya Sahila yang ingin cepat-cepat dalam mendengar jawaban itu.
"Iya mereka akan kembali secepatnya kita tunggu saja mereka," jawab Anggika dengan kenyataan yang sebenarnya.
"Syukurlah jika mereka akan kembali. Aku benar-benar lega mendengarnya," sahut Sahila yang menghela napas.
"Iya kita menunggu sebentar sala. Mereka akan kembali secepatnya dan kita bisa menjelaskan pelan-pelan dengan semua yang terjadi pada mereka," ucap Anggika.
"Iya kamu benar," sahut Sahila.
Anggika melihat suaminya yang mengusap wajahnya dengan tangannya dan Argantara yang sebenarnya belum terlalu pulih terlihat gelisah dan pasti penuh dengan beban sebenarnya.
"Mas!" tegur Anggika membuat Argantara melihat ke arah Anggika.
"Maafkan aku mas," ucap Anggika yang masih merasa bersalah pada suaminya, "aku seharusnya memberitahu semua ini kepada kamu tetapi aku menyembunyikannya. Aku benar-benar minta maaf mas. Aku sama papa menyembunyikan rahasia ini bertahun-tahun dari kamu. Kembali lagi alasanku sama dengan kamu yang juga menyembunyikan masalah Sean dariku. Maafkan aku mas dan aku tau seharunya tidak ada rahasia di antara kita. Tetapi aku juga punya alasan yang kamu sangat paham alasan itu dan kamu pasti tau apa yang aku rasakan yang pasti sama dengan kamu sewaktu kamu menyembunyikan masalah Sean," ucap Anggika dengan rasa bersalah pada suaminya dan sangat berharap suaminya mengerti dengan apa yang di rasakannya.
"Ini sudah terjadi Anggika dan tidak ada yang harus meminta maaf di antara kita. Untuk memahami situasi aku sudah mengerti dan mungkin memang ini sudah menjadi takdir dan tidak ada yang harus bahas," sahut Argantara yang mau mengatakan apapun sudah tidak bisa. Karena kejadiannya juga.
"Sekarang kita sudah tau kebenarannya di antara Reya dan juga Citra yang sekarang menjadi tugas kita adalah bagaimana mereka berdua nantinya akan menerima kenyataan ini dan kita sebaiknya berdoa saja yang terbaik untuk mereka," ucap Argantara dengan bijak.
"Iya mas kamu benar. Aku juga mengharapkan hal yang sama dan semoga saja Citra bisa kuat dan tidak terluka dengan kenyataan bahwa dia bukan anak kita dan menerima saudaranya dengan baik. Begitu juga dengan Reya semoga bisa menerima Citra dengan baik," sahut Anggika dengan harapannya yang besar.
"Kita doakan sama-sama," sahut Argantara.
"Makasih Sahila kamu sudah membantu keluarga kami," ucap Anggika.
__ADS_1
"Jangan terlalu berlebihan Anggika. Aku tidak melakukan apapun kok. Aku hanya membantu sedikit yang kebetulan aku tau. Itu saja dan kita sama-sama berdoa saja,"sahut Sahila.
***********
Di sisi lain dalam perjalanan pulang. Sean dan yang lainnya masih melakukan perjalan pulang.
"Kenapa mama tiba-tiba ingin kita pulang?" tanya Citra heran.
"Entahlah Citra kakak juga tidak tau. Kamu juga tadi dengar sendiri di telpon mama tidak mengatakan apa-apa dan hanya menyuruh kita pulang," jawab Sean yang juga tidak kepikiran jawaban apa-apa.
"Apa ada sesuatu yang besar. Karena tadi mama juga bilang akan mencari bersama-sama orang tuaku. Apa mama ada kabar?" tanya Reya dengan menduga-duga.
"Jika ada kenapa tidak mengatakan langsung saja tadi. Sepertinya memang ada hal yang penting," sahut Reval sembari menyetir dengan fokus.
"Ya sudah kita sampai saja kerumah dulu. Nanti juga kita akan tau apa yang ingin di sampaikan mama yang penting ini tidak ada kaitannya dengan papa. Karena tadi mama bilang papa baik-baik aja," sahut Sean yang berpikiran positif.
"Iya sebaiknya kita pulang saja dan tunggu saja apa yang mau di katakan mama," sahut Reya yang setuju.
Dia ingin menuntaskan jati dirinya dulu. Dia tidak bisa hanya menunggu dan tidak mendapatkan hasil apa-apa.
Reval juga menoleh ke arah Citra yang selalu ingin memastikan keadaan Citra. Apa Citra baik-baik saja atau tidak. Citra yang paham dengan rasa khawatir Reval kepada-nya hanya membuat Citra tersenyum tipis agar Reval tidak khawatir kepada-nya.
**********
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya Sean, Reya, Citra dan Reval kembali ke rumah Argantara dan mereka baru tiba pada malam hari dengan mereka yang sama-sama lelah pastinya dengan kembalinya yang pergi tanpa mendapatkan apa-apa.
"Ayo kita masuk!" ajak Sean yang masuk terlebih dahulu.
__ADS_1
Menyusul Citra dan Reval di belakang mereka.
"Aku setelah menyapa Tante Anggika langsung pulang aja ya Citra. Besok kamu kabari aku aja, aku juga pasti ikut kembali mencari orang tua Reya dan juga pasti membantu kamu," ucap Reval.
"Makasih Reval," sahut Citra yang mereka berdua memasuki rumah dan mereka tiba di ruang tamu yang heran dengan Anggika, Argantara dan ada Sahila di sana.
Reya dan Sean saling melihat dan begitu juga dengan Reval yang tadinya ingin pergi. Namun setelah melihat hal ini sangat tidak mungkin lagi Reval pergi karena ada mamanya di sana.
"Kenapa ada Tante Sahila?" tanya Reya heran.
"Iya mama kok biasa ada di sini?" tanya Reval yang juga terkejut dengan kedatangan mamanya.
"Kalian berdua sudah sampai. Ayo kalian berdua sebaiknya duduk dulu," sahut Anggika yang basa-basi.
"Reya, Citra Sean, Reval ayo kalian duduklah sebentar," sahut Argantara dengan ramah karena memang sejak tadi Reya dan yang lainnya masih berdiri saja. Dan sekarang baru mereka mengambil posisi untuk duduk.
"Ada apa mah, kenapa mama menyuruh kamu untuk pulang?" tanya Sean tanpa ingin basa-basi.
"Dan mama kenapa ada di sini? apa ada sesuatu?" tanya Reval pada Sahila.
"Iya Reval mama datang kemari ada sesuatu pastinya," sahut Sahila.
"Ada apa mah. Jika mama butuh bantuan atau apapun. Mama bisa mengatakan pada Reval dan tidak perlu merepotkan orang lain," sahut Reval.
"Tidak Reval amma kamu tidak merepotkan siapa-siapa justru mama kamu membantu saya," sahut Anggika.
"Membantu apa maksudnya?" tanya Reval heran.
__ADS_1
Anggika saling melihat dengan Argantara dan Argantara menganggukkan kepalanya yang pasti kode untuk Anggika yang memulai pembicaraan mereka.
Bersambung