
Mata Reya berpindah pada Sean dan tidak kalah menatap Sean tajam, " aku yang seharusnya bertanya kepadamu. Apa maksud semuanya. Kenapa kau menyuruhku untuk menemui Manager di dalam Club?" tanya Reya yang membuat Sean lebih terkejut lagi.
" Apa lagi yang kau bicarakan. Manager siapa dan aku tidak pernah menyuruhmu bertemu dengan Manager di Club dan kau bahkan tidak menemui Manager itu sama sekali. Regina hanya bertemu dengan Citra dan apa maksudnya dengan kau mengatakan hal itu?" tanya Sean dengan penuh kebingungan.
" Sebelum aku bertemu denganmu. Aku menemui Manager atas perintah Citra yang awalnya kau yang memerintahkannya. Aku menemui dia!" tunjuk Reya pada Regina membuat Regina ketakutan.
" Apah!"pekik Sean terkejut melihat kearah Regina langsung.
" Dia mengaku sebagai manager dan memebri minum saat itu dan lihat dia adalah temannya Citra. Seharusnya aku yang bertanya kepada kalian semau apa yang kalian lakukan. Kenapa kalian bekerja sama untuk menjebakku saat itu! semua masalah di mulai dari dia!" teriak Reya.
Sean terkejut mendengarnya dan Citra tidak bisa berbicara sama sekali yang mana Citra juga penuh ketakutan dan apalagi Sean sudah menatap Citra dengan penuh tanya.
" Apa ini Citra? siapa dia? temanmu dan kenapa dia menjadi Manager?Kau yang menyuruh Reya menemuinya?" Sean terus bertanya pada Citra.
" Kak wanita ini hanya mengarang cerita. Kapan aku menyuruhnya menemui Reya dan kakak dengar sendiri Regina temanku tidak mengenalinya. Wanita ini hanya halu dan lagian aku mana mungkin ke Club, kakak tau sendiri bagaimana aku," sahut Citra yang masih mencari pembelaan.
Reya sampai tidak bisa berkata-kata dengan Citra yang masih tidak mengakui kesalahannya.
" Eh Reya kau jangan membuat aku jelek di mata kak Sean. Hanya demi sandiwara yang tidak masuk akal yang kau lakukan dan kau malah melibatkan temanku. Kau benar-benar ingin mempengaruhi kak Sean agar berpihak padamu iya," sahut Citra.
" Keterlalu!" desis Reya mengepal tangannya.
" Diki!!!!! tiba-tiba Reya berteriak memanggil Diki dan Pria yang di panggil sekali itu langsung datang.
Rose, Regina dan Citra kaget melihat ke hadiran bodyguard tersebut.
" Gawat bukannya dia Pria yang bersama Reya kemarin," batin Regina yang semakin takut.
__ADS_1
" Mampus kenapa semua rencana ku semakin berantakan, bagaimana ini? " batin Citra yang begitu takut.
" Gawat Tammat lah riwayat ku setelah ini," batin Rose dengan ketakutan.
" Katakan kepada mereka semua yang harus kau katakan dan wanita ini siapa!" tegas Reya. Diki menganggukkan kepalanya.
" Saya mendapat perintah dari nyonya Citra untuk mengantarkan Nona Reya bertemu dengan Nona Regina Manager Hotel dan semua itu kata Nona Citra atas perintah tuan Sean. Nona Citra memberikan saya kontak Nona Regina dan berkomunikasi sebelum pertemuan dan sampai kami bertemu malam itu di dalam sebuah Club dan iya Nona ini yang kami temui. Saya berusaha untuk masuk dan menemani Nona Reya di dalam. Namun di larang Nona Regina dan saya menunggu di luar dan tidak berapa lama nona Citra menghampiri saya bersama Nona Rose dan menyuruh saya untuk mengantarkan Nona Rose untuk pulang dan Nona Citra mengatakan akan pulang bersama nona Reya,"
" Saya pun mengantarnya dan kembali lagi untuk menjemput Nona Reya. Karena saya harus memastikan Nona Reya baik-baik saja atau tidak. Namun saya bertemu dengan Citra dan mengatatakan Nona Reya sudah pulang," jelas Diki dengan apa adanya yang menceritakan kejadian itu.
Reya mendengus kasar yang tidak percaya Citra menjebak dirinya. Citta, Rose dan Regina ketakutan. Apa lagi Regina yang menunduk yang tidak bisa membela dirinya lagi.
" Semua jelaskan jika dia mengatur pertemuanku dengan wanita yang mengaku sebagai Regina," sahut Reya.
" Kau Regina apa benar Citra menyuruhmu melakukan itu?" tanya Sean yang harus mendengar dulu dari Regina.
" Iya Citra menyuruhku," sahut Regina dengan terbata-bata. Citra terdiam yang tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
" Sial," geram Sean.
" Kau Rose tau masalah ini?" tanya Sean menekan suaranya. Rose menunduk yang bergetar penuh dengan ketakutan.
" Rose jangan diam saja!" teriak Sean membuat Rose semakin takut.
" Maaf kak Sean. Aku hanya mengikuti Citra. Aku juga tidak tau rencana Citra apa. Kami hanya di Club dan Citra menyuruh Regina untuk minum dan aku tidak tau obat apa yang di berikan Citta untuk minuman Reya dan Citra merekam Reya yang minum," jelas Rose dengan terbata-bata menjelaskan kejadian itu.
Sean mengepal tangannya mendengar pengakuan tersebut yang ternyata adiknya sendiri adalah dalangnya.
__ADS_1
" Jadi semua masalah bermula karena hal ini. Makanya Reya bisa mengkonsumsi obat itu. Semua karena Citra yang merencanakannya," batin Sean yang tidak habis pikir.
" Kau mau mengelak apa lagi Citra. Semuanya sudah jelas. Jika kau yang melakukan semua ini. Kau sengaja menjebakku," ucap Reya dengan penuh kemarahan kepada Citra
" Kenapa kau melakukan semua ini Citra. Kenapa kau bertindak terlalu jauh!" teriak Sean dengan suaranya yang menggelegar. Citra diam dan hanya menatap kakaknya yang meneriakinya yang membuat tangannya juga terkepal.
" Kenapa kau diam Citra?" teriak Sean.
" Lalu kenapa jika aku melakukannya," sahut Citra yang juga berteriak dan seolah menantang Sean, " kakak seharusnya membantuku bukan malah memarahiku. Kenapa kakak berubah lebih peduli kepadanya di bandingkan aku. Wanita ini sudah menghancurkan keluarga kita mengambil papa dari kehidupan kita dan kembali membuat kerusakan. Apa kakak lupa janji kakak pada Citra untuk memberi pelajaran wanita ini," teriak Citra sembari menunjuk-nunjuk Reya.
" Kak Sean sekarang meneriaki ku. Hanya karena apa yang aku lakukan. Iya aku memang ingin menjebaknya, membuatnya mabuk-mabukan di dalam Club. Lalu menunjukkan pada papa perbuatannya. Suapaya papa memulangkannya. Aku melakukan semuanya. Lalu kenapa. Kakak membelanya. Kenapa kakak membelanya?" teriak Citra.
" Cukup Citra! Apa yang kamu lakukan sudah kelewatan. Kamu sadar tidak gara-gara perbuatan kamu...." Sean tidak bisa melanjutkan kalimatnya dan Reya juga berharap Sean tidak terpancing dan sampai mengatakan hal itu.
" Apa hah! Kenapa dia kenapa. Dia tidak kenapa-kenapa, dia baik-baik saja dan semakin merajalela mempengaruhi kakak. Kakak terus saja membelanya. Apa kakak sudah mulai menyukainya. Apa kakak tergoda dengan wanita murahan sepertinya. Apa dia sudah memberikan tubuhnya pada kakak!" teriak Citra.
Sean mendengarnya terkejut dan mengangkat tangannya ingin menampar Citra. Namun tidak jadi. Karena Sean masih menahan dirinya. Hal itu pasti membuat Citra kaget dengan Sean yang akan menamparnya dan Reya sendiri juga terkejut.
" Kakak mau memukulkku," sahut Citra dengan air matanya yang mengalir dengan napasnya naik turun yang tidak percaya jika orang yang hanya di sayanginya akan memukulnya.
Sean sendiri hanya diam mematung napasnya yang naik turun. Saat tangannya masih terangkat.
" Jahat! kakak sangat jahat!" Teriak Citra mendorong Sean membuat Sean mundur.
" Kakak benar-benar jahat. Jika kakak sudah berpihak kepadanya. Lalu Citra sama siapa. Kakak benar-benar keterlalu. Citra benci sama kakak. Kakak ingin memukulku di depan wanita ini. Kakak jahat!" teriak Citra yang langsung berlari dengan penuh kemarahan dan kekecewaan.
Sementara Sean diam di tempatnya yang terlihat tidak mengerti apa yang barusan di lakukannya. Dia sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya.
__ADS_1
Bersambung