Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 154.


__ADS_3

Reya dan Sean berada di dalam speed boat yang mana mereka langsung di akikah ke kepal laut yang berhenti di tengah laut.


"Kita mau kemana lagi?" tanya Reya dengan penuh kebingungan.


"Perjalanan kita sangat panjang dan kita akan pergi untuk mencari kebahagiaan kita," ucap Sean.


"Tapi mau kemana Sean?" tanya Reya yang sangat penasaran.


"Ayo. Kamu akan tau nanti," ucap Sean memberikan tangannya pada Reya agar Reya menggenggamnya dan Reya pun menerima genggaman tangan itu dan melangkah mengikuti Sean yang mereka berjalan di kapal Ferry yang pasti begitu luas dengan Reya yang terus melihat di sekelilingnya yang pasti banyak orang di sana.


Biasanya kapal seperti itu pasti menuju tempat yang tidak tau juga tempat apa. Tetapi kenapa tidak naik pesawat saja. Mungkin Sean juga banyak pertimbangan kenapa tidak menaiki pesawat.


Pelayan mengantarkan mereka ke salah satu kamar di kapal itu. Yang mungkin sebelumnya di persiapkan Sean yang tidak tau juga kapan Sean menyiapkan semua itu.


"Ayo Reya masuk!" ucap Sean mempersilahkan. Reya menganggukkan kepalanya dan pelayan itu setelah melaksanakan tugasnya doa juga langsung pergi yang mungkin sudah tidak ada kepentingan lagi.


Kamar yang di pesan Sean sangat luas dengan tempat tidur king size dengan jendela kaca yang lebar yang langsung bisa melihat ke lautan. Sangat mewah isi kamar itu yang membuat Reya pasti kagum. Namun tetap Reya kebingungan.


"Kita akan tinggal di sini?" tanya Reya.


"Untuk beberapa hari sampai kita sampai ketempat tujuan kita," jawab Sean.


"Apa tujuan kita sangat jauh?" tanya Reya. Sean menganggukkan kepalanya dan melangkah menghampiri Reya berdiri di depan Reya.


"Apa yang kamu khawatirkan Reya. Bukannya kita akan menghadapi semuanya. Kita sudah berjanji untuk bersama-sama," ucap Sean yang melihat keraguan di wajah Reya.


"Dan ini namanya bukan menghadapi Sean. Dengan seperti ini yang ada kita melarikan diri. Tidak menyelesaikan masalah," ucap Reya.


"Reya aku tau apa yang harus aku lakukan. Kita hanya pergi sementara dan setelah itu kita akan kembali dan masalah itu selesai," ucap Sean.


Reya mengkerutkan dahinya kebingungan mendengar perkataan Sean.


"Apa maksud kamu Sean?" tanya Reya lagi.

__ADS_1


"Kamu akan tau," jawab Sean yang lagi-lagi hanya membuat Reya penasaran.


Sean menghela napasnya dan mencium lembut kening Reya.


"Kamu jangan khawatir Reya. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu sebaiknya mandi dan bersih-bersih. Karena nanti kita akan bertemu dengan Dokter," ucap Sean membuat Reya menatap Sean dengan penuh tanda tanya.


"Dokter apa maksud kamu?" tanya Reya.


"Dokter kandungan karena. Hari ini kamu sangat berjuang untuk anak kita. Kamu banyak mengalami kesulitan dan aku takut jika terjadi sesuatu pada anak kita. Jadi kita harus segera memeriksakan kandungan kamu," ucap Sean dengan lembut.


"Memang Dokternya sudah ada?" tanya Reya.


"Aku sudah menyiapkannya," jawab Sean.


"Baiklah kalau begitu. Aku juga sangat Khawatir dengan bayi kita," ucap Reya yang sampai melupakan kondisi janinnya yang sejak tadi diajaknya berjuang bersama-sama.


"Iya kamu jangan Khawatir semuanya akan baik-baik aja. Dokter akan segera memeriksa bayi kita," ucap Sean.


"Ya sudah kalau begitu. Hmmm kamu menyuruhku mandi lalu apa aku ada pakaian ganti?" tanya Reya yang memang tidak membawa apa-apa.


"Baiklah kalau begitu," sahut Reya yang tidak bertanya lagi. Apakah pakaian itu dapat dari mana dan ini itu. Dia juga merasa gerah dan langsung menuju kamar mandi yang ingin bersih-bersih dulu.


Sean menghela napasnya sedang lega yang merasa dia dan Reya sudah aman untuk sementara, "untung saja mama dan papa tidak sempat berbuat jahat pada Reya dan juga anak kami. Untung Citra langsung memberitahuku dan Reval juga banyak membantu," batin Sean yang begitu lega.


Memang Reval yang banyak membantu. Karena Citra langsung meminta bantuan Reval dan syukur-syukur Reval bisa berputar otak dan menemukan Reya secepatnya.


********


Anggika berada di ruang tamu yang sejak tadi mondar-mandir yang tidak tau apa yang membuatnya gelisah dengan terus menelpon.


"Kemana sih kamu Citra? kenapa kamu tidak pulang-pulang juga apa kamu tidak bisa melihat waktu," umpat Anggika yang ternyata mengkhawatirkan Citra. Karena sejak tadi Citra tidak kunjung pulang.


"Laki-laki brengsek itu. Aku yakin Citra pasti bersamanya. Tadi jelas-jelas ada Citra ikut bersama Sean, Reya dan juga dia. Tetapi kemana mereka dan kenapa sejak tadi ponsel Citra tidak bisa di hubungi," Anggika terus bergerutu yang semakin panik dengan putrinya yang tidak pulang-pulang juga.

__ADS_1


"Argggghhh, awas aja. Kalau memang benar Citra masih menjalin hubungan dengan Reval. Mama akan memberi anak itu pelajaran," umpat Anggika dengan mengepal tangannya.


Tiba-tiba Argantara datang dengan wajah penuh amarah yang sepertinya Amarah Argantara juga menggebu-gebu.


"Apa ada informasi tentang mereka?" tanya Anggika.


"Tidak ada aku tidak tau kemana Sean membawa Reya," jawab Argantara.


"Citra juga belum pulang pah dan aku mencoba menghubunginya sejak tadi. Tapi tidak ada jawaban sama sekali," ucap Anggika.


"Jangan bertanya masalah Citra padamu Anggika. Dia tadi ada bersama Sean dan itu artinya dia bersama Sean dan jika Sean di temukan. Maka Citra juga," ucap Argantara yang tampak kesal.


"Kamu kenapa sih mas. Apa kamu tidak peduli dengan Citra. Aku khawatir pada Citra," tegas Anggika.


"Sudah Anggika stop aku sudah mengatakan jangan membahas Citra dulu. Dia bersama Sean. Jadi Citra pasti baik-baik saja. Kamu mengerti atau tidak dengan apa yang aku katakan," tegas Argantara yang mulai emosi dan tidak mau emosinya semakin keluar. Argantara pun memilih untuk pergi.


"Dia tidak tau apa yang di alami Citra. Makanya marah-marah saja taunya," umpat Anggika yang kesal sendiri.


**********


Sementara Citra dan Reval yang sejak tadi cari Shofia berada di dalam mobil yang masih di pinggir pantai dengan hujan yang deras dan mereka berteduh di dalam mobil yang mana mereka duduk di bangku belakang dengan Citra yang mengobati luka di wajah Reval akibat baku hantam tadi.


Terdengar suara lirihan kesakitan pada Reval saat Citra mengobatinya.


"Maaf ya kak Reval, Citra akan pelankan lagi," ucap Citra yang takut menyakiti Reval saat mengobati di bagian pipi Reval.


"Tidak apa-apa Citra. Aku hanya merasa sedikit pedih," jawab Reval yang menahan sakit.


"Maafkan Citra ya kak Reval. Harus merepotkan kak Reval dalam masalah ini dan akibatnya kakak malah terluka," ucap Citra yang merasa tidak enak dengan Reval.


"Tidak Citra, seperti yang aku katakan. Reya juga sahabat ku dan sudah sewajarnya aku membantunya dan masalah urusan percintaannya itu urusan dia dan kakakmu. Jadi aku tidak berhak menyakitinya dan aku akan membantu ketika ada yang menyakitinya," ucap Reval.


"Kak Reval sangat baik," ucap Citra dengan tersenyum.

__ADS_1


"Tidak Citra aku tidak sebaik apa yang kamu pikir," sahut Reval.


Bersambung


__ADS_2