
Citra dan Reval langsung menuju parkiran untuk ke mobil dan Citra masih terlihat sangat panik dan Reval langsung memegang tangannya saat Citra ingin membuka pintu mobil.
"Ada apa Citra?" tanya Reval menghadap wanita di depannya itu yang merasa ada sesuatu pada Citra dan Reval merasa tidak tenang sama sekali.
Citra yang spontan langsung memeluk Reval. Seolah Citra butuh seseorang untuk memberikannya ketangan. Karena hatinya yang tidak baik-baik saja sekarang. Pelukan erat itu membuat Reval jadi bingung yang tidak tau apa yang harus di lakukan Reval. Namun tubuh Citra yang bergetar yang berada di pelukannya. Mampu membuat empati keluar dari diri Reval dan memeluk Citra sembari ingin memberi Citra ketengan.
Mereka ternyata lebih sweet sekarang. Sama-sama berpelukan di parkiran seolah saling mencintai yang memberi ketenangan dengan cara mereka sendiri.
Pelukan mesra dan sangat erat yang mengandung banyak arti itu. Di saksikan seorang Pria dari dalam mobil. Siapa lagi kalau bukan Barra. Barra yang duduk di kursi pengemudi mengepal tangannya bahkan memukul stir mobil saat melihat Citra dan Reval berpelukan.
Hal itu membuat Barra emosi yang terlihat jelas dari wajahnya yang memerah dengan rahang kokohnya yang mengeras.
"Dasar wanita munafik, kau mempermalukan ku di depan anak-anak dan bahkan putus denganku. Tetapi ternyata kau juga selama ini bermain di belakangku dengan kau bersama Dosen sialan itu. Kau berani melakukan ini Citra. Lihat saja aku akan membalas kalian berdua. Kalian pikir bisa enak-enakan setelah aku benar-benar sudah tidak ada harga dirinya lagi," umpat Barra yang penuh dengan amarah kekesalan kepada Reval dan juga Citra.
Dia merasa yang paling tersakiti atau di khianati karena baru putus dengannya Citra sudah main peluk-pelukan aja dengan Reval dan bahkan pernah ada moment Barra cemburu. Karena Citra yang sepertinya mengagumi Reval dan belakangan ini banyak insiden Reval dan Citra.
Melihat hal itu membuat Barra yakin jika Citra sudah menghiyanatinya dan putus itu hanyalah alasan saja. Jadi jelas Barra tidak terima hal itu.
**********
Setelah Sean mengantarkan Reya pulang dan pasti menenagkan Reya dulu sebelum dia meninggalkan Reya. Sean akhirnya pulang kerumah dengan buru-buru untuk menemui Citra. Sean sangat takut jika Citra yang belum mendapat penjelasan darinya langsung mengadukan kepada orang tuanya dan itu tidak akan di biarkan Sean terjadi.
"Citra!" panggil Sean yang sudah memasuki rumah dengan wajahnya penuh khawatir.
"Sean ada apa? Kenapa teriak-teriak?" tanya Argantara yang ada di ruang tamu bersama istrinya.
"Benar Sean kamu ini kenapa? teriak-teriak aja. Lagian Citra juga tidak ada di rumah Citra belum pulang," sahut Anggika yang juga heran dengan Sean.
__ADS_1
"Jadi Citra belum pulang. Itu artinya mama belum tau apa yang terjadi. Mama juga terlihat baik-baik saja," batin Sean sedikit merasa lega karena melihat mamanya yang masih tenang yang artinya Citra belum memberitahu apa yang terjadi.
"Sean kenapa kamu diam? Mama sedang bicara denganmu?" sahut Anggika.
"Oh tidak mah, aku pikir Citra sudah pulang," sahut Sean yang mencoba untuk tenang.
"Citra belum pulang. Kamu sendiri tumben cepat sekali pulangnya," sahut Anggika heran dengan Sean yang pulang cepat.
"Tidak apa-apa mah," sahut Sean.
"Aku harus mengatakan sama papa. Bahwa Citra melihat Reya. Tapi aku tidak boleh mengatakan hal itu saat di depan mama dan nanti akan brabe semuanya. Aku harus mencari waktu yang tepat," batin Sean.
Sean melihat mama dan papanya mengobrol dan Sean ikut bergabung di ruang tamu untuk jaga-jaga. Agar Citra tidak mengabari Anggika dan mengatakan yang sebenarnya. Begitu juga dengan dia yang sedang mencari moment yang tepat untuk bisa berbicara dengan Argantara.
************
Reval sesekali menoleh ke arah Citra. Tadi Citra sangat ceria terus tersenyum dan sekarang sangat berubah 180 derajat hang terlihat lesu dengan pemikiran yang membuat Reval heran. Karena Citra memang belum mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.
Tiba-tiba di tengah perjalanan mobil Reval berhenti dengan tiba-tiba yang membuat Citra yang melamun terkejut sedikit.
"Ada apa kak?" tanya Citra.
"Tidak tau, tiba-tiba mati, biar saya lihat sebentar," ucap Reval yang langsung keluar dari mobil dan Citra hanya mengangguk saja.
Tidak lama Reval kembali dengan membuka pintu mobil.
"Bannya kempes dan saya tidak punya ban serap," ucap Reval yang membuat mobil berhenti tiba-tiba karena ban yang kempes.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Citra yang jadi khawatir.
"Aku akan hubungi orang bengkel untuk mengurus mobilnya.Jalannya sangat sepi takut ada ada hal yang tidak di inginkan. Karena tempat ini sangat rawan. Jadi kita cari tempat keramaian dan biar orang bengkel yang mengurus mobilnya," ucap Reval memberikan saran.
Citra melihat di sekelilingnya memang sangat sepi bahkan kendaraan melintas juga tidak ada dan Citra jadi seram sendiri.
"Ayo Citra!" ajak Reval. Citra mengangguk mengambil tasnya dan ponselnya. Lalu langsung keluar dari mobil.
"Kita mau kemana?" tanya Citra yang sudah ada di depan Reval.
"Kita jalan kesana saja. Di sana banyak lampu dan mungkin ada pemukiman," jawab Reval menebak-nebak saja. Karena di ujung sana memang terlihat sangat terang.
"Baiklah!" sahut Citra yang mengikut saja. Karena mana mungkin mereka menunggu di tempat yang sepi dan sangat menyeramkan itu.
Langkah Citra dan Reval terus berjalan untuk mencari tempat keramaian dan membiarkan mobil Reval di tempatnya semula. Karena Reval sudah menghubungi pihak bengkel yang menjadi langganannya. Jadi pasti akan aman-aman aja bagi Reval.
Di tengah perjalan Citra dan Reval. Tiba-tiba tanpa di undang hujan turun tanpa memberi kabar membuat Reval dan Citra kaget dengan kepala mereka yang sama-sama terangkat menatap langit.
"Ayo kesana!" tunjuk Reval pada pondok yang sepertinya aman untuk berteduh. Citra mengikut saja dan mereka berdua sama-sama berlari menuju tempat itu sebelum akhirnya basah-basahan.
Dan ketika berada di pondok itu dan pasti mereka juga basah. Citra membuang napasnya perlahan kedepan dengan memeluk tubuhnya dengan tangannya sembari mengusap-usap lengannya yang mana Citra sangat kedinginan.
Reval yang ada di sampingnya melihat Citra seperti itu membuat Reval langsung berinisiatif untuk memberikan jaketnya pada Citra yang tidak ingin Citra kedinginan.
"Makasih kak," ucap Citra. Reval menganggukan kepalanya dengan tersenyum kepada Citra. Citra kembali menghela napas.
Bersambung
__ADS_1