
Erina yang terus larut dalam kesedihannya melihat Reval yang sejak tadi diam tanpa mengatakan sepatah katapun. Karena dia juga datang kerumah sakit itu atas perintah istrinya.
"Reval aku juga minta pada kamu yang membuat kamu tidak merasakan kehidupan yang selayaknya dan aku ibu yang jahat yang sudah mengunakan kamu untuk keserakahanku. Aku tidak pernah menjadi ibu untuk kamu dan memang tidak layak dan hanya Sahila yang layak," ucap Erina yang tidak lupa meminta maaf pada Reval karena memang hanya Reval yang sangat kelihatan begitu membencinya.
Reval hanya diam yang tidak merespon permintaan maaf itu.
"Apa kamu memberiku ampunan dari semua perbuatanku?" tanya Erina.
Reval menghela napasnya dan hanya menganggukkan kepalanya. Namun Citra suaminya itu mendorong Reval pelan agar mendekati Erina. Awalnya Reval ragu. Namun dia harus mengenyampingkan egonya untuk kebaikan.
"Reval bicaralah sedikit pada mama," ucap Citra pelan.
"Aku sudah melupakan semuanya. Aku tidak bisa meminta dengan siapa aku di lahirkan dan bagaimana kehidupanku dan jika tidak terjadi hal itu. Kebahagiaan yang aku dapatkan sekarang tidak akan ada dan memang semua ini sudah di takdirkan, aku tidak bisa mengatakan apa-apa," ucap Reval dengan suara datarnya yang tidak ingin banyak bicara.
"Terima kasih Reval kamu sudah memaafkan ku. Aku benar-benar sangat menunggu hal ini," ucap Erina yang sangat bahagia. Reval hanya mengangguk.
"Mah sekarang mama sebaiknya istirahat saja dan jangan memikirkan apa-apa. Kita semua sudah di sini menemani mama," ucap Reya m
"Mama akan beristirahat Reya. Makasih ya kamu sudah datang," ucap Erina.
"Iya ma. Oh iya mama. Mama itu sekarang sudah punya cucu. Tetapi maaf ya Reya tidak bisa membawanya kemari," ucap Reya yang menyampaikan kabar bahagia itu.
"Benarkah!" tanya Erina.
"Iya mah. Maaf tidak membawanya kemari," ucap Reya.
"Tidak apa-apa Reya. Mama sangat senang kamu menyampaikan kabar ini," jawab Erina tersenyum dengan penuh keharuan.
"Tetapi mama mau lihat tidak cucu mama. Reya punya Fotonya," ucap Reya. Erina mengangguk dan Reya langsung menunjukkan foto Devan yang ada di ponselnya.
"Ini cucu mama?" tanya Erina.
"Iya mah. Dia sangat tampan bukan. Namanya Devan dan mama juga harus. Jika Citra juga hamil dan mama sudah punya 2 cucu," ucap Reya. Erina melihat ke arah Citra dan Citra menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Terimakasih kalian sudah mau datang kemari dan sudah membuka pintu maaf untukku. Aku benar-benar merasa lega dengan semua ini dan ini semua karena bantuan kamu Anggika dan juga Argantara. Kalian orang yang berhati sangat besar," ucap Erina.
"Kami hanya bisa melakukan apa yang bisa kami lakukan Erina dan seperti anak-anak mengatakan masalah itu sudah kami lupakan," sahut Anggika.
"Benar Erina dan sebaiknya kamu jaga kesehatan saja. Kami sudah mengikuti keinginan kamu," sahut Argantara.
"Terima kasih untuk semua itu. Aku benar-benar sangat bahagia di hari ini bisa melihat kalian dan mendengar suara kalian dan jika aku ingin meminta satu lagi apa boleh?" tanya Erina.
__ADS_1
"Mama ingin apa. Jika Reya bisa mengabulkannya maka Reya akan memberinya?" tanya Reya.
"Reval boleh tidak kamu memanggilku ibu dan menggengam tanganku," ucap Erina yang melihat kearah Reval.
Reval hanya diam mendengar permintaan itu dan semua mata melihat kearah Reval.
"Kak Reval ayolah," bujuk Citra.
"Reval lakukanlah," ucap Reya.
Reval menghela napasnya dan melakukan apa yang di suruh. Dia menggengam tangan Erina.
"Mama. Kamu tetap ibu ku yang sudah melahirkan terima kasih mah sudah melahirkan ku," ucap Reval yang akhirnya hatinya luluh.
Erina tersenyum mendengarnya dan menatap Reval terus dengan air matanya yang mengalir yang bergantian dengan Reya dan perlahan memejamkan matanya.
"Mah," panggil Reya dengan pelan. Namun tidak ada respon.
"Mama!"
"Mama!"
"Mama bangun, mama! Mama!" ucap Reya semakin panik.
Sean langsung memeriksa nadi Erina dan suara mesin jantung pun sudah berhenti.
"Sudah tidak ada Reya! Tante Erina sudah pergi," ucap Sean yang membuat Reya kaget.
"Mama!" teriak Reya yang langsung memeluk Erina dengan menggoyang-goyangkan tubuh Erina.
"Bangun mah!"
"Bangun!"
"Jangan pergi secepat itu!"
"Bangun!"
Reya berteriak histeria yang kehilangan Erina dan Reval diam terpaku yang air matanya juga keluar pada akhirnya. Tangan Erina masih menggenggam tangannya.
"Ternyata memang benar ini pertama dan terakhir aku melihatnya," batin Reval yang mengingat perkataannya sebelumnya saat di rumah bersama Citra.
__ADS_1
Anggika turut sedih dengan kematian Erina begitu juga dengan Argantara yang bagaimana pun Erina adalah mantan istrinya dan Citra yang juga menangis melihat kepergian Erina yang sekarang di peluk Sean yang pasti ikut merasakan kesedihan seperti Reya.
Bagaimana pun jahatnya Erina yang memanfaatkan Reya. Namun tetap Erina pernah menyayanginya dan itu Reya yang merasakan. Jadi sangat wajar Reya merasa kehilangan. Karena puluhan tahun bersama dengan Erina terus menerus.
************
Pemakaman.
Setelah proses di rumah sakit selesai. Dan pengambilan jenazah di beri kelancaran dari rumah sakit.
Akhirnya Reya dan yang lainnya mengantarkan Erina ke tempat peristirahatan terakhir Erina. Mereka memakai pakaian putih untuk mengikuti proses pemakaman dan Sahila juga hadir di sana.
Erina yang sudah di kuburkan dengan baik dan mereka yang sekarang menabur bunga di atas pusarah makam itu memberikan yang terbaik untuk Erina.
Begitu juga dengan Reval yang mengikuti proses pemakaman itu dan melakukan tugasnya sebagai anak dan mungkin itu yang bisa di lakukannya.
"Mama tenanglah di sana. Kami semua di sini sudah memaafkan mama dan kami sudah melupakan semua yang terjadi dan termasuk Reya yang akan tetap mencintai mama seperti ibu kandung Reya. Makasih sudah merawat Reya dengan baik," ucap Reya dengan meneteskan air matanya mengelus-elus mesan itu.
"Selamat jalan mah. Kamu tetap ibuku dan aku sangat bahagia di lahirkan ke dunia ini. Aku benar-benar berterima kasih untuk mama dan semoga saja mama mendapatkan tempat yang indah di atas sana," ucap Reval.
"Amin, kita berdoa untuk kepergian Erina dan aku juga pasti punya kesalahan dan pasti banyak kepada kamu Erina dan aku sangat bahagia di hari-hari terakhir kamu. Aku dan mas Argantara bisa melakukan banyak hal dan kita juga sudah saling memaafkan dan tempat terindah sekarang bersamamu," sahut Anggika dengan tersenyum tipis.
"Tante Erina sudah tidak sakit lagi. Tante Erina sudah bahagia di atas sana," ucap Citra.
"Iya sekarang yang terpenting kita semua sudah saling memaafkan dan kembali lagi apa yang terjadi di jadikan sebagai pelajaran," sahut Sahila.
"Ya sudah kalau begitu ada sebaiknya kita semua pulang," sahut Sean.
"Iya ini sudah sore ayo kita pulang," sahut Argantara.
Mereka semua mengangguk dan mulai berdiri untuk meninggalkan pemakaman itu. Sean tidak lupa untuk merangkul istrinya dan begitu juga dengan Reval yang merangkul Citra.
"Makasih kak Sean sudah memberiku arahan malam itu. Karena dengan semua yang kak Sean katakan aku ada di saat terakhir mama," ucap Reya melihat suaminya.
"Sama-sama sayang," jawab Sean mencium kening Reya.
"Makasih ya Citra sudah memaksaku untuk bertemu mama dan jika tidak mungkin aku akan menyesal seumur hidup," ucap Reval.
"Iya sayang," sahut Citra yang tersenyum.
Bersambung
__ADS_1