
"Assalamualaikum!" sapa Citra dan Reval yang sudah kembali dari rumah sakit.
"Walaikum salam," sahut Reya, Sean, Anggika dan Argantara.
"Aduh Tante cantik sudah pulang," sahut Anggika yang menirukan suara baik.
"Devan tampan si anak baik," ucap Citra dengan gemes yang langsung mencium bayi kecil itu.
"Jangan ciumi aku Tante. Tante habis dari luar dan bau, pasti juga banyak virusnya," ucap Anggika ala-ala menirukan baik.
"Tante sudah cuci tangan. Kamu ini ya," geram Citra. Sean dan Reya hanya tersenyum saja. Namun Reval sudah bergabung di meja Sean dan Reya.
"Bagaimana kandungan kamu Citra?" tanya Reya.
"Hmmm, baik-baik aja," sahut Citra yang akhirnya menyusul suaminya yang bersama Reya dan Sean.
"Tidak ada masalah kak Reya. Aku sama kak Reval awalnya memang takut kenapa-kenapa dengan bayi kami. Tetapi sejauh ini sama sekali tidak ada masalah dan Alhamdulillah baik-baik aja," jelas Citra.
"Alhamdulillah kalau begitu kakak ikut senang mendengarnya," sahut Reya.
"Bahkan Dokter bilang janinnya Citra sangat aktif ya Alhamdulillah sangat banyak perkembangan," sahut Reval menambahi.
"Syukurlah kalau begitu. Tetapi kamu juga harus tetap hati-hati juga dan tidak boleh lengah," sahut Sean yang memberi pesan pada Citra.
"Apa yang di katakan kak Sean sama seperti apa yang di katakan Dokter. Kak Sean sudah seperti Dokter saja," ucap Citra.
"Karena memang Citra. Kata-kata itu sering di ucapkan kak Sean pada kakak. Dia sering mengingatkan kakak sewaktu hamil dan memang dia yang paling repot, paling sensitif dan begitu. Huhhhh..... tidak bisa di katakan dengan apa-apa," sahut Reya dengan menghela napas.
"Semua itu kan demi kebaikan kamu sayang," ucap Sean dengan mengelus-elus pucuk kepala istrinya tersebut.
"Iya-iya sayang demi kebaikan aku," ucap Reya.
"Jadi Citra kamu juga harus dengar apa yang di katakan Sean. Karena lihat contohnya Reya. Apa yang di katakan Sean untuk kebaikannya dan pasti juga kebaikan kamu. Jadi jangan bandel," sahut Reval.
"Iya-iya sayang. Bawel amat sih," sahut Citra.
"Bukan bawel sayang itu demi kebaikan kamu," ucap Reval.
"Iya sayang," sahut Citra.
"Oh iya kalian berdua sudah makan siang belum?" tanya Reya.
"Belum! Orang tadi nggak di ajakin makan. Apa salahnya coba tadi ajak istrinya makan di luar. Bukan langsung pulang," sahut Citra menyindir suaminya.
"Kamu kenapa nggak bilang kalau makan di luar," sahut Reval.
__ADS_1
"Ya kan seharusnya tanpa di bilang sudah tau. Masa apa yang di inginkan istrinya nggak tau sih," ucap Citra.
"Iya-iya deh," sahut Reval.
"Makanya Citra jangan kode-kode. Kalau mau makan ya makan. Jangan ada kode ini dan itu," ucap Sean.
"Tuh dengerin," sahut Reval yang kesenangan ada membelanya.
"Wanita itu memang perlu kode-kode," sahut Citra.
"Setuju," sahut Reya yang setuju.
"Ya sudah-sudah sekarang mau makan tidak. Biar aku ambil kedapur?" tanya Reval yang lebih baik melayani istrinya.
"Boleh," sahut Citra.
"Assalamualaikum," sapa Sahila yang tiba-tiba datang.
"Walaikum salam," sahut semuanya dan Reval tidak jadi kedapur.
"Mama," sahut Reval yang mencium punggung tangan mamanya dan Citra, Sean dan Reya juga ikut.
"Mama kok tiba-tiba datang?" tanya Reval.
"Memang kenapa nggak boleh," sahut Sahila.
"Mbak Sahila," sahut Anggika yang menghampiri Sahila. Argantara juga menyusul.
"Hay mbak!" sapa Sahila dengan tersenyum.
"Ya ampun ternyata si tampan sedang tidur," ucap Sahila yang melihat Devan.
"Ada apa ini mbak. Apa ada sesuatu?" tanya Anggika.
"Tidak apa-apa mbak. Jangan tegang seperti itu. Saya datang kemari hanya ingin membawakan makanan. Ikan pindang asam, menu baru di Restaurant mama," ucap Sahila yang sejak tadi membawa paper bag.
"Ya ampun pasti enak banget," sahut Citra yang sudah tidak sabaran untuk makan.
"Mama kenapa nggak bilang-bilang. Seharusnya Reval bisa jemput sendiri," sahut Reval.
"Ya memang kenapa kalau mama datang kemari kan mama ingin ketemu Citra, Reya, Sean dan semuanya," sahut Sahila.
"Ihhh kamu ini ya sayang protes mulu kerjanya. Biar aja mama bawa sendiri. Makanya kamu juga peka jadi anak," sahut Citra menegur kesal suaminya itu.
"Ya sudah sekarang sebaiknya jangan ribut-ribut dan sekarang kita sebaiknya makan saja. Citra kamu tadi mau makan bukan," ucap Reya.
__ADS_1
"Oh iya sangat kebetulan. Untuk aja mama datang dan sekarang kita bisa makan, masakan enak ini," sahut Citra yang kesenangan.
"Tapi Reya sudah makan," sahut Sahila.
"Tidak apa-apa Tante. Lagian Reya mau coba ikan buatan Tante," sahut Reya yang sebenarnya belum kenyang.
"Ya sudah kita makan saja ya," sahut Argantara.
"Ayo-ayo silahkan di cicipi," sahut Sahila.
"Mah sini biar Devan sama aku aja," sahut Reya yang langsung mengambil Devan dari tangan Anggika supaya Anggika bisa makan.
"Sayang Devan bawa kedalam aja. Lagian dia juga sudah tidur. Jadi biar bibi aja yang jaga, kita makan sama-sama di sini," ucap Sean.
"Ya sudah kalau begitu aku bawa Devan masuk sebentar ya," ucap Reya.
"Iya Reya," sahut Sahila dan Reya pun langsung masuk kedalam rumah dan yang lainnya sudah mulai mencicipi masakan yang di bawa oleh Sahila dan tampaknya mereka semua begitu senang dengan makanan yang di bawakan Sahila tersebut.
***********
Reya, Sean, Citra dan Reval sedang mengobrol di ruang tamu dan tiba-tiba Anggika dan Argantara menghampiri mereka dan ikut duduk bergabung bersama mereka ber-4.
"Mama sama papa tadi sore dari mana sih?" tanya Citra.
"Kami habis dari kantor Polisi yang kebetulan ada panggilan dari Polisi," jawab Anggika.
"Ada apa memangnya apa ada masalah?" tanya Reya yang khawatir.
"Kami melihat kondisi Erina," jawab Anggika membuat Reval dan Reya kaget.
"Kok tumben?" sahut Sean.
"Polisi memberitahu kami. Jika Erina keadaannya tidak baik dan makanya mama dan papa melihat ke sana dan ternyata Erina selama ini di rawat di rumah sakit. Karena penyakitnya tomor yang dideritanya," jelas Anggika.
Hal itu membuat semua orang kaget. Termasuk Reya dan juga Reval. Bahkan Reya tampak sedih mendengar hal tersebut.
"Papa memberitahu ini kepada kalian termasuk kamu Reya dan juga kamu Reval untuk bisa melihat kondisinya. Reya dia memang bukan ibu kandung kamu. Dan dia bukan ibu yang baik untuk kamu. Dia wanita jahat yang selalu jahat pada kamu. Tapi bagaimanapun dia membesarkan kamu dan memberi kamu nama. Sehatnya dia pasti pernah menyayangi kamu. Dan kamu juga Reval. Bagaimana pun jahatnya Erina dia adalah ibu kandung kamu. Papa hanya ingin kalian coba untuk melihat keadaannya yang sangat parah," ucap Argantara.
Reya dan Reval hanya terdiam yang masih schock mendengar keadaan Erina. Karena memang selamat Erina di penjara. Reya atau siapapun tidak pernah menjenguk Erina.
"Erina kanker tumor stadium akhir dan tubuhnya juga sangat mengurus. Jujur kebencian mama hilang kepadanya saat melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan dan bahkan dia kesulitan bicara. Tetapi dia ingin bertemu kamu Reya," ucap Anggika.
"Dan kamu juga Reval. Bukan hanya kalian dia ingin bertemu kamu Citra dan juga Sean. Dia ingin menyampaikan maaf kepada kalian," lanjut Argantara yang memang apa adanya.
Belum ada respon dari Reya maupun Reval sama sekali.
__ADS_1
Bersambung