Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 247


__ADS_3

Reval dan Anggika ternyata pulang bersamaan dengan Reval yang menyetir dan Anggika duduk di sebelahnya.


"Maaf ya Reval harus merepotkan kamu. Saya tidak bawa mobil. Jadi pulang harus menumpang pada kamu," ucap Anggika yang merasa tidak enak.


"Tidak perlu minta maaf Tante. Tidak ada yang di repotkan juga. Lagian kita juga sama-sama mau kerumah sakit. Jadi jangan Tante jangan berlebihan," sahut Reval dengan santai sembari menyetir.


"Iya sih, kita memang lagi sejalan," sahut Anggika yang tersenyum.


"Hmmmm, oh iya Tante makasih ya," ucap Reval tiba-tiba.


"Makasih atas apa?" tanya Anggika heran.


"Banyak hal. Tetapi yang satu ini aku sangat berterima kasih pada Tante dan belum sempat mengucapkannya. Jika Tante yang sudah membawaku keruamh sakit saat itu. Aku tidak tau apa yang akan terjadi pada ku. Jika saat itu tidak ada Tante, aku benar-benar sangat berterima kasih," ucap Reval yang menyampaikannya hal yang belum sempat di sampaikannya.


"Dari mana kamu tau. Jika saya yang membawa kamu kerumah sakit?" tanya Anggika.


"Awalnya Tante Erina yang mengatakan jika dia yang membawaku saat itu. Dia juga mendonorkan darahnya. Namun kenyataannya aku Tante yang membawaku ketika aku bertanya pada Suster. Jadi aku benar-benar sangat berterima kasih dengan kebaikan Tante sudah membuat bisa berada di sini kembali," ucap Reval dengan tulus.


"Jangan berlebihan Reval Sean yang membuat kamu terluka parah dan saat itu. Hanya ada saya di sana dan sangat tidak mungkin saya meninggalkan kamu dalam keadaan terluka. Saya hanya menggunakan kemanusiaan saya untuk membawa kamu. Terlepas dari apa yang kamu lakukan kepada Citra," ucap Anggika.


"Saya benar minta maaf untuk semua itu," ucap Reval.


"Saya tidak tau Reval. Ini sudah menjadi permintaan maaf kamu entah yang keberapa kali. Dari pada meminta maaf terus kamu tebus kesalahan kamu kepada Citra. Kamu rangkul dia. Bukannya kalian baru kehilangan anak kalian. Jadi saling menguatkan lah dan buktikan pada Citra jika kamu benar-benar mencintainya," ucap Anggika yang sudah mendukung Reval dan Citra 100 persen.


"Dari perkataan Tante sama dengan waktu itu dan ini lebih jelas. Jika Tante tidak mempermasalahkan hubungan kami. Walau dengan status yang Tante tau itu," ucap Reval.


"Jika saya mengatakan seperti ini berarti tidak ada yang salah dari hubungan kalian dan jangan memikirkan apa yang saya katakan. Fokus saja pada Citra," sahut Anggika dengan santai.

__ADS_1


Jelas Reval harus memikirkan apa yang di katakan Anggika. Bahkan menyetujui hubungan dia dan Citra dan katanya tidak ada yang salah bagaimana tidak memikirkan hal itu.


Dratt-dratt-Dratttt.


Tiba-tiba ponsel Anggika berdering dan Anggika langsung mengangkatnya setelah melihat siapa yang menelpon.


"Hallo Citra! ada apa Citra?" tanya Anggika yang ternyata Citra yang menelpon. Mendengar nama Citra membuat Reval menoleh ke arah Anggika yang penasaran dengan Anggika dan Citra yang berbicara lewat telpon.


"Baiklah Citra. Mama kebetulan lagi bersama Reval menuju rumah sakit. Mama akan segera kesana," ucap Anggika yang langsung menutup telponnya.


"Ada apa Tante? apa ada sesuatu?" tanya Reval yang mendadak panik.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Citra menelpon mengabari jika mas Argantara sudah siuman," ucap Anggika yang menyampaikannya kabar baik itu yang membuat Reval terlihat menghela napas.


"Alhamdulillah," sahut Reval yang benar-benar sangat lega dan pasti sangat bahagia dengan kabat baik itu.


"Ya sudah Reval. Kita langsung saja cepat ke rumah sakit," ucap Anggika.


***********


Rumah sakit.


Sean, Reya, Citra, Reval, Anggika dan kakek berada di ruang perawatan Argantara yang mana Argantara sudah siuman. Namun masih sangat lemas dan bahkan belum bicara sejak tadi yang mana hanya melihat satu persatu orang-orang yang ada di sekelilingnya itu.


"Apa ada yang sakit pah?" tanya Citra dengan memegang tangan Argantara dan Argantara menjawab dengan gelengan kepala dengan pelan.


"Papa baik-baik aja kan?" tanya Sean. Argantara juga menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


"Syukurlah jika papa sudah siuman. Semua orang sangat mengkhawatirkan papa," ucap Citra.


"E-e-erina ya-yang, membuatku, seperti ini," ucap Argantara dengan berbicara yang terbata-bata yang mengingat semua kejadian saat insiden dia dan Erina.


"Iya pah. Kami semua tau. Jika dia yang mencoba untuk membunuh papa. Papa jangan khawatir karena dia sudah di penjara dia akan mendapat hukuman yang terberat sesuai dengan perbuatannya," ucap Reval.


"Maaf!" sahut Argantara meneteskan air matanya yang meminta maaf dengan penuh penyesalannya dengan semua yang terjadi. Kata maaf yang terdengar itu membuat mereka semua saling melihat.


"Semuanya sudah terjadi pah. Papa tidak perlu lagi minta maaf. Semua ini pelajaran untuk kita semua," sahut Citra dengan matanya yang berkaca-kaca.


Argantara melihat kearah Anggika dengan menatap sendu Anggika dan Anggika tatapannya hanya biasa saja.


"Maafkan aku Anggika. Aku sudah melakukan banyak kesalahan. Aku menghiyanati pernikahan kita berkali-kali. Maafkan aku yang tidak pernah bersyukur dengan kehadiran kamu sebagai pendampingku. Maafkan aku yang sudah mengambil kebahagiaanmu dan selama di sisiku. Kamu banyak menderita, maafkan aku," ucap r


Argantara dengan ketulusannya yang meminta maaf pada Anggika.


"Sudahlah mas. Jangan meminta maaf lagi. Semua tidak sepenuhnya kesalahan kamu dan tidak ada gunanya untuk meminta maaf. Kita sama-sama salah dan sama-sama menyesal itu jauh lebih baik untuk kita mengambil setiap pelajaran dari apa yang kita perbuat, berani bertanggung jawab dengan mengakui kesalahan itu sudah sangat baik dan aku selama ini bertahan karena Sean dan Citra. Hanya itu saja," sahut Anggika dengan tenang bicara dan memang kelihatan sangat tulus.


"Argantara. Semua ini mungkin belum menjadi akhir. Kamu bisa melihat apa yang terjadi pada kamu dan ini akibat dari perbuatan kamu sendiri dan Anggika tidak bersalah. Karena papa yang memaksanya menikah dengan kamu. Namun tidak ada gunanya untuk kembali melihat kebelakang. Anggika sudah menjadi istri kamu puluhan tahun, dengan membesarkan anak-anak dengan ilmu dan kasih sayang yang baik, dengan banyak pengorbanan dan juga menahan rasa sakit. Jadi atas apa yang terjadi pada kamu. Adalah perbuatan kamu sendiri dan jangan berharap untuk lebih," ucap Kakek dengan bijak berbicara membuat Argantara memejamkan matanya sebentar dengan air matanya yang mengalir dengan penuh penyesalan.


"Pah, sudahlah papa fokus saja dengan kesehatan papa. Jangan memikirkan apa-apa," ucap Reya dengan memegang tangan Argantara.


"Kamu pasti kesulitan Reya dengan semua ini. Apapun yang terjadi, kamu anakku atau tidak kamu akan tetap menjadi anakku," ucap Argantara membuat Reya mengangguk dengan air matanya yang akhirnya jatuh.


Dia sangat menyayangi Argantara dan sangat kecewa dia bukan anak Argantara. Tetap itu takdir yang harus di terimanya.


"Kamu juga Sean. Kamu tetap putra kebanggaan papa. Walau darah kita tidak mengalir," ucap Argantara.

__ADS_1


"Iya. Aku tetap anak papa dan mama, aku kakak tetap kakak Citra. Walau akhirnya hubungan papa dan mama berubah. Tetapi aku tidak akan berubah. Aku tetap anak kalian berdua yang akan terus berusaha untuk membuat kalian berdua bangga kepadaku," ucap Sean dengan matanya yang berkaca-kaca. Membuat Argantara semakin terharu sama dengan semua orang yang ada di ruangan itu. Juga ikut terharu.


Bersambung


__ADS_2