
Citra, Rose dan Reya terlihat duduk di salah satu bangku yang ada di depan ruangan ICU.
"Makasih ya Rose kamu sudah datang kerumah dan akhirnya bisa menemukan papa. Jika saat itu tidak ada kamu. Aku juga tidak tau bagaimana keadaan papa selanjutnya," ucap Citra.
"Benar apa kata Citra. Untung aja kamu datang di saat yang tepat," sahut Reya.
"Seperti yang aku katakan, aku datang karena tidak mendapat kabar dari mu. Kamu lama sekali tidak muncul. Jadi aku khawatir," ucap Rose.
"Untuk saat ini aku memang tidak bisa melanjutkan kuliah dulu. Masih banyak yang harus aku lakukan," ucap Citra.
"Ya sudah tidak apa-apa. Itu hak kamu. Tapi iya Citra. Kamu mau tau tidak masalah di kampus," ucap Rose tiba-tiba.
"Memang apa lagi yang terjadi di kampus. Bukannya di kampus memang sangat banyak masalah," ucap Citra.
"Hmmm, ini salah satunya masalah dengan Regina," ucap Rose. Citra sudah menghela napas mendengar nama Regina.
"Memang ada apa dengannya?" tanya Citra yang juga penasaran.
"Regina di Do dari kampus," jawab Rose yang membuat Citra dan Reya cukup kaget mendengarnya.
"Kenapa?" tanya Reya.
"Kembali lagi dia membuat masalah dengan banyak orang di kampus dan belum lagi masalah sebelumnya yang membuat pihak kampus mengambil tindakan untuk mengeluarkannya saja," jawab Citra.
"Ya sudahlah mau bagaimana lagi. Dia tidak pernah belajar dari kesalahan dan tidak ada lagi yang bisa di lakukan. Karena dia yang mencari masalah dan dia harus mendapatkan resikonya," sahut Citra yang tidak mau berpendapat terlalu banyak mengenai masalah itu.
"Dan bukan hanya dia, Barra dan 2 temannya itu juga. Akhirnya di keluarkan dari kampus. Karena kesalahan mereka yang besar dan justru Regina yang membongkar semua kejahatan mereka," ucap Regina.
"Kejahatan apa. Masalah mereka dengan Regina, masalah Barra yang mempunyai Vidio Regina. Atau apa?" tanya Citra yang penasaran.
"Lebih dari itu Citra. Ternyata Regina menyebar pembicaraan bukti dari penyerangan Barra dan teman-temannya pada pak Reval," ucap Rose yang membuat Citra dan Reya kaget.
"Apa maksud kamu. Barra menyerang Reval!" pekik Citra dan Reya kaget.
__ADS_1
"Bukannya kamu tau ceritanya ya. Jika ada 3 orang Pria yang masuk kerumah Pak Reval dan menghabisi pak Reval yang sampai hampir mati," ucap Rose.
Wajah Citra dan Reya begitu sama-sama terkejut dengan mereka yang saling melihat.
"Jadi pelakunya Barra dan buka mama!" pekik Citra yang memang sangat terkejut dengan kebenaran yang baru di ungkap. Dia mengira malam saat dia kerumah Reval dan melihat Reval yang babak belur itu karena perbuatan sang mama yang menghajarnya untuk memberikan Reval pelajaran.
"Maksud kamu Tante Anggika. Memang Tante Anggika yang melajukannya?" tanya Rose dengan heran.
"Rose jadi kejadian yang terjadi pada Reval itu perbuatan Barra?" tanya Reya memastikan.
"Benar Reya. Bahkan bukti-buktinya menyebar semua di kampus dan itu yang membuat para yayasan tidak bisa memberi kesempatan pada Barra lagi karena perbuatannya yang memang tidak bisa di maafkan," jelas Rose.
"Barra benar-benar sangat jahat," ucap Reya geleng-geleng kepala.
"Dan mungkin saja itu di lakukan Barra. Karena pak Reval yang dekat dengan Citra dan Barra tidak terima. Makanya melakukan penyerangan itu dan membuat pak Reval hampir mati," ucap Rose yang mengambil kesimpulan sendiri.
"Jadi aku selama ini telah menyalahkan mama, menuduh mama melakukan hal itu padanya yang ternyata bukan mama yang melakukan itu. Bukan mama yang menyuruh orang untuk menghajar Reval," batin Citra dengan wajah senduh nya yang baru menyesal karena menyalahkan mamanya dan padahal dia juga tidak ada bukti saat itu.
"Jadi bukan Tante Anggika pelakunya. Bukan dia yang menyuruh orang-orang itu menyerangku. Bahkan Barra dan teman-temannya yang ada di balik topeng itu dan begitu jahat melakukan penyerangan itu kepadaku dan aku, aku telah menuduh Tante Anggika melakukannya," batin Reval yang pasti sekarang kembali menyesal lagi.
Saat itu yang menyerangnya 3 pria dengan memakaikan penutup wajah sampai kepala sampai tidak di ketahui siapa yang melakukan itu padanya. Namun saat dia lemah dan tidak berdaya Anggika datang. Jadi bagaimana Reval tidak berpikiran jika Anggika yang melajukannya.
Bahkan kejadian malam itu juga dia menghancurkan Citra. Karena tumpukan kebenciannya pada Anggika yang semakin besar. Namun siapa sangka lagi-lagi kebenaran satu persatu terungkap dan bagaimana Reval tidak menyesal.
"Ada apa denganmu!" tegur Sean yang baru sampai yang membuat Reval tersentak kaget dan suara Sean mencuri perhatian, Citra, Reya dan Rose dan langsung melihat pada 2 pria yang berdiri yang tidak jauh dari mereka duduk.
Citra dan Reval saling melihat sebentar. Mungkin pikiran Citra dan Reval sama. Karena mereka sama-sama menuduh Anggika sebagai pelakunya waktu itu.
"Kak Sean sudah kembali?" sahut Citra. Sean mengangguk dan menghampiri Citra, Reya dan Rose. Begitu juga dengan Reval yang mengikuti Sean.
"Bagaimana kak? apa ada petunjuk dari polisi?" tanya Reya.
"Iya dan para pembantu kita bagaimana? apa mereka baik-baik saja? dan kenapa mereka bisa tidak ada do rumah?" Thaha Citra yang juga penasaran.
__ADS_1
"Mereka semua baik-baik saja. Mereka pergi bersamaan. Karena mereka mendapatkan izin untuk liburan," jawab Sean.
"Apa liburan!" pekik Reya, Citra dan Rose serentak. Sean menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana mungkin mereka bisa liburan secara bersamaan?" sahut Citra yang tidak masuk akal.
"Dan siapa yang mengijinkan mereka?" tanya Reya.
"Mama!" jawan Sean.
"Mama!"
"Tante Anggika!"
"Tante!"
Mereka bertiga kembali di kejutkan dengan jawaban Sean. Dan Sean menganggukkan kembali kepalanya.
"Itu tidak mungkin kak," sahut Citra.
"Kakak juga tidak percaya Citra. Namun mereka memang ada buktinya. Jika mama yang melakukannya dan bahkan polisi menyimpulkan jika mama yang ada di lokasi TKP bersama papa dan gelang itu milik mama yang mana dari analisa polisi terjadi percekcokan sebelumnya antara papa dan mama di rumah itu," jelas Sean yang menyampaikan apa yang di sampaikan pihak berwajib padanya.
"Kakak mau bilang kalau mama pelakunya," shut Citra yang menduga jalan pikiran sang kakak.
"Tidak mungkin kak. Citra yakin bukan mama yang melakukannya. Mama tidak mungkin setega itu kak," sahut Citra yang tidak mau asal tuduh lagi. Karena sebelumnya dia sudah salah.
"Benar kak Sean itu tidak mungkin," sahut Citra yang juga tidak percaya.
"Aku juga tidak yakin Tante Anggika yang melakukannya," sahut Reval membuat Sean melihat serius pada Reval dengan dahi Sean berkerut.
Mungkin Sean bingung saat di kantor polisi tadi Reval yang dengan cepat mengambil kesimpulan dan sekarang kesimpulannya berubah lagi.
Bersambung
__ADS_1