Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 267


__ADS_3

Reya, Sean, Citra dan Reval sangat menunggu jawaban dari pak RT dengan perasaan mereka yang pastinya sangat dek-dekan.


"Pak bagaimana?" tanya Sean.


Pak RT melihat semua orang yang ada di sekitarnya, "Begini, kalau masalah masih hidup atau tidak saya jujur saja saya juga tidak tau. Karena sudah 5 tahun belakangan ini saya tidak pernah bertemu dengan-nya," jawab pak RT.


"5 tahun belakangan. Apa itu artinya selama ini bapak pernah bertemu dengan ibu Suhartati?" tanya Reya.


"Iya komunikasi kami masih terjaga dengan baik. Sehingga kami di beri kesempatan beberapa kali untuk bertemu," jawab Pak RT.


"Berarti bapak tau alamatnya di mana?" tanya Reya.


"Iya saya tau dan saya memang tidak pernah ke sana lagi. Karena kesibukan dan juga jarak yang sangat jauh," jawab pak RT.


"Di mana alamatnya pak?" tanya Reval.


Pak RT mengambil kertas dan menulis yang mungkin alamat Suhartati dah langsung memberikannya pada Sean.


"Desa Suka Maju," gumam Sean.


"Di sana beliau tinggal dan itu desanya cukup jauh dan belum lagi jalannya juga sangat sulit dan itu yang membuat saya tidak pernah melihatnya dan saya juga tidak tau bagaimana kabarnya," jelas pak RT dengan singkat.


Reya, Sean, Citra dan Reval diam sejenak yang melihat alamat itu dengan pemikiran masing-masing.


"Jika kalian ingin mengetahui banyak hal sebaiknya kalian pergi saja ke alamat itu dan saya rasa kalian akan menemukan titik terangnya," ucap pak RT memberikan sarannya.


"Pak. Apa bapak tau mengenai 2 anak dari Bu Suhartati?" tanya Reya yang ingin mengetahui hal itu.


"Setau saya ke-2 anaknya saat itu di titipkan di tempat saudaranya saat beliau bekerja menjadi TKI. Namun saya juga tidak tau bagaimana jelasnya lagi. Karena saat saya menemuinya anaknya tidak ada bersamanya dan beliau juga tidak menceritakan apa-apa," jelas pak RT yang mengatakan hanya seperlunya saja.


"Jadi tetap tidak ada kejelasan masalah aku dan adikku," batin Reya yang kembali kecewa.


"Kalian cobalah cek ke alamat yang saya berikan. Siapa tau ada titik terangnya," ucap Pak RT kembali memberi saran.


"Baiklah Pak terima kasih kalau begitu. Kami minta maaf sudah mengganggu bapak," ucap Sean.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Saya santai saja," sahut Pak RT.


"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu," ucap Reval yang mulai berdiri.


"Iya mari silahkan," sahut pak RT.


Mereka semua bersalaman dengan pak RT sebelum mereka semua pamit. Dan lagi-lagi Reya hanya akan pulang dengan informasi kosong dan pasti wajahnya begitu sendu saat memasuki mobil yang tidak bersemangat yang membuat Sean memegang erat tangan Reya untuk menengakan Reya.


"Sayang kamu sabar ya," ucap Reya dengan lembut. Reya hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Jadi bagaimana ini. Kita lanjut atau bagaimana?" tanya Reval.


"Alamatnya Sanga jauh dan butuh waktu perjalanan lama. Sebaiknya kita pulang dulu. Kita harus menyiapkan semuanya supaya perjalanan kita lancar," sahut Sean memberi masukan.


"Aku setuju sama kak Sean. Kita sebaiknya pulang dulu dan membawa apa yang perlu. Dari pada nanti kita di jalan keteteran," sahut Citra.


"Baiklah kalau begitu," sahut Reval yang menurut saja dan Reval pun langsung melajukan mobil tersebut yang sekarang tujuan mereka adalah kembali untuk pulang kerumah.


*********


"Aku sangat kasihan melihat hubungan Citra dan Reval. Mereka terlihat saling mencintai. Namun tidak bisa bersama karena status palsu. Apa aku kasih tau aja Citra secepatnya tentang siapa siapa dia sebenarnya. Tetapi bukannya sekarang mereka sedang sibuk mencari orang tua Reya. Apa ini waktu yang tepat untuk memberi Citra. Tapi bagaimana nanti. Bukannya masalah akan semakin bertambah. Apa aku harus menunggu lagi," Anggika bergerutu sendiri dengan penuh kebingungan yang harus bertindak untuk mengambil jalan yang mana.


Anggika terus menghela napas berat dengan memijat kepalanya yang terasa pusing. Karena terlalu banyak berpikir.


"Nyonya!" tegur Bibi membuat Anggika langsung melihat ke sebelahnya.


"Ada apa Bi?" tanya Anggika.


"Ada tamu yang ingin bertemu dengan Nona," jawab bibi.


"Tamu. Siapa?" tanya Anggika.


"Saya suruh masuk saja?" tanya Bibi.


"Iya sebaiknya suruh masuk saja," jawab Anggika.

__ADS_1


"Baik Nyonya," jawab Bibi yang langsung pergi


"Siapa lagi yang mau bertemu denganku," batin Anggika dengan menghela napasnya.


"Silahkan nyonya," titah bibi dengan ramah pada tamu tersebut dan membuat Anggika langsung melihat ke arah yang menimbulkan suara itu.


Wajah Anggika langsung terkejut melihat tamu itu adalah Sahila yang membuat mata Anggika terbelalak kaget yang tidak percaya jika Sahila orang yang menjadi tamu di rumahnya


"Sahila!" lirih Anggika dengan suara beratnya yang langsung berdiri.


"Saya permisi Nyonya," sahut Bibi yang langsung pergi yang meninggalkan Sahila dan Anggika yang saling menatap dengan jarak mereka 5 meter.


Sahila membuang napasnya dengan perlahan kedepan, "aku tau kamu kaget aku datang. Tetapi kedatangan ku tidak membuat ribut dan pasti ini sangat penting," ucap Sahila.


Anggika mencoba untuk menenangkan dirinya. Terakhir dia bertemu wanita itu saat dirinyalah ingin di bunuh dan jelas sekarang dia begitu kaget.


"Apa lagi mau mu datang kemari. Bukannya semua masalah di antara kita berdua sudah selai. Reval juga sudah tau semauanya dan aku rasa aku tidak ada urusan lagi denganmu. Masa lalu kita berdua juga sangat impas dan kita tidak perlu harus membahas hal itu lagi. Cukup menyakitkan untuk kita berdua dan merugikan untuk kita berdua dan banyak yang menjadi korban dan itu sudah cukup," ucap Anggika.


"Aku datang kemari. Jelas tidak membahas hal itu. Tetapi masih berurusan dengan masa lalu yang harus di tuntaskan," sahut Sahila.


"Apa maksudmu?" tanya Anggika.


"Anggika, aku sangat menyayangi Reval dan menganggap dia putraku sendiri dan aku tidak pernah memberi tahu Reval siapa dia sebenarnya atau memberitahunya dia bukan anak kandungku dan aku sangat marah, takut dengan kamu yang telah membongkarnya. Tetapi aku justru bersyukur dengan kamu membongkarnya aku merasa lega dan aku juga tidak kehilangan Reval," ucap Sahila.


"To the point saja apa yang sebenarnya yang ingin kamu katakan," sahut Anggika tidak mau bertele-tele.


"Anggika, aku rasa merupak satu hal. Jika Citra siapa dan aku rasa kamu juga tidak lupa kalau aku tau siapa Citra," ucap Sahila yang membuat Anggika menghela napasnya.


"Sahila aku punya cara sendiri untuk memberitahu Citra. Kamu tidak perlu membalasku dengan aku membongkar siapa Reval dan kamu juga melakukan itu pada Citra. Aku tidak akan menyembunyikan kebenaran itu. Hanya saja aku melihat situasi dan aku minta padamu untuk tidak ikut campur tentang hal itu," tegas Anggika.


"Tetapi kamu tidak mengetahui suatu hal yang besar," sahut Sahila.


"Apa maksud kamu?" tanya Anggika.


"Citra dan Reya ada hubungan," ucap Sahila membuat Anggika tidak mengerti dengan apa yang di katakan Sahila.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2