
"Citra!" lirih Rose dengan mengusap bahu Citra. Citra langsung menyeka air matanya dan membalikkan tubuhnya menghadap Rose.
"Kamu kenapa?" tanya Rose dengan lembut. Citra menggelengkan kepalanya.
"Jangan bohong," ucap Rose. Citra langsung memeluk Rose dan tangisnya pecah di dalam pelukan Rose. Rose hanya berusaha menenangkan Citra yang perasaan Citra memang tidak baik-baik saja dan pasti masalahnya tidak jauh-jauh dari Reval.
"Apa aku kualat karena tidak mendengarkan kata mama," ucap Citra yang sengugukan. Rose tidak tau apa yang di katakan Citra. Karena sebenarnya Rose juga tidak tau hubungan Reval dan Citra. Selama ini dia hanya menduga-duga saja dan baru yakin Citra dan Reval ada hubungan setelah Vidio ciuman panas itu tersebar dan untuk masalah orang tua Rose tidak tau kalau ada larangan dan apa yang di katakan Citra hanya membuatnya bingung.
"Seharusnya tidak terjebak dalam hal ini. Kenapa dia sangat tega melakukan semua itu. Apa salahku," Citra mengadu di pelukan Rose.
"Jangan menangis Citra kamu bisa katakan pelan-pelan. Semuanya akan baik-baik aja. Percaya padaku," ucap Rose yang memang harus mendapatkan cerita lengkapnya dulu. Namun mana mungkin Citra mengatakan jika dia dan Reval sudah melakukan hubungan yang sangat jauh dan di campakkan begitu saja.
**********
Hari-hari Citra beberapa hari ini di kampus sangat buruk. Tidak ada komunikasi dengan dia maupun Reval dan malah Citra di suguhkan dengan pemandangan yang pasti membuatnya cemburu. Kedekatan Reval dengan wanita-wanita yang ada di kampus dengan wanita-wanita berbeda. Padahal awal-awal Citra mengenal Reval sama sekali Reval tidak seperti itu.
Kandas sepertinya memang hubungannya kandas dengan Reval dan dirinya sudah menjadi korban dan belum lagi nama Citra di kampus itu belum bersih karena Vidio dia dan Barra dan bahkan Reval. Citta belum bisa mengatasinya karena masih fokus pada Reval.
Namun orang-orang pasti menganggap dirinya wanita yang tidak baik karena tidak ada kejelasan dari Vidio itu.
Citra hanya pasrah dengan keadaannya. Karena dia juga tidak berani mengatakan pada Sean. Citra yang berjalan yang menuju ruang praktek. Saat Citra memasuki ruangan praktek tersebut. Citra harus di kejutkan dengan Reval yang berciuman panas dengan Regina yang bersandar pada dingding yang membuat Citra schok dengan apa yang terjadi di depan matanya.
Lagi-lagi Regina yang menjadi orang ketiga di dalam hubungannya. Pernah bersama Barra dan sekarang Reval.
"Kak Reval!" sentak Citra membuat Reval dan Regina sama-sama berhenti. Regina terkejut melihat Citra yang berdiri dengan penuh emosi tubuhnya yang bergetar. Namun Reval terlihat santai saat melihat ke hadiran Citra dan bahkan Reval mengusap bibirnya dengan jarinya.
"Apa kamu tidak bisa masuk tanpa mengagetkan orang lain," ucap Reval dengan santai.
Yang membuat Citra mendengus kasar dengan air matanya yang keluar merasakan sakitnya perbuatan Reval. Bahkan sangat tidak merasa bersalah.
__ADS_1
"Keterlaluan, kakak benar-benar keterlaluan!" sentak Citra dengan penuh amarah, "dan kamu!" tunjuk Citra pada Regina, "kamu lagi-lagi menjadi wanita yang suka merebut milik orang, kamu benar-benar murahan!" teriak Citra kehilangan kesabarannya pada Regina.
Dengan emosi Citra langsung menghampiri Regina menarik rambut Regina berusaha mencabik-cabik wajah Regina.
"Citra cukup apa yang kamu lakukan! Citra, Citra!" Reval berusaha untuk melerai Citra dengan menghentikan Citra yang menyerang Regina dan Regina tidak bisa mengatasi Citra.
Citra menepis kasar tangan Reval dari tangannya yang berusaha menghalangi dirinya.
Plakkkkkkk.
Sampai mendapat satu kesempatan memoar Reval dengan panas.
"Bajingan!" umpat Citra dengan napasnya naik turun dengan menatap Reval tajam dan Regina hanya kaget dengan Citra menampar Reval. Namun Regina bisa selamat dari amukan Citra.
"Kau berani menamparku!" ucap Reval dengan suara rendahnya.
Plakkk.
"Kau itu sangat bajingan. Apa yang kau lakukan hah! kau bersama wanita ini dan bisa-bisanya berciuman dengannya. Apa kau tidak memikirkan bagaimana aku. Aku sudah diam dan berharap kau memperbaiki segalanya. Tapi apa kau malah semakin menjadi-jadi," teriak Citra.
"Apa yang harus aku perbaiki dan memang kita ada hubungan apa sampai harus ku perbaiki," sahut Reval dengan santainya yang membuat Citra terkejut dengan kata-kata Reval.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" tanya Citra dengan napasnya yang tidak teratur.
"Kau salah paham Citra. Aku ini seorang Pria dan bebas untuk melakukan apa saja. Dengan banyak wanita dan bukan hanya dirimu saja. Jadi kau jangan berpikiran terlalu tinggi. Kedekatan kita selama ini sangat tidak berarti," ucap Reval dengan entengnya bicara.
Hati Citra bagai di sayat-sayat dengan kata-kata Reval.
"Lalu apa selama ini?" tanya Citra dengan merasakan sesak di dadanya.
__ADS_1
"Selama ini yang mana. Apa kita ada hubungan. Apa aku mengatakan sesuatu kepadamu, sehingga kau menganggap kita ada hubungan dan seolah-olah kita punya status sampai kau harus marah saat bersama wanita lain. Citra bukan hanya kau tapi banyak. Jangan terlalu percaya diri," ucap Reval yang membuat air mata Citra mengalir deras dengan Pria biadap di depannya.
"Kau selam ini hanya memanfaatkanku?" tanya Citra dengan suara seraknya.
"Kau yang tertarik Citra. Jadi jangan menyalahkan ku. Kau seharusnya sama dengan wanita lain yang santai dan tidak menganggap berlebihan. Iya kan Regina apa setelah kita berciuman kau menganggap aku menyukaimu?" tanya Sean yang melempar pada Regina.
Regina si manusia oon pun menggelengkan kepalanya.
"Kamu lihat Citra. Dia saja tidak berpikiran terlalu jauh dan seharunya kamu juga seperti itu. Karena aku tidak menganggap kita berdua ada hubungan apa-apa," tegas Sean.
"Brengsek!" umpat Citra, "setelah semuanya kau baru mengatakan semua ini, kau benar-benar biadap pengecut," umpat Citra.
"Jangan marah terlalu berlebihan," sahut Reval dengan tersenyum.
"Kau akan menyesal melakukan semua ini kepadaku. Seharusnya aku mendengarkan apa kata mama. Jika Dosen itu memang sangat biadap dan tidak terpelajar," maki Citra.
"Jaga sopan santunmu. Aku ini Dosenmu dan nilai-nilai mu ada di tanganku," ucap Reval menekan suaranya yang tidak terima dengan perkataan Citra.
"Kau pikir aku peduli. Kau memang sangat biasa dan sama denganmu!" maki Citra lagi yang juga pada Regina. Citta benar-benar tidak peduli lagi.
Citra harus menunjukkan jika dia sangat kuat. Menatap tajam pria yang benar-benar menghancurkannya. Citra pun memilih pergi dari hadapan Reval dan Regina dari pada semakin hancur dan saat membalikkan tubuhnya yang ingin berjala keluar. Citra melihat tongkat bisbol dan dengan kemarahannya mengambil tongkat itu.
Tidak tau setan apa yang merasukinya langsung memukulkan pada Reval yang benar-benar hanya sekali pukul mengenai dahi Reval sehingga berdarah.
"Kau pantas mati!" ucap Citra dengan tersenyum menjatuhkan tongkat itu di bawah kaki Reval dan Citra langsung pergi.
Reval hanya diam dengan dahinya yang berdarah. Sakit pasti. Namun tidak bisa berbuat apa-apa yang di lihatnya hanya bagaimana Citra begitu membenci dirinya.
"Pak Reval!" lirih Regina yang ingin memegang dahi Reval. Namun Reval menahannya dan langsung pergi dari tempat itu meninggalkan Regina.
__ADS_1
Bersambung