
Sama dengan Sean yang juga memilih untuk ke hotel dari pada ke Villa. Karena Sean tidak bisa menyetir terlalu jauh. Karena obat yang di konsumsinya masih bereaksi.
Setelah sampai di hotel. Sean langsung buru-buru keluar dari mobilnya dan langsung memasuki hotel dan langsung berlari menuju lift dan pintu lift hampir tertutup membuat Sean buru-buru menahan dengan tangannya dan ternyata ada Reya di dalam lift membuat Sean terkejut melihat Reya dan Reya juga terkejut melihat pria yang berdiri di depannya itu.
Namun Sean tetap masuk saja. Karena memang dia ingin memasuki lift. Dia sudah mengejar agar tidak menunggu terlalu lama dan tidak jadi masuk karena ada Reya. Sean tidak mungkin melakukan itu dan tetap masuk. Ke-2nya pasti dalam kecanggungan di dalam lift yang sudah tertutup dan sedang naik.
" Kenapa dia ada di sini!" batin Reya yang penuh tanya berada di samping Sean. Namun Sean hanya diam yang tidak mengeluarkan kata apa-apa. Karena dia masih memikirkan kepalanya yang sakit.
Tidak lama pintu lift terbuka dan Reya yang terlebih dahulu keluar dan saat Reya ingin keluar. Tiba-tiba kakinya tersandung dan dengan cepat Sean membantunya dengan memegang ke-2 bahunya yang membuat Reya tidak jadi jatuh.
Reya yang setengah membungkuk menoleh ke arah Sean di sampingnya dengan mata mereka yang saling bertemu dan tanpa mereka sadari sentuhan yang secara spontan itu membuat ke-2nya semakin merasakan suhu tubuh yang tidak normal.
Reya maupun Sean tetap saling melihat dengan deru napas mereka yang tidak stabil dan pasti debaran jantung yang tidak bisa di katakan seperti apa berdebar dengan kencang.
" Apa kah kau baik-baik saja?" tanya Sean dengan suara seraknya yang tumben-tumbenannya bicara lembut pada Reya.
" Aku baik-baik saja," jawab Reya melepas tangan Davin dari bahunya dan membuat ke-2nya terlihat gugup dan salah tingkah.
" Di mana Citra?" tanya Sean.
" Aku tidak tau!" jawab Reya dengan memijat kepalanya yang terasa berat dan Reya yang merasa semakin tidak enak memilih untuk pergi. Namun baru beberapa langkah Reya terjatuh yang membuat Sean panik dan langsung berlari menghampiri Reya.
" Reya apa kau baik-baik saja?" tanya Sean yang sudah berjongkok di samping Reya yang terduduk lemas.
__ADS_1
" Kepalaku sakit!" jawab Reya memegang kepalanya.
" Apa kau sedang minum?" tebak Sean membuat Reya melihat ke arah Sean.
" Apa yang kau katakan?" tanya Reya.
" Kau datang ke Bali untuk menyelesaikan pekerjaannya. Bukan untuk mabuk-mabukan," ucap Sean dengan menekan suaranya.
" Apa yang kau katakan, jangan menuduhku sembarangan!" ucap Reya yang marah dengan tuduhan Sean dan Reya langsung mencoba untuk berdiri. Dari pada mendengar Sean akan mengatainya ini itu lagi.
Namun Sean yang melihat tubuh Reya yang lemas dan menyangka wanita itu mabuk. Sean langsung mengangkat tubuh Reya ala bridal style yang membuat Reya terkejut.
" Sean apa yang kau lakukan! lepaskan aku!" ucap Reya panik dengan Sean yang sudah mengangkat tubuhnya dan membawanya berjalan.
Reya diam dan tidak bicara lagi. Dia tidak tau apa sakit kepalanya itu karena alkohol yang tadi di minumnya sedikit. Namun saat Sean mengangkat tubuhnya membuatnya begitu nyaman dan Reya saat ini bahkan menatap mata Sean yang mengeluarkan aura dingin yang berjalan dengan langkah cepat yang tetap menggendong dirinya ala bridal style.
Sean sendiri menyadari, Reya menatapnya. Yang membuatnya gugup dan terlebih lagi saat dia menyentuh Reya membuat tubuhnya semakin bergairah dan di pastikan Sean menginginkan tubuh Reya untuk di milikinya.
Sean memasuki salah satu kamar di dalam hotel itu dan Reya tidak komplen sama sekali dan begitu masuki kamar itu Sean langsung mendudukkan Reya di atas ranjang.
" Kau sebaiknya istirahat. Kau tidak bisa berkeliaran dalam kondisi mabuk!" ucap Sean dengan lembut yang sepertinya khawatir pada Reya.
Sean sengaja menghindari Reya dan ingin pergi cepat-cepat dari Reya. Namun saat ingin bergerak dari ranjang itu. Tiba-tiba saja Reya menahan Sean, sentuhan di tangan Reya mampu membuat darah Sean berdesir hebat.
__ADS_1
" Kenapa sikapmu tidak bisa seperti ini saja kepadaku?" tanya Reya.
" Apa maksudmu ?" Sean balik bertanya.
" Masa lalu sudah menjadi masa lalu. Apa tidak bisa kita melupakannya. Apa tidak bisa hubungan kita baik-baik saja. Aku masih mengingat ungkapan cinta yang pernah kau ucapkan kepadaku dengan penuh amarah. Mungkin situasi akan berbeda jika peristiwa 5 tahun lalu tidak tetjadi. Yang mama kita ber-2 sudah menjadi...
" Cukup Reya!" bentak Sean. Menepis tangan Reya dari tangannya.
" Aku sudah mengingatkanmu Reya untuk tidak mengatakan hal itu. Mau sampai kapanpun kau bukanlah adikku," tegas Sean yang langsung pergi meninggalkan Reya dengan penuh amarah dan Reya langsung berdiri mengejar Sean dan berhasil menahan Sean lagi.
" Kenapa tidak mengakui hal itu. Itu adalah kenyataan. Jika aku Reya adalah adikmu. Aku dan Citra sama saja. Kami adikmu," tegas Reya yang ingin menyadarkan Sean membuat Sean marah dengan mengepal tangannya dan dengan kasar mendorong Reya ke dingding membuat punggung Reya begitu sakit dan Sean memegang kuat ke-2 bahu Reya yang menekannya kedingding dan menatap Reya dengan tajam. Sementara Reya menahan sakit akibat perbuatan Sean.
" Aku sudah mengatakan sampai matipun. Aku tidak bisa menerima kenyataan jika kau adalah adikku. Kenapa kau selalu mengingatkanku pada hal yang menyakitkan itu Reya. Kau tau semua itu karena kesalahanmu. Aku yang menjadi korban dan sangat menderita selama ini dan kedatanganmu semakin membuatku menderita," tegas Sean dengan menekan suaranya yang matanya berkaca-kaca.
" Lalu apa itu kesalahan ku. Aku juga tidak menginginkan semua ini. Kau hanya tau hidup dengan seorang ibu dan ayahnya yang juga ayahmu. Aku dari kecil hanya tau ayahku sering bekerja ke Luar Negri dan akan kembali dalam waktu yang lama. Aku tidak tau apa-apa. Aku tidak tau. Jika ibu yang merusak keluargamu dan aku juga tidak ingin di lahirkan dengan cara seperti ini," ucap Reya mengeluarkan unek-uneknya pada Sean dengan air matanya yang keluar.
" Apapun yang kau katakan. Itu tetap kesalahan untukku dan kau tetap penyebab kesalahan itu kau. Dan penyesalan dalam hidupku adalah karena bertemu denganmu!" tegas Sean.
" Lalu sampai kapan kau akan terus membenciku?" tanya Reya. Sean terdiam yang tidak menjawab pertanyaan Reya dan hanya melihat mata Reya yang begitu tersiksa dengan keadaan yang di alaminya.
" Aku juga terluka. Aku juga kecewa. Aku juga sakit. Dan bukan keinginan ku untuk datang kemari. Untuk pengacau dan untuk menggali luka lama. Jika waktu di putar kembali bukan hanya kau yang ingin tidak bertemu denganku. Aku juga jika semua ini sangat menyakitkan bagiku. Aku juga tidak ingin di posisi seperti ini," ucap Reya yang bicara sembari air mata keluar terus menerus.
Bersambung
__ADS_1