
Akhirnya Reya pun berhasil bertemu dengan Erina yang mana Reya bersembunyi di balik Villar dan melihat Erina yang berbicara dengan Anggika dan Reya mengambil kesempatan untuk menguping.
"Berani sekali kau menemuiku. Aku sudah mengatakan jangan pernah menemuiku Erina!" tegas Anggika dengan wajahnya yang kalau bertemu dengan Erina pasti bawaannya emosi terus menerus.
"Kau begitu takut kepadaku Anggika. Apa ada rahasia yang kau sembunyikan dari ku," ucap Ari Erina.
"Tutup mulutmu. Mau aku ada rahasia atau tidak itu bukan urusanmu. Aku sudah memperingatkan mu jangan pernah menggangguku lagi dan iya kau sebaiknya mengurus putrimu itu dari pada kamu kau harus mengurusi ku," ucap Anggika dengan penegasan yang menunjuk tepat di wajah Erina.
"Kenapa aku harus mengurusnya. Dia sudah baik-baik saja dan seharusnya kau yang mengurusi anakmu yang mungkin sebentar lagi akan di pindahkan kerumah sakit jiwa," ucap Erina dengan tersenyum miring.
"Tutup mulutmu Erina!" sentak Anggika dengan wajahnya yang penuh dengan amarah. Atau jangan-jangan kamu lagi yang harus di pindahkan kerumah sakit jiwa," ucap Erina yang tersenyum mengejek Anggika.
"Kau..." Anggika yang tidak tahan dengan kata-kata itu ingin melayangkan tangannya pada Erina. Namun di hentikan Erina dengan menangkap pergelangan tangan itu.
"Jangan berani menyentuhku dengan tangan kotor mu itu," ucap Erina yang membuat Anggika tertawa mendengarnya dan melepaskan kasar tangannya dari Erina.
"Apa katamu tangan kotor, kau itu ngaca, kau paling kotor yang sudah merebut suami orang, sangat hina yang menghancurkan rumah tangga ku," ucap Anggika dengan sinis yang mengingatkan Erina dengan perbuatannya di masa lalu. Namun Erina yang mendengarnya tampak santai dengan Erina yang tersenyum.
"Sebelum menyuruhku berkaca, kau juga seharusnya berkaca dulu, kau lihat dirimu dan lihat putrimu. Apa kau masih pura-pura amnesia. Kau seharusnya sadar jika anakmu yang terbaring di rumah sakit dan calon pasien rumah sakit jiwa itu karena perbuatan mu. Eh Anggika kau itu seharusnya sadar jika wanita merebut suamimu itu karena karma bagimu yang mana dulu kau juga merebut suami orang dan menghancurkan keluarganya," ucap Erina yang membuat Anggika kaget mendengarnya dengan matanya yang melotot sampai ingin keluar.
"Jaga bicaramu," ucap Anggika dengan menekan suaranya.
"Kau ternyata tidak menyadari perbuatan mu, sangat di sayangkan anakmu harus menjadi korban dari perbuatanmu dan kau masih bisa bersantai-santai dan mengatakan aku perebut suami orang, kau seharusnya ngaca dan lihat apa yang terjadi," ucap Erina yang seolah tau semua apa yang di simpan Anggika selama ini.
"Kenapa diam Anggika. Tidak menyangka jika aku mengetahuinya. Lalu bagaimana jika mas Argantara tau semua ini," ucap Erina dengan santai yang membuat Anggika mengepal tangannya dengan tubuhnya yang bergetar lututnya yang lemas yang tidak mampu berkata-kata lagi dengan apa yang di katakan Erina.
__ADS_1
"Bagaimana jika dia tau, kalau anaknya menjadi korban atas perbuatan istrinya yang katanya sangat penyabar, sangat baik dan mempertahankan rumah tangganya," ucap Erina dengan santai.
"Tutup mulutmu Erina," sentak Anggika yang sudah tidak tahan dengan kata-kata Erina. Erina menyunggingkan senyumnya yang melihat Anggika yang tampak begitu menderitanya dengan penuh kesalahan.
Reya masih ada di sana yang mendengarkan apa yang di bicarakan mamanya dan juga Anggika.
"Dari mana mama tau semua ini, mama benar-benar tau semuanya. Tapi kenapa mama bisa tau dan seakan menjadikan itu senjata, lalu jika seperti itu untuk apa mama datang kemari dan apa tujuan mama. Apa jangan-jangan mama sebenarnya berniat kembali menghancurkan keluarga papa," batin Reya yang penuh dengan tanya yang tidak bisa berpikir jernih.
Melihat perseteruan mamanya dan Anggika yang terlihat saling membenci dan Reya tidak mampu melakukan apa-apa. Karena dia juga bingung sendiri dan bahkan Sean saja belum di beritahu tentang masalah ini.
**********
Reya yang habis mendengarkan perseteruan mamanya dan ibu tirinya menjadi terlihat lesu yang kembali ke Cafe yang mana Sean masih ada di sana.
"Tidak apa-apa, memang kamu habis dari mana kenapa lama sekali?" tanya Sean yang kalau dari toilet tidak mungkin selama itu.
"Aku tadi agak lama di toiletnya," jawab Reya bohong.
"Ya sudah kalau begitu. Aku masakannya sudah selesai bagaimana kalau kita kembali kerumah sakit," ucap Sean.
"Ya sudah ayo!" ajak Reya yang terlihat sudah tidak bersemangat lagi yang pasti karena mamanya.
************
Sementara Anggika terlihat memasuki ruangan perawatan Citra, dia memberanikan diri untuk menemui Citra yang begitu hancur karena perbuatannya.
__ADS_1
"Citra!" lirih Anggika memanggil nama putrinya itu yang membuat Citra terbangun dari tidurnya dan melihat siapa yang memanggilnya membuatnya kaget dan tubuhnya langsung bergetar.
"Pergi! pergi! kamu sangat jahat, pergi dari sini! pergi! pergi!" teriak Citra dengan penuh dengan amarah yang berteriak karena melihat kemunculan Anggika.
"Citra kamu dengarkan mama dulu, Citra mama datang kemari karena ingin.
"Kamu bukan ibuku, kamu sudah menghancurkan hidupku, kamu sudah membuat hidupku menderita, pergi dari sini. Pergi!" teriak Citra yang tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia sungguh benar-benar takut dengan Anggika dan Anggika hanya menangis yang bersujud karena melihat anaknya yang berteriak-teriak yang sekarang Citra sudah duduk dengan berteriak histeris dengan mengacak rambutnya.
"Arghh, kenapa harus aku yang menanggung semua ini? kenapa harus aku? kenapa?" teriak Citra dengan suaranya yang menggelegar dan saat itu Reya dan Sean yang kebetulan ingin menuju ruangan Citra menghentikan langkah mereka ketika mendengar suara teriakan Citra yang begitu kuat.
"Citra!" lirih Reya yang menjadi panik yang saling melihat dengan Sean.
"Citra kak Sean!" lirih Reya. Sean mengangguk dan mereka langsung berlari menuju ruangan perawatan Citra yang ada di sana yang mana melihat kondisi Citra langsung dan kaget dengan Citra yang histeris dan Anggika sendiri yang berlutut yang kelihatan menangis.
"Maafkan mama Citra, maafkan mama!" lirih Anggika.
"Citra, mama!" pekik Sean dengan wajah kagetnya yang langsung masuk.
"Ada apa ini mah?" tanya Sean yang benar-benar bingung. Sementara Reya langsung memeluk Citra untuk menenangkan Citra.
"Kenapa harus aku? kenapa aku? apa salahku? apa salahku?" teriak Citra yang histeria di pelukan Reya yang membuat Reya terus memeluknya dengan erat yang tidak mengerti mengapa Citra sampai seperti itu.
"Pergi dari sini! pergi! aku sudah tidak berarti apa sudah puas semua dengan semua ini! maka pergilah dari sini! pergi!" Citra berteriak-teriak histeris yang menyuruh mamanya untuk pergi.
Bersambung
__ADS_1