Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 335


__ADS_3

Renita yang masih berdiri di depan ruangan Reya yang melihat Reya dari kaca kecil dari pintu depan ruangan itu. Tidak tau apa yang di lakukan Renita di sana dengan pakaian Dokternya dia hanya terus melihat Reya yang ada di dalam sana.


"Jadi Reya sampai detik ini belum sadar juga. Dia masih koma saja," batin Renita.


"Lama juga dia bangunnya. Kalau memang tidak ingin bangun. Kenapa tidak sekalian aja deh pergi aja ke alam sana.Jangan nyusahin pihak rumah sakit untuk mengurus kamu," batin Renita yang sepertinya masih sangat membenci Reya terdengar dari caranya berbicara di hatinya yang jahat itu.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" suara yang datar itu membuat Renita kaget dan langsung membalikkan tubuhnya yang ternyata Sean yang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Sean sekali lagi.


"Hmm, aku, aku," Renita terlihat gugup yang tidak tau mau mengatakan apa.


"Oh aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya kebetulan lewat saja dan melihat keadaan Reya. Aku mendengar Reya koma tetapi belum punya kesempatan untuk melihatnya dan tadi aku tidak sengaja lewat. Makanya aku hanya melihatnya walau dari jauh," jawab Renita yang pasti punya seribu alasan untuk hal itu.


"Hmmm, Sean aku turut prihatin ya. Atas apa yang terjadi pada Reya. Kau tau kamu sekarang mengalami masa-masa sulit dan apalagi anak kalian pasti sangat rewel yang sangat membutuhkan ibunya," ucap Renita dengan wajah-wajahnya yang di tunjukkan seolah-olah begitu sedih dengan keadaan Reya.


"Aku juga sangat kasihan pada Reya. Keadaannya yang tidak ada kemajuan dan juga kasihan pada anak kamu yang pasti sangat rewel terlebih lagi aku kasihan dengan kamu yang pasti kesepian dan tidak ada yang mengurus kamu," ucap Renita.


"Kau tidak perlu simpatik. Karena kami tidak mengharap simpatik dari mu," sahut Sean dengan dingin dan membuat Renita hanya bisa menahan rasa kesalnya.


"Aku ingatkan kepadamu. Jangan pernah masuk atau berdiri di depan ruangan istriku," tegas Sean.


"Sean aku tau aku melakukan kesalahan. Tetapi semua itu sudah lama dan Reya adalah sahabatku yang pasti aku juga ingin Reya sembuh dan sangat khawatir kepadanya. Aku sangat mencemaskan Reya dan tidak bermaksud apa-apa," ucap Renita.


"Tetapi semua itu tidak perlu. Kau tidak perlu mencemaskan istriku dan yang perlu kau lakukan jangan pernah berada di dekat ruangan istriku," tegas Sean yang tidak mau bicara banyak hanya cukup to the point saja. Renita tidak bisa bicara apa-apa lagi dan hanya diam saja.

__ADS_1


"Minggirlah aku mau masuk. Kamu jangan menghalangi jalanku!" ucap Sean dengan sinis.


"Baiklah!" sahut Renita yang bergeser kesamping dan Sean langsung masuk kedalam ruangan itu.


"Issss sombong sekali dia. Sok-sok setia dengan istrinya yang koma. Jangan munafik Sean kita bisa lihat sampai kapan kamu akan setia kepada wanita yang seperti mayat hidup itu,"


"Reya seharusnya kamu itu mati aja. Jangan menyusahkan banyak orang. Kamu tidak sadar saja membuatku malu dan harga diriku hilang. Apa lagi kalau sadar. Ya memang sebaiknya kamu itu koma selamanya kalau tidak mati sekalian," sumpah serapah yang di ucapkan Renita yang semakin lama semakin membenci Reya.


"Huhhhh, Renita sudahlah kamu itu tenang. Sekarang banyak kesempatan yang ada di depan kamu. Peluang besar di depan kamu. Lihat Reya lagi koma dan ini kesempatan besar untuk kamu bisa meluluhkan hati Sean. Pria itu sama saja di dunia ini. Termasuk juga Sean dan percayalah lama-kelamaan Sean juga akan lelah sendiri dan akhirnya meninggalkan wanita yang tidak berguna seperti mu dan sebagai gantinya adalah aku yang akan pelan-pelan masuk kedalam kehidupan Sean. Aku akan menggantikan mu Reya," batin Renita dengan senyum-senyum jahat dan niat yang licik yang penuh dengan rencana.


"Hanya tinggal menunggu waktu saja. Maka Sean akan menjadi milikku," ucap nya yang langsung meninggalkan tempat itu.


*********


Sean sekarang menyelimuti Reya sampai ke dada Reya dan mencium kening sang istri. Lalu duduk di samping Reya dengan memegang tangan Reya dan menatap nanar wajah istrinya itu.


"Dia juga sangat merindukan kamu. Tapi tau tidak sayang Citra bilang, dia anak yang sangat baik. Dia tidak rewel hanya karena asi. Kalau menangis pasti anak kita akan menangis. Ya namanya juga bayi. Kalau tidak menangis baru kita heran," ucap Sean sembari bercanda dengan istrinya.


"Kamu cepat bangun ya. Kita harus mendesain kamar anak kita. Karena kalau nanti kamu sudah pulang kerumah anak kita harus punya kamar sendiri. Karena tidak mungkin 1 kamar dengan kita. Nanti kita berdua tidak bisa mesra-mesraan lagi," ucap Sean lagi yang diiringi dengan seloroh.


"Ya sudah sayang aku keluar sebentar ya sayang, nanti aku kembali lagi," ucap Sean yang kembali mencium kening Reya.


Sean pun meninggalkan kamar tersebut dan pasti akan kembali lagi.


Namun baru terdengar suara pintu yang di tutup. Reya menggerakkan jarinya. Mungkin perkembangan Reya seperti sangat banyak belakangan ini. Tetapi mungkin Dokter belum memeriksa Reya saja.

__ADS_1


***********


Sean yang keluar dari rumah sakit yang hendak membeli makanan. Dia juga belum mengisi perutnya. Kebetulan di depan rumah sakit ada Restaurant dan Sean bisa membeli makan di sana.


Untuk menghilangkan suntuk Sean memilih makan di tempat. Karena dia juga tidak boleh makan sembarangan di dalam ruangan istrinya. Ruangan itu harus steril dengan kebersihan yang harus di jaga.


Sean mengambil salah satu tempat duduk dan pelayanan Restauran langsung menghampirinya dengan membawakan menu.


"Maaf mau pesan apa ya?" tanya pelayan tersebut yang memberikan menu pada Sean.


"Sebentar ya," ucap Sean yang melihat-lihat menu tersebut.


Sean melihat makanan kesukaan Reya, soto ayam yang selalu di inginkan Reya. Sangat lama Sean melihat makanan itu.


"Jika kamu ada di sini. Kamu pasti akan memakannya Reya. Kapan kamu bangun Reya. Bangun dan duduk bersamaku untuk makan bersama. Aku sangat merindukanmu Reya. Aku dan anak kita sangat merindukanmu. Banyak hal yang belum kita lalui bersama. Banyak rencana Reya yang belum kita lakukan. Kamu harus bangun Reya," batin Sean dengan matanya yang berkaca-kaca yang mengingat istrinya.


"Pak!" tegur pelayan itu yang melihat Sean hanya bengong saja.


"Oh, iya saya pesan ini saja," ucap Sean yang sadar dari lamunannya.


"Baiklah pak. Minumnya apa ya pak?" tanya pelayan itu.


"Orens jus saja," jawab Sean.


"Baik kalau begitu, bapak tunggu sebentar ya," ucap pelayan itu Sean hanya menganggukkan kepalanya dan menghela napasnya karena terlalu banyak melamun sehingga Sean kurang fokus.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2